You, Me, And My Secret Life

You, Me, And My Secret Life
55. Ingin Bicara



Acara kali ini adalah seminar entah untuk apa. Katanya ini adalah pemahaman materi terakhir sebelum kelulusan. Arfa bahkan bosan berada di ruangan ini. Berbeda dengan Shi Ah disampingnya. Ia begitu hidmat mendengarkan.


Tak ada yang bisa dilakukan Arfa sehingga berkutat dengan hp adalah salah satu pilihan. Untung mereka berada di tengah-tengah tribun. Jadi sama sekali tak mencolok.


Nomor bertajuk serba hitam menjadi tujuannya. Memang ada yang harus ia bicarakan. Dan ini penting. Entah dalam dunia exhuman hal seperti ini diperbolehkan atau tidak. Tapi tetap saja ia tak bisa menutupi segala sesuatu dari pacarnya kan.


Serba hitam


Dengerin sayang kalau guru lagi menjelaskan. Malah main hp.


^^^Me^^^


^^^Bosen tau^^^


^^^Memang kamu enggak ?^^^


Serba hitam


Enggak


Kan ada kamu


^^^Me^^^


^^^Ih....^^^


Serba hitam


Coba liat ke atas


Sebelah kiri!


Arfa menurut. Ia menoleh dan menemukan Eun Jae disana. Ia berada di barisan nomor 4 dari atas dan paling pojok kiri. Disampingnya ada Chun Seung lalu Yeol. Tak begitu jauh dari bangkunya yang berada di nomor 7 dari atas. Kursi di aula sudah seperti area bioskop saja.


Serba hitam


Jangan lama-lama liatin aku !


Nanti tambah cinta


Katanya over itu nggak baik


^^^Me^^^


^^^Siapa juga yang liatin kamu?^^^


^^^Aku liat tembok dibelakangmu yang lebih menarik.^^^


Serba hitam


Cintamu buta ya


Bener kata lagu


^^^Me^^^


^^^Apaan sih^^^


Serba hitam


❀


Pulang jangan lupa nunggu aku ya


Ada acara bentar


^^^Me^^^


^^^Iya^^^


^^^Sekalian ada yang mau aku omongin^^^


Serba hitam


Apa?


Kalau kamu cinta aku?


^^^Me^^^


^^^Basi^^^


Serba hitam


Bukan nasi


^^^Me^^^


^^^Emang nasi aja yang bisa basi?^^^


Serba hitam


Nggak


Cintanya aku ke kamu mungkin aja basi


Digoda terus sih sama yang di depan.


Arfa langsung menoleh. Memang. Tepat di hadapan Eun Jae ada para gadis yang sibuk ramai sendiri meski tak membuat keonaran. Terlihat mereka sesekali menoleh ke tempat Eun Jae. Membuat Arfa kepanasan.


^^^Me^^^


^^^Awas aja kamu^^^


^^^Aku bunuh nanti^^^


Serba hitam


Kok aku yang dibunuh?


^^^Me^^^


^^^Kamu genit^^^


Serba hitam


Kan cuman ke kamu


^^^Me^^^


^^^Awas aja kalau selingkuh^^^


Serba hitam


Wah


Arfaku cemburu


^^^Me^^^


^^^Cemburu itu kodrat wanita^^^


Serba hitam


Terus?


Aku nggak boleh jealous?


^^^Me^^^


^^^Katanya percaya cinta kita?^^^


Serba hitam


Jadi ragu nih


^^^Me^^^


^^^Dasar^^^


Serba hitam


Tampan


^^^Me^^^


^^^Nggak sama sekali^^^


Serba hitam


Kalau enggak


Kenapa mau jadian sama aku, mrs. Seni?


^^^Me^^^


^^^Cari ketenaran^^^


Serba hitam


Oh ya?


Berarti aku manfaat dong buat kamu?


^^^Me^^^


^^^Up to you^^^


"Hayo! Lagi apa?"


Arfa langsung meletakkan handphonenya di atas paha. Ia cengingiran di hadapan Shi Ah yang menangkap basah dirinya. "Pacaran inget waktu. Tuh udah selesai,"


Arfa melihat ke depan dan sekeliling. Ya. Mereka bahkan sudah mulai bubar. Ia melirik ke belakang tempat Eun Jae berada. Lelaki itu juga sudah pergi. Gadis ini melirik handphonenya sekilas.


Serba hitam


Tunggu di suatu tempat


Janji nggak lama


"Fa. Mau pulang nggak?"


"Hah? Ah. Duluan aja, Shi Ah. Masih ada urusan," ujarnya sambil berdiri. Dua insan ini keluar dari aula sebagai peserta terakhir.


"Yakin nggak mau bareng?"


"Yakin. Aku ada yang nunggu,"


"Oh. Ya sudah. Mentang-mentang nggak jomblo lagi. Kutunggu nama lengkapnya. See You, Arfa,"


Arfa terkekeh pelan. "See you,"


Shi Ah dan dirinya berpisah di tikungan. Wanita tadi harus menuju parkiran dan Arfa memilih menunggu Eun Jae di taman depan. Jika dia pergi ke mobil lelaki itu bisa-bisa heboh satu dunia. Berita terbaru. Duta seni berhasil menembus benteng most wanted blackfire. Arfa tidak bisa membayangkan sikap para fans fanatic pacarnya itu. Eun Jae ini tenarnya sudah sampai luar jangkauan.


Ia duduk di kursi depan. Terlihat seperti sedang menunggu seseorang tapi tak akan ada yang tau bukan siapa yang ditunggunya? Taman halaman depan ini memang terlihat sangat indah. Arsitek yang membuatnya memang hebat. Tetap terlihat menarik di setiap musim.


"Fa!" panggil seseorang. Ia langsung menoleh.


"Eh. Min Ho. Belum pulang?"


"Kau sendiri? Menunggu seseorang?"


"Aa... ituβ€”," jika di jawab iya nanti ditanya siapa.


"Ayo aku antar pulang!"


"Aku tidak pulang ke apart, Min Ho,"


"Tidak apa. Bangku mobilku kosong,"


"Tidak perlu. Aku sudah ada yang akan mengantar,"


"Siapa?" Arfa hanya bisa terdiam. Tidak baik membicarakan hal ini pada mantan bukan? "Tidak usah menolak. Ayo!"


Lelaki itu membawa Arfa secara paksa. Membuat gadis itu tak dapat menolak. Mungkin menghubungi Eun Jae tindakan benar. Dia tidak akan marah bukan?


Kini dirinya sudah berada di mobil Min Ho. Duduk dengan tenang tanpa tau jika Eun Jae bahkan sudah menuju ke arahnya tadi dan melihat semuanya.


"Antar aku ke alamat ini!" ujarnya sambil menetapkan gps di mobil Min Ho.


"Bisakah kita jalan-jalan sebentar? Aku ada yang ingin dibicarakan,"


"Kenapa tidak disini saja? Aku tidak bisa keluar jalan-jalan,"


Arfa mencari nomor Eun Jae di handphonenya. Ia mengetikkan pesan sebuah penjelasan jika dirinya pulang bersama Min Ho. Dan dirinya tidak bisa menolak. Serta permintaan maaf ditambah i love you.


"Fa. Sebenernya aku mau ngomong sesuatu," suaranya menggema di dalam mobil. Arfa berbalik memandangnya lagi.


"Apa kita bisa balikan?" ujarnya lirih.


"Hah? Kau bercanda kan?" wajahnya terlihat menahan tawa.


"Not. I'm Seriously,"


Mobil berhenti tepat di depan alamat yang dituju Arfa. Membuat Min Ho menoleh dan menatapnya juga. Mereka hanya saling pandang beberapa waktu. "Maaf,"


"Fa. Aku mencintaimu,"


"Aku tau. But i'm not,"


"Aku nggak bisa kayak gini, Fa. Aku minta maaf tentang masalah aku selingkuh waktu itu. Aku nggak niat nyakitin. Aku cuman ngerasa cemburu kamu ngacuhin aku karena semua kesibukanmu. Lagi pula aku tidak benar-benar pacaran dengan wanita itu. Aku masih mencintaimu,"


"Aku tau, Min Ho. But we can't like it first,"


"Why? Apa ada orang lain? Siapa? Kasih tau aku,"


"Min Ho. Semua nggak bisa dipaksain,"


"Aku cuman nggak bisa kita kayak gini. Kita seharusnya,"


"Makasih udah nganter," Arfa membuka pintu tapi Min Ho sudah menekan kuncinya. Arfa berdecak kesal.


"Aku masih sayang sama Kamu, Fa. Aku tau kalo kamu juga sayang sama aku, kan. Meski sayangnya beda kayak yang dulu. Aku juga tau itu. Cuman, aku nggak bisa move, Fa. Sulit. Dan kau tau itu. Perpisahan kemarin juga nggak aku pinginin,"


"Buka, Min Ho!,"


"Ijinin aku ngomong lagi,"


"Lain waktu,"


Klek !!!


Arfa langsung keluar dari mobil Min Ho. Ia marah. Tentu. Min Ho yang dulu telah berubah. Min Honya tidak pernah memaksa seperti ini.


...πŸ’•πŸ’•πŸ’•...