You, Me, And My Secret Life

You, Me, And My Secret Life
9. Siuman?!



Alat bantu pernapasannya masih melekat baik saat gadis itu mulai membuka mata. Ia memandangi atap putih dengan kosong. Cukup lama ia terpaku, sampai suara decitan pintu dan kegirangan seseorang membangunkannya secara sadar.


"Arfa! Sudah sadar??" ia memasang stetoskop ditelinganya, lalu menempelkan diaphragm di dada Arfa. Wanita berjas dokter itu mengecek dan bernapas lega saat semua terasa normal. "Apa ada keluhan? Ada yang sakit?"


Arfa menyipitkan mata sebentar lalu setelahnya tersenyum manis. "Kak Zahra?"


"Ya Tuhan. Kau mengingatku. Kurasa kau baik-baik saja sekarang," gadis yang terbaring itu terkekeh renyah.


"Apa kabar,kak? Sepertinya sehat. Ah. Kenapa aku bisa disini?"


"Pacarmu membawamu kesini. Badanmu panas tinggi saat itu. Kau sudah koma selama 2 hari,"


"Dua hari? Lama sekali," gadis itu beranjak bangun dan wanita bernama Zahra ini langsung membantu dengan cekatan. "Eh. Pacar? Siapa?"


"Itu.. yang bermarga Kang,"


"Kang Min Ho? Tidak. Kita sudah putus kak?'


"Jinca? Waeyo??" (sungguh? Kenapa??)


"Tidak cocok saja. Kak Zahra kenapa ada disini?"


"Ini tempat kerjaku. Tuan Kang membawamu ke rumah sakit yang benar. Tapi, kenapa kau bisa panas tinggi?" Zahra bertanya. Sebenarnya ia tau alasannya dan ia juga tau Arfa tidak akan ingat apapun.


Gadis itu sungguh tampak berpikir keras. "Terakhir yang aku ingat, aku memandatangani kontrak untuk perusahaan fashion Mrs. Jang. Lalu.... pulang? Aku tidak ingat apapun,"


"Tidak apa-apa. Nanti juga akan ingat-ingat sendiri,"


Tiba-tiba pintu ruang rawat inap kembali terbuka. Kali ini menampakkan Min Ho yang datang bersama Shi Ah. Gadis itu langsung sumringah melihat Arfa terduduk di atas brankarnya.


"Arfa!! Kau sudah siuman?!! Apa ada yang sakit?" ia meneliti setiap inci wajah temannya.


"Kwenchana! Tidak ada yang perlu dikhawatirkan,"


"Kau koma 2 hari, Fa! Siapa yang tidak khawatir. Tiba-tiba badanmu panas tinggi. Oh Hi, Dokter Zahra," sapa Min Ho setelah mengomel. Dokter wanita itu hanya tersenyum sebagai tanggapan.


"Gomawo Min Ho. Kau sudah menolongku,"


Lelaki itu tampak salah tingkah. Belum saja ia menjawab pintu lagi-lagi terbuka, menampakkan Mrs. Jang dengan Mr. Jang bersama seorang gadis cilik yang sangat Arfa tau siapa itu. Myung Hae.


"Eonni!! Eonni sudah siuman??" gadis kecil itu berlari mendekat dan memeluk tangan Arfa erat. "Aku setiap hari kemari tapi eonni tidak pernah bangun. Kenapa eonni tidak telepon jika ada masalah?"


Arfa terkekeh pelan. "Kenapa harus menghubungimu, Myung Hae? Maafkan anakku ya, jika kurang sopan," sahut Mrs. Jang dengan senyuman tulus. Arfa sampai melongo saat tau gadis kecil resek ini adalah anak pimpinan yayasan.


"Eomma!! Aku bukan tidak sopan. Ini namanya khawatir. Kha-wa-tir. Mengerti?"


Mrs. Jang hanya tertawa sambil mengacak rambut putrinya sayang. Saat matanya beralih tanpa sadar berpapasan dengan Zahra. Yang memang sejak awal memperhatikan gerak-getiknya. Wajahnya langsung nampak kaku.


Dan juga tanpa ada yang menyadari, Mr. Jang menahan napasnya memandang wajah Arfa. Ia mendekat dengan perlahan. "Arfa?" sapanya pelan, tapi berhasil menyadarkan Mrs. Jang atas keterkejutannya dengan Zahra.


"Ah. Arfa. Kenalkan ini.... Kau pasti tau. Ketua pimpinan yayasan kita,"


"Mr. Daniel Jang?" tebak Arfa dan dibalas dengan senyuman kaku dari pria itu. "Salam Mister. Senang berjumpa denganmu," ia membungkuk sedikit.


"Seharusnya tidak perlu sampai susah-susah begini pimpinan sekolah blackfire menjenguk adik saya Arfa. Merepotkan saja," ucap Zahra sesikit ditekan. "Tapi terimakasih banyak,"


"Tidak repot, kok. Dia tidak sadarkan diri di sekolahku. Kita merasa bertanggungjawab," sahut Mr. Jang.


Sedangkan Myung Hae nampak tak peduli dengan pembicaraan orang dewasa yang seolah punya makna sendiri dalam tiap individunya. Ia sudah membuka parcel yang tadi ayahnya bawa. Mengambil satu apel dan mengupaskannya untuk Arfa. Kini gadis itu sudah siap menyuapi.


Tapi lagi-lagi pintu terbuka. Menampilkan sesosok lelaki yang berjalan masuk dengan tegap. Semua perhatian teralih. Bahkan Arfa yang tadinya akan menanyakan bagaimana bisa ia tidak sadarkan diri disekolah langsung terlupa.


Tangan Myung Hae juga menggantung untuk menyuapi Arfa.


"Wah. Eun Jae berkunjung kemari? Ternyata kalian saling akrab yaa meski belum mulai pemotretan," sahut Mrs. Jang yang membuat lelaki itu tersenyum canggung.


"Kenapa kemari? Aku sudah menitipkan laptopmu pada Kevin Oppa sebelumnya," sahut Arfa tiba-tiba.


Satu hal lagi yang ia ingat di memori terakhirnya. Saat ia akan beranjak pergi tangannya menemukan selembar kertas bertulis 'antar laptopku ke lab kemarin' di atas mejanya. Ingatan itu tiba-tiba terlihat jelas di otaknya.


"Apa urusannya aku kemari atau tidak?" jawabnya enteng. Ia mengalihkan pandangan ke Dokter Zahra tapi gagal karena Arfa lagi-lagi menyahut.


"Ini ruang rawat inapku,"


"Ini milik negara nona,"


"Aku menyewanya tuan. Jadi kau tidak bisa asal masuk,"


Eun Jae malah terkekeh pelan. Membuat dua wanita disana merasakan debaran aneh pada tubuhnya. Salah satunya, Arfa. "Kau tidak terlihat sakit,"


"Ka—," Zahra langsung menyentuh lengan Arfa untuk menghentikan perdebatannya.


"Maaf tuan Song. Aku lupa janji temu kita," timpal Zahra


"Ya. Aku mencarimu dari tadi," balasnya penuh tekanan. Ia melirik sedikit ke arah Arfa yang mulai cemberut.


"Mari! Di ruanganku saja. Arfa kakak tinggal sebentar yaa,"


Min Ho tiba-tiba pindah menggantikan duduk di kursi yang ditempati Zahra tadi. "Fa. Kau pasti belum makan kan? Aku bawakan Sup Udang kesukaanmu. Biar aku suapi!"


Langkah Eun Jae tiba-tiba berhenti. Tapi ia tak berbalik. "Terimakasih banyak Min Ho. Aku sangat berterimakasih," ucapan Arfa entah kenapa membuat hati Eun Jae tidak enak. "Aku punya tangan sendiri. Aku bisa makan tanpa di suapi nanti,"


Lelaki itu tersenyum kecil lalu segera keluar ruangan mengikuti Zahra.


***


Dua lelaki saling pandang sebentar. Memahami ucapan gadis yang juga ikut bergabung sejak beberapa menit lalu.


"Jinca, oppa! Aku melihatnya dengan mata kepalaku sendiri. Eun Jae menggendong Arfa dari gedung Kepala," ia masih mengenakan seragam blackfire dengan rapi. Tidak sempat berganti setelah selesai les barusan. Ia, Anna. Wanita yang beberapa hari lalu bertabrakan dengan Arfa.


"Zahra yang bilang kalau dia dibawa Min Ho," Kevin, salah satu lelaki yang berkumpul menyahut. "Mwo? Apa maksudnya ini?"


Lelaki yang lain, yang juga memakai seragam blakcfire tanpa blazernya. Bet logo fisika terlihat di lengan atas kanannya. "Tapi kenapa Eun Jae disana?" ia ikut bersua. "Dia bilang sendiri kalau pergi ke panti asuhan sore kemaren,"


"Ah. Aku tau," Anna menyahut. "Mungkin saat Eun Jae membawa Arfa, ia bertemu dengan Min Ho. Dan memintanya membawa Arfa ke rumah sakit,"


"Kau gila? Min Ho itu Tiger. Musuhnya," sahut anak fisika itu.


"Tidak-tidak. Sepertinya Min Ho meminta Arfa dari Eun Jae. Dia mantannya yang gagal move on,"


"Mwo?!" kaget dua siswa itu. Menatap Kevin horor seolah lupa kalau lelaki ini adalah guru di sekolahnya.


"Kita membahas masalah serius kenapa masih ada drama melow disini," keluh si anak fisika.


"Sudah. Itu juga tidak terlalu penting. Tapi sekarang kita fokus pada penyerangannya. Wanita itu sudah mulai bertindak," dua anak di depannya memandang serius. "Aku yakin dia akan datang lagi. Sekarang Arfa masih koma, dan wanita itu tidak membunuhnya jika Arfa tidak sadar. Dia aman selama belum siuman,"


"Aku akan ke rumah sakitnya sekarang. Akan ku jaga,"


Kevin mencekal lengan anak fisika itu. "Terlalu berbahaya, Yeol,"


"Lalu bagaimana, hyung?"


"Penyerangan terakhir gagal karena suatu alasan. Jika kali ini kita bisa menemukan alasan itu, kita bisa mencegahnya juga,"


Tiba-tiba handphone Kevin berdering. Ada panggilan dari nama yang dua murid itu tau. Mereka terlihat mengerutkan kening saat gurunya menyambar dengan cepat.


Namun beberapa detik kemudian, ia melotot horor. "Arfa siuman?!"