
Pesawat yang ditumpangi mereka baru saja mendarat beberapa menit lalu. Butuh waktu setengah jam lagi hingga pesawat kedua akan membawa mereka ke Korea Selatan.
Arfa memilih berkutat dengan masa berkabungnya lagi. Kembali mengingat tentang persahabatan mereka yang terasa begitu menyakitkan. Rasa nyaman itu begitu saja sirna hanya karena satu kesalahan kecil. Karena kepergian mereka ke kamar mandi. Ah. Bukan. Karena Anna melindungi Arfa. Ia lebih memilih terdengar oleh para atom sialan itu. Memberikan informasi tentang Anna yang berkhianat. Semua titik masalah sekarang ada pada Arfa.
Sedangkan Sheilla, dia lebih memilih menggunakan setengah jam menunggunya dengan menonton film. Cara paling ampuh menurutnya untuk menghilangkan rasa sakit yang bisa saja mengendap di hati. Dia selalu begini jika sedang sedih.
Beberapa orang berpakaian hitam tiba-tiba mendekat. Ada lima dengan rata-rata menggunakan jaket hitam serta jeans meski berbagai modelnya. Dua diantara mereka adalah perempuan dan sisanya pihak laki-laki dengan badan cukup terawat.
Arfa masih tak memperhatikan. Ia sibuk dengan pikirannya sendiri. Sedangkan Sheilla bersama headsetnya tak jauh dari sang sahabat. Ia kini tertawa melihat adegan dalam film yang tayang di layar kecil itu. Sesaat semua terlupa.
Seorang wanita dari mereka merasa jengah dengan sifat Sheilla yang tertawa sendiri bak orang gila. Ia menarik kabel headset itu. Membuatnya terlepas dan sang empu mengaum marah.
"Hey!! Apa yang kau la...ku...?" ia terdiam. Menatap kelima wajah sangar di hadapan. Sepertinya ada yang tidak beres. Sheilla mengenalnya tapi bulu kuduknya tetap saja merinding.
Jemarinya spontan mencolek-colek lengan Arfa di sampingnya. Meminta perhatian agar ditunjukan pada kelima orang itu. Arfa langsung mengangkat kepala. Sekilas terkejut dengan siapa yang ada di depannya.
Seingatnya mereka adalah beberapa orang yang menjaga Veronica saat bermain di bawah pohon apel. Mereka berdiri agak jauh dari empat anak saat itu namun pandangannya tetap menjaga.
"Tuan Putri. Anda harus ikut kami," ucap wanita yang tadi menarik kabel dari headset Sheilla.
"Tidak bisa begitu. Kita harus kembali ke Korea sekarang," Sheilla menyela. Bahkan ia bangkit dan berdiri tepat di hadapan wanita itu.
"Mereka telah sampai Korea. Yang tersisa hanya Jakarta,"
"Apa maksudmu?" Arfa langsung bangkit. "Siapa yang sampai Korea?"
Wanita itu hanya tersenyum. "Lebih baik tuan putri ikut kami. Nyonya besar telah menunggu,"
Sheilla menarik napas dalam-dalam. Ini lebih cepat dari yang ia kira. Gadis ini menatap Arfa dan mengangguk. "Kita ikut mereka, Fa,". Ia bisa paham sekarang. Satu negara aman telah tercemar.
Arfa mengerutkan keningnya. Tapi ia tetap membereskan barang-barangnya. Mengikuti langkah kelima orang itu yang keluar dari Bandara Seokarno-Hatta.
Sudah ada tiga mobil audy hitam menunggu. Tiga orang yang tadi menghampiri masuk ke dalam mobil pertama setelah memastikan Arfa dan Sheilla aman di mobil kedua. Sisanya masuk ke dalam mobil ketiga.
"Bukankah kita harus menghubungi kak Angel dulu sekarang?" Arfa mengambil handphone di tasnya. Mencari kontak yang dimaksud namun tangan Sheilla menahannya.
"Jangan! Kalau Korea sekarang sudah tak aman maka semua handphone buatan sana juga tersadap. Nomor kak Angel juga begitu,"
"Lalu? Kita akan diam saja begitu? Jika aku tidak boleh ke sana maka tempat itu berbahaya. Kak Angel juga dalam bahaya,"
Sheilla tampak berpikir. Ia mencari cara dengan mengingat siapa yang memiliki nomor handphone buatan oma. Itu yang paling aman. "Aku tau,"
Gadis ini langsung mengambil handphonenya. Mencari nomor yang dimaksud dan menghubunginya. Nada sambung pertama langsung dijawab.
Pertolongan apa lagi sekarang?
"Hehehe. Ini benar-benar penting. Tugas besar,"
Oh ya? Apa akan lebih besar dari penculikan waktu itu?
Sheilla menoleh ke arah Arfa. Sungguh ia tak berharap gadis itu bisa mendengar percakapan ini.
"Aku minta tolong lindungi kak Angel. Ini penting,"
Hey. Seharusnya aku yang mendapat perlindungan tinggi.
"Dengarkan saja! Lakukan sekarang!"
Memang kenapa sih?
"Cari tau sendiri," telepon langsung diputus sepihak olehnya. Sheilla langsung menjauhkan handphone dan meletakkannya ke dalam tas.
"Siapa yang kau hubungi?" tanya Arfa penasaran. Sepertinya suara itu sangat familiar.
"Emm... orang yang sannggggaaattt penting," Arfa hanya mengernyitkan dahi. "Nah. Kita sudah sampai,"
Keduanya langsung melihat ke depan. Rumah kecil minimalis biasa. Tak ada yang istimewa. Mobil pertama masuk. Berhenti untuk mengeluarkan pengawal tadi dari dalam lalu kembali berjalan ke dalam bagasi yang menembus parkiran bawah tanah.
Begitupula dengan mobil yang ditumpangi Arfa. Setelahnya mereka memasuki rumah tingkat dua ini. Awal pertama membuka pintu, seperti kebanyakan rumah biasa. Ruang tamu. Ini adalah rumah yang dulu di tempati Arfa. Tapi kini terasa sedikit berbeda.
Wanita yang paling depan melukis angin kosong tepat di atas sofa panjang. Entah. Kegiatannya sama seperti yang orang lakukan dalam mimpi mengarungi ingatan Arfa saat itu. Saat bersama Anna. Ahhhh. Annna....
Sofa terbelah lalu masing-masing belahan itu berdiri. Membentuk sebuah gapura kecil saat lantai juga tiba-tiba menanjak turun. Diikuti bentuk tangga yang terus tanpa mengerti ujungnya. Disana gelap. Arfa baru tau jika rumahnya sejak kecil bisa begini. Ini di tengah-tengah kota Jakarta loh.
Wanita itu menoleh sebentar ke Arfa meminta izin untuk memimpin jalan meski Arfa tak mengerti maksudnya. Sheilla yang menjawab silahkan.
Mereka menuruni tangga. Awalnya gelap namun saat tangga tersentuh pertama kali oleh alas kaki seseorang, deretan obor berjajar rapi. Menyala memberi penerangan.
Langkah mereka berhenti tepat di sebuah basemant luas. Ada sekitar 15 lebih mobil disini. Termasuk juga tiga mobil audy yang digunakan untuk menjemputnya. Arfa masih melihat sekeliling. Apa rumahnya seluas ini? Ia sama sekali tak pernah tau. Selama ini selalu normal.
Mereka kembali berjalan. Melewati beberapa mobil yang berjejer. Ternyata lebih banyak dari dugaan Arfa. Tapi untuk apa mobil sebanyak ini? Apa mereka akan berperang? Atau berjualan?
Banyak tombol lantai di sini. 1 hingga 15 dengan tanpa adanya angka 4 dan 13. Sangat umum. Wanita itu menekan angka paling tinggi. Ya. Angka 15.
Arfa masih berusaha menerima hal-hal baru ini. Ia tanpa sengaja melirik panel tempat lift berada. Tanda di sana menunjukkan mereka turun. Dari lantai 7 lalu 8 dan seterusnya. Ia melotot. Tunggu. Berarti ini bangunan bawah tanah?
Lift terbuka. Mereka keluar dan berjalan beberapa langkah lalu berbelok ke kanan. Area ini masih mirip dengan kebanyakan rumah mewah. Arfa masih memperhatikan sekeliling tanpa tau jika semua orang telah berhenti melangkah.
Seseorang menarik tangannya, membuat ia terhenti dan menoleh ke arah tangan yang menggenggam lengannya. "Oma?"
"Baru pertama kali kemari ya? Selamat datang Veronica,"
"Oma," ia langsung memeluk nenek tua itu. "Aku rindu,"
"Oh ya?" tapi wanita itu malah melepas pelukan Arfa. "Tapi ada yang lebih penting dari itu. Kau harus menjadi Veronica seutuhnya," Arfa mengerutkan kening tanda tak mengerti. "Kita harus mengembalikan ingatan terpentingmu. Ikuti oma!"
Wanita tua itu berbalik. Berjalan terlebih dahulu. Arfa menoleh ke arah Sheilla. Meminta jawaban. Ia memang telah mengingat siapa dia. Annaya Veronica. Tapi, apa ada yang tertinggal?
Sheilla mengangguk sambil tersenyum manis. Meminta Arfa untuk mengikuti saja arahan oma.
***
Zahra menerima kacamata dari Angel. Ia langsung terbelalak saat menyadari apa yang membuat temannya itu khawatir. "Bagaimana bisa mereka ada di sini?"
"Mungkin Arfa ada di dalam. Aku harus menyelamatkannya," Angel akan membuka pintu namun urung karena di cegah oleh Zahra.
"Aku yakin Arfa tidak di sana. Percayalah padaku! Mereka sedang menunggu berarti mereka belum mendapatkan apapun,"
Angel membenarkan hal itu. Tapi tetap saja ia khawatir dengan Arfa. Gadis itu telah menjadi adiknya sebanyak 12 kali. Apa mungkin ia sama sekali tak memikirkannya?
TOK TOK TOK
Mereka menoleh ke arah kaca kemudi yang diketuk. Seseorang dengan jaket hoddienya mengisyaratkan untuk menurunkan kaca. Angel menurut. Mungkin itu tetangganya.
"Pindah ke belakang. Aku yang mengemudi," ujar pria bermasker hitam itu. Angel melotot tak terima. "Ck," ia menurunkan maskernya sedikit. Angel langsung terbelalak kaget. "Ke belakang. Aku yang mengemudi,"
"Oh..ya," wanita itu langsung berpindah ke kursi belakang tanpa keluar dari mobil. Sang lelaki menggantikan posisi kemudi lalu mulai menyalakan mobil Angel.
Ia melaju santai melewati jalan depan rumah Angel. Tak ada masalah sama sekali. Malah ia sempat-sempatnya menoleh ke arah area rumah itu. Melirik salah satu penjaga yang berjongkok di dekat kotak pos.
Kecepatan mobilnya ia tambah saat telah melewati area perumahan. Semakin meliuk-liuk di jalanan yang sedikit padat. "Bagaimana kau bisa disini ?" tanya Angel yang sudah penasaran sejak tadi.
"Korea sekarang sudah tidak aman. Mereka mulai menyusup ke dalamnya. Sasaran pertama adalah rumahmu, Nuna," Angel berdecak kesal karena panggilan Nuna yang diberikan. "Ver... maksudku Arfa aman berada di Jakarta. Ia sedang berkelana melewati dimensi sekarang. Menggali ingatan,"
"Lalu.... kau membawa kita kemana ?" tanya Zahra ikut nimbrung.
"Kita akan mengembalikan Dr. Zahra dulu ke rumah. Oke? Lalu berlanjut membawa Angel ke rumahku,"
"Kenapa begitu?" tanya Angel.
"Nuna.... Dr. Zahra harus di keluarkan dari daftar blacklist. Ia harus pura-pura tidak berurusan dengan Arfa. Dan kau... sekarang dalam bahaya. Meski incaran pertama mereka adalah Arfa,"
Mobil memasuki area rumah milik Zahra. Lalu berhenti tepat di depan bangunan minimalis modern. "Tolong jagakan adikku!" ucap Angel pada Zahra sebelum wanita itu turun
"Tentu saja. Cheon Gi aman denganku,"
Perjalan mereka kembali berlanjut. Kini Angel telah berpindah ke kursi depan menemani sang supir. "Jadi, apa nama bumi mu?"
"Apa itu penting, Nuna?"
"Berhenti memanggilku Nuna," lelaki itu tertawa kecil. Menambah kesal wanita di sebelahnya. "Aku perlu memanggil namamu disini. Tidak mungkin kan aku memanggil-,"
"Joon Yeong. Mereka memanggilku begitu. Mae-Joon-Yeong,"
...💕💕💕...
...HAI READER...
...SUDAH LAMA RASANYA AKU TIDAK MENYAPA....
...BAGAIMANA CERITANYA ? BAGUS NGGAK ?...
...KALAU ADA MASUKAN SILAHKAN COMENT. AUTHOR NGGAK MASALAH KOK ASAL MASUKAN YANG POSITIF...
...TETEP IZININ KARYAKU NEMPLOK DI SEJARAH BACA KALIAN YA....
...KALAU BISA DI JADIIN FAVORIT DAN PROMO KE PEMBACA LAIN...
...THANKS FOR READING...