
"Euh.....," anak lelaki itu melenguh lelah. Ia kembali menarik selimut. Kali ini menutupi hingga kepala menghilang.
Arfa tak ingin menyerah. Ia menyibak selimut kencang-kencang. Menampilkan tubuh kecil adiknya. Tampan. Persis meniru wajah papa.
Kelopak mata itu bergerak kesal. Intensitas cahaya terlalu tinggi untuk bisa ia terima. "Bangun tampan," bisik Arfa pelan tepat ditelinganya. Lalu meniup dengan kencang.
"Euh....," tangannya menyentuh dan menggaruk telinga asal. Arfa kembali melakukan hal yang sama dan lelaki kecil ini semakin kesal.
Ya. Sejak ia sampai di rumah minimalis milik Angel, Arfa tanpa berganti atau membersihkan diri, langsung menuju kamar Cheon Gi. Anak mama dan papa tercinta. Kakaknya pun tak pernah melarang. Dia bilang bahwa tuan Oh kecil itu pasti hari ini susah dibangunkan. Ia tidur jam setengah empat akibat sibuk menunggu Arfa kembali.
"Oi jelek. Bangun,"
"Emm..... kak Angel jangan ganggu! Aku ngantuk,"
Arfa terkikik saat adiknya kembali menarik selimut. "Nuna kira Cheon Gi menunggu Arfa nuna. Ya sudahlah," ujarnya dibuat-buat sedih. Dibalik selimut ia sudah menduga Cheon Gi langsung terbelalak.
Lihat saja sedetik setelahnya selimut tersibak cepat. Cheon Gi terduduk dengan mata melebar memandangnya. Senyum pepsodent ia tunjukkan dengan gembira. "Arfa nuna!!" teriaknya girang sambil beranjak memeluk target. Arfa membalas tak kalah erat.
Ia jadi teringat masa lalunya. Dimana kabar kematian Cheon Gi benar-benar memukulnya keras. Matanya kembali meleleh. Sejenak lupa akan kejafian lupa ingatan beberapa waktu lalu.
"Nuna," panggil Cheon Gi sambil melepas pelukan. Arfa segera menghapus air matanya. "Antarkan aku belanja perlengkapan sekolah ya? Aku tidak punya alat tulis satupun,"
Arfa akan mengangguk sambil mengiyakan tapi terdahulukan oleh ucapan seorang wanita. "Tidak sekarang. Nunamu baru kembali. Lihatlah dia belum berganti baju,"
Cheon Gi tersenyum usil. "Ah. Aku jadi tau sebab kenapa ada aroma....," kata-katanya menggantung membuat Arfa kesal. Kesal dalam bentuk candaan. Tangannya langsung menari di perut Cheon Gi. Menggelitiki badan anak itu.
Terjadilah perang dua saudara. Angel hanya memandang sambil tersenyum bahagia. Ia merasa tugasnya akan segera selesai.
Setidaknya, akan ada Cheon Gi yang menggantikan perannya.
***
"Milkshake coklat," ujar Cheon Gi bersemangat saat ditanya ingin pesan apa oleh Angel.
Ya. Kini ketiganya masih mampir pada salah satu restoran setelah berbelanja keperluan masing-masing. Menghabiskan waktu bersama yang bahagia.
"Kau ini. Jangan sering makan coklat! Nanti gigimu bisa rusak," sahut Angel.
"Sekali saja apa salahnya sih kak?" kata Arfa membela.
"Kok kamu bela Cheon Gi sih? Dia itu udah sering makan coklat,"
"Coklat baik untuk menghilangkan stres. Aku juga suka. Milkshake coklat dua," tambahnya yang langsung dicatat oleh sang pelayan.
Angel tampak kesal sedangkan dua sejoli di depannya tersenyum kemenangan lalu berhigh five. Namun tak lama kemudian Angel ikut tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepala.
"Latte satu," pesan Angel.
"Ada tambahan lagi? Pesan makanan mungkin?" sang pelayan mulai berpromosi.
"Ah. Tidak terimakasih,"
Di sisi lain, Arfa merogoh tas slempangnya mencari handphone. Ia mengajak foto bersama yang tentu saja akan diangguki setuju oleh para saudaranya.
Akhirnya mereka selfie di restoran itu dengan menghadap ke arah jalanan yang tembus pandang akibat kaca besar disampingnya. Arfa pemegang kendali.
Baru mendapat satu jepretan, suara panggilan masuk pada handphone Angel menghentikan aktivitas mereka. Arfa melihat sekilas sebuah nomor bernama A. Tak banyak pikir, ia langsung mengangguki saat kakaknya izin angkat telepon.
Arfa masih melakukan dua kali jepretan foto hanya bersama Cheon Gi yang duduk disampingnya. Tetap menghadap jalanan sampai akhirnya pesanan datang. Dua gelas milkshake coklat dan secangkir latte coffee.
Cheon Gi memilih meneguk minumannya sedangkan Arfa sibuk melihat hasil jepretan. Mungkin jika ada yang jelek mereka bisa mengulang foto mumpung masih di spot yang sama. Tempat mereka foto cukup mendukung dengan latar alami.
Di sisi lain,
Angel baru sampai di depan toilet wanita. Ia melihat layar handphone yang bertulis huruf "A". Segera saja ia menekan dan menggeser gambar telepon warna hijau yang berada di layar handphone itu.
"Ada apa?" ujarnya di awal telepon
"Bagaimana keadaannya? Apa ia baik-baik saja?" tanya seseorang yang menjadi lawan bicaranya. Si A.
"Ini pertanyaanmu yang ke 4 sejak kita pergi tadi pagi. Dia sangat baik,"
"Ah. Syukurlah,"
"Kau ini. Ada apa sih mengkhawatirkannya? Ada aku disini. Aku kakaknya,"
"Tapi tetap saja aku khawatir. Lagipula kenyataannya, kau bukan kakaknya,"
"Setidaknya untuk sekarang, kan," Angel menghela napas yang dapat terdengar oleh lawan bicaranya. "Aku harap waktu berjalan lama,"
"Kau tidak boleh seperti itu. Oh ya. Kau berada di cafe white blue kan? Spot foto yang dipilih lumayan bagus,"
"Aku bukan paparazi. Hanya berjalan-halan di sekitar sana,"
"Ya Tuhan. Kenapa kau ada di sekitarnya? Kalau dia curiga bagaimana? Aku tidak tanggung jawab ya,"
"Tidak akan. Aku mengenakan pakaian tertutup,"
"Serba hitammu itu? Kurasa dia malah akan tau. Kalau begini rahasiamu tak akan bertahan barang seminggu. Apa otakmu tak dipakai?"
"Entahlah. Tak terpikirkan olehku. Cinta telah membuatku seperti ini,"
"Jangan salahkan cinta! Sudahlah cepat pergi,"
"Lima menit,"
"Pergi nggak? Ingat ya, disini peranku lebih tua darimu. Aku juga kakak Arfa. Bila kau tidak menurut....,"
"Kau memang tua. Bye,"
Tut tut tut
Angel menggerutu sendiri akibat telepon yang diputus secara sepihak. Ia langsung kembali ke meja tempat Arfa dan Cheon Gi bercengkrama. Dia sempat melirik ke luar dan sekitar cafe tapi tak menemukan apapun. Mungkin sudah pergi.
"Cheon Gi tidak ingat banyak. Yang aku tau, ada seorang wanita yang menitipkanku ke panti asuhan. Wanita itu bilang akan kembali dua hari,"
"Lalu?" Angel turut masuk pembicaraan meski baru datang. Pandangan awal Arfa menuju ke arahnya lalu balik fokus ke Cheon Gi.
"Sampai beberapa hari lalu Angel nuna datang menjemput. Ternyata bukan dua hari. Tapi dua tahun,"
"Apa Cheon Gi tidak mengingat siapa wanita waktu itu?" Arfa bertanya
"Emmm... dia sedikit mirip Arfa Nuna," Angel langsung menegang di tempatnya. Jadi, ini.... sudah terencana?
"Mirip denganku?"
"Sedikit," Arfa meminum milkshakenya lagi. "Tapi Nuna. Di panti asuhan itu sangat seru. Aku tidak menyesal sama sekali pernah tinggal disana," tambah Cheon Gi bersemangat.
"Iya. Dan nuna tahu tidak. Temanku ada yang seumuran dengan Arfa nuna. Dia tampan. Baik. Dia yang sering mengajari kami pelajaran. Banyak ngasih hadiah,"
"Ohya?" ucap Angel
"Iya. Dia sering main ke panti meski akhir-akhir ini sangat jarang,"
"Eh. Dia bukan anak panti asuhan juga?" tanya Arfa
"Bukan. Dia punya rumah dan keluarga. Dia murid blackfire loh kak,"
"Memang kenapa kalau murid blackfire?" Arfa kembali bertanya.
"Nuna tidak tau. Mereka itu golongan orang keren. Berprestasi. Plus plus plus pokoknya,"
"Gitu ya. Berarti kita keren dong?" timpal Angel sambil melirik Arfa lalu sama-sama memandang Cheon Gi yang kebingungan. "Kita murid blackfire loh?"
"Oh ya?"
Angel dan Arfa sama terkekeh. Kakak tertuanya langsung mengeluarkan id card blackfire yang masih ia simpan meski telah lama lulus. Ia membutuhkannya untuk kartu kerjanya yang sebagai dokter di rumah sakit Blackfire.
"Wah. Alumni dong, Nuna?" Angel mengangguk meski kini Cheon Gi tak sedang memperhatikannya. Ia sibuk mengamati id card.
"Punya nuna ada di dompet. Semua barang nuna masih di apartement,"
Cheon Gi mengangguk paham. Wajahnya terlihat sumringah. "Berarti aku adik murid blackfire dong. Ye....," ia berdiri dan berhasil mencuri perhatian pengunjung lain hingga akhirnya Angel menariknya duduk .
Arfa tertawa geli melihatnya. "Nanti Angel nuna dan Arfa nuna nikahnya sama murid blackfire juga. Nantikan kerennya double," kali ini Angel yang tertawa. Ia bahkan sudah menikah dengan Kevin beberapa tahun lalu. Ya. Meski baru tinggal serumah bulan ini.
"Eh. Iya. Ayo pulang! Barang-barang Arfa yang di apartement akan datang hari ini. Takut orangnya udah nunggu," ajak Angel sambil mengambil kunci mobil di atas meja.
"Kenapa dipindah?"
"Kau akan tinggal bersama kami. Tidak bagus kalau harus tinggal di apartement sendirian,"
"Beneran kak?" Arfa terlihat sumringah. "Apa Kevin oppa tidak marah? Aku mengganggu pengantin baru,"
Angel tertawa. "Dia yang mengusulkan,"
"Hebat. Kakak ipar terbaik,"
...💕💕💕...