You, Me, And My Secret Life

You, Me, And My Secret Life
30. Pesan Maut



Rumah yang dapat dikatakan besar ini hanya berisi dua manusia. Ya. Seperti kata Angel kemarin. Ia sibuk hari ini. Jadi Arfa dan Cheon Gi berada di ruang tengah sambil bermain monopoli. Mengklaim banyak tanah di berbagai negara. Meski hanya diatas kertas.


"Nuna mau minum? Aku haus," Cheon Gi bangkit saat barusaja menjalankan pergilirannya. Arfa saat itu masih mengocok dadu dengan gelas.


"Emm. Nggak dah," jawabnya sambil menghentikan pergerakan tangan. Adiknya itu sudah berlari menuju ke belakang.


"Jangan curang!!" teriaknya yang berhasil membuat Arfa terkekeh pelan. Ia meletakkan gelasnya saat tiba-tiba nomor tanpa nama menghubunginya. Tidak jadi melanjutkan permainan. Ya. Lebih baik menunggu Cheon Gi. Agar tidak dituduh curang. Ya kan?


Ia mengambil handphone di meja datar. Menggeser ikon hijau lalu mendekatkan benda kotak itu ke telinga. Tak ada suara beberapa menit sampai akhirnya...


"Yeoboseyo?" ujar Arfa memulai. Tapi tetap hening. Sampai lebih dari dua menit ia menunggu, kejengkelan mulai datang. Ia mengakhiri panggilan tersebut. Mendengus kesal. Pasti orang iseng...


PYAR!!


Arfa terbelalak kaget dan langsung beralih ke dapur. Ada apa dengan Cheon Gi? Tinggal selangkah lagi ia sampai di bingkai pintu dapur


"AAAA!!," langkahnya terpaksa berhenti.


Cheon Gi yang tak berada jauh dari sana langsung berlari mendekat. Tak peduli lagi pasal dustpan setnya yang telah jatuh dari tangan. Darah saat itu tengah mengalir dari telapak kaki sang kakak.


"Nuna?!" ia langsung saja menuntun Arfa untuk duduk pada salah satu kursi makan. Setelahnya ia mengambil kotak obat lalu mulai mengobati luka kakaknya. Adik dokter. Pasti hal seperti ini biasa baginya. "Maaf ya. Tadi Cheon Gi nggak sengaja jatuhin gelasnya,"


"Cheon Gi nggak papa kan?" tanya Arfa khawatir. Lelaki kecil itu hanya mengangguk sambil tersenyum menandakan bahwa ia baik-baik saja. "Lain kali hati-hati. Nuna khawatir,"


"Iya. Nah, sudah. Cheon Gi mau bersihkan pecahan kacanya dulu,"


"Sini! Biar nuna aja," Arfa akan bangkit namun langsung dicegah oleh adiknya. Cheon Gi berkata bahwa ini tanggungjawabnya. Ia ingin belajar menjadi pria bertanggungjawab.


"Ya sudah. Kalau begitu nuna mau masak. Cheon Gi pingin makan apa untuk makan siang hari ini,"


Lelaki itu menggeleng. "Aku tidak ingin makan jadi nuna tidak perlu masak,"


"Tidak. Kau harus makan! Pemenuhan nutrisi saat kecil itu wajib,"


"Kalau begitu bagaimana jika beli di supermarket depan?"


"Kenapa harus begitu? Masakan sendiri lebih sehat,"


"Sekali kali. Lagian Cheon Gi lagi pingin dosirak. Angel nuna selalu ngelarang. Boleh, ya?"


"Angel nuna melarangmu karena itu tidak sehat. Biar nuna masak saja,"


"Kaki nuna sakit!" Arfa batal lagi untuk bangkit dari duduknya. "Cuman kena kaca. Kalau masak masih bisa kok," elak Arfa tak ingin kalah


"Please !!.. Cheon Gi pingin makan lunchbox. Masak orang Korea belum pernah nyobain 7-11. Ya ya ya ya ya?"


"Emm.... baiklah. Kamu pingin apa ?" Arfa bangkit. Kali ini Cheon Gi tak menghalangi. Ia malah mengikuti Arfa yang berjalan masuk menuju kamar. Mengambil karse atau kartu tanpa batas.


"Tidak. Biar Cheon Gi yang beli. Nuna di rumah saja,"


"Kenapa begitu?"


"Kaki nuna kan sakit. Nuna pingin tambahan apalagi? Udang kering?"


"Biar nuna yang beli," ia sudah akan mengambil mantel namun langsung direbut oleh adiknya. "Tidak. Aku yang beli. Apa susahnya sih nuna di rumah? Lukanya kalau dibuat banyak gerak nanti lama sembuhnya. Cheon Gi itu udah besar. Cheon Gi anak cowok. Cheon Gi nggak suka dimanjain," adiknya langsung memberengut kesal.


"Ah. Iya iya. Jangan marah!" Arfa jongkok dengan susah payah. Menyejajarkan tinggi. "Sana ambil jaketmu! Nuna yang di rumah. Biar nuna yang bersihin pecahan gelasnya. Cheon Gi beli apapun yang Cheon Gi suka. Sama nuna tambah udang kering sama.... banana milk. Oke?"


Cheon Gi nyengir senang. "Oke!" lelaki ini langsung melempar mantel Arfa sembarangan lalu berlari ke dalam kamarnya. Semenit kemudian ia telah keluar dengan jaket hitam tebalnya.


"Mana kartunya?" Arfa menyerahkan kartu belanja yang ia punya. Karse itu ia dapat dari Sheilla setelah ingatannya datang.


"Hati-hati,"


"Ih. Nuna lebay banget. Cuman didepan aja,"


"Emang nggak boleh? Sandinya ulang tahun nuna,"


Cheon Gi mengacungkan tanda ok. Berpamitan lalu pergi. Tunggu. Katanya cuman di depan kenapa berpamitan?


Setelah kepergian Cheon Gi, Arfa langsung beralih pada pecahan gelas di dekat pintu dapur. Ia membersihkannya sesuai kesepakatan lalu berjalan menuju kamar untuk berbaring. Rasa-rasanya kakinya memang benar-benar sakit sekali.


Ia meraih ponsel lamanya di nakas. Ya. Ponsel yang baru kemarin di bawakan oleh Shi Ah yang berkunjung bersama dengan barang-barang kemah Arfa lainnya. Arfa juga ikut menyesal karena tidak menghiraukan ucapan Shi Ah dan Min Ho yang melarangnya pergi. Dia benar-benar minta maaf karena bandel. Mungkin ada pelajaran di balik keras kepalanya ini.


Memang baru hari ini ia menyalakan handphonenya karena sejak kemarin batreinya habis. Saat pertama kali layar menyala dan selesai memuat ulang isi di dalamnya, handphonenya bersenandung memunculkan banyak notifikasi. Mulai dari teman hingga adik perempuannya, Myung Hae. Ya. Gadis kecil itu langsung menelepon Arfa saat ia baru pertama membuka aplikasi chat. Langsung terdeteksi saja jika ia sedang online.


"Yeobo....,"


"Eonni dimana sih? Dihubungin nggak pernah jawab. Kenapa? Kata amma, Eonni diculik. Iya tah? Sekarang Eonni bagaimana? Sudah terselamatkan?"


"Satu-satu Myung Hae. Eonni bukan robot yang bisa jawab semuanya sekaligus,"


"Eonni dimana sekarang?"


"Di rumah lah,"


"Di rumah mana? Apartement Eonni kosong,"


"Ya sudah. Searchlock alamat Eonni sekarang. Aku kesana sama supir,"


"Iya iya princessku," telepon diputus saat itu juga dan Arfa langsung menuruti kemauan adik entah darimananya itu. Kalau tidak, bisa sangat bahaya. Perang dunia ketiga bisa saja lepas kendali.


Sifat Myung Hae sedikit gegabah.


***


Arfa terus saja memperhatikan pintu rumahnya. Sejak selesainya ia mengirim searchlock pada Myung Hae, Arfa memilih pindah duduk-duduk pada ruang tengah yang merangkap ruang tamu ini. Lihatlah wajahnya yang penuh kekhawatiran itu! Bagaimana tidak? Memang sedang beli apa sampai dua puluh menit belum kembali? Entah kenapa ada yang mengganjal bagi Arfa.


Ia masih trauma tentang hilangnya Cheon Gi dua tahun lalu.


Tiba-tiba handphonenya berdering. Handphone lamanya, karena yang baru hanya ia gunakan sementara jadi sekarang ada di dalam laci meja belajarnya.


Awalnya ia tak begitu peduli. Pikirannya masih berkelana pasal supermarket dan apa saja isi-isinya hingga membuat adiknya begitu lama. Namun beberapa detik kemudian, ia sedikit penasaran. Jadi, ia buka saja benda kotak itu.


Sebuah pesan dari kontak tanpa nama. Ia mengkliknya sambil bangkit berdiri. Ya keputusannya ingin menjemput Cheon Gi. Anak itu terlalu lama. Namun langkahnya langsung terhenti tatkala membaca pesan berbahasa indonesia ini.


Anak laki-laki sedang bersamaku


Jika menginginkannya....


Ikuti perintahku!


"Apa maksudnya ini?" ujar Arfa sambil berjalan menuju pintu. Ditangannya telah terdapat jaket tebal berwarna ungu muda. Pesan datang kembali.


Untuk apa masih pergi ke supermarket?


Dia tidak ada disana


Kemudian panggilan masuk, melalui nomor yang sama. Arfa segera mengangkatnya. Terdengar suara wanita.


"Halo, Arfa. Apa kabar? Sudah lama tak bertemu. Bagaimana jika reuni sebentar?" nada indonesia itu terdengar familiar.


"Siapa ini?!" jawab Arfa dengan nada menyentak. Handphone ia jepit dengan bahu sedangkan tangannya sibuk memakai jaket.


"Meski kuberitau, kau pun tak akan mengenaliku. Ingatanmu belum menunjukkannya,"


"Lo siapa sih?!"


"Santai nona. Aku tidak suka kalau pakai emosi,"


"Apa yang lo mau?!"


"Kenapa? Apa kamu ingin aku membebaskan anak ini?," kemudian terdengar suara anak laki-laki menyebut nuna sambil merintih. Arfa sangat kenal suara ini. Itu adalah suara Cheon Gi adiknya.


"HEY!! APA YANG LO MAU?!"


"Turuti aku! Gampangkan?"


Arfa menghela napas berat. "Apa yang kamu mau?" ucapnya menahan amarah


"Datang ke gedung lays sekarang! Taukan dimana? Temui aku di atap gedung. Jangan hubungi siapa pun!"


"Jangan menipuku!"


"Buat apa aku menipumu ? Aku tidak pernah bercanda dengan kata-kataku sendiri. Waktumu setengah jam dari sekarang,"


"Eh. Tunggu-tunggu! Gedung apa tadi?" Arfa sudah membuka pintu ia berlari menyusuri taman depan rumahnya.


"Oh ya. Jangan pergi dulu!" pergerakan kaki Arfa terhenti. "Putus hubungan telepon ini dan hapus semua history. Lepas kalung yang kau pakai dan letakkan di dalam kamar,"


"Aku tidak punya ka....," ucapannya terhenti saat tangannya merasakan rantai perak melingkar di lehernya. Sejak kapan?


"Waktumu berjalan Arfa,"


"Ah. Iya-iya," gadis ini melakukan perintah. Kembali ke kamar sambil melepas kalung lalu meletakkanya di atas meja belajar. "Kunci kamarmu! Dan jangan lupa, matikan handphone dan hapus history ini. Gedung Lays. Ingat!,"


Tuuut tuut tuuut


Arfa menarik handphone dari telinganya. Sambungan mati. Saat ia akan menghubungi lagi sebuah pesan masuk. Dari nomor yang sama.


Waktumu tersisa 27 menit 32 detik.


Sontak saja ia langsung keluar kamar. Menutup pintu dan menguncinya. Sejenak ia berpikir untuk tidak mematikan handphone saat tangannya tengah meletakkan kunci kamar dalam saku namun sekali lagi pesan dari nomor yang sama masuk.


Apa kau ingin anak ditanganku ini terluka? Jangan lupa matikan handphonemu!


Ia menoleh-noleh ke sekitar. Bagaimana ia bisa tau niatan Arfa. Tanpa pikir panjang, dirinya menghapusi pesan-pesan dan history telepon dari nomor aneh ini sambil berjalan keluar rumah.


Tetangga sebelah rumahnya baru saja datang menggunakan taksi. Keberuntungan bagi Arfa karena ia tak perlu repot-repot mencari kendaraan.


Atau,


Mungkin bukan keberuntungan.