
Kaki-kaki itu terasa berat untuk melangkah melalui lorong-lorong yang akan membawa tubuhnya menuju parkiran. Biasanya ia begitu bersemangat untuk pulang. Bahkan mengambil jalan memutar melalui gedung seni yang arahnya berlawanan dengan parkiran mobil. Namun, sekarang semangat itu tiba-tiba sirna.
Dan kenapa harus melewati kantin gedung depan? Itulah yang ia pertanyakan. Sebenarnya bukan salah jalan yang ia lewati melainkan apa yang ia lihat. Cemburu? Tentu saja. Hatinya terasa terbakar dan teriris-iris melihat Arfa yang sedang mengobati luka di wajah kekasihnya itu. Dengan penuh ketelatenan, ia mengolesi obat luka pada bagian cedera akibat pukulan Eun Jae tadi pagi.
Sedangkan Joon Yeong yang tak sengaja melirik ke arahnya, mulai tersenyum licik. Tangannya sengaja menghentikan aktifitas Arfa. Memintanya menoleh. Gadis itu hanya sekilas saja melirik. "Hubungan kita sudah jelas. Tak perlu mengurusi makhluk tak guna itu,"
Suara itu sangat jelas terdengar di telinga Eun Jae meski jarak mereka bisa dibilang tidak dekat. Tangannya mengepal keras akibat kesal dan kakinya mulai melangkah pergi meninggalkan kantin.
Namun langkah itu tiba-tiba berhenti saat matanya menangkap seorang pria sedang berdiri tepat di depan mobilnya. Pria itu juga langsung berhenti menyandarkan tubuhnya pada mobil Eun Jae saat matanya juga berhasil melihat sosok sang pemilik mobil sedang berjalan mendekat.
"Eun Jae! Mobilku sedang dibawa hyung. Aku ikut dengammu ya?" Chun Seung dapat memaklumi sifat Eun Jae yang tiba-tiba dingin padanya.
Eun Jae terus berjalan mendekati mobil hingga sampai di depan pintu penumpang depan. Ia langsung melempar kunci mobil yang dengan sigapnya ditangkap oleh Chun Seung. "Cepat!" dengan satu kata itu, Chun Seung langsung menuju ke bagian kemudi mobil.
Untuk hari ini, ia hanya ingin pulang. Menenangkan semua pikiran. Biarlah masalah wisuda kali ini. Ia tak begitu peduli. Sedangkan Chun Seung, hanya karena Eun Jae sahabat terbaiknya maka dirinya akan menemani sohibnya ini.
***
"Dua hari lagi," baru kali ini Eun Jae angkat bicara setelah melalui 15 menit perjalanan. Dan baru pertanyaan ini yang dijawabnya dengan kata-kata bukan anggukan, gelengan, angkatan bahu, ataupun -emm-annya.
Mulai dari pertanyaan tentang masalah-masalah di fire, perubahan anggota fire menjadi lebih baik, guru-guru di blackfire, hingga akhirnya pertanyaan ini dijawab. Kapan kau ujian masuk perguruan tinggi? Meski setelahnya Eun Jae tetap dingin dan Chun Seung tak menemukan topik untuk dibicarakan. Ya. Eun Jae memilih mengambil kesempatan kuliah di Harvard untuk beasiswa dari blackfire bagi anak-anak duta. Dan hal itu mewajibkannya melakukan beberapa test dengan full english. Bukan masalah besar baginya.
Mobil tetap melaju santai menyusuri jalanan yang lumayan sepi di siang hari seperti saat ini. "Eun Jae! Aku tahu apa yang kau rasakan. Tapi..., sudahlah. Jangan kau pikirkan! Katamu ujian masuk Univ dua hari lagi. Targetmu kan Harvard. Itu lumayan sulit," kata-kata Chun Seung tetap diabaikan.
Mana peduli lagi dengan urusan Universitas jika sudah seperti ini. Apalagi beberapa materi yang kemarin ia ulang untuk mengikuti ujian. Pikirannya hanya terpusat pada satu tempat. Arfalia.
Ujian itu biasa dilaksanakan oleh Blackfire untuk menyaring anak didiknya dan mengarahkan pada perkuliahan yang cocok. Ikatan alumni mereka sudah mendunia dimana-mana. Karena Eun Jae mengambil target Harvard maka secara otomatis ia juga mengikuti test tersebut karena reward duta fisikanya hanya berlalu untuk universitas dalam negeri.
Berbeda dengan Eun Jae, Arfa terlihat santai-santai saja. T-shirt putih bertulis Aku anak Indonesia dan celana jeans pendek diatas lutut telah melekat ditubuhnya. Gadis ini baru saja duduk di kursi dan melihat lagi apa saja materi yang akan diujikan untuk besok. Ia juga mengambil universitas luar negeri. Paris, Eropa. Tangannya mulai meraih buku-buku yang tertata rapi di atas meja. Hingga akhirnya berhenti pada satu buku yang sama sekali tak pernah ia miliki atau beli.
Buku bertajuk pysichs is my life. Ia menariknya dari tatanan rapi di atas sana. Gadis ini langsung terbelalak saat mendapati sebuah nama di pojokan. Bahkan ini adalah tulisan yang ia buat sendiri waktu dalam rangka kencan sambil belajar. Song Eun Jae dengan tanda love di atasnya.
"Ya Tuhan. Bukankah dia akan mengambil jurusan fisika ya? Bagaimana cara dia belajar? Aku harus mengembalikannya.– TIDAK. Aku tidak boleh bertemu dengannya. –Tapi ..."
Gadis itu nampak gusar sendiri. "Baiklah. Tenang Arfa. Hanya mengembalikan lalu pergi. Tidak akan bicara banyak, "
Akhirnya hanya demi sebuah buku fisika, ia rela tidak sarapan agar bisa berangkat pagi. Joon Yeong pun telah dihubunginya agar tidak menjemput untuk hari ini. Sebuah kalimat dengan 3 kata terus diucapkan berulang kali–mengembalikan lalu pergi–dengan terkadang tambahan, tenang!
Entah karena apa ia melakukannya. Seolah-olah pagi ini ia akan berhadapan dan berencana melawan singa. Jantungnya berdegup kencang. Takut salah kata hingga membuat semuanya hancur.
Area parkir masih sepi meski sudah ada beberapa kendaraan yang berbaris di sana. Jam menunjukkan pukul 06.30. Dan Eun Jae akan tiba 10 menit lagi. Itulah yang Arfa hafal jika pria itu berangkat tanpa menjemputnya seperti dulu.
Namun baru setengah menit Arfa turun dari taksinya mobil lelaki itu memasuki area parkir sekolah. "Sepagi ini? Tumben?" ujarnya sambil berjalan mendekati mobil Eun Jae yang kini telah terparkir rapi.
BRAK !!
Eun Jae sedikit terkejut saat sebuah buku sengaja dibenturkan keras ke kap mobilnya. Benda itu masih melayang dengan bantuan sebuah tangan yang sangat ia hafal. "Katanya buku kesayangan. Ngapain di tinggal?" ucapan Arfa masih belum mendapat responan.
Arfa masih menunggu untuk lelaki disana meraih buku itu. Tapi tatapan memikat yang ia berikan tak mampu membuat gadis ini berlama-lama. Jadi ia melempar buku setebal 7 cm itu di bagian kap mobil. Meski akhirnya jatuh ke tanah karena bentuk kap mobil yang melengkung.
Kakinya sempat akan melangkah pergi sebelum akhirnya Eun Jae menahan pergelangannya. Ia menggenggam lengan Arfa hingga gadis itu berhenti melangkah. "Secepat itukah kau melupakanku? Aku tidak yakin kau telah lupa," Arfa langsung menatap Eun Jae sinis kemudian menarik tangannya dan pergi.
Senyuman yang sangat tipis mengembang di bibir Eun Jae. Pria itu mulai mengambil buku tebal fisikanya itu. Ya. Meski ia tak butuh karena di rumahnya sudah sangat banyak referensi fisika. Setelahnya, ia pergi meninggalkan area parkir dengan arah yang berlawanan dengan Arfa.
Satu fakta yang ia dapat hari ini dari mata bulat itu. Arfa masih punya rasa yang sama.
***
"Fa. Kamu bener-bener pacaran sama Joon Yeong?" tanya Shi Ah disela-sela makannya bersama Arfa.
"Memang kenapa?" Arfa memakan ramyeonnya.
"Tidak ada. Hanya ingin tau,"
"Gadis sepertimu itu jangan memikirkan masalah seperti ini," kata Arfa pada classmatenya itu. "Seseorang yang lugu jangan masuk ke dalam lembah percintaan. Kau akan pusing,"
"Memangnya kau tidak pusing?"
"Sannnngggat pusing," aku terjebak dalam cinta terlarang malahan.
Shi Ah terkekeh kecil. Tentu saja suara hati Arfa tak dapat didengar olehnya. "Sayangnya aku sudah masuk. Malah sudah terlalu dalam hingga susah untuk bangkit lagi. Tapi, aku bahagia. Rasa cinta itu anugrah bukan musibah,"
"Iya sih — tunggu. Kau pernah mengalaminya? Ahh. Aku tau. Saat mabuk waktu itu kau mengigau pasal cintamu yang bertepuk sebelah tangan," sambil menyedot jus jeruk manisnya.
"Mabuk? Kapan?"
"Saat kau pergi ke club bersama Min Ho. Waktu itu kau tepar tak berdaya dan penjaga bar meneleponku karena hanya nomerku yang aktif,"
"Ahh. Hari itu... Aku memang pernah jatuh cinta. Eh Tidak. Sedang jatuh— baiklah. Akan kuberi tau. Sebagai sahabat kau harus tau ini," Arfa masih belum puas dengan minumannya. "Kau tau tentang dua kelompok di sekolah kita?" Arfa mengangguk. "Aku menyukai salah satu ketuanya.... tapi tenang. Bukan Mae Joon Yeong,"
Arfa masih berpikir dan sedetik kemudian ia tersedak. Berarti classmate sekaligus sahabat di depannya, Kim Shi Ah, menyukai.....
"Kenapa?" tanya Shi Ah sambil membantu Arfa dengan memukul perlahan punggung gadis itu.
"Tidak apa-apa. Ada biji jeruk," rasanya hati Arfa sudah sangat hampa. Tak berasa lagi sejak telepon waktu itu datang dan kini bertambah pahit dengan kenyataan ini.
"Oh. Lain kali hati-hati. Lagipula kenapa ahjumma tidak membuatnya tanpa biji sih?"
"Sudahlah. — Berarti yang kau maksud itu..... Song Eun Jae?" suaranya memelan saat menyebutkan nama.
"Jaga rahasiaku! Disini banyak yang menyukainya. Bahkan dulu, saat dia masih kelas satu, kakak tingkat banyak yang menyukainya. Tapi kau tidak akan memusuhikukan Fa? Kita beda kubu dukungan. Tiger dan Fire bermusuhan,"
Arfa tak menanggapi gurauan sahabat karibnya itu. "Kau suka sejak kapan?"
"Sejak umur 7 tahun,"
"Ha?!"
"Keluargaku dan keluarganya sangat dekat. Orang tua kami bersahabat,"
"Oh... jadi cinta masa kecil?" ada rasa sakit saat ia mengucapkan itu.
Shi Ah mengangguk. "Sebelumnya, saat aku mabuk hari itu. Aku mendapat kabar dari pembantu rumah tangganya. Kalau Eun Jae sudah punya pacar. Bahkan mereka tidur satu kamar saat menginap," Rasa-rasanya Arfa melemas seketika. "Sepertinya cintaku enggak bakal terbalas deh. Dia dikenal pria dingin dan nggak pernah punya rasa cinta. Tapi kalau dia sudah menvintai wanita lain, itu akan sulit bagiku untuk mendekat,"
"Gak ada yang nggak mungkin. Coba perjuangkan!"
Sakit? Tentu saja. Siapa yang tidak sakit saat mengetahui sahabatnya juga mencintai orang yang sama. Dan parahnya ia malah memberi semangat untuk merebut sang pujaan hati. Pujaan hati? Pantaskah ia menyebutnya begitu disaat kini ia sedang berpacaran dengan Joon Yeong? Pacaran? Sungguhkah itu?
Tiba-tiba handphone Arfa berdering. Sebuah panggilan bertajuk Manusia Purba masuk ke dalam benda kotak itu. Ya. Manusia purba si sepupu tetangganya yang sangat menyebalkan. Sepupu kak Radit. Seseorang yang ikhlas membantunya dan juga kak Angel. Mae Joon Yeong.
...💕💕💕...