
Arfa terbelalak. Kaget dengan siapa yang sedang membekap mulutnya agar tidak berteriak. "Anna?!"
"Shuutttt,"
"Kau juga disini? Mereka menculikmu?" tanya Arfa tanpa bersuara.
"Kau ingin keluarkan, Fa? Ikuti saja lorong ini. Tidak ada penjaga. Kau akan sampai di halaman. Arah jam dua ada bagian pagar yang rusak, lewatlah sana!" Arfa memandangi wajah yang sedikit pucat itu.
"Bagaimana kau tau? Ah. Sudahlah. Ayo!" ia menarik tangan Anna namun gadis itu malah melepas genggaman Arfa. "Kenapa?"
"Kau pergi saja dulu. Aku akan menyusul. Ada sesuatu yang harus aku urus,"
"Apa?" Arfa berbalik lagi. Memandang Anna. Memang urusan apa yang bisa di lakukan di rumah ini?
"Sudahlah. Kau harus menyelamatkan pria itu, kan? Cepatlah! Ia ada di gedung 100 meter dari rumah ini ke kanan,"
"Ahhh... baiklah. Tapi, bagaimana kau tau?"
"Itu tidak penting Arfa. Cepat pergi!"
"Ah. Ya ya. Baiklah. Apa kau yakin aku tinggal sendiri?"
"Iya. Cepat!"
Arfa mengangguk lalu berlari tanpa suara menyusuri lorong sempit ini. Untung saja model sepatunya mendukung. Langkahnya terhenti dan berniat berbalik untuk menanyakan sesuatu pada Anna. Dimana ia akan menunggu Anna jika sudah keluar. Tapi sayangnya gadis tadi sudah menghilang saat Arfa menoleh.
.
.
Benar kata Anna. Tak ada penjagaan selama perjalanannya. Arah jam dua, ada lubang dari pagar besi yang rusak. Ia menoleh ke kanan kiri sebelum akhirnya merangkak keluar.
100 meter ke kanan. Arfa berlari. Menggunakan teknik yang sama, mengendap-endap-bersembunyi-berlari-bersembunyi-mengendap-endap. Terus seperti itu. Jalanan memang sepi, tapi siapa tau ada pasang-pasang mata atau kamera yang mengawasinya. Was-was diperlukan saat ini. Saran dari film yang ia tonton.
Gedung tingkat yang tak terpakai. Kotor dan mirip bangunan angker untuk syuting film horor. Teriakan seseorang menggema hingga keluar bangunan. Menyentuh pendengaran Arfa yang bersembunyi di semak-semak. Tak salah lagi, itu suara Joon Yeong.
Ada penjaga di depan gedungnya. Arfa mencari jalan tanpa harus melawan. Ya. Mereka terlihat kekar-kekar dan berotot. Sekali tiup mungkin Arfa bisa mencapai Swiss, negara favoritnya.
Matanya berkeliling. Mencari jalan lain dan akhirnya sesuatu memberi pencerahan padanya.
Tangannya yang tidak biasa memegang tembakan mulai mengarahkannya pada deretan mobil di sebelah bangunan ini. Tak ada penjaga disana.
Hanya berjarak 10 meter, Arfa menekan pelatuk. Untung saja ada peredam suara di pistol glock 30S ini. Menembak kaca mobil terdepan. Menembus sampai ke kaca terbelakang dan mungkin teredam di jok mobil setelahnya.
Suara sirine terdengar sangat nyaring. Beberapa penjaga pergi ke parkiran tersebut. Sisanya hanya menoleh memandangi rekan kerjanya yang berlari kesana.
Bodoh. Mereka bodoh. Tapi, Arfa menyukai itu. Dengan mengendap-endap ia masuk ke dalam gedung tak terpakai ini. Mengunakan jalur yang berlawanan dengan arah pandang sang penjaga.
Menyusuri setiap lantai dan pastinya menemukan yang benar mudah untuk ditebak. Lantai dengan penjagaan pasti adalah tempat dimana si serba hitam ditahan. Oke. Ia menemukannya pada lantai 2.
Bersembunyi di balik tangga, ia bisa melihat semuanya. Melihat tubuh Joon Yeong yang menyamping. Para penjaga yang memandang sekitar. Dan juga tiga orang di sekitar lelaki yang tangannya terantai kuat. Rantai itu terhubung dengan atap gedung. Tertanam disana.
Arfa berpikir sejenak. Ia harus memiliki strategi. Pertama si penjaga ini. Hanya ada dua dan mudah diatasi. Terlihat tumpukan tong-tong besi di kanan mereka dan juga pintu rapuh di ujung kiri. Arfa akan berkutat dengan teknik kamuflase suara lagi.
Oke. Ia mulai melaksanakannya. Di arahkannya moncong itu pada tong-tong di ujung sana. Mereka terjatuh. Satu penjaga mulai memeriksa.
Dengan cekatan, Arfa berpindah haluan. Ia menembak pintu itu. Cukup jauh tapi ia yakin akan berhasil. Dua kali tembakan, pintu itu berdebam jatuh. Menampilkan sebuah ruangan berdebu dan gelap. Ah itu tidak penting.
Penjaga kedua terlihat bimbang tapi akhirnya ia melangkah untuk mengecek ruangan itu.
Saat itulah Arfa langsung berlari memasuki aula besar di lantai dua ini. Bisakah disebut aula? Semua ruangan disini terlihat sama. Sudahlah
Tidak penting.
Ia bersembunyi di balik tumpukan barang pada rak-rak tua. Mengintip dari sini. Oke. Dua orang di samping Joon Yeong kembali melempar pisau-pisaunya. Dan salah satu dari mereka berhasil mencium pelipis si serba hitam. Arfa meringis. Ada rasa sakit yang ikut menjalari tubuhnya. Perlahan ia menyentuh pelipisnya. Namun, tak lama setelah itu ia menghempaskannya dengan keras.
Urusannya belum selesai. Ia harus memikirkan strategi lagi. Hanya kebohongan suara yang masuk ke otaknya karena itulah yang ia tau. Ia melihat sekeliling dan menemukan besi dari potongan penyangga rak yang telah rusak. Mungkin teknik di gudang tadi bisa dipakai ulang.
Ia melepas peredam tembakan sambil berjalan sedikit ke barat. Beruntung rak ini agak panjang dan meliuk. Diarahkannya moncong itu ke udara bebas. Asal saja arahnya, yang terpenting adalah suaranya.
Arfa langsung berlari menuju rak yang meliuk ke timur laut. Bersembunyi di sana. Sengaja ia meletakkan pistol itu di tikungan rak. Niatnya agar terlihat oleh penjaga yang melihat.
"Kalian berdua. Cepat check!," perintah Joon Yeong terdengar jelas di telinganya. Langkah mereka terdengar menyenangkan di telinga Arfa. Tangannya semakin erat menggenggam besi.
3 2 1
DUK!! DUK!!
Pukulannya cukup keras dan ia baru sadar jika besi ini berpaku. Ada darah yang mengalir disana. Tidak. Arfa yakin mereka tidak mati. Hanya terkejut. Efek terkejut jauh lebih besar kemungkinannya untuk tak sadarkan diri.
Arfa memalinglan wajah saat melihat darah mengalir kental membasahi rambut landak mereka.
Kali ini ia menunggu. Seperti yang dilakukan serba hitam saat ingin menyelamatkannya. Joon Yeong adalah orang yang tidak bisa bersabar dan tak butuh sejam, lelaki itu berjalan untuk mengecek sendiri. Kini Arfa telah berpindah lebih ke Barat agar ia dengan cepat bisa melumpuhkan lelaki ini.
Lima kali pukukan secara mendadak membuatnya akhirnya terpental ke belakang. Seorang penjaga di belakang SH terbelalak kaget sedangkan lelaki di depannya tampak tak peduli. Sama seperti sebelumnya, ia terlihat lelah.
Saat lengah seperti ini ia langsung melangkah cepat menuju tempat si penyelamatnya terantai.
BUKK !!!
Penjaga di belakang tubuhnya langsung terpental ke depan. Arfa melirik ikatan rantai itu. Berupa ring besi yang terkunci.
Ide kembali terngiang. Adegan film sepertinya memotivasi. Ia melepas jepitan rambut di kepalanya. Untung tidak hilang sedari tadi.
Dimasukkannya potongan kecil itu pada lubang ring di pergelangan tangan SH. Tak ada reaksi apa-apa dari lelaki di hadapannya. Ia masih sadar, kan?
"Apa kau baik-baik saja?" tanyanya memastikan jika lelaki dengan kaos oblong hitam itu masih bernapas. Tapi, tak ada jawaban.
Setelah selesai dengan urusan membuka ring rantai, ia beralih ke hadapan si serba hitam tanpa topi, masker, dan jaket yang Arfa tau.
Ia menggunakan tangannya untuk mengangkat wajah lelaki itu. Melihat apa ia masih sadar, sepertinya iya. Lelaki ini tak terjatuh meski hanya bertopang pada kaki. Jika ia tak sadarkan diri, pasti sudah bergelung dengan lantai kotor ini. Tapi, kenapa masih terdiam?
Tangannya yang menangkup wajah lelaki itu mengangkatnya pelan. Sedetik Arfa diam namun ia terbelalak setelah waktu singkat itu berlalu. Ia melepas tangannya. Mundur selangkah karena jaraknya terlalu dekat.
Wajah itu membuatnya terbelalak. Wajah yang selalu terngiang di otaknya beberapa hari ini. Wajah yang berusaha ia lupakan karena sudah sebulan lebih tak nampak. Meski begitu, Arfa masih ingat jelas bagaimana lekuk-lekuknya.
Lelaki itu membalas tatapan Arfa dengan lembut. Mulutnya tak bisa berkata-kata. Mungkin cukup dengan gadis ini melihatnya. Semua bisa jelas hanya dengan itu.
Matanya lalu beralih pada seseorang di belakang sana. Seseorang yang sedang memegang kepalanya dengan tangan kiri lalu ada sebuah pistol 30S pada jemari kanannya. Joon Yeong tak mudah lumpuh meski dengan pukulan kuat Arfa seperti tadi.
Seseorang itu, lelaki itu berdiri dengan sempoyongan. Mengarahkan moncong pistol pada Arfa. SH terbelalak. Kaget.
Pelatuk di tekan dan saat itulah ia berhasil memutar posisi. Memeluk arfa dengan kedua tangannya yang sedikit lecet akibat terkungkung ring rantai tadi. Lalu berbalik.
DOR!!
Pria di sana sampai terpental akibat pelatuk yang ia tekan sendiri lalu kembali terjatuh. Bekas 5 pukulan Arfa masih membekas di kepala dan tulang belakangnya.
Begitu pula seseorang yang kini tengah memeluk Arfa. Gadis ini ikut terpental saat benda kecil itu menembus badan pria yang tak ia ketahui namanya ini. Pria penyelamatnya.
Arfa diam mematung. Memandang jauh di sana. Joon Yeong memegang pistol hitam yang tadi ia bawa. Dengan tangan bergetar ia menyentuh punggung serba hitam. Basah. Kental. Darah. Ya darah. Arfa bisa merasakan ada sesuatu mengalir deras di sana.
Tubuh lelaki ini semakin berat. Apa ia mulai tak sadarkan diri? Arfa berusaha melepas pelukannya tapi tetap membantu menjaga berat tubuh lelaki ini.
"Please. Jangan tutup matamu!" ujar Arfa terlihat kalut. Tubuhnya ikut merosot saat kesadaran serba hitam mulai terkikis.
Gadis ini bingung ingin melakukan apa. Percuma teriak minta tolong. Semua isi gedung ini adalah anak buah Joon Yeong. Lagipun di sekitar gedung tua tempatnya berada adalah sebuah daerah yang sangat sepi. Tak ada tanda kehidupan kecuali beberapa burung dan rumput liar ataupun jangkrik-jangkrik yang iseng bernyanyi.
Sudah. Bukan waktunya membahas itu. Kini ia harus memikirkan cara keluar dari sini. Tidak mungkin meminta tolong pada Joon Yeong.
Ya. Jangan lupakan dia! Tanpa ia sadari, lelaki di sana mengarahkan pistol padanya. Sasaran yang sesungguhnya. Arfa masih kalut saat suara itu memecah udara.
DOR !!!
...💕💕💕...