
Handphone Arfa di matikan sejak kemarin. Min Ho terus saja meneleponnya jadi ia jengah. Bahkan dirinya kini menginap di rumah Zahra menemani Cheon Gi.
"Fa! Ada yang nyariin!" ucap Zahra yang membuka pintu kamar tamu setelah mengetuknya perlahan. "Kamu ini ya! Playgirl banget. Kemarin Eun Jae sekarang Min Ho,"
"Hah? Min Ho kesini?"
"Iya. Tuh di ruang tamu,"
Arfa menggigit bibir bawahnya. Lelaki itu hasratnya tinggi juga ya. Ia bangkit dari posisi rebahannya dan keluar kamar. Wajahnya terlihat bersih karena ia baru saja berendam dengan air hangat. Merasakan sauna sendiri sambil menghilangkan stress akibat Min Ho yang belum hilang sejak kemarin. Dan kini malah lelaki itu datang ke rumahnya.
Sebelum-sebelumnya lelaki itu juga sering menggombal atau apalah. Tapi tidak sampai bersikap seserius kemarin. Bahkan memaksa.
Gadis itu melangkah keluar. Memutuskan meluruskan semuanya. "Arfa?" Min Ho langsung membola. Memandangi Arfa dari atas sampai bawah dengan wajah kebingungan.
"Ada apa?" tanya Arfa sambil ikut melihat penampilannya. Mungkin ada yang salah. Tapi yang ia lihat tak ada kejanggalan sama sekali. Semua terlihat baik-baik saja.
"Kau sama sekali tak berniat ke sekolah?"
"Untuk apa ke sekolah ?" ia berjalan mendekat dan akan duduk di sofa single.
"Loh. Sekarang ada rapat kelas akhir," pantatnya berhenti bergerak. Tak jadi menempel pada bangku lembut itu.
"Rapat apa?"
"Lah? Kemarin sebelum seminar di tutupkan udah di kasih tau. Handphonemu nggak bisa di hubungi. Jadi aku kesini,"
"Ya Tuhan!" Arfa langsung berdiri tegak. "Kenapa nggak bilang dari awal? Tunggu aku Min Ho,"
Gadis ini langsung berlari menuju kamarnya. Berganti seragam seperti yang dipakai Min Ho. Ya. Blackfire punya peraturan jika siswa ingin ke sekolah entah itu urusan pendidikan maupun tidak diwajibkan memakai seragam.
Tujuh menit kemudian ia keluar sambil berusaha mengenakan blazer seragamnya. Ada tas kecil yang ia genggam tali gantungnya. Setelah usai mengenakan blazer ia langsung mengajak Min Ho segera berangkat.
"KAK ZAHRA. AKU KE SEKOLAH DULU! ADA URUSAN," teriaknya sambil menutup pintu. Tak punya waktu berpamitan lagi untuk sekarang.
Ia memasuki mobil Min Ho tanpa dipersilakan. Mereka berangkat bersama sang putih menuju sekolah. Jalanan tak terlalu ramai karena memang sekarang sudah lewat jam kerja.
Arfa berusaha menghidupkan handphonenya. Langsung muncul notifikasi 30 panggilan tak terjawab dari 3 kontak. 7 di awal bertajuk serba hitam 3 Shi Ah dan 2 kali panggilan serba hitam kemarin sore. Lalu sisanya milik Min Ho yang terpisah 2-16 di hari ini dan kemarin.
"Fa. Aku minta maaf yang kemarin,"
"Hmm," Arfa membuka aplikasi chatnya. Mencari kontak Eun Jae.
"Aku bisa memakluminya. Aku yakin kau akan mendapat yang lebih baik dariku nanti. Percayalah!" ujarnya sambil menghentikan aktifitasnya sejenak dari handphone. Memandang Min Ho penuh arti.
"Kau yang terbaik. Setidaknya aku tidak kehilangan sahabat sepertimu. Bolehkan?"
"Ya. Aku akan menjadi sahabat terbaik dan termanismu,"
Arfa kembali pada kontak serba hitam yang akan ia chat setelah ini. Menjelaskan apa yang terjadi agar tidak khawatir. Namun ia langsung terbelalak saat menyadari sesuatu yang sangat membuatnya rugi.
***
Semua murid tahun terakhir blackfire high school sudah berkumpul di aula pribadi lembaga ini. Berbeda dengan yang kemarin karena itu milik yayasan. Ya. Blackfire merupakan yayasan dengan lembaga dari pendidikan usia dini hingga fakultas yang lumayan besar dan termasuk favorit ke 5 di Korea Selatan.
Para murid yang sudah duduk di lantai aula mulai ricuh. Mic yang di genggam oleh sang panitia di ketuk tiga kali. Membuat semua terfokus padanya.
Ya. Mereka baru beberapa hari selesai libur musim dingin.
"NNGGGAAAKKK !!!"
Seseorang langsung merebut microfon dari lelaki itu. Ia mengambil alih dengan wajah kalemnya. Keren namun terlihat menghangatkan hati.
"Jadi, seperti yang sudah di bahas kemarin, kita akan membicarakan tentang acara camping setelah musim semi datang nanti. Sebagai bentuk acara perpisahan kita sebelum benar-benar lepas dari blackfire high school," semua mendengar dengan hidmat ucapan Yeol.
"Mulai pengabsenan umum. Nama yang dipanggil harap ke sisi kiri bagi perempuan dan kanan bagi laki-laki," tambah pemandu lain yang menemani Yeol.
Di paling depan sudah ada Eun Jae yang duduk santai bersila hanya menikmati semua. Ya. Dia panitia juga. Namun bukan mengurus hal semacam ini. Pangkatnya lebih tinggi lagi.
KLEK !
Pintu aula dibuka dari luar. Suaranya yang terdengar sangat keras membuat semua menoleh. Ada Arfa dan Min Ho yang baru saja datang disana.
Mereka terlihat salah tingkah saat semua mata menghujam ke arahnya. Apalagi Arfa yang sudah menjadi pusat perhatian bagi Eun Jae. Andai aula ini sepi maka ia akan berlari ke arah lelaki itu dan menjelaskan semuanya.
Tadi saat dirinya baru saja membuka kolom chat milik serba hitam, ia menemukan sebuah fakta. Pesan yang kemarin Arfa ketik belum terkirim. Hanya sebatas nangkring di kolom pengetikan. Kekasihnya itu juga mengirimi pesan.
Serba hitam
Kenapa tidak bilang kalau mau pulang dengan Andre?
Hanya itu namun cukup membuatnya bergetar. "Maaf telat!" ujar Min Ho yang langsung bergabung dengan murid lain sambil menggandeng tangan Arfa.
Eun Jae memalingkan pandangan saat Chun Seung memanggil untuk meminta bantuan. Ia bangkit dan berjalan mendekat. Dan kali ini gerak-geriknyalah yang tak lepas dari pandangan Arfa. Gadis itu duduk bersama satu kelasnya yang lain. Sedangkan Min Ho yang juga termasuk panitia langsung membantu.
Arfa bingung harus menjelaskan bagaimana. Eun Jae sepertinya marah dan ia saat ini tidak bisa segera menjelaskan. Jika mengirim pesan mungkin kesalahpahamannya akan bertambah besar. Ya Tuhan.
Gadis itu menghembuskan napaa kesalnya. "Kenapa tidak menjawab panggilanku?" Shi Ah yang melihat Arfa datang langsung pindah duduk di sebelahnya.
"Mian. Handphoneku mati,"
"Aku sudah seratus persen yakin kau tidak tau tentang acara ini. Kemarin saja fokus ke hp doang. Untung Min Ho menanyakanmu dan aku cepat-cepat menyuruhnya menjemput,"
Arfa tertawa sekilas. "Gomawo. Tapi ini acara apa?"
"Camping musim semi. Blackfire biasa melakukannya untuk acara akhir tahun,"
Arfa mengangguk-angguk paham sambil mengalihkan pandangan. Namun tiba-tiba ia tercekat. Pikirannya kembali kosong tatkala melihat bayangan anak lelaki di pojok aula.
...💕💕💕...
......***Hai para readers......
...Masih menikmati Arfalia?? Maaf ya aku gak bisa upload setiap hari. Cuman bisa dua hari sekali....
...Semoga terhibur...
...Kalau ada saran boleh ketik di kolom komentar...
...love you***...