
Gadis ini memejam saat suara itu terdengar nyaring di telinganya. Apalagi ini? Arfa tak berani untuk membuka mata.
Namun tiba-tiba suara sirine menyusul mencium gendang telinga. Ia langsung memberanikan diri untuk membuka mata. Dikira itu adalah sebuah rencana Joon Yeong tapi lelaki itu terlihat terkejut juga.
Mae Joon Yeong tampak kesal lalu melempar pistol ke sembarang tempat. Kemudian ia pergi entah kemana.
"Eun Jae?!" suara itu memecah lamunan Arfa. Seorang pria berlari menuju ke arahnya. Matanya terlihat khawatir pada seseorang yang kini bersandar kepala di paha Arfa. "Apa yang terjadi?" lelaki itu bertanya pada Arfa
"Hah?,"
"Kenapa dia bisa begini?"
"Dia... tertembak saat ingin menolongku," Arfa sedikit demi sedikit mendapatkan kesadarannya. Kekalutan kembali menyapa. Kebengongannya sirna begitu saja saat kembali menemukan darah. "Bagaimana ini? Dia.... tertembak. Kita harus segera menolongnya. Dia bisa....,"
"Tenang tenang. Aku akan menghubungi dokter," lelaki itu menahan tawanya yang mungkin akan menghancurkan suasana. Sikap wanita ini membuatnya tergelitik. Berubah dari bingung lalu histeris dalam sekali kedipan.
Tak lama kemudian, ia memanggil para kawanannya untuk membantu membawa pimpinan mereka itu, Song Eun Jae.
***
Mobil melaju kencang. Sesekali Arfa melirik orang yang mengemudikan mobilnya ini. Memalingkan sejenak dari wajah pucat serba hitam.
Sepertinya wajah sang sopir sangat tidak asing di matanya. "Aku Chun Seung. Yang satu tim kompetisi dengan Eun Jae,"
"Ahh... Aku hanya merasa kenal. Apa kita akan membawanya ke rumah sakit?"
"Kita tidak ingin masalah ini sampai merembat ke jalur hukum," gadis itu mengangguk-angguk paham.
Arfa diam sejenak sambil terus memandangi wajah pucat itu. Wajah yang terakhir kali mengajaknya makan malam di restorant romantis. Wajah yang dulu selalu membuatnya jengkel bahkan saat ia sedang sakit.
Tunggu. Arfa teringat sesuatu.
"Bukankah dia hanya cocok dengan dokter Zahra. Sebaiknya kau hubungi saja dokter itu. Mungkin penanganannya lebih benar,"
Sejauh mana dia mengenal Eun Jae. "Aku menghubunginya. Dan ya.... sekarang..... nah. Itu dia,"
Arfa memandang ke depan. Perempuan itu telah siap dengan berbagai peralatan medis dalam satu tasnya. Mobil berhenti tepat di depan sebuah rumah minimalis dengan pagar tinggi.
Chun Seung membantu menurunkan Eun Jae. Sedangkan Dr. Zahra sempat tak berkedip saat menyadari seorang gadis yang sangat ia kenal tengah menuntun pasiennya.
"Arfa?"
"Kak. Kau harus cepat mengeluarkan peluru di tubuhnya ini," Arfa kembali terlihat sama. Penuh kekhawatiran dan kalut. Chun Seung segera menempelkan ibu jari Eun Jae untuk membuka gerbang coklat ini.
Mereka langsung menuju ke sebuah kamar. Membaringkan tubuh Eun Jae dengan posisi telungkup.
Dr. Zahra mulai mempersiapkan alat-alatnya. Ia menggunting kaos hitam Eun Jae agar sedikit leluasa. Mulai memberikan suntikan pereda rasa nyeri. Arfa berpaling. Ia benci seperti ini.
"Aku pergi dulu ya. Mungkin agak lama. Jika dia sadar dan mencariku bilang saja aku mengurus siasanya. Itupun jika dia bertanya," Arfa menggangguk paham atas ucapan Cheun Seung.
Mengikuti lelaki itu hanya sampai keluar kamar. Niatnya sih bukan untuk menemani sampai gerbang, hanya ingin menjauh dari proses operasi.
Arfa menunggu di luar. Khawatir? Tentu saja. Ia menggigit kuku-kukunya gugup. Ingat. Dia khawatir bukan pasal ia memiliki sebuah rasa. Tidak sama sekali. Ia khawatir karena lelaki itu menolongnya.
"Sudah. Nggak usah mondar-mandir," Arfa tersentak. Ia menoleh pada sang dokter yang baru keluar ruangan. Ia juga baru sadar kalau sedari tadi kakinya berjalan tak tentu arah. Mondar mandir.
"Gimana kak? Selamet?" dokter itu malah tertawa bukannya langsung menjawab.
"Dia cuman ketembak di punggung,"
"Cuman kata kakak? Ketembak loh kak. Gimana kalau kena tulangnya?Atau ada racunnya?" Zahra kembali tertawa.
"Jangan sering-sering nonton film! Otakmu jadi halu terus,"
Arfa merengut. Tak terima di hina. "Terus gimana? Udah keluar pelurunya?"
"Udah my honey. Kamu tinggal jagain dia. Nggak lama lagi paling sadar. Dia tuh orang yang kuat,"
"Oh. Syukur kalau gitu,"
"Eh. Kamu kok bisa ada di sini?"
"Emmm.... Aku tadi, diculik," sambil merendahkan suaranya. Takut terlalu khawatir nantinya.
"Hah?!" kan. Apa dugaannya ? "Emang ada yang mau nyulik orang kayak kamu?"
Zahra tertawa sekilas. Melihat wajah cemberut Arfa lebih menyenangkan. Ia tak perlu khawatir selama Arfa sudah mengenal Eun Jae. Kejadian dulu tak akan terulang. "Jadi, Eun Jae nyelametin kamu sampek kena tembak?" Arfa mengangguk lesu. Terlihat jelas dia merasa sangat bersalah. "Kalau gitu kamu harus ngerawat dia. Kamu buatin bubur nanti. Terus suapin,"
Arfa menyatukan alisnya. Ia mencium hal aneh pada kata-kata dokter yang merangkap sahabat kakaknya itu. "Ngapain sampek disuapin?"
"Lah. Kamu nggak tau? Dia tuh ketembak, Fa. Saraf di tangannya pasti sedikit sakit juga. Kamu nggak mau tanggung jawab?" Arfa langsung mengangguk mau. Sedangkan Zahra memberi senyum kemenangan. Sekali-kali menggoda dua anak ini, bolehkan?
"Oh iya kak. Gimana kabar tentangโ"
"Ahh. Yaa... kakakmu sedang pindahan ke rumah barunya bersama Kevin. Jadi mungkin apartementmu sekarang kosong,"
"WHATT!! Secepat itu? Kukira Kevin oppa yang bilang akan tinggal bersama setelah study Angel eonni itu hanya bercanda,"
"Mereka sudah dewasa, Fa. Tidak ada waktu untuk bercanda. Apa perlu aku memintanya menjemputmu? Kurasa kau tidak baik berkeliaran sendiri sekarang,"
"Enggak. Biar Arfa aja yang kesana. Aku akan menunggu lelaki itu bangun. Arfa juga kayaknya nggak pingin balik dulu ke apart. Trauma,"
"Oh. Ya udah. Nih. Alamat rumahnya," Zahra mengeluarkan kertas dan bulpen lalu menuliskan sesuatu di sana. Setelahnya di serahkan pada Arfa.
"Makasih ya, kak,"
Zahra hanya tersenyum usai memasukkan bolpoinnya kembali. "Itu di balik kertasnya ada resep obat. Kayaknya dia nggak butuh sih. Tapi, jaga-jaga kalau tiba-tiba kerasa nyeri,"
Arfa membalik kertas berisi alamat kakaknya itu. Ada beberapa obat yang harus ditebus. Apa ia boleh keluar? Sepertinya sedikit bahaya atau.... sangat bahaya? Ia teringat kejadian di restoran tadi.
Tapi ia mengangguk menjawab ucapan Zahra. "Titip salam buat kak Angel, ya. Bilang aku masih ada urusan sebentar," kini giliran Zahra yang mengangguk. Mengiyakan sambil berjalan menuju pintu. Ditemani oleh Arfa.
"Bye," Zahra melambai saat telah sempurna menyematkan kedua sepatunya.
"Bye. Hati-hati," Arfa membalas lambaiannya. Tak lupa menyunggingkan senyuman.
Selepas kepergian Zahra, ia masih terdiam. Kenangan penculikan menghantuinya dan tiba-tiba ia merasa panas pada kedua tangannya. Ia melihat ke arah lepuhan itu. Baru teringat.
Segera saja ia melangkah menyusuri rumah ini. Mencari dapur atau lebih tepatnya lemari pendingin dan lebih spesifiknya, ia butuh yang dingin-dingin seperti es batu.
Ketemu. Sebuah kulkas. Ia membukanya dengan tangan kanan. Kulkas dua pintu dan rumah ini untung memiliki persediaan es batu. Arfa mengeluarkannya lalu mencari baskom. Merendam tangannya di antara kristalan-kristalan air itu.
Aneh. Kenapa baru terasa sekarang? Kenapa tidak saat masih ada Dr. Zahra tadi? Panasnya menghilang tapi saat es mulai mencair, rasa itu kembali membakarnya. Malah lebih parah.
"Aaaah....," bukan suara Arfa akibat rasa di tangannya. Itu suara dari kamar yang ditempati Eun Jae. Sepertinya itu nama yang didengar Arfa tadi.
Ia jadi teringat sesuatu. Rasa sakitnya teralihkan. Ia punya tanggungjawab untuk menjaga satu anak manusia itu.
Ditinggalah baskom berisi air yang mulai menormalkan suhunya tersebut. Mencair. Lalu segera pergi ke kamar tadi.
Eun Jae terlihat kesakitan dalam tidurnya. Tubuhnya menyamping menghadap pintu. Jadi, saat Arfa masuk ke dalam, ia langsung bisa melihat wajah yang tak tenang itu.
Dipandangnya lamat-lamat dari kejauhan sebelum akhirnya ia menghampiri dan duduk di sisi ranjang. Mengelus kepalanya lembut. Antara ingin menenangkan dan takut jadi malah membuatnya bangun.
Ia teringat dengan obat yang harus ia beli. Mungkin Eun Jae sedikit tersiksa karena tidak minum obat. Tapi, Arfa pun sudah diwanti-wanti oleh Chun Seung untuk jangan sekali-kali melangkah keluar gerbang. Lalu, bagaimana?
Ia masih memandang wajah di hadapannya. Tampan. Itu mungkin yang tersirat saat memandang sekilas. Penyelamat. Itu yang ia pikirkan saat mengingat kejadian tadi. Bodoh. Ya. Lelaki ini bodoh karena rela menyelamatkan Arfa dikandang singa. Ia terpikir kata-kata itu saat melihat beberapa luka pada wajahnya dan darah yang membasahi rambut yang tumbuh pada pelipis.
"Udahan mandenginnya," Arfa terlonjak. Ia langsung menarik tangannya yang sudah sejak tadi terdiam tak mengelus kepala Eun Jae. Ia menoleh dan mendapati Chun Seung berjongkok di samping ranjang sahabatnya. Tepat di depan wajah Eun Jae. "Dia tampan juga. Baru sadar kenapa kau menatapnya tanpa berkedip,"
"Apaan sih," Arfa bersemu. Persis atau bahkan sama seperti orang yang telah tertangkap basah.
Chun Seung terkekeh pelan. Ia bangkit berdiri. "Ada yang dibutuhin?"
"Emmm..... ah ya. Ada," ia teringat resep sahabat kakaknya. "Aku bisa minta tolong belikan obat nggak?"
"Tentu. Apa?"
Arfa merogok kertas di saku celananya. "Nah!" lelaki itu menerimanya lalu membaca sekilas.
"Ini resep obat Eun Jae?" sambil memasukkan kertas itu ke dalam saku celananya. Arfa mengangguk. "Tunggu aja disini. Nanti aku anterin," gadis itu kembali mengangguk.
Chun Seung melenggang pergi dan Arfa kembali pada kegiatan sebelumnya. Menatap Eun Jae. Entah kenapa wajah itu menjadi candunya. Salahkah ia bila mengaku rindu sejak acara pura-pura di kediaman Jang waktu itu?
Ia menatapnya dengan lekat dan kembali berakhir pada luka-luka di wajahnya. Itu karenanya. Arfa makin merasa bersalah. Tiba-tiba ia teringat sesuatu. Sebuah ide.
...๐๐๐...