
Bus telah diperbaiki. Kini ban dari bus yang tadinya bocor, telah terganti dengan ban cadangan yang sebelumnya sudah disiapkan oleh pak sopir untuk jaga-jaga bila terjadi sesuatu.
Para siswa pun mulai memasuki kendaraan dan duduk di tempat masing-masing. Kecuali Shi Ah dan Yeol. Meski alasan dari hal yang mereka khawatirkan berbeda tetap saja keduanya terlihat kompak. Mereka telah berdiri sejak tadi di luar saat tiba-tiba Mr. Albert menegur dan menyuruhnya masuk dengan alasan suhu luar sangat dingin.
Bukan anak prioritas 3 namanya jika menurut. Mereka tidak mau masuk. Namun, "Jika kalian tidak masuk, gadis Indonesia itu akan kutinggal,"
Niatnya hanya bercanda. Mana ada guru yang akan setega itu. Tapi, kalimat tersebut berhasil. Mereka masuk dan duduk di tempat masing-masing tanpa diperintah dua kali. Selain disebut guru terkece, ia juga guru paling killer.
"Permisi," langkah gadis itu mulai memasuki bus. Shi Ah langsung berdiri.
"Oh. Kau lama sekali," ujar Mrs. Kim
"Dimana Arfa?," tanya Shi Ah langsung menyambar sedangkan Yeol memandangi Anna seolah ada sesuatu yang ganjal.
"Eh iya. Mana gadis Indonesia itu?" tambah Mr. Albert.
"Arfa tadi dijemput sama orang tuanya. Katanya ada urusan keluarga yang sangat penting,"
"Oh. Tapi, kenapa dia tidak menghubungiku? Biasanya dia selalu izin dengan sopan," heran Mrs. Kim sambil mengecek handphone. Barang kali ada sebuah notofikasi yang terlewat. Namun, nihil.
"Mungkin tak lama lagi,"
"Bu..... bisakah kita berangkat?" tanya sang sopir yang membuat pembicaraan terhenti sementara.
"Oh. Ya pak sopir. Cepat! Kembali ke tempat dudukmu," suruh guru wanita ini. Anna mengangguk lalu berjalan menuju bangkunya.
"Tunggu," ujar Yeol menghentikan langkahnya. Mrs. Kim pun menoleh begitu pula dengan pak sopir yang penasaran dengan nada kharismatik siapa yang berujar. "Arfa yatim sejak berumur 3 tahun. Siapa yang menjemputnya ?,"
Suasana hening seketika. Mrs. Kim pun mulai merasakan hal aneh. Bulu di lehernya berdiri rapi. Ia menatap punggung Anna yang sudah berada di barisan ke 4 dari depan. Tepat di hadapan Yeol yang tengah duduk.
"Mana aku tau. Mungkin saja orang tua angkatnya," ucapnya penuh keyakinan.
"Sudahlah, Yeol," seseorang yang menjadi teman duduknya memukul bahunya pelan. "Kita harus cepat berangkat. Jika kau bertanya terus kapan selesainya?" katanya bergurau. "Arfa pasti akan menghubungi sebentar lagi,"
Anna kembali melangkahkan kakinya lalu duduk pada bangku yang berjarak 2 kursi dari tempat duduk Yeol.
Shi Ah yang duduk di belakangnya, mulai mengetikkan sesuatu. Mengirim pesan singkat pada salah satu kontak yang tersimpan di handphonenya.
^^^Me:^^^
^^^Kata Anna dia dijemput ortunya^^^
^^^Apa ia punya orang tua angkat ?^^^
^^^Send^^^
Min Ho:
Apa ?
Tidak. Orang tua angkatnya juga telah meninggal 7 tahun yang lalu.
Aku akan mencarinya
Read
Shi Ah hampir tak bernapas menyadari hal itu. Lalu..... ia memandang puncak kepala gadis yang duduk di hadapannya. Kenapa Anna berbohong? Atau memang Arfa punya orang tua lain dan Min Ho tak mengetahuinya.
Sudah 15 menitan Shi Ah tak berkutit. Ia terus memandang ke tempat yang sama. Ia bergetar. Takut pula rencana yang diceritakan Min Ho benar-benar akan terjadi. Handphone di genggamannya sampai terjatuh. Tepat di depan kakinya.
Berusaha positif tinking, ia berpikir bahwa Anna sedang menekuk kakinya. Tidak ada yang namanya hantu. Itu tidak ada.
Shi Ah kembali pada posisi semula. Matanya langsung terbelalak saat tak lagi menemukan puncak kepala Anna. Ia langsung berdiri. Melongok ke arah kursi di hadapannya. Tapi kosong. Tak ada siapapun.
"Dimana Anna?" pertanyaannya berhasil membuat semua anak terfokus padanya. Bahkan ada yang sedang bermain game langsung dibuat kalah karena melirik ke arah Shi Ah.
Mrs. Kim langsung menghampiri kursi Anna tadi. Diikuti Yeol di belakangnya. Ada beberapa bulu halus hitam di kursi itu.
"Cek toilet," suruh Yeol entah pada siapa saja. Tapi, tetap ada yang mengeceknya dan KOSONG.
Semua anak mulai ricuh sendiri. Ikut mengedarkan pandangan mencari sosok itu layaknya Shi Ah. Ia yang pertama kali tau dan ia yang paling bingung. Dan, ketakutan.
Yeol yang dipandang Mrs. Kim langsung lemas tiba-tiba. Pikirannya berputar pada Anna. Teman masa kecilnya. Teman seperjuangannya. Hilangnya dia barusan bukanlah masalah bagi Yeol. Tapi, kode yang dibawanya membuat dadanya sesak.
Sial
"Pak. Kita putar balik. Menuju toilet umum di belakang sana," ujar Mr. Albert. Ia memandang ke arah Mrs. Kim yang terpaku. Wanita itu terduduk di tempat Anna tadi dan menunduk sambil menjadikan tangannya sebagai tumpuan kepala. Rambutnya ia tarik frustasi. Perlahan, guru lelaki ini mengelus punggung Mrs. Kim lembut.
Tapi, setelah itu. Kekhawatiran hanya sampai sebatas Yeol, Mr. Albert, dan Mrs. Kim. Setelah Guru fisika itu menjentikkan jarinya, semua orang terlihat acuh tak acuh. Termasuk Shi Ah.
***
"Ah. Lega....," tangannya memutar handle pintu toilet umum. Tak disangka, lelaki pemain gitar itu benar-benar sialan. Kamar mandi sangatlah jauh. Bayangkan saja harus berlari sejauh 200 meter dalam keadaan di ujung tanduk. Untung saja tepak waktu.
"Anna. Cepatlah!" teriaknya sambil membenarkan kemeja ungunya. Merapikan pakaian dan rambut yang sempat rusak tataannya karena berlari tadi. "Anna. Kau sakit perut, kah?," tanyanya. Namun, tak ada jawaban.
Tok--tok tok tok--tok tok
"Do you want to build a snowman ?" sambil menirukan gaya ana dalam film frozen. "Anna! Aku berlumut! Cepatlah!,"
Ck
Tetap tak ada responan. Apa dia jual mahal, ya. "Anna..... kau baikkan di dalam? Anna.... ann....mmmmmhh,"
25 menit kemudian.....
.
.
Suara riuh mendominasi. "Mister biar saya yang mengecek. Anda alihkan anak-anak saja," ucapnya mencekal lengan kekar guru fisika itu.
"Jika kau mendapatkan tubuhnya, cepat bawa pada Dr. Angel. Aku akan menghubunginya," Mr. Albert lalu pergi ke arah bus. Ada Mrs. Kim yang berdiri di dekat pintu. Wajahnya pucat.
Ia memandang ke arah master fisika itu. Seolah-olah bertanya, apa semua baik-baik saja? "Kita antar anak-anak dulu ke Jeju. Setelah itu, meminta izin keluar," wanita itu mengangguk lemah. Lalu mendahului masuk ke dalam bus.
Kejadian seperti ini sudah lama tak terjadi. Dan itu mengguncang semua orang nantinya.
Sedangkan lelaki yang tadi berkata akan bertanggungjawab atas pengecekan, terlihat kaku memegang handle pintu. Perlahan-lahan ia putar lalu memberi gaya dorong yang tak bisa dibilang kuat.
"Anna!!" teriaknya kaget. Mungkin dia telah menduga ini akan terjadi, tapi tetap saja. Kenapa harus terjadi?
Tubuh gadis itu mengambang di udara. Utuh. Tak ada luka dan lecet apapun. Tapi, lantai penuh berlumur darah pekat. Yeol meraih tubuh gadis yang menggantung entah bertumpu pada apa.
Jatuh tepat ke dalam dekapannya. Ia cepat-cepat membawanya keluar dari tempat terkutuk itu.
Sejenak ia meletakkan Anna di bawah. Menyandarkannya pada tembok agar bisa menghubungi seseorang. "Kirim kendaraan! Sekarang juga,"