
"Huh. Lelahnya!" ujar Arfa sambil menyandarkan punggungnya di kursi spon milik restoran yang mereka kunjungi. Tangannya sudah terkulai lemas.
"Mau pesan apa?" tanya seorang pelayan menghampiri. Arfa masih tak berniat bangun.
"Hyung, aku ingin taco," timpal Cheon Gi sambil melihat menu di papan besar restorant khas Amerika ini.
"Aku juga. Aku juga," Myung Hae tak ingin kalah. "Juga homemade hot chocolate,"
"Aku juga,"
"Tolong cacat pesanannya!" pinta Eun Jae. Ia melirik sekilas Arfa yang duduk di sampingnya. Sama sekali tak berniat bangkit. "Satu Shrimp Croele, Delmonico's steak. Minumnya...," ia kembali melirik ke arah Arfa. Menimbang-nimbang apa yang disukainya selain olahan Udang. Ya. Coklat atau... lemon. Ya. "Honey mint lemonade dan iced coffee satu, please,"
"Ada yang bisa kami bantu lagi?"
"Tidak. Terimakasih," sambil menyunggingkan senyum manisnya. Terlihat jelas jika pelayan perempuan itu tersipu malu lalu pamit.
"Bukankah senyumanmu terlalu manis?"
Eun Jae menoleh. Memandang wajah Arfa yang kini sudah berpindah di atas meja. Bertumpu pada kedua lengan yang terlipat asal. "Kenapa ? Cemburu?"
Arfa kembali memejamkan mata. Berbicara dengan Eun Jae semakin membuatnya tambah lelah. Sudah cukup pasal keliling bersama dua anak kecil yang terlalu aktif itu. Ia tak ingin dibuat lelah kembali oleh pria kelewat mengesalkan ini.
Eun Jae masih stay memandang wajah tidur Arfa yang entah sengaja atau tidak terlihat sangat menggemaskan. Manis. Dan juga cute. Posisinya yang miring tepat ke arah lelaki itu, membuatnya sedikit mudah dalam melakukan aksi.
Sedangkan dua bocah kecil di hadapan mereka, asik memainkan entah mainan apa itu. Sejak mereka berdua bersama, dunia serasa hilang. Lenyap seketika.
Arfa membuka mata. Bayangan Eun Jae yang ia terima pertama kali. Tampan. Itu ilustrasi awal. Namun di sana ada guratan jahil yang sangat di benci Arfa.
KRUK KRUK
Arfa tersenyum malu sedangkan Eun Jae sudah tertawa dengan gayanya yang sok cool. Oh. Dia memang cool. "Terlalu keras ya?" tanyanya absurd
"Sangat,"
"Ish. Lama sekali pelayannya,"
"Mungkin masih banyak pesanan. Sabar saja,"
"Perutku tidak bisa sabar Eun Jae,"
"Baiklah. Akan kujemput makanannya,"
"Eh. Tidak-tidak. Nanti kau malah godain pelayan tadi lagi,"
"Lalu kau akan meninggalkanku sendiri?"
"Tidak mister. Jagalah dua adikku ini! Aku lelah pada mereka,"
Lelaki itu tertawa renyah. Arfa bangkit dan menuju meja pesanan yang memang agak jauh. Mereka mengambil meja di dekat jendela kaca. Tempat favorit gadis Indonesia itu.
Sampai tempat tujuan, Arfa menyampaikan tujuan. Menyebut meja yang menjadi spot makannya. Ia melirik ke dapur yang nampak dari tempatnya berada. Kegiatan disana sangat ramai.
TING ! "Order for table 27," Arfa kembali lagi fokus ke meja pesanan saat bel di tekan. "Lo pelanggan spesial yang pesanannya langsung dipanggil sama sang manager tampan,"
Arfa menimang-nimang sesosok dengan kemeja biru rua tergulung sampai siku itu. Seperti tidak asing.
"Kak Radit?!"
"Wah. Gue kira di lupain,"
Arfa masih mengedipkan matanya berulang kali. Meyakinkan diri bahwa lelaki di depannya adalah kakak kelas sd yang tinggal di sebelah rumahnya.
Gadis ini dulu pernah menempuh sd beberapa tahun di Indonesia dari semenjak kematian papa sampai Cheon Gi berumur setahun. Radit ini tetangga dekatnya. Kemarin pun saat mengambil kelas online sudah beberapa kali bertemu. Ya. Hanya beberapa kali karena Radit sudah jarang pulang ke rumah Jakarta.
"Kok disini sih lo, kak?" tanya Arfa sambil melipat tangan di atas meja pesanan. Terlupa sudah rasa laparnya.
"Masalah? Ini resto gue kali,"
"Oh ya? Bukannya kalau dihitung-hitung lo masih kuliah ya, kak?"
"What happen? I work and study,"
"Wow. Kuliah dimana?"
"Oh ya? Kenapa gue nggak pernah tau?"
"Lo aja yang nggak pernah peduli. Sakit tau Fa. Hati gue sakit," sambil berdrama dengan memukul-mukul dada. Arfa terkekeh pelan. "Gue tadi nggak sengaja liat lo ngomong sama salah satu pegawai. Takdir berjalan indah bukan?"
"Emmm. Bolehlah," keduanya terkekeh bersama akibat nada Arfa yang mengikuti tokoh Jarjit dalam kartun Malaysia. "Mampir ke rumah yuk!"
"Kapan-kapan aja. Sibuk banget hari ini," Arfa mengangguk setuju. "Jadi lo beneran ambil tatap muka?"
Arfa hanya nyengir. "Kepaksa sih sebenernya. Tapi ternyata enak juga. Banyak manfaatnya," ia bersyukur karena kalau tidak begini, Eun Jae tak akan berada di sisinya.
"Bisa aja lo. Eh. Lo nggak nyarik sepupu usil gue?"
"Eh. Inget aja! Gue lupa loh. Bahkan namanya nggak inget,"
"Wah. Jahat banget jadi cewek lo,"
"Gue banyak urusan kak. Tapi bukannya dia sekolah di Korea sejak kecil ya?"
"Ya. Dia juga seumuran sama lo, kan? Inget nggak?"
"Inget kok. Dia ngerjain pr mtk gue waktu sd. Dia cukup pinter jaman dulu,"
"Sekarang pun begitu,"
.
"Pantas lama!" suara Eun Jae menggema di telinga Arfa. Memecah kefokusannya atas seorang lelaki bernama Radit. "Ini pesanan untuk meja 27?"
"Ah. Siapa, Fa?"
"Emm.. pac-oh tidak. Dia...," Arfa menoleh ke Eun Jae. Ia juga bingung apa sebenarnya status mereka. "Eun Jae. Perkenalkan. Ini kakak kelas sekaligus tetanggaku di Indonesia. Kak Radit,"
"Hm. Eun Jae," balasnya tanpa seulas senyum sama sekali.
"Kak pergi dulu ya? Kalau ada waktu main ke rumah," ujarnya berganti bahasa Korea. Bisa-bisa diterkam habis karena Eun Jae sama sekali tak mengerti bahasan mereka nanti.
"Oh iya, Fa. Aku minta nomor handphone mu," tambah Radit yang sudah terikut alur adik kelasnya untuk bercakap dengan bahasa daerah sana. Pandangan lelaki yang datang bersama Arfa sungguh mengerikan. Ia menyodorkan handphone dengan perlahan.
Arfa mengangguk. Ia mengetikkan beberapa angka di papan keypad. Setelahnya ia berpamitan pergi sambil melambaikan tangan. Nampan pesanan? Jangan ditanya. Eun Jae sudah menguasainya sejak tadi.
"Siapa? Your ex?" tanyanya dengan nada kesal.
"Bukankah sudah kubilang dia kakak kelasku ?"
"Sikapmu tidak seperti hubungan tersebut," tambahnya ketus. Arfa terkekeh pelan.
"Kau adalah pacar terakhirku. Jangan khawatir!"
Langkah Eun Jae terhenti padahal hanya tersisa beberapa langkah dari meja nomer 27. Membuat Arfa juga ikut berhenti melangkah. "Kau yang pertama dan terakhir bagiku. Kenapa aku yang terakhir?"
"Karena ada yang pertama,"
"Siapa?"
"Oh iya," Arfa mengambil alih nampan di tangan Eun Jae. "Besok kita ke sekolah ya? Bisa kau jemput aku?" ia melangkah menuju meja. Myung Hae dan Cheon Gi yang masih asik bermain langsung bersorak senang. "Ini untuk Cheon Gi. Ini untuk Myung Hae," Arfa meletakkan pesanan mereka yang sama persis.
Eun Jae ikut duduk dan masih memperhatikan pergerakan Arfa. "Ini untukmu. Penyuka kopi dan daging sapi,"
"Jawab dulu. Siapa yang pertama?"
"Kenapa harus membahas masa lalu? Yang terpenting sekarang, kau ada di sampingku,"
"Aku curiga.....,"
"Aku lapar Eun Jae. Kau juga makanlah!"
Satu hal yang bisa di jawab lelaki itu sebagai sebuah responan. Berdecak.
...💕💕💕...