You, Me, And My Secret Life

You, Me, And My Secret Life
7. Duta Seni



Arfa melambai pada mobil Kevin yang berlalu dan berhenti tepat di depannya kemudian. Ia memang meminta berangkat bersama. Lagipula tidak ada aturan yang melarang murid berangkat bersama gurunya.


Gadis itu meletakkan tas laptop di jok belakang tepat saat mobil mulai melaju. "Essaynya sudah selesai. Jadi mana kartu ku?"


"Ada disakumu?"


"Hah?"


"Seseorang mengatakan kalau ia mengembalikan kartu kreditmu langsung ke dalam saku blazermu. Apa kau tidak mengeceknya?"


Arfa langsung terbelalak saat sungguhan menemukannya. "Wow. Trik sulap apa ini kak?"


"Adik iparku bodoh sekali," sambil berdecak sedikit. Arfa langsung merengut tak suka. "Seseorang bilang menemukan kartu kredit itu dan sudah mengembalikannya langsung, bilang ada di saku blazermu,"


"Siapa?"


"Apa itu penting sekarang?"


"Up to you,"


Kevin hanya terkekeh pelan. "Angel bilang kalau dia akan pulang saat ulang tahunmu nanti. Jadi jaga diri baik-baik sampai harinya terjadi,"


"Apa ini kejutan? Kenapa kau katakan sekarang, oppa. Tidak asik," Arfa juga baru ingat kalau tiga hari lagi ia akan ulang tahun.


"Ini perintah untuk kau tetap sehat sampai Angel datang. Tidak ada kejutan,"


"Oppa!! Besok adalah sweet seventeen ku. Aku ingin yang istimewa,"


Mobil tepat berhenti di parkiran blackfire yang ada di depan. Memang transportasi lain dilarang melintas di kawasan blackfire kecuali mobil tenaga surya milik yayasan ini.


"Arfa. Kita semua menginginkanmu hidup. Jika kau melewatinya dengan baik maka ini juga istimewa,"


"Apa yang is—"


"Oppa masih ada urusan. Kau turunlah dulu!" sambil mengecup kening Arfa pelan. Ia memang sangat berharap Arfa bisa melanjutkan hidupnya lebih dari usianya yang 17. Semuanya juga berharap begitu.


Arfa hanya melengos lalu keluar dari mobil. Membanting pintunya keras. Lalu menuju terminal mobil surya blackfire tanpa menoleh sedikitpun.


Kevin dibuat tersenyum kecil. Ia lalu menekan nomor yang akan ia hubungi pada monitor layar mobil. Suaranya langsung muncul pada earphone setelah nada tunggu ke dua.


"Kau tau siapa yang harus kau lindungi,"


"......"


"Aku tidak memintamu menjaga agar tidak lecet. Asal nyawanya masih ada, semua bisa diatur,"


"....."


"Terimakasih banyak,"


"......"


Tawa Kevin lalu menggelegar setelahnya. Ia menyalakan mobil kemudian. "Jangan macam-macam! Aku sepertinya ada urusan untuk beberapa hari ini. Ada seseorang yang harus aku cari,"


"......."


"Oke,"


Sambungan lalu dimatikan olehnya. Ia melirik ke arah Arfa lagi yang sudah menaiki mobil surya jauh disana.


***


Kelasnya entah kenapa begitu heboh bahkan sebelum raganya masuk kesana. Suara riuh terdengar nyaring. Padahal belasan menit lagi pelajaran akan dimulai. Kelasnya bukan masuk pagi tapi tadi ia masih bergulat di ruang musik serambi 2. Mumpung ruang itu pagi ini kosong, tidak dipakai.


Ia tanpa salam langsung duduk di bangkunya. Dan tanpa di aba-aba semua langsung mengerumuninya. "Arfa! Gila! Kau keren,"


"Wahhh. Aku bangga banget kelas kita yang dapet,"


"Fa! Congrast yaa," Shi Ah juga ikut-ikutan. Ia menepuk bahu Arfa cukup keras.


"Apaan sih kalian? Ada apa?"


"Blackfire Award, Fa! Kau jadi duta jurusan seni,"


Sunyi untuk beberapa saat. Arfa nampaknya berpikir keras. "Terus kenapa?" sontak semuanya langsung menghela napas kesal. Bersamaan. Sangat kompak.


"Jangan bilang kau tidak mengerti blackfire award itu apa" cetus Shi Ah membuat yang lain juga menanyakan hal yang sama lewat pandangan.


"Penghargaan siswa teladan dari setiap jurusan yang akumulasi poinnya dari kelas satu itu kan?" yang lainnya menghela napas berat lagi. "Aku salah?"


"Tidak, Fa. Kau tidak salah," Shi Ah berusaha menjelaskan meski berat. "Hanya kurang banyak. Blackfire award itu penghargaan tahunan yang biasanya diperuntukkan untuk anak tahun terakhir dengan akumulasi poin kedisiplinan dan nilai dari kelas awal. Yang mendapatkannya akan diberi tiket kuliah di Universitas National Seoul, ditangguhkan semester akhir tanpa belajar ataupun ikut ujian sekolah, dan akan menjadi ambassador fashion pearl milik kepala Jang, ketua yayasan disini,"


"Dan bayarannya.... fantastic!" timpal yang lain


"Wow! Aku baru tau," Arfa terlihat sangat terkejut. "Dan aku yang ditunjuk?"


"Bukan ditunjuk Arfa!! Tapi, terpilih! Kau dutanya! Kau siswa teladannya!!" Shi Ah terlihat kesal tapi lega saat Arfa nampak sangat girang.


"Berarti aku tidak usah ikut kelas?"


"Ya," sahut semua kompak


"Jadi model pearl?"


"Ya,"


"Ya,"


"Wooowwww. It's Crazy!" ia lompat lompat senang. Tapi setelahnya berhenti. Ia memandang semua temannya. "Tapi kenapa kalian begitu senang?"


"Tentu saja kelas yang menang mendapatkan partisipasi juga. Seminggu ini kelas kita free materi," sahut yang lain.


Arfa tertawa renyah. Dan menyalur pada yang lain. Tapi kehebohan kembali hadir dari pintu masuk. Rupanya Min Ho baru sampai.


"ARFA!! KAU DUTA SENI!!"


"TELAT!" sahut yang lain bersamaan.


Min Ho hanya nyengir ria. Ia berjalan mendekat, menerobos kerumunan dan berdiri tepat di depan Arfa. "Kau disuruh kumpul di gedung kepala,"


"Yang di belakang sana?" tanya Arfa meyakinkan.


"Hmm,"


Yang lain malah takjub luar biasa. Karena bukan sembarang orang yang bisa masuk sana. Salah. Bahkan untuk melewati pelatarannya saja tidak akan boleh tanpa ijin tertulis.


"Cepat pergi, Fa!" salah satu menyahut


"Bawa apa yaa?"


"Gak usah bawa apa-apa,"


"Iya. Biar aku yang membawa tasmu pulang," sahut Min Ho setelahnya.


"Gomawo. Bye bye yeorobun!!"


Ia lalu melangkah keluar. Wahhh... Ini hebat. Ia tak menyangka ada penghargaan yang segila ini. Karena tidak melihat jalan dengan benar, dirinya bertabrakan dengan seorang wanita. Membuat buku yang dibawa anak itu jatuh berserakan.


"Mian! Mianhae," ujar Arfa sambil membantu mengumpulkan buku-bukunya lagi. "Kwenchanayo?"


"Kwencha—," gadis itu terpaku di tempatnya. Wajahnya bahkan sangat terlihat terkejut. "Veronica?!"


"Ha? Ada yang salah?" Arfa nampak bingung sendiri. Apalagi saat wanita itu menggenggam lengannya kuat.


"Kau vero kan?" wajahnya terlihat sumringah. "Vero, aku sangat merindukanmu," lalu ia memeluk Arfa dengan kuat. Yang dipeluk hanya kebingungan dengan diam.


"Kurasa kau salah orang," Arfa melepas pelukan itu sepihak.


"Ini aku! Anna,"


"Salam kenal Anna! Tapi namaku Arfa. Arfalia,"


Gadis itu terdiam sejenak sambil menelan ludahnya pelan. Arfa hanya memperhatikan sampai ia berkata, "Mungkin aku memang salah orang," sambil tersenyum manis. "Tapi, senang berkenalan denganmu,"


"Ah. Ya. Nice to meet you too,"


"Boleh kita bertukar nomor telepon?"


"Tentu," Arfa mendekte nomor teleponnya. Ia baru ingat kalau handphonenya tertinggal di dalam tasnya. Terlalu malas untuk mengambil lagi. "Chat saja nomorku. Aku sedang tidak memegang handphone,"


"Gomawo!"


"Aku pergi dulu ya.. Bye,"


Anna, gadis itu terus tersenyum sambil memperhatikan punggung Arfa sampai gadis itu menghilang dari pandangan. Baru setelah itu ia membuka kembali handphonenya, memilih duduk di kursi lorong daripada masuk ke kelasnya yang mungkin sudah dimulai sejak beberapa menit lalu.


Satu nomor ia ketuk untuk mengirim pesan.


^^^Me^^^


^^^Apa kau tau apa yang kutemukan??^^^


^^^Vero! AKU BERTEMU VERO!!^^^


Beberapa detik kemudian ada tanda terbaca lalu balasan mulai muncul.


Yeol


Aku juga sudah melihat


^^^Me^^^


^^^Kenapa tidak bilang?!^^^


^^^☹☹🙁^^^


Yeol


Rahasiakan dulu


Dia masih bukan Vero


Dia Arfa