
Arfa membukakan pintu. Zahra sudah cekikikan karena berhasil menangkap basah Arfa yang akan berkencan. Entahlah. Tapi mereka memakai seragam. Meski begitu keduanya cocok kok.
"Wah. Eun Jae. Pagi-pagi sudah rindu saja dengan Arfa," lelaki itu hanya tersenyum malu. Sedangkan gadis lain yang bersangkutan sudah merona merah.
"Kak. Arfa berangkat. Ada acara di sekolah,"
"Oh ya. Aku akan mengatakannya pada Cheon Gi. Berangkatlah!"
"Aku akan pulang ke rumahmu nanti,"
"Harus. Baiklah. See you. Eun Jae, jaga Arfa baik-baik!"
"Pasti,"
Arfa mengenakan mantelnya. Melapisi seragam sekolahnya yang berwarna dongker. Kedua sejoli itu langsung berangkat. Ya. Arfa memang sudah siap sejak pagi buta. Ia bangun sangat lebih awal karena mimpi yang menyiksanya itu. Bukan. Itu bukan mimpi buruk. Ia bahkan bahagia dalam dunia mimpi itu, atau lebih tepatnya dimensi lain tempat ia mendapatkan ingatan yang hilang. Namun setelah terbangun baru sangat menyakitkan.
Menggunakan mobil sport milik lelaki itu, mereka meninggalkan area rumah milik Angel ini. Zahra memperhatikan dari jendela sambil menyunggingkan senyuman bahagia.
"Semoga kau selalu bahagia, adik ipar,"
.
.
Kembali pada Arfa dan Eun Jae. "Bagaimana? Apa aku harus mengumumkannya hari ini?"
"Apa yang diumumkan?" tanya Arfa yang tak mengerti.
"Hubungan resmi kita,"
Gadis itu malah tertawa. "Kenapa harus diumumkan?"
"Karena penting. Ini hal yang membahagiakan bukan? Apa kamu tidak suka?"
"Tentu saja aku suka. Tapi aku tidak ingin di bully oleh para fans mu," guraunya
"Ya Tuhan. Siapa yang akan membully, sayang?"
"Eh. Fansmu itu satu sekolah tau. Di hujat habis-habisan aku,"
"Ada aku yang akan melindungimu,"
"Bagaimana kalau aku dibully di kamar mandi?"
"Aku akan mengikutimu sampai sana,"
"Ihhh. Eun Jae!!!"
Pria itu hanya menggelakkan tawanya. "Panggil oppa dong,"
"Nggak mau," Laki-laki itu lagi-lagi tertawa. Memang wajah cemberut sang kekasih sudah menjadi candu baginya. Gadis itu merajuk.
"Tapi mungkin kita harus merahasiakannya. Penggemarmu juga banyak,"
"Oh ya? Kenapa aku tidak tau? Kalau begitu seru. Aku jadi punya banyak selingkuhan,"
"Oh oh oh. Akan kubunuh selingkuhanmu,"
"Kau psycho,"
"Psycho but love you,"
"Ish. Ngambek ya aku," Arfa melipat tangannya di depan dada.
"Nggak papa. Selamanya kalau bisa. Kamu manis kalau lagi ngambek,"
"Eun Jae!!!"
"Apa sayang?"
"Kamu ngeselin!"
"Yang ngeselin ngangenin,"
"Kecuali kamu,"
"Kamu nggak bakal bisa tahan sehari tanpa aku,"
"Bahkan 10 tahun pun bisa. Aku akan tak mengenali wajah tuamu nanti,"
"Ya karena kamu juga rabun akibat tua," tawanya menyusul
"Eun Jae. Aku lagi ngambek,"
"Kok jahat sih?"
"Katanya tadi aku psycho,"
"Kata kamu psycho but love me. Mana love nya?"
"Cinta itu abstrak. Mana bisa dilihat, sayang,"
"Aku mual kamu panggil sayang,"
"Oh ya? Kamu selingkuh sama siapa sampe hamil?!" dengan nada yang kentara dibuat-buat marah.
"Sama macan!!"
"Aku nggak bakal cemburu. Masih gantengan aku,"
"Jangan terlalu optimis mister fisika!"
"Pesimis lebih buruk nyonya seni,"
"Kamu itu overdosis. Segala sesuatu yang berlebihan nggak pernah jadi baik,"
"But i over love you,"
"Ish. Berhenti gombal dah, Eun Jae,"
"Susah. Sudah mendarah daging. Kamu itu penyebab otakku teracuni,"
"Up to you,"
Eun Jae tertawa. Membuat Arfa semakin kesal. Mobil memasuki area parkiran blackfire yang sudah berisi lebih dari setengahnya.
Tepat saat mobil baru berhenti, Arfa sudah membuka pintu. Keluar terlebih dahulu. Eun Jae segera mengikuti gadisnya itu.
"Hey. Tunggu aku!" sambil meraih pergelangan tangan kanan Arfa. Gadis itu terdiam. Untung saja mereka berada di lorong yang sepi. "Jahat banget pacar sendiri di tinggal!"
"Siapa pacarnya siapa coba?"
"Oh. Gitu ya?" Eun Jae menabrakkan punggung Arfa ke tembok dengan lembut. Mengkungkung gadis itu dengan kedua tangannya. "Jadi, apa anda masih mencintai Min Ho nyonya seni?"
"Hah?!"
"Yang pertama bagimu Min Ho kan ? Aku sudah tau,"
"Lalu? Are you jealous?"
"Harus jujur atau bohong?"
"Bohong,"
"Yes,"
"Hah?! Jujur!!"
"Yes," Arfa langsung menautkan alisnya tanda tak mengerti.
"Untuk apa aku jealous? Ujungnya juga aku yang menang di hatimu. Aku sangat percaya pada kekuatan cinta kita,"
"Ish. Kata siapa aku mencintaimu?" gadis ini melipat tangan di depan dada
"Kata mata dan hatimu," Eun Jae mengecup sekilas bibir Arfa. "I love you, honey,"
Sejenak Arfa terdiam. Ada aliran aneh dalan tubuhnya. Rasanya kedua kaki itu sudah tak menapak lagi. "Ih. Gombal!" tangannya memukul bahu Eun Jae kesal. Namun tak begitu kuat.
"Sejak kapan pernyataan cinta jadi sebuah gombalan?"
"Ah. Udahlah. Aku mau ke kamar mandi," ia mendorong tubuh Eun Jae kuat-kuat lalu berjalan menjauh. Pipinya sudah merah merona.
"Hey. Kamu belum balas ucapanku!"
"Too,"
"Apanya yang too ?" ia terkekeh sendiri. "Nanti tunggu aku pulangnya. Aku ada urusan dengan Fire bentar," lalu gadisnya telah hilang di tikungan lorong.
Arfa sudah tak bisa membendung seulas senyum di bibirnya. Ia tak beniat ke kamar mandi tapi hanya itu tempat aman untuk dia meluapkan rasa senangnya. Malu dong kalau sampai di liat Eun Jae. Loncat-lonvat nggak jelas sambil senyum-senyum gila.
Namun langkahnya terhenti. Kamar mandi tinggal beberapa langkah lagi. Tapi gambaran sosok anak kecil berdiri tak jauh dari tempatnya berada, menghentikannya. Anak itu, membuat hatinya kembali redup. Tak ada kecerahan.
Arfa meneguk ludahnya susah payah. Senyum itu sirna seketika.
...💕💕💕...