
Arfa mendekam di UKS. Berusaha menetralkan rasa di kepalanya. Sakit. Sungguh sangat sakit. Ia tidak tau akan sesalit ini saat berangkat ke sekolah tadi. Ada beberapa data yang harus dilengkapi untuk hari tamasya. Dan sesuai janji, ia bertemu dengan Anna. Tapi badannya terasa lemas, dan kini ia berakhir di ruang kesehatan bersama Anna yang membopongnya.
"Kwenchanayo Arfa?," Anna terlihat khawatir saat gadis itu masih memejamkan mata kuat-kuat sambil memegangi kepalanya. Bahkan pertanyaan ketiga ini tak dijawab. "Arfa?,"
"A..... bunda.... ," air mata mulai menetes. Anna semakin khawatir. "A.... bunda. Aku takut....," gadis itu semakin menjadi. Posisinya yang duduk di sisi ranjang langsung meringkuk ke pojokan.
"Arfa. Kau kenapa?," gadis itu berusaha meraih bahunya namun langsung ditepis keras.
"Bunda.... Anna.... buka pintunya. Kumohon buka pintunya," ujarnya semakin lirih. Anna yang tadinya benar-benar kalut kini terdiam. "Anna.... kumohon. Aku takut," suaranya semakin lemah. Membuat Anna menutup mulutnya kaget.
"Annnnaaa......," kini tangisnya benar-benar pecah. Anna langsung memeluknya yang entah kapan ia sudah naik ke atas ranjang UKS juga.
"Tenang. Tenang, Naya. Anna disini," Arfa langsung membalas pelukannya. Dengan sangat erat. "Jangan khawatir!," ia mengelus punggung gadis dalam dekapannya.
"Akuuu........ ta—," setelahnya badan gadis ini bertumpu pada Anna. Tak sadarkan diri. Membuat yang bersamanya semakin bingung.
Anna menidurkannya di ranjang. Meluruskan kakinya dan menumpukan kepala Arfa pada bantal.
Semenit kemudian, seseorang membuka pintu UKS dengan kencang. Membuat Anna langsung menoleh. Pria yang tadi ia hubungi kini telah sampai.
"Apa yang terjadi?," tanyanya khawatir sambil mendekat pada tubuh Arfa yang berbaring.
"Yeol. Arfa tadi mengeluh sakit kepala. Lalu...,"
Lelaki itu menoleh. Memandang Anna yang menggantungkan kata-katanya. "Lalu?," ia penasaran.
"Yeol. Kurasa akan terjadi sesuatu sebentar lagi,"
"Apa yang terjadi tadi?,"
"Dia..... bertingkah seperti Vero," gadis itu menunduk.
"Bertingkah seperti Veronica? Maksudmu apa?,"
"Aku rasa dia mengingat suatu lintasan peristiwa tadi," ia duduk di sisi ranjang menghadap Kim Yeol. "Aku rasa..... ia mulai mengingat kehidupannya. Dan ratu itu—","
Yeol langsung membekap mulutnya. Menatap tajam sambil menunjuk-nunjuk sekitar dengan dagunya. kau bisa mati.
"Mian," ucapnya setelah Yeol melepas tangannya. Hening sesaat.
"Bagaimana keadaannya? Apa kau sudah memeriksanya?," tanya Yeol pada ketua lembaga kesehatan sekolah itu.
Anna mengangguk. Ia melirik ke arah tubuh Arfa lalu mendapati sesuatu yang aneh. Tapi, ia memilih diam.
"Kau bisa kembali. Aku akan menjaganya,"
Anna menggeleng mantap. "Tidak. Aku akan ikut menunggunya sampai sadar,"
"Hem. Aku akan membeli minuman dulu. Kau mau?,"
"Boleh. Frapuchino, please,"
Lelaki itu mengangguk lalu melenggang pergi. Setelah ia menghilang, Anna mendekatkan jari-jemarinya pada pipi-pipi Arfa. Menghapus air mata yang menetes. "Mianhae....," annaya Veronica.
Beberapa saat kemudian mata Arfa mulai membuka. Hal pertama yang ia lihat adalah Anna dengan wajah khawatir. "Ah. Anna. Maaf membuatmu repot," ujarnya lirih.
"Tidak apa-apa. Kenapa kau memaksakan datang jika sakit begini?"
"Awalnya tidak sesakit ini," gadis itu duduk. "Bagaimana dengan—"
"Aku sudah mengurus semuanya. Karea bus kelasku kosong, aku ditempatkan di kelasmu. Seperti anak buangan yaa,"
Arfa hanya terkekeh. Lalu pintu uks berdecit terbuka. Ada Yeol masuk dengan dua gelas kopi panas. Ia sedikit terkejut mendapati Arfa sudah siuman. Tapi juga cukup lega.
"Ah. Dia temanku, Kim Yeol," ujar Anna
"Kita pernah bertemu bukan? Kau tim untuk contest itu?" tanya Arfa mengingat.
"Ya. Berkat bantuan esaaymu, Arfa. Kita menang,"
"Oh ya? Chukkae!"
Yeol hanya tersenyum lalu menyodorkan frapuchino kepada Anna. Satu gelas lagi berisi Americano yang ia berikan kepada Arfa. "Kopi bisa sedikit mengurangi rasa pusing,"
"Oh ya? Gomawo," Arfa menghirup aromanya sejenak. "Americano? Wah. Kau tau kesukaanku,"
"Firasat,"
***
Arfa membenarkan topi di depan pantulannya dari bus. Tangannya tiba-tiba terdiam. Teringat ucapan Min Ho dan Shi Ah. Hari ini akhir pekan tamasya itu. Ia penasaran akan bahaya yang mengintainya. Senyum miring tersirat di wajah Arfa.
"Hey. Anak Indonesia," panggil seseorang membuatnya menoleh dengan malas. Dari suara dan panggilan yang ia gunakan, sangat jelas jika itu dewa tampan Blackfire. Guru terkece dan tertampan, katanya, Mr. Albert. Ruangannya bersebelahan dengan Kevin, dan ia sudah sering mengusili Arfa saat berkunjung.
"Eh. Mister. Ada apa?"
"Kau dalam bis 9, kan?"
"Iy-ya?"
"Kumpulkan semua teman-temanmu! Kita akan berangkat,"
"Kenapa saya?"
"Entah. Saya juga tidak paham. Cepat kumpulkan semua!" Arfa menghela nafas beratnya. Tidak bisa membantah master fisika yang satu ini.
"Ne,"
Arfa berjalan melewatinya menuju seluruh anak kelas yang berkumpul di dekat taman. Sudah ada Mrs. Kim disana. Wali kelasnya.
"Yea......,"
"Hore,"
"Wahhhh,"
Sorak-sorak anak-anak terdengar memekakkan telinga. Arfa bertanya pada Anna yang sudah berada di sana lebih dulu. Isyarat melalui mata yang bisa dimaknai, ada apa?
"Kelas kita digabungkan dengan kelas 12 fisika spesial 1,"
"Oh..... APA ?!" apa itu alasan Arfa tadi diperintah oleh Mr. Albert? Dan kini, mereka akan satu bis? Sungguh? "Tapi, kenapa begitu heboh?"
"Menurut mereka anak-anak kelas itu keren-keren,"
"Menurut mereka? Oh ya? Apa mereka cukup pantas dikata keren?," tanya berbisik. Takut yang lain demo tak terima.
"Emm... masalah keren aku tidak bisa menilai. Tapi, mereka tampan kok,"
Anak-anak mulai memasuki bis. Begitu pula dengan Arfa dan Anna yang berjalan di paling belakang. Namun tiba-tiba ada yang menghadang mereka. Bukan dengan tubuh seperti di film-film tapi dengan alas belajar berisi absen.
"Nah. Cek teman-temanmu!" perintah Mr. Albert. Ah Tuhan. Bahkan bertapa Arfa belum selesai untuk minta dijauhkan dari lelaki ini.
"Kenapa harus saya mister?"
"Lalu, apa harus saya?," tanyanya balik yang berhasil membuat darah Arfa naik.
"Ba-ik-lah. Saya akan mengabsen teman-teman tercinta saya," sambil mengambil alas dengan kertas-kertas yang disodorkan padanya.
Lelaki itu tertawa kecil saat Arfa telah masuk ke dalam mobil bersama Anna. "Ternyata seru mengerjai putri raja," gumamnya pelan.
Arfa mengedarkan pandangan. Ia hafal siapa saja teman kelasnya. Jadi, hanya lihat-centang-lihat-centang. Semua beres. Lagipun suasana sekarang riuh. Sangat riuh saat pintu bis belakang mulai menjadi sorotan pandang bagi semua anak. Anak fisika lewat sana.
"Anna. Aku bisa minta tolong?" tanyanya dan gadis itu mengangguk. "Berikan ini pada Mr. Albert!"
Gadis itu tertawa sambil mengambil benda yang disodorkan Arfa. "Kalian sepertinya akrab,"
"Tidak. Tidak sama sekali," Anna kembali tertawa saat melihat wajah kesal gadis itu. "Berhenti tertawa!"
"Aku meyukai wajah kesalmu,"
Arfa cemberut. "Kenang saja sampai kau mati," Anna kembali tertawa. "Sudahlah. Aku akan mencarikan tempat duduk,"
"Aku akan memberikan ini pada guru tersayangmu," Arfa melotot. Siap menerkam.
***
Kenapa? Entahlah. Arfa pun tak mengerti. Dugaannya karena orang-orang yang mereka nanti ternyata tidak mengikuti tamasya.
Arfa baru kali ini merasa rugi dengan kepekaan telinganya. Sekeras apapun volume benda berkabel ini ia pasang untuk memutar lagu, tetap saja masih terdengar suara ocehan di luar sana. Padahal ia sudah menghendaki itu tidak mendengar, tapi suara-suara itu memaksa masuk.
Eun Jae oppa.... . Joon Yeong oppa Oppa ..... oppa
Ah. Entahlah. Arfa bahkan tak mengenal siapa saja yang mereka sebut. Nama nya tidak terdengar jelas.Dua orang yang terdengar paling banyak saja terasa mengawang.
Ah ya. Bahkan ia tidak menemukan Min Ho. Kemana lelaki itu? Apa tidak ikut? Saat tadi mengabsen nama itu sudah dicoret sejak awal.
Bus mulai berjalan. Suasana lama kelamaan sedikit sunyi meski masih ada saja yang mengeluh oppa oppa mereka tidak datang. Arfa mulai melepas earphone berkabelnya. Meletakkannya pada tas yang ia bawa.
"Perjalanan kita masih jauh anak-anak. Bagaimana jika kita menghibur diri?," sorak-sorak kembali terdengar. Arfa menutup telinganya sedangkan Anna tertawa pelan melihat aksi teman duduknya itu. Mood Arfa sepertinya sangat buruk.
"Begini saja. Kita kolaborasikan anak fisika dengan anak seni. Bukankah itu bagus?," tambah Mr. Albert menyahut setelah Mrs. Kim.
Keren juga. Tumben guru ini benar.
Tapi, perbedaan pendapat membuat Arfa harus mengalah. Anak-anak lebih banyak yang tak setuju. Itu membuat ide Mr. Albert sia-sia. Ahh...
"Bagaimana jika bernyanyi? Ini ada gitar," Mr. Albert kembali bersua.
"Oh. Itu bagus. Emmm..... kau. Yang di pojokan. Kau pintar main alat musikkan?," Mrs. Kim menunjuk lelaki fisika disana. Membuat semua menoleh padanya. "Kau yang bermain gitar. Sini! Dan..... yang bernyanyi........,"
"Arfa, Miss," teriak entah siapa itu. Membuat sang pemilik nama melotot kaget.
"Ah iya. Suaranya bagus. Aku suka," tambah seseorang yang sepertinya dari kelasnya sendiri.
"Oh. Ya. Aku juga setuju,"
"Arfa saja,"
"Kalau begitu aku setuju. Aku penasaran," kali ini suara yang Arfa yakini dari kelas fisika. Asing.
"Aku juga,"
Arfa menghela napas berat. Mrs. Kim memandangnya lalu semua ikut memandang saat ada yang bertanya yang mana Arfa.
Ah.... kenapa Mrs. Kim jadi menyebalkan juga seperti Mr. Albert. "Ayo Arfa! Kau ditunggu loh," ia melirik tajam pada suara yang muncul. Anna sialan.
Oke. Baiklah. Dia menerimanya sekarang. Berdiri dan melangkah ke depan. Ah bukan berdiri sendiri. Anna yang menarik dan untuk duduk lagi akan membuatnya malu. Jadi, dia memilih melangkah mendekati lelaki pemegang gitar.
Sorak-sorak kembali terdengar. Batin Arfa berdecak kesal. Tidak adakah yang bisa mereka lakukan selain bersorak riuh.
"Ingin bernyanyi apa?" tanya lelaki pemegang gitar itu. Lihatlah senyumnya! Arfa sedikit jijik.
"Kau bisa kunci lagu apa?"
"Emmm.... terserahmu,"
"Aku anak seni. Aku bisa semua lagu. Kau hafal kunci apa?," ucap Arfa sedikit menekan karena kesal. Meski begitu tak ada yang menyadari kecuali.... Anna. Gadis itu tengah tertawa kecil sekarang dan berhasil membuat Arfa melirik tajam.
"Bagaimana jika you are the reason?,"
Arfa mengangguk lalu nada awal mulai dipetik oleh lelaki fisika yang tak ia kenal.
There goes my heart beating
'Cause you are the reason
I'm losing my sleep
Please come back now
There goes my mind racing
.
...
...
..
.
Suara tepuk tangan terdengar saat lagu selesai teralun. Sekilas Arfa mendapati sebuah bayangan aneh. Ia sedang berada di atas panggung memainkan piano lalu..... hal seperti ini terjadi. Tepuk tangan. Riuh. Ramai. Ia tersenyum.
"Arfa. Terimakasih atas duetnya," ujar lelaki itu lalu mengedipkan sebelah matanya. Membuat ia serasa ingin buang air sekarang juga. Ditanggapinya hanya dengan anggukan.
"Kembalilah ke tempat duduk masing-masing! Terimakasih hiburannya," ucap Mrs. Kim.
Lelaki itu melangkah terlebih dulu. Arfa mengikuti di belakang. Namun,tiba-tiba saja bus berhenti mendadak. Membuat tubuh Arfa terpental ke depan. Ah bukan. Secara hukum kelembaman ia akan terpental ke belakang. Ke arah jalannya bus. Tapi, seseorang menarik lengannya. Membuat ia jatuh diatas tubuhnya.
Mereka saling berpandangan cukup lama. Hingga akhirnya terpecah oleh suara Mr. Albert yang bertanya pada pendamping sopir yang baru saja keluar.
"Terimakasih, Yeol," ujarnya setelah bangkit. "Mungkin aku akan cedera jika tidak kau tarik," ia baru tau kalau lelaki itu satu bus dengannya.
Lelaki itu tersenyum manis untuk membalas ucapan Arfa. Sungguh manis. Segera saja gadis ini melanjutkan untuk kembali ke tempat duduknya. Lelaki fisika tadi bahkan sudah duduk di tempatnya.
"Ban kanan belakang bocor, pak," jawab pendamping sopir itu.
Mr. Albert memberitau pada seluruh murid. Semua terkejut dan mengeluh kecuali Arfa. Sungguh. Ia benar-benar ingin buang air. Apa mungkin karena melihat wajah lelaki tadi, ya?
Karena inilah ia meminta Anna untuk mengantarnya. Dengan senang hati pastinya teman baiknya itu akan ingin.
"Mrs. Kim kami izin ke kamar mandi umum disini," ucap Arfa
"Tapi, jauhloh. Apa tidak ingin di toilet bus saja?,"
"Tidak. Tidak apa kalau jauh," jawabnya langsung. Sungguh. Tidak bisa terbayang ia pada toilet sempit di bus.
Mrs. Kim mengangguk. "Hati-hati. Dan cepat kembali jika telah selesai,"
Tanpa menjawab, keduanya langsung berlari. Arfa tidak tahan. Sedangkan Yeol dan Shi Ah yang melihat, langsung menghampiri Mrs. Kim.
"Mereka kemana, Miss," ujar keduanya berbarengan. Saling menoleh dan memandang lalu kembali pada narasumber.
"Ke toilet umum,"
"Memang berapa jauh?" tanya Yeol.
"Sekitar 200 meter mungkin,"
"Hah?!" keduanya terbelalak. "Miss saya izin menyusul," tambah Yeol
"Saya juga," sahut Shi Ah.
Mrs. Kim mulai mengerutkan kening bingung. "Kenapa?"
"A.... mereka berdua butuh saya," ucap Shi Ah.
"Mereka lebih membutuhkan diriku," sahut Yeol juga
"Sudahlah. Tidak usah banyak alasan. Cepat kembali ke rombongan jika tidak ada urusan,"
"Tapi, Miss. Mereka semua wanita. Pasti butuh pria sepertiku,"
"Mereka hanya ke kamar mandi tuan Kim. Jadi cepat masuk,"
"Tapi, Miss..."
"Kubilang, tidak. Jangan memaksa!," ucap Mrs. Kim yang langsung meninggalkan mereka.
Yeol menghembuskan napas beratnya. Semoga bukan ini hari kedatangan itu lagi.
Sedangkan Shi Ah sudah gelisah sendiri.