You, Me, And My Secret Life

You, Me, And My Secret Life
66. Perjalanan Takdir



Dua minggu lalu, Joon Yeong menemukan Eun Jae yang tertembak di atas pangkuan Arfa. Setelah telepon waktu itu tersambung, ia buru-buru mengikuti alamat lacakan yang dikirim musuh bebuyutannya. Syukur Arfa tidak apa-apa. Dan ia yakin Eun Jae cukup kuat untuk menanggung ini.


Ia kini sedang berjalan menuju ruang ICU tempat lelaki itu koma. Arfa masih duduk terdiam di bangku pinggirnya. Menatap wajah Eun Jae lekat-lekat. Meski sekarang gadis itu adalah kekasihnya, tapi mempermasalahkan hal ini dalam situasi begini kurang menguntungkan. Sekali lagi napas beratnya keluar. Joon Yeong mengerti betapa sakitnya ini. Arfa sudah harus kembali ke smart world dalam waktu dekat. Lihatlah! Ia memakai baju sangat tertutup untuk meminimalisir tampaknya kulit yang memutih itu.


"Pulanglah dulu! Kau butuh istirahat," Ujarnya pelan dan gadis itu hanya menggeleng. "Setidaknya, makanlah, Fa! Eun Jae akan marah kalau kau tak menjaga diri hanya karena dia," tak ada jawaban untuk beberapa lama. Joon Yeong masih memandang lekat wajah cantik itu.


"Seharusnya aku saja yang tertembak. Kematianku bisa menyelesaikan segalanya," setetes air matanya jatuh dan Joon Yeong buru-buru mendekat. Memeluknya erat. Kepala Arfa bersandar lemah di perut bidang Joon Yeong.


Namun untuk beberapa saat kemudian, Arfa melepaskan diri. Menghapus jejak air matanya yang keluar tanpa ijin. Ia harus kuat. "Bisakah kau tinggalkan aku berdua dengan Eun Jae?"


"Hmm," dan dia sungguh berbalik.


Tepat saat akan menutup pintu, suara Arfa terdengar lagi. "Terima kasih, Joon Yeong. Untuk semuanya," lelaki disana menjawab dengan senyuman sebelum benar-benar meninggalkan ruangan. Ia duduk di kursi depan dan menemukan Chun Seung sudah meneguk kopi disana.


"Apa Eun Jae sudah bangun?"


"Belum,"


Hening seketika. Hubungan Tigerdan Fire memang tidak seburuk di awal sejak kejadian penculikan ini. Joon Yeong juga tak menunjukkan tanda-tanda permusuhan saat menyelamatkan ketua fire. Meski begitu, kecanggungannya pasti masih tersisa. Chun Seung yang menyimpan sandiwara Arfa juga tak bisa berkata apa-apa sekarang. Sepertinya semua akan berakhir.


Sebuah ketukan high heel memecak kesunyian sesaat. Keduanya sama-sama menoleh pada wanita blazer navy selutut yang berhenti tepat di hadapan mereka. Kacamata hitamnya di angkat sedikit saat berujar "Dimana aku bisa bertemu Ar- Joon Yeong??" keduanya saling pandang cukup lama.


"Apa kau mengenalnya, Joon Yeong?"


"Hmm? Tidak. Dia teman Arfa,"


Wanita di depannya mengangkat alisnya tinggi-tinggi lalu mengabaikan kalimat Joon yeong tadi saat ingat harus mencari Arfa. "Dimana Arfa?"


"Sheilla?" beo seseorang yang baru keluar dari ruang ICU. Ia berjalan mendekat dan membawa wanita itu menjauh ke tempat yang lebih sepi. "Kenapa kemari?"


"Heh? Kenapa kemari? Lihatlah! Kulitmu memutih. Aku datang menjemput," Sheilla merapikan pakaian Arfa untuk lebih menutupi kulitnya yang putih. Untung wajah cantiknya itu sudah dipoles make up dengan rapi.


"Tidak bisakah kita tunda?"


"Tunda? Kau tau sendiri apa akibatnya nanti. Tidak-tidak. Kita kembali sekarang,"


"Please, Sheilla! Terakhir ini saja. Aku sudah mengusik mimpi Eun Jae tadi. Mungkin dia akan bangun tak lama lagi,"


Wanita di depannya langsung menghembuskan napas beratnya. "Besok kita akan pergi ke Smart World. Aku tidak akan membawamu ke kerajaan Grybe jika kau tak terlacak. Hanya akan membuat kulitmu kembali normal, Ver. Setelah itu kau bisa kembali kesini," Sheilla mengerti apa yang dirasakan Arfa. Biarkan ia bersosialisasi terlebih dahulu dengan kehidupannya sebagai Veronica. Jangan membuatnya langsung harus menerima semua.


Tapi Arfa menggeleng. "Dua hari. Aku akan pergi. Dan tak akan kembali. Aku akan menuju Grybe," Sheilla melotot. "Aku tau aku menginginkan diriku sebagai Arfa. Tapi sama saja kalau aku harus memberi harapan palsu pada hidupku sendiri. Aku bukan Arfa dan aku juga tak akan bisa bersama Eun Jae," wanita di depannya terlihat menanggung beban yang sama beratnya. Sheilla mengeleng agak tak terima tapi ini semua benar. "Aku akan menghapus semua ingatannya,"


"Kau akan menggunakan kekuatanmu? Kau bisa terlacak, Ver,"


"Aku akan terbang langsung ke Indonesia jika kau mengkhawatirkan para exhuman di Korea yang akan dihukum karena menyembunyikan putri mahkota. Satu detik Smart World sama dengan delapan jam disini. Aku punya waktu delapan jam sebelum benar-benar terlacak,"


"Apa itu akan–"


"Kau juga harus kembali ke Smart World sekarang. Aku tidak menerima jika kau akan dihukum menyembunyikan putri mahkota,"


"Ver. Tidak akan bisa semudah itu. Apa kau bisa mengendalikan perasaanmu nanti?"


"Apa perasaanku penting? Dengan Tuhan mempermainkan takdir begini, bukti bahwa perasaanku hanya sampah,"


"Vero...,"


"Fa!" panggil seseorang di pojok lorong. Joon Yeong melambai sambil berjalan mendekat. "Eun Jae sadar! Dia mencarimu,"


Mata binar Arfa yang menghilang sejak lama langsung melompat keluar. Ia sudah akan berlari jika saja tidak ingat masih ada Sheilla di depannya. "Cepatlah kembali! Akan kubunuh kau jika dalam sejam masih di bum–" ia menggantung ucapannya lalu meralat dengan. "Disini," Joon Yeong ada di sekitar mereka.


Lalu ia berlalu dengan cepat. Menyisakan dua orang yang sama-sama menghela napas berat. "Apa rencananya kini?" bisik Joon Yeong


Saat Arfa sampai di depan pintu, ramainya ruang ICU sudah mencapai telinga. Ia membuka pintu perlahan dan langsung melihat Eun Jae yang marah-marah pada Chun Seung. Ia mencari Arfa. "Sudah-sudah. Aku ada disini,"


Eun Jae langsung berbalik saat menyadar sebuah tangan menyentuhnya tadi. Ia langsung membawa Arfa dalam pelukan yang sangat erat. "Apa kau baik-baik saja?"


"Hmmm,"


"Aku khawatir,"


"Aku sudah disini," Arfa melepas pelukan secara paksa. "Sekarang kembali berbaring. Biar Chun Seung memanggil dokter!"


Chun Seung yang melihat Eun Jae menurut langsung membelalakkan mata. "Dia langsung diam? Daebak! Semenit yang lalu saja udah mau membunuh orang," Arfa langsung memelototinya.


"Lebih baik panggil dokter sekarang,"


"Oh. Tentu nyonya," cibirnya langsung keluar.


Saat pandangan Arfa kembali dari pintu yang menutup ke arah Eun Jae, lelaki itu masih memandangnya sangat lekat. "Kenapa? Apa ada yang sakit?"


Pria di hadapannya malah tersenyum lebar. "Kau masih mencintaiku," Arfa langsung mengerutkan keningnya. "Joon Yeong memberitauku kalau kalian pura-pura. Sebenarnya aku tau sejak penculikan waktu itu," kenapa pembicaraannya jadi kemari. Arfa diam membeku dan Eun Jae masih memandanginya lekat.


Beruntung dokter datang sepuluh detik kemudian. Arfa langsung bangkit akan menyingkir tapi Eun Jae keburu menggenggam tangannya. Jadi ia duduk lagi. Chun Seung yang berada di ambang pintu sudah berdeham berulang. Dari sini pun Arfa bisa mendengar suara berbisiknya.


Selesai juga sandiwaranya.


...***...


Arfa keluar dari bandara dengan langkah cepat. Waktunya tidak banyak untuk memanipulasi alat lacak Exhuman agar tak menemukannya. Ia segera mencari taksi dan tepat ketika kopernya sudah dibawa ke bagasi, hujan menerjang Soekarno-Hatta dengan deras. Ia segera masuk dan mobil mulai melaju.


"Apa kau kira ini menyenangkan?" ketus Arfa tak terima. Ia mengibas-ngibaskan bajunya yang lumayan basah. "Aku akan mengadukanmu ke Kak Zahra,"


"Coba saja! Dia tidak akan bisa melarang,"


"Eun Jae!"


"Aku baik-baik saja, Fa. Aku pernah mengalami yang lebih berat dari ini. Jadi tenang saja. Aku tidak akan mati muda,"


Arfa memutar bola matanya malas lalu beralih memandang jendela. Ia jengkel dengan Eun Jae yang kini bahkan tanpa dosa melepas jaket dan menyampirkannya di bahu Arfa. Lelaki itu tadi sudah ganti baju tanpa ijin dan menyeret Arfa ikut kabur dari rumah sakit. Gila memang.


Sebuah kepala tiba-tiba menyandar di atas pahanya. Eun Jae kini sudah memandangnya lekat. Arfa hanya diam saja tak berpaling dari jendela. Tapi tiba-tiba, lelaki itu mengangkat kepala dan mencium Arfa sekilas. Gadis ini langsung melotot marah lalu melirik ke arah sang sopir taksi.


"Aku merindukanmu," ucap Eun Jae berbisik. "Sangat merindukanmu," Arfa tak menjawab sama sekali. Mereka hanya saling pandang beberapa menit sebelum akhirnya Eun Jae merengek seperti anak kecil. "Jawab, Fa. Kau merindukanku juga, kan?"


Gadis itu malah terkekeh pelan. Mungkin tembakan di kepala Eun Jae membuatnya sedikit aneh hari ini. "Tidak. Aku punya Joon Yeong saat kau tak ada,"


Pelototan tajam menerkamnya. "Perlukah kubunuh mantan pacarmu itu?" Arfa menaikkan alisnya.


"Kau mantanku, jika anda lupa tuan Song Eun Jae,"


"Aku tidak pernah menganggap kita putus,"


"Aku tidak menganggap kita pacaran," balas Arfa tak ingin kalah.


"Berarti aku bukan mantanmu. Jadi, hari ini hari pertama kita," ucap lelaki itu percaya diri lalu bangkit duduk dengan benar. "Pak. Antarkan kita ke Namsan Tower sekarang! Kita akan berkencan untuk pertama kali,"


Arfa sudah tertawa di tempatnya duduk. Eun Jae menoleh dengan senyum lebarnya. "Haruskah kita juga menyewa tempat? Ah! Aku bahkan lupa membawa hp. Sayang. Apa aku bisa meminjam uangmu dulu?" gadis itu lagi-lagi tertawa.


"Hentikan Eun Jae! Kau membuatku takut,"


Lelaki itu kini juga turut tertawa. Taksi benar-benar mengantarkan mereka ke namsan tower senja ini. Dan Eun Jae benar-benar tak membawa dompet ataupun hp. Pak sopir itu memberi selamat atas hari jadi mereka lalu berlalu setelah menerima ucapan terima kasih dan uang tunai dari Arfa. "Wahh. Bahkan kita mendapat doa baik dari sopir taksi. Haruskah kita mampir ke gereja dan meminta restu pendeta?"


"Eun Jae, kita hanya jadian. Bukan menikah,"


"Tapi kau akan menikah denganku di masa depan. Aku tidak ingin kau tiba-tiba bersandiwara lagi bersama bedebah yang lain," Arfa merasa ada yang menyentil hatinya cukup keras. Ia berusaha tersenyum dan menarik Eun Jae untuk berjalan ke arah tempat tujuan lalu berhenti di gembok cinta.


"Tulis saja nama kita disini! Cukupkan?"


"Hmmm... Bisa diterima," Lelaki itu langsung mengambil dompet Arfa yang sejak tadi digenggam gadis itu lalu membeli gembok sambil memikirkan mana yang akan ia pilih selama lebih dari lima menit. Arfa yang masih diam ditempatnya hanya tersenyum kecil. Kenangan manis ini, setidaknya hanya dia yang akan mengingat setelah perpisahan nanti. "Aku mengukir namanya dengan Besi. Jadi, tak akan memudar,"


"Ck. Kenapa aku merasa kau sedikit kekanak-kanakan yaa?"


"Ini bukan kekanak-kanakan. Tapi romantis," ucapnya sambil menaikkan alisnya berulang. Arfa terkekeh melihatnya dan langsung mengambil gembok. Menggantungkannya di pagar tanpa perhitungan.


Gadis itu membenarkan posisi jaketnya–yang diberi Eun Jae tadi–saat mereka berjalan ke puncak. Matahari akan tenggelam di ufuk barat. Ia melirik sekilas ke arah kukunya yang kini tampak pucat. Semoga saja Eun Jae tak menyadari tangan gadis yang ia genggam sekarang mulai memutih. Mereka mengambil duduk di salah satu bangku.


"Ingat sunrise kita waktu itu?" ucap Eun Jae tanpa menoleh. Arfa berdeham sambil terus menatapnya. Untuk terakhir kalinya, mungkin. "Hari jadi kita sepertinya direstui alam. Matahari selalu memberi pemandangan indah,"


"Kuharap begitu,"


Eun Jae menoleh ke arah Arfa. Pandangan mereka terpaku untuk beberapa saat sebelum akhirnya gadis itu mendekat dan mengecup bibir Eun Jae cepat. "Saranghae," Ada kekehan setelahnya. Gadis itu berusaha menyembunyikan matanya yang mulai berkaca-kaca. "Aku merasa seperti kita bertukar peran sekarang,"


Eun Jae menarik Arfa lebih dekat lalu mengulangi yang terjadi barusan. Air mata gadis ini benar-benar menetes sekarang dan pantulan sunset membuat mereka semakin indah. Ia meletakkan tangannya di rambut Eun Jae. Kulit putihnya itu mengusap kasar.


Mianhae


"Nona. Nona!" Arfa langsung tersentak ke dalam mobil taksi. Ia perlu beberapa detik untuk sadar bahwa kini ia sudah ada di Indonesia. Menuju rumahnya di Jakarta. "Nona, ingin turun dimana?" ia langsung menghapus jejak air matanya dan tersenyum pada pertanyaan hangat sopir itu. Menampilkan senyum terbaik dan berusaha menutupi kepalsuannya. Hujan sudah berhenti saat mobil ini memasuki perumahan.


"Agak kedepan dikit pak. Sudah-sudah. Disini," mobil taksi ini akhirnya berhenti. Arfa berucap terimakasih saat pak sopir membawakan kopernya juga. Saat ia berbalik, tubuhnya langsung membeku ditempat. Mata gadis ini melebar menyaksikan tujuannya kini telah hangus tak tersisa. Hanya ada beberapa bagian rumah yang terlihat gosong. Kenapa ia tidak tau kalau kediamannya di Jakarta telah hangus dimakan api. Lalu, bagaimana dengan neneknya?


Ia merogoh hp di tas kecil kesayangannya. Menelepon nomor sang oma, tapi sebuah dering di semak-semak menyadarkannya. Ada handphone yang ia kenal disana saat mengecek. Napasnya sesak ketika menemukan juga sebuah bulu biru kehitaman disekitarnya. Ini, bulu Hedrius. Burung penjaga di istananya.


"Akhirnya aku menemukanmu," suara di balik punggungnya itu membuat Arfa meringis di tempat. Apa secepat ini semuanya terlacak. Ia berbalik dan menemukan seorang wanita dengan wajah cantiknya tersenyum hangat. "Vero! Bunda merindukanmu," ia merentangkan tangannya. Membuat Arfa berlari mendekat dan memeluknya. Apa secepat ini? "Sungguh ini putri bunda? Ya Tuhan. Wanita tua itu benar-benar menyembunyikanmu lama sekali,"


Arfa melepas pelukan lebih dulu. Ia dapat melihat sekelilingnya yang sudah dikelilingi prajurit tanpa seragam. "Aku merindukan, bunda," ucapnya lugas. Ia tau semua akan terjadi begini meski tak secepat ini yang ada dibayangannya. Setidaknya ia bisa duduk sejenak setelah terbang lama tapi...


"Memang harus begitu. Kau sudah menghilang hampir empat hari," Arfa kini sudah duduk bersama bundanya di dalam kursi penumpang. 1 tahun di bumi hanya 20 menit untuk hitungan Smart World. Lalu hampir empat hari? Itu berapa tahun? Mobil mereka mulai melaju dengan beberapa yang lain di depan dan belakangnya sebagai pengawal.


Bunda terlihat sangat khawatir dengan memutihnya kulit Arfa. Mereka harus terbang ke maluku sekarang. Wanita paruh baya itu melingkarkan sebuah syal di leher Arfa lalu lebih merapatkan jaket yang dikenakan putrinya. Jaket yang masih melekat sejak Eun Jae memintanya memakai dengan benar setelah keluar dari taksi di namsan tower. Arfa merunduk sejenak, memandang jaket itu lekat, lalu melingkarkan tangan di tubunya sendiri. Memeluk erat.


"Dingin ya bun,"


Arfa meringis seolah dingin dan bunda meminta menaikkan suhu mobil pada pengawal di depan. Ini hari kedua mereka dan hari pertama perpisahannya. Hubungan ini memang agak rumit.


...💕💕💕...


...***Aku buat ini sambil nahan nangis...


...Untuk sekedar info. Part selanjutnya adalah bagian terakhir yaa.......


...Penentu nih. Happy or sad...


...Salam hangat dari penulis....


...Meski kata Arfa lagi dingin***...