You, Me, And My Secret Life

You, Me, And My Secret Life
64. Cinta?



"Ternyata kau tak jauh beda dengan 2 tahun lalu ya," argument Angel setelah Arfa mengenalkan lelaki itu padanya. Tadi, saat pesan terkirim, 15 menit kemudian Joon Yeong datang. Tepat setelah sesi foto memuakkan–karena Arfa harus bersanding dengan Eun Jae–berakhir. "Joon Yeong kan?" tanya Angel berakting lupa.


"Iya. Aku pacar adikmu," sengaja ia berujar begitu saat melihat Eun Jae di ambang pintu.


Angel sampai batuk mendengarnya. "Bukannya–,"


"Joon Yeong pacarku kak," Arfa kembali menegaskan sebelum wanita itu lepas ucapan. "Maaf nggak ngasih tau hubungan sembunyi-sembunyi kita," Arfa ingin sekali meminta maaf detik itu pula karena berbohong. Maaf kak.


"Dasar anak muda!" Angel berujar tapi menatap lekat ke arah Joon Yeong. Ada tatapan lega di sana. "Terus ada apa ke sini? Kangen?"


"Mau jemput," jawab Joon Yeong lugas. "Pacarku," tambahnya


Arfa pura-pura tersipu. "Bentar! Aku ambil tas di dalam sekalian pamit sama Cheon Gi," lelaki itu mengangguki ijin pacarnya.


Gadis itu bersyukur dalam hati. Joon Yeong selalu menyelamatkannya padahal ini menyangkut sang musuh bebuyutan. Ia berpapasan dengan Eun Jae, tapi sama sekali tak dihiraukannya.


Dulu, sewaktu ia berkelana dalam alam pengembalian ingatan. Menjelajah dimensi yang dulu memberitaunya pasal Arfalia 1 sampai 12. Memberitau tentang Smart World. Memberitau jati dirinya. Ia juga diberitau lagi saat berkunjung untuk kedua kalinya. Tepatnya saat ia di bawa oma mengarungi ingatan. Yang ini pasal.... aturan DNA Exhuman.


Dia, turunan mutasi gen. Hasil dari percobaan gagal dan ilegal manusia pada nenek moyangnya. Dia, manusia yang tak sempurna. Tak butuh oksigen dengan gelombang jantung beramplitudo kecil. DNA mereka pun tak sempurna. DNA mereka bisa membuat inangnya mati tanpa suatu penyokong.


Arfalia.


Gadis itu juga begitu. Bukan Arfa. Tapi Veronica. Putri mahkota Kerajaan Grybe. Dia punya pelengkap tubuh yang biasa mereka sebut dengan Jodoh masa depan. Pria dengan DNA yang akan membuatnya tetap hidup. Itulah takdir hidupnya. Pasangan seumur hidupnya tertakdir sejak awal. Dan lelaki itu bukanlah sesorang yang sangat Arfa cintai hari ini. Bukan seseorang yang selalu membuatnya tersenyum kapanpun itu. Bukan seseorang yang baru saja membuatnya kalang kabut hanya karena mengusap rambut gadis lain. Dia bukan Eun Jae.


Seorang Arfa yang adalah reinkarnasi Veronica memiliki masa depannya sendiri. Dio. Lelaki yang dulu selalu ia pedulikan. Yang hanya jatuh dari pohon membuatnya menangis. Inilah alasan Arfa bersandiwara. Alasan ia harus bersama dengan Mae Joon Yeong menipu orang yang ia sayang.


Hari itu. Saat Dio yang telah berulang kali mampir dalam mimpi ingatannya, menampakkan bahwa ialah jodohnya. Tepat juga saat teman kecil Arfa, manusia purba, sepupu tetangganya, menghubunginya pertama kali. Sebuah keberuntungan ia ternyata kenal dekat dengan Mae Joon Yeong.


Mereka dulu pernah punya janji terikat. Hutang satu keinginan satu orang. Dan saat kecil itu Joon Yeong malah membuangnya hanya dengan sebuah robot mainan canggih. Jadi, lelaki itu kini punya hutang yang harus dilunasi. Arfa mengambilnya sekarang.


Arfa. Bukan. Veronica. Ia harus kembali ke Smart World. Meninggalkan dunia Arfalianya. Meninggalkan Eun Jaenya. Semua memang tertakdir begitu. Dan ia hanya ingin Eun Jae tak lagi mengingatnya sebagai kenangan tak terlupakan. Ia ingin Eun Jae juga hidup bahagia meski tanpa dirinya.


"ARFA!" gadis itu mengerjap lalu menoleh kaku ke arah sang sopir. "Kenapa melamun? Aku memanggilmu berulang,"


"Maaf. Ada apa, Joon Yeong?"


Joon Yeong menghembuskan napas beratnya lalu menepikan mobi disisi jalan. "Kau yang ada apa? Jangan terlalu banyak berpikir!"


"Aku tidak banyak berpikir,"


"Aku tidak sebodoh itu, Fa"


Gadis itu menunduk. Membuat Joon Yeong lagi-lagi menghela napas berat. "Kalau masalahnya hanya karena kau ingin memutuskan hubungan dengan Eun Jae, katakan saja pada lelaki itu. Kenapa harus membuat sandiwara begini kalau kau juga tersakiti?"


"Kau tidak mengerti. Tidak akan semudah itu,"


"Katakan! Apa yang tidak mudah? Aku sudah berjanji akan membantumu. Apapun itu," Arfa makin menunduk. Ini tidak mudah. Memang dari awal Mae Joon Yeong sudah mengenalinya. Sejak ia muncul di blackfire. Menyuruh Min Ho dan Shi Ah untuk menariknya masuk ke dalam Tiger. Karena sebuah hal. "Aku mencintaimu,Fa. Berhenti menyakiti diri sendiri,"


"Jangan mencintaiku!" Arfa memandang lekat lelaki itu. Ia tau itu sejak lama. "Please,"


"Ini keputusanku. Mencintaimu. Melindungimu,"


"Aku bukan orang yang boleh dicintai," air matanya lolos sudah. "Jangan mencintaiku, Joon Yeong. Ku mohon!" lelaki ini memalingkan wajah sejenak lalu menarik Arfa dalam pelukannya. Joon Yeong mengusap punggungnya. Menenangkan. "Aku... bukan Arfa yang dulu. Aku bukan Arfa,"


Joon Yeong makin mengeratkan pelukan saat tangis Arfa makin pecah. Ia menghirup aroma rambut gadis ini dalam-dalam. Lalu mencium puncak kepalanya. Kau benar-benar kembali.


"Siapapun dirimu. Aku akan tetap mencintainya,"


...***...


Hari ini, Blackfire agaknya sedikit ramai. Hari terakhir mereka sebagai murid SMA sudah dekat dan mungkin hari terakhir bagi Arfa mencium aroma udara bumi. Gadis ini berjalan lesu ke kelasnya. Semua akan kembali seperti semula. Bukan. Bukan semula layaknya dia dengan Eun Jae di awal. Semulanya dia sebagai Veronica. Dimana ia bermula. Karena memang sejatinya Arfa terlahir hanya sebagai perantara reinkarnasi Putri Mahkota Kerajaan Grybe, Annaya Veronica.


Tadi malam Sheilla datang mengingatkan. Pasal kulitnya yang mulai memutih akibat keracunan gas oksigen bumi. Arfa memang harus cepat-cepat kembali ke Smart World. Tidak hari ini, tapi harus dalam waktu dekat. Sebelum manusia menyadari siapa sebenarnya dirinya.


Gadis ini kembali menghembuskan napas kasarnya. Langkah cantik itu bahkan berhenti melangkah. Di tengah lorong sana, Eun Jae berdiri seorang diri. Kenapa ia ada di gedung seni? Tidak. Ia tidak boleh terpengaruh. Arfa kembali melangkah pelan. Tangannya langsung memainkan handphone saat dirasa sepasang mata itu menghujam penuh lekat.


BUKK


Arfa terdiam sejenak. Ia lalu menggeser langkah tapi badan di depannya juga turut mengikuti. Mengambil jalan kiri, namun Eun Jae juga bergeser ke sana. Arfa menghembuskan napas kesalnya. "Eun Jae! Aku mau lewat," Tidak ada tanggapan sama sekali. "Aku harus ke kantin sekarang," yaa... semua anak tingkatan mereka sedang berada disana. Merayakan pesta besar-besaran. Sepertinya penjual kantin untung banyak.


"APA MAUMU?!!" ketus Arfa tanpa menghilangkan pandangan sinisnya.


"Jelaskan semua padaku!"


"Jelaskan? Apa yang harus ku jelaskan?!"


Gadis ini berhasil menarik tangannya saat pegangan Eun Jae kendur akibat bentakan Arfa. "Aku yakin kau masih belum melupakanku," tambahnya yakin. "Tidak akan semudah itu kau pergi, Fa,"


"Berhenti membual!" Arfa menelan ludahnya pelan. Menutupi kegugupan. Nyatanya memang benar ia tak mudah meninggalkan bumi karena lelaki di depannya. "Sudahlah! Minggir!"


Arfa berjalan menjauh. Sengaja menepi agak panjang agar tak lagi berurusan dengan Eun Jae. Tapi siapa sangka tiba-tiba tangannya di tarik cepat membuat Arfa langsung mendarat dalam pelukan hangat. Ia membeku. Mencium aroma ini lagi membuatnya menggila. Gadis ini terpejam. Menahan air mata yang akan mengalir.


"Jika kau ingin kembali...," kalimat lirih Eun Jae terhenti beberapa saat. Arfa bahkan membuka matanya menunggu lanjutan. "Aku selalu siap menunggu,"


Cukup. Dengan sekali sentakan, gadis ini menjauh. Benar-benar melangkah menjauh dengan terburu-buru. Saat dirinya sudah terduduk di atas toilet, ia baru ingat kenapa tidak menamparnya tadi. Setetes air matanya mengalir. Kenapa terasa lebih menyakitkan saat melihat Eun Jae yang seperti ini.


Tapi...


Apa yang bisa ia perbuat. Ini ketentuan alam.


Baru setelah setengah jam, saat dirinya agak tenang, Arfa keluar menuju kantin. Janjinya dengan Shi Ah membuatnya terpaksa pergi. Tidak apa. Sebentar saja, setelahnya ia akan meminta Joon Yeong untuk mengantarkannya pulang. Setidaknya, jangan biarkan Eun Jae berada dalam radius pand-


"ARFA!!!" lambaian Shi Ah terlihat bersamaan dengan langkah gadis itu mendekat. Ia mengambil duduk tepat di hadapannya. Deretan bangku ini sudah heboh sendiri dengan game truth or dare ala kelas Seni. "Lama sekali. Dari mana?"


"Perutku agak bermasalah. Jadi tadi merenung di kamar mand....di," Shi Ah mengangguk paham tapi Arfa sudah membeku di tempatnya. Dosa apa dia sampai-sampai Eun Jae harus ada pada jarak dua bangku darinya. Mereka saling menatap dan Eun Jae melambai lebih dulu. Tanpa malu. Tanpa ragu. Arfa langsung berpaling detik itu juga.


Huhhhh.... ini lebih gila dari sebelumnya. Sepertinya Eun Jae tak ragu-ragu membeberkan kalau mereka pernah dekat dulu. Lelaki itu memang cukup nekat. "Ada apa, Fa? Wajahmu pucat sekali. Apa sesakit itu?" tanya Shi Ah khawatir.


Arfa meringis bingung. "Bisakah tukar tempat duduk? Aku butuh bersandar," bualnya. Tapi memang bangku yang ia duduki tak memiliki sandaran punggung. Shi Ah dengan senang hati bertukar tanpa menanyai lebih lanjut.


Dan saat Arfa baru bernapas lega sambil menyandarkan punggungnya, Shi Ah mencondongkan badannya. Berbisik pelan. "Kau pintar juga mencari alasan," Arfa mengerutkan kening bingung. Sekaligus was-was. Membuat Shi Ah terkekeh pelan. "Terima kasih. Aku bisa melihat Eun Jae dengan jelas dari sini,"


Ada sayatan sakit den retakan kecil di hatinya. Tapi Arfa memaksa tersenyum manis. Shi Ah tak tau hubungan mereka. Dan jangan pernah biarkan ia tau. "Syukur kalau masih bisa berterima kasih," keduanya sama-sama tertawa. Dua tawa yang tanpa sadar memiliki makna yang sangat berkebalikan. Kebahagian dan kesakitan.


"Tapi apa ada masalah? Dia selalu melihat kemari dengan wajah datar,"


Arfa sungguh tak berani menoleh. "Mungkin dia melirikmu,"


"Jangan buat aku melayang, Fa!"


"Tidak ada yang tidak mungkin, kan?"


"Hmmm... Semoga saja. I hope," lagi-lagi gadis itu tersenyum miris tanpa Shi Ah ketahui. Sebegitu kejamkah dirinya. Arfa meringis pelan saat membayangkan apa yang akan terjadi jika Shi Ah tau semuanya. "Ada apa? Apa sakit lagi?"


Ia tersenyum kecil. "Sepertinya aku akan pulang dulu hari ini," sebelum Eun Jae menggila lagi entah dalam kenyataan atau otaknya. Tambah Arfa tanpa membatin ataupun bersuara. Radiusnya dengan Eun Jae masih cukup dekat.


"Perlu ku antar?" Shi Ah sudah bersiap.


"Tidak usah. Aku sudah menghubungi Joon Yeong,"


"Hmmm orang berpasangan memang beda," keduanya sama-sama terkekeh.


"See you, Shi Ah,"


"See you. Hati-hati!,"


Ia lewat pintu keluar bagian barat untuk menghindari berdekatan dengan bangku ketua fire itu. Selang sepuluh menit, Eun Jae juga ikut keluar lewat pintu bagian timur yang lebih dekat dengan tempatnya berada.


Langkah itu terhenti saat sampai di jendela kaca. Matanya menatap ke arah bawah sana. Memperhatikan seseorang yang telah menggendong tasnya dari lantai empat ini. Wanita disana berdiri sendiri sambil berusaha menghubungi seseorang dengan ponselnya.. tanpa sadar, Eun Jae menarik bibirnya ke atas. Ia rindu Arfa yang dulu. Arfa yang selalu berada disampingnya. Arfa yang berhasil menduduki singgasana ternyaman di hati seorang Eun Jae.


Lelaki itu akan melangkah menyusul. Sepertinya Joon Yeong terlalu sibuk untuk mengantar gadisnya pulang. Ia akan mengambil kesempatan. Namun tubuh itu malah tegang sebelum melangkah. Matanya menyipit, mendapati mobil hitam berhenti mendadak di depan gerbang. Yang lebih parah lagi, ia membawa Arfa secara paksa setelah membiusnya.


Eun Jae panik. Ia berlari ke lift yang tak kunjung terbuka. Setelah mengumpat, ia mengambil langkah menuju tangga darurat.


...💕💕💕...