
Kuda berwarna hitam baru saja masuk ke dalam arena penangkarannya. Penunggang kuda tersebut adalah seorang wanita dengan rambut diikat satu tinggi-tinggi. Sejatinya, bukan ia yang mengendarai. Seorang pria turut menemani menuntun kuda itu dengan hati-hati.
Eun Jae membantu sang gadis untuk turun. Mereka yang terakhir sampai dan mungkin ini sangat telat dari yang sudah dijadwalkan. Sepi. Itu kesan pertama. Tapi, bukankah mereka telah terlalu lama saling menjauh? Menghabiskan waktu bersama tak masalahkan?
"Kau tau? Chun Seung selalu menghujamku dengan berbagai bentuk traktiran. Dia meminta pajak setiap kita berpapasan," ujar Arfa mulai bercerita.
Mereka berjalan bersama menuju ke perkemahan. Saling menautkan jari tangan. "Memang pajak untuk apa?"
"Ck! Tidak usah menggodaku, mister," Eun Jae memberhentikan langkah. Beralih memposisikan diri berhadapan pada Arfa.
"Terus tersenyumlah pada semua orang ,"
"Biasanya, seorang pacar melarang gadisnya untuk tersenyum ada pria lain. Kamu malah aneh,"
"Bukankah pernah kukatakan kalau kamu lebih manis saat cemberut?" Lelaki itu menarik ikat rambut Arfa sampai terlepas.
"Hey! Kenapa dilepas?"
Bukannya langsung menjawab, lelaki itu malah membawa Arfa kembali berjalan. "Tengkukmu bisa hitam terkena matahari,"
"Kamu selalu memperhatikan sesuatu yang tidak perlu,"
"Itu sangβ"
Langkah keduanya terhenti. Arfa dan Eun Jae sontak saling melepas pagutan tangan mereka saat menyadari seseorang tengah bersedekap sambil menyandar pada sebuah pohon rindang. Alisnya naik-turun berusaha menggoda dua sejoli itu.
"Kenapa salah satu panitia kita terlambat ya? Apa ia tersesat?" tanyanya sarkastik. Meski itu dibuat-buat.
"Ya. Aku menemukan orang tersesat lalu menuntunnya kembali ke perkemahan," jawab Eun Jae jengkel.
"Dan orang tersesat itu dengan sengaja adalah pacarmu," tambah Chun Seung tanpa berpindah tempat. "Kukira kalian putus karena lama nggak bareng. Mau aja aku nembak Arfa hari ini,"
Eun Jae sudah menatapnya sinis. Berani sekali upil ketiak bilang begitu. Arfa hanya cengengesan ngeri. Tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi.
"Kamu balik ke kemah gih. Banyak setan disini. Aku takut kamu kehasut," kali ini Arfa tertawa renyah menanggapi lelucon Eun Jae. "Istirahat ya!" ia mengusap sejenak puncak kepala gadis itu sebelum menghilang ke dalam kerumunan tenda kokoh yang berjejer rapi.
"Eh. Fa. Mau kemana? Tunggu aku!" Chun Seung yang akan melangkah sudah ditangkap dulu bahunya oleh Eun Jae.
"Mau kemana kau? Ikut aku menyiapkan acara besok!"
***
Pemandangan tenda-tenda kelas seni menyambutnya saat baru keluar dari persemayaman. Ia menghirup udara segar pagi sambil berusaha meregangkan otot-otot tubuhnya.
Di tengah-tengah pemanasan, tiba-tiba pandangannya menjadi gelap. Seseorang menutup matanya. "Jangan bergurau! Lepaskan!" namun orang jahil itu tak menuruti perintah Arfa. Gadis ini sedikit kesal " Siapa? Shi Ah?" Arfa terdiam sejenak. Sepertinya aroma ini tidak asing. "Kau lelaki atau perempuan?" tak ada responan. "Eun Jae! Lepaskan!"
Penutupnya langsung terlepas. Ternyata benar dugaannya. "Kenapa kau disini?!"
"Rindu," jawab Eun Jae tanpa rasa bersalah sedikitpun.
"Tapi, bukan berarti kau di kesini. Ini adalah wilayah Putri!" tegas Arfa
"Tak ada penghalang diantara kita-oh ya. Kamu mau ke mana?"
"Bukan urusanmu,"
"Itu urusanku,"
"Darimananya jadi urusanmu, mister?"
"Tinggal jawab apa susahnya sih!"
"Mau ke air terjun! Puas?!"
"Ohhh. Ayo!"
"Ayo? Kemana?"
"Air terjun,"
"Aku bisa kesana sendiri. Kamu tidak boleh ikut,"
"Aku tidak ikut. Hanya ingin menjagamu,"
"Itu berarti kamu mengikutiku,"
"Belum tentu. Sudahlah keburu matahari muncul. Kalau ada yang lihat kan bisa bahaya, "sambil meraih tangan Arfa namun gadis itu menariknya kembali.
"Aku pergi sendiri,"
"Baiklah kalau begitu. Aku akan menunggumu disini,"
"Kamu benar-benar gila?!"
"Ya sudah. Izinkan aku untuk menjagamu. Bagaimana jika ada yang mengintipmu saat mandi?"
"Siapa juga yang mau mandi? Aku hanya ingin cuci muka. Lagipula yang ada kamu bukan menjagaku. Tapi, mengintipku,"
"Aku akan tetap menjagamu. Ayo!"
"Tidak!"
"Ohhhh. Kamu mau aku diam disini rupanya?,"
"Huh. Ayo dah!" kemudian jalan mendahului Eun Jae. Meski didahului, pria tersebut tetap berusaha berjalan sejajar.
Eun Jae. Lelaki itu yang selalu menjadi alasan Arfa bahagia. Lelaki itu pula yang membuatnya tersenyum semalaman saat acara api unggun. Dia juga yang berhasil membuat Arfa bisa tidur nyenyak. Dan berakhir bangun segar jam 5 pagi. Namun tetap saja ia juga orang yang paling usil dan menjengkelkan sedunia versinya.
Melewati tenda-tenda yang berdiri hingga ke area terbuka, terbebas dari wilayah kemah. Menyusuri jalan setapak yang kadang terjal kadang gembur kering dan kadang berbatu. semua, keduanya lewati bersama. Saling membantu untuk menghadapi rintangan.
Hingga akhirnya, setelah 15 menit berpetualang, Arfa dan Eun Jae sampai di tempat tujuan. Air yang terjun dari ketinggian 100 m sudah di depan mata. Mereka berdiri tegak disisi tebing yang tak terlalu tinggi. Cipratan kesegaran langsing menyentuh wajah mulus mereka.
Eun Jae terpejam. Berusaha merasakan hawa kesejukan yang menyeruak masuk. Saat membuka mata, Arfa telah sampai di sisi aliran sungai di bawah sana. Lihatlah gadis itu! Begitu manis saat berjongkok di sisi danau kecil yang dibuat sang air terjun.
"Lihat! Alirannya jernih sekali," ucap gadis itu saat sadar Eun Jae telah mendekat. "Indah sekali,"
"Tidak lebih indah darimu," Arfa tertawa kecil mendengar guyonan kekasihnya itu. Kemudian dia ikut berjongkok disisi Arfa. "Ayo kita bermain!"
"Bermain apa? Aku tidak ingin basah-basahan loh ya," Arfa menoleh padanya.
"Lalu kenapa kita kesini?" Arfa terdiam. Mengabaikan Eun Jae yang telah memasang wajah kecewa. Ia kembali menatap jernihnya air. Menangkupnya dan bersiap ingin cuci muka.
Namun tiba-tiba, pria tersebut menggendong Arfa secara paksa. Membawanya ke tengah-tengah aliran air dekat terjun yang kedalamannya sampai selutut. Arfa berteriak kaget kemudian memukul-mukul tubuh Eun Jae agar pacarnya itu membawanya jauh-jauh dari air terjun.
"Bajuku nanti basah," protes Arfa yabg tak dihiraukan. "Bagaimana jika kamu tenggelam ? Aku akan repot nanti,"
"Aku pandai berenang. Lagipula jika aku tenggelam, itu adalah sebuah keberuntungan," ia membayangkan kejadian saat di kolam renang waktu itu.
"Aku akan membawamu pergi bila kau menuruti satu permintaanku,"
"Tidak. Permintaanmu selalu aneh,"
"Ya sudah. Aku akan menjatuhkanmu," sambil sedikit menurunkan lengannya. Arfa langsung berteriak takut meski tak terlalu keras. Tangannya spontan terkalung pada leher Eun Jae erat-erat.
" Ah iya iya. Apa permintaanmu?"
"Teriakkan I Love You Eun Jae sekeras-kerasnya,"
"Hey. Tidak mau. Bagaimana jika ada yang mendengar? Panitia akan memanggil kita,"
"Alasanmu tidak masuk akal. Aku panitia kemah jika kamu lupa, sayang,"
"Eun Jae!!"
"Ya sudah. Kamu ku jatuhkan,"
"Tidak!"
"Bersiap. Satu...,"
"Aa- iya iya. Aku akan melakukannya,"
"Apa?"
"Ya...permintaanmu itu,"
"Cepatlah!"
"Ai..... turunkan aku dulu!,"
"Kamu licik sekali. Ucapkan dulu!"
"Ya sudah. Aku tidak akan mengucapkannya jika kamu tidak menurunkanku,"
"Baiklah. Akan ku jatuhkan,"
"Turunkan Eun Jae! Bukan jatuhkan,"
"Ucapkan Arfa. Sekarang. Bukan nanti," sambil mengikuti nada bicara gadisnya itu.
"Eun Jae.....,"
"Lagipula apa bedanya sih? Jatuh dan turun sama sama ke bawah,"
"Aku mintanya turunkan,"
"Maka turuti aku dulu,"
"Aa....,"
"Kelamaan,"
"Tunggu dulu. Tunggu dulu,"
"Beneran aku jatuhkan ya?"
"Jangan!!"
"Satu....,"
"Tidak tidak,"
"Dua.....," tangannya mulai merendah
"Berhenti!"
"Ti,"
"Ah. Iya-iya. Akan ku lakukan,"
"Ayo!"
"Ai.... tidak jadi,"
"Ti....,"
"AA I LOVE YOU EUN JAE!!" teriak Arfa sambil memejamkan matanya. Eun Jae langsung menurunkan gadis tersebut. Setelah merasakan kakinya menginjak kerikil-kerikil halus di dasar sungai, Arfa memberanikan diri membuka mata. "Dasar pria gila!" ejek Arfa pada pria di depannya. "Kenapa selalu memanfaatkan kesempitan sebagai kesempatan?"
"Tadi itu bukan pemanfaatan tapi keberuntungan, " tetap dengan senyum tampan ngeselin miliknya. Meski begitu senyuman itu berhasil meluluhkan hati Arfa.
"Sudahlah. Ayo kembali! Matahari mulai tinggi, " melangkah menjauh namun Eun Jae menahannya. "Jangan menolak! Tidak ada alasan rindu atau ingin berduaan, " kini malah Arfa yang menarik Eun Jae hingga keluar dari area berair. Apa dia tidak bisa dewasa sedikit?
Saat ini keduanya telah berada di atas tebing yang tingginya hanya 25 meter diatas air. Ini adalah salah satu jalan yang dilalui untuk sampai ke tempat kemah. Eun Jae berjalan tepat di samping Arfa. Ia memperhatikan wanita di depannya alih-alih memperhatikan jalan.
Tiba-tiba, tanpa ia sadari, sebuah batu berlumut menjadi pijakan kakinya. Ia terpeleset dan jatuh dari atas tebing ke dalam air. Sebenarnya adegan jatuh itu ia sengaja untuk mengerjai Arfa. Adegan terpelesetnya tidak sampai separah itu.
Karena tak tahu bahwa itu hanya siasat, Arfa sangat panik. Tanpa berpikir panjang ia langsung meloncat memasuki air juga. Dilihatnya lingkungan bawah air. Sunyi suara maupun makhluk hidup. Eun Jae tidak ada di sana. Arfa terus mencari namun tetap tidak ada. Sedangkan rambutnya melayang-layang indah di air. Kali ini cukup dalam.
Ia mulai mengeluarkan kepala dari air. Memperhatikan lingkungan sekitarnya tanpa membenahi rambutnya yang berantakan. Kemudian berbalik dan berhadapan dengan sosok pria yang sedari tadi ia cari.
Pria tersebut, Eun Jae, menyingkirkan rambut dari wajah Arfa. Merapikannya sambil tersenyum tampan tanpa ngeselin. Sangat manis. Arfa diam terpaku karenanya. "Begitu khawatirnya kau padaku? Memang seberapa pentingnya diriku untukmu?"
"Tidak bisakah kau tidak usil? Sudahlah! Ayo kembali!" Arfa tak ingin menjawab kata-kata Eun Jae. Oleh karena itu, ia langsung berbalik badan dan ingin pergi.
Namun pria itu malah menarik tangannya hingga Arfa kembali menghadap kepadanya. Tubuhnya ia rangkul erat dan mata yang memperhatikan wajah basah Gadis itu. Sesuatu lebih menarik perhatiannya daripada kecantikan sang kekasih. Sesuatu yang berada di wajah gadis itu.
Tiba-tiba, Eun Jae mencium bibir Arfa. Merengkuh tengkuknya lalu mulai ******* dengan candu. Arfa pun membalas beberapa detik kemudian. Di bawah guyuran percikan air terjun yang menciprat, kedua insan ini merasakan kebahagiaan bersama yang tak akan pernah terlupakan.
Tanpa mereka sadari, handphone dalam saku gadis itu berdering nyaring. Sebuah panggilan bertajuk "Manusia Purba,"
...πππ...
...**Tinggal beberapa bab lagi Arfa akan tamat....
...Mungkin 10? 9? ato 11?...
......Entahlah! Aku juga nggak tau.........
...Bakalan sad or happy yaa??...
...stay tune guys**...