You, Me, And My Secret Life

You, Me, And My Secret Life
51. Belajar



"Awas! Jangan sampai berantakan!" ujar Arfa sambil menggeret kopernya menuju lemari. Menata kembali pakaiannya disana. Eun Jae hanya berdeham. Kini ia sedang meringkuk manja di atas ranjang milik kekasih barunya.


Kekasih baru? Ah. Entahlah. Ini terasa seperti berpacaran saja. Semua terasa indah, berdebar, dan menyenangkan. Bahkan ia tak bisa menyembunyikan lengkungan bibirnya dari tadi.


"Fa. Jalan-jalan, yuk!"


Eun Jae masih stay tertidur dengan tubuh telentang dan tangan terentang lebar-lebar. Menguasai satu kasur itu.


"Kemana?"


"Kencan," gerakan tangan Arfa yang menata pakaian terhenti. Entah kenapa tanpa sadar senyumnya terbit begitu saja. Ada getaran aneh di tubuhnya.


"Kenapa harus kencan?" kini gadis itu telah kembali berkutat dengan pakaiannya. Sedangkan Eun Jae yang malah bangun dari tidurnya. Memandang punggung Arfa.


"Memang perlu alasan?"


Arfa tersenyum singkat sejenak. Ia tidak bisa membayangkan wajah kesal milik boyfriendnya itu. Dan otaknya mendapatkan ide yang menakjubkan.


"Kenapa harus di luar? Kencan di rumah saja. Nanti Myung Hae juga akan datang katanya,"


Eun Jae menatap heran pada Arfa yang baru selesai dengan urusannya. Memang apa yang bisa mereka lakukan di rumah?


"Ini kencan, Fa," tekan Eun jae sekali lagi.


"Iya. Kita akan berkencan yang sangat berkesan,"


Mata lelaki itu menyipit. Sepertinya ada yang mencurigakan.


***


Cheon Gi berlari dari dapur. Meletakkan semangkuk camilan yang dibawanya di atas meja ruang tengah. Myung Hae meraih isinya.


Disusul setelahnya Arfa datang menghampiri dari dapur. Membawa nampak berisi empat gelas minuman yang di sukai masing-masing orangnya. Yang pasti. Cheon Gi dan dirinya sehati. Coklat panas untuk musim dingin kali ini. Myung Hae meminta susu vanilla sedangkan Eun Jae, ia pencinta kopi. Ia dibawakan Americano khas Arfalia.


"Baiklah. Kita lanjutkan lagi. Bagaimana mister?" tanya Arfa setelah membagikan minuman yang ia bawa.


Myung Hae dan Cheon Gi kembali melanjutkan acara menggambarnya. Janji Arfa, ia akan memberi hadiah pada gambaran yang lebih bagus. Kedua anak itu asik dalam dunianya. Kadang juga diselingi obrolan khas anak-anak.


Sedangkan Eun Jae, jangan tanya. Ia sudah cemberut sejak awal. Kenapa? Ya. Karena acara kencan Arfa kali ini adalah belajar. Bukankah mereka berjanji akan membagi ilmu? Arfa menshare seninya sedangkan Eun Jae mengajari dasar fisika.


Kali ini mereka belajar tentang getaran dan gelombang. Arfa menyukainya karena itu berhubungan dengan seni. Ya. Meski ia tak paham sama sekali. Baru saat Eun Jae menjelaskan, ia jadi paham kenapa bisa ada alat musik.


"Apa bisa disebut kencan?" bisik Eun Jae disela-sela penjelasannya.


"Tentu. Lanjutkan mister!" ujar Arfa tak sabar.


"Apa anda sangat ingin belajar nona?"


"Tentu saja. Apalagi gurunya anda, mister. Saya jadi bersemangat,"


Eun Jae tersenyum singkat. Memandang mata Arfa yang kini sibuk dengan buku di hadapannya. Ia membuka beberapa lembar. Melihat materi yang sepertinya berhasil mengundang sakit kepala.


"Sudah-sudah. Belajar fisika selesai," Eun Jae menutup buku tebal di meja yang tadi menjadi titik fokus Arfa. Ia merampasnya dan meletakkannya agak jauh. Siapa suruh merebut kefokusan milik kekasihnya? "Sekarang anda yang mengajari saya. Bukankah janjinya seperti itu? Ajari saya piano, miss!"


Arfa mengerucutkan bibirnya. "Janji awal kau ingin diajari seni lukis. Lagipula bukankah kau pinter bermusik?"


"Kata siapa?"


"Semua siswa bilang begitu saat di bus. Andai saja ada Eun Jae. Suara sangat lembut. Ia sangat pintar bermain piano," ujar Arfa mengikuti ucapan para siswi penyuka pacarnya itu. Entah kenapa dia jadi jengkel sekarang. Bibirnya kembali mengerucut.


"Kau percaya?" Arfa mengangguk. Karena gemas Eun Jae menarik bibir Arfa dengan tangannya. Sampai gadis itu mengaduk sakit.


"Adduh. Sakit tau!"


"Saya tidak bisa menciummu di depan anak kecil, miss. Jangan mengerucut seperti itu!" bisik Eun jae tepat disisi wajah Arfa. Membuat gadis itu salah tingkah hingga pipinya memerah. "Ayo! Ajari saya bermain piano!"


Ia menoleh. Karena terlalu baper ia jadi tak menyadari Eun Jae yang sudah berada di depan piano sambil menekan asal tuts-tuts nya.


"Ahjussi! Berisik!" ujar Myung Hae kesal.


"Iya. Eun Jae hyung lupa main piano apa?" tambah Cheon Gi


Eun Jae menoleh ke Arfa. Gadis itu sudah menyipitkan matanya. "Aku lupa. Sungguh! Itu sudah sangat lama,"


Ia mendekat sambil berdecak. Eun Jae memang mengesalkan. Meski begitu sayang jika di buang. Ia sudah terlanjur cinta.


"Lupa berarti pernah tau. Coba nada dasar dulu!"


"Hah? Rumus? Anda kira ini fisika? Pakai insting,"


"Aku tidak punya insting,"


Arfa melotot namun itu tak membuat Eun Jae gentar untuk menggoda. "Manusia gila yang tak punya insting,"


"Saya kan memang gila. Gila karena cinta anda,"


"Eun Jae! Jangan main-main!"


Lelaki itu tertawa manis. Tapi tetap masih belum puas. "Biasanya guru itu menuntun muridnya. Tadi kan saya menuntun anda mengerjakan soal gelombang laut,"


Arfa mengeram kesal. Ia langsung mengambil duduk di samping Eun Jae. Untung kursi duduk pianonya panjang. Jemarinya mencontohkan bagaimana membuat nada doremi dari awal hingga balik lagi. Benar-benar sudah seperti film masha and the bear chapter yang mengajarkan orang ngeselin main piano.


"Coba!"


Eun Jae malah mengulurkan tangan. "Tuntun!" sambil menaikkan alisnya keatas-kebawah.


Dengan gerakan cepat ia menarik tangan lelaki itu. Eun Jae tertawa lagi dan semakin membuat Arfa kesal.


"Lemaskan tanganmu!"


"Anda saja yang melemaskannya,"


"Eun Jae!"


"Sungguh. Tangannya tidak bisa lemas. Mungkin jika anda menciumnya bisa,"


"Kau mempermainkan gurumu ya?"


"Tidak. Hanya menggoda,"


"Ish," ia bangkit. Memilih menyandar pada sisi piano yang lain dibanding harus duduk di samping pacarnya itu. "Mainkan sebuah lagu. Harus bagus. Kalau tidak.....,"


"Kalau tidak?" Eun Jae menaikkan alis pada pertanyaan Arfa yang menggantung.


"Kita putus," ujar gadis itu sekenanya.


Bukannya takut. Eun Jae malah tertawa. "Putus sebagai apa? Apa kita pacaran?" godanya. Arfa sudah merah padam. Entah malu atau marah. Tawanya terhenti saat anak-anak berlari menghampiri.


"Nuna ini sudah," Cheon Gi memberikan kertas gambarnya. Lelaki kecil itu memilih menggambar pemandangan sebuah tempat wisata yang indah. Ada air terjun dan sungai yang mengalir jernih. Warnanya biru muda. Dengan bebatuan-bebatuan yang menghiasi. "Bagus tidak?"


"Mmm," Arfa tampak berpikir. Gambaran ini cukup bagus jika sebagai ukuran anak kecil sepertinya. Kekreatifan adiknya cukup tinggi. "Punya Myung Hae?"


"Ini-ini," gadis cilik disamping Cheon Gi mengulurkan sebuah gambaran. Kali ini berbeda jauh. Ada gambaran sebuah keluarga. Ayah ibu dan tiga anak perempuan. Dua yang paling kecil terlihat sama dengan pakaian yang kembar. Mungkin memang kembar. Sedangkan sang kakak mengenakan dress panjang berwarna putih. Di kanan kiri sepasang orang tua yang terlihat sangat serasi.


Sebagai backgroundnya terdapat sebuah bangunan yang tinggi. Gadis cilik ini hanya membuatnya sekedar bentuk balok panjang dengan garis kotak-kotak. Memberi warna biru seolah itu terbuat dari kaca.


"Mereka siapa Myung Hae?" Eun Jae ikut menoleh. Memandang ke arah kertas gambar di tangan Arfa.


"Entah. Ada di otakku begitu saja,"


Arfa seperti merasa tak asing. Gambar ini, daerah ini, terlihat sangat familiar. "Bagaimana nuna? Siapa yang menang?"


"Emmm... ini pilihan sulit. Aku akan umumkan nanti siang saja. Sekaligus hadiah yang akan di dapat,"


Anak-anak bersorak. "Miss. Saya juga mau hadiah," timpal Eun Jae karena kesal merasa terabaikan.


"Mainkan aku sebuah lagu baru akan dapat hadiah!"


"Hadiah apapun yaa?"


Arfa menyipit. "Tidak bisa apapun,"


"Oke. Apapun. Siapa takut?!"


Arfa memutar bola matanya malas sambil berdecak. Tapi saat nada pertama berdenting, Arfa langsung tertarik fokus. Bahkan dua anak kecil yang tadi sibuk bertengkar akibat membahas gambaran siapa yang terbaik langsung diam.


Eun Jae yang sadar, tersenyum menang setelah 5 detik permainan. Alunan semakin indah. Ini bukan sebuah lagu yang familiar namun memang sangat merdu di telinga. Terasa sangat familiar namun tidak pernah ada dalam sejarah permusikan.


"Eonni. Permainannya bagus. Hati-hati pada ahjussi. Ia bisa minta macam-macam," bisik Myung Hae pelan tepat di telinga Arfa.


Ya. Itu memang benar.


...💕💕💕...