You, Me, And My Secret Life

You, Me, And My Secret Life
40. Anna



Kakinya melangkah tanpa tentu arah. Entah kemana setiap jejak menuntunnya. Pikirannya kini terpusat pada kalimat beberapa waktu yang lalu.


"Eun Jae? Bagaimana kau tau aku habis dijahit?" pergerakan Zahra bahkan terhenti demi mendengar kebohongan apa yang akan ia gunakan.


Masih hening beberapa saat. "Hanya menebak. Terlihat dari luka yang muncul," ucapnya dengan meyakinkan. Arfa hanya mengerutkan kening pertanda bingung.


"Eun Jae juga sering bahkan selalu jahitannya terlepas. Makanya dia tau," celetuk Zahra menambahkan.


Benar-benar aneh. Memang apa yang dilakukan lelaki itu hingga membuat luka jahitannya selalu terlepas? Arfa terus saja memikirkan itu. Bahkan lihatlah sekarang. Ia harus menjauh dari ruangan Zahra akibat acara jahitan ulang milik Eun Jae. Ia tidak akan tahan akan hal itu.


Langkahnya terhenti. Bukan tanpa sebab. Kini ia sudah sampai di ujung lorong. Ada pintu besar di depannya. Bagian dalam sangat gelap jika hanya dilihat dari kaca.


Ia akan berbalik namun batal. Kepalanya kembali menengok pada pintu itu. Ada daya magnet tersendiri dari ruangan itu. Kalau mengecek sebentar tidak akan masalahkan? Lagipula ini malam hari. Tak banyak kegiatan di rumah sakit.


Tangannya memutar gagang pintunya. Terkunci. Sial. Tapi, ia dapat melihat alat pendetektor sidik jari untuk membukanya. Kalau mencoba apa salahnya? Mungkin sidik jarinya akan cocok meski itu mustahil.


Berulang kali Arfa mencoba tanpa menunggu hasil. Ia sambil tertawa menyadari kelakuannya seperti bocah itu. KLEK. PINTU TERBUKA.


Arfa yang terkejut langsung mundur selangkah. Niatnya hanya main-main kenapa bisa sampai terbuka? Atau jangan-jangan ia punya kekuatan super membongkar benda seperti ini? Wah. Daebak.


Kini tangan Arfa sudah memutar gagang pintu. Belahan besi ini berderit pelan saat semakin di buka. Ia masuk dan pintu otomatis tertutup karena sistemnya memang begitu.


Ruangan besar ini tak memiliki banyak isi. Hanya beberapa brankar kosong dan lemari besar di sisi-sisi ruangan. Arfa berkeliling. Melihat-lihat ruangan sepi ini dengan barang-barang khas rumah sakit.


Ia juga melihat ke arah lemari pendinginan mayat yang ia tau. Sebagian besar kosong atau mungkin semuanya kosong. Ya. Akhir-akhir ini sedikit terjadi kasus kematian di rumah sakit kota. Siapa juga yang suka dengan kematian.


Eh. Ada satu nama tertera di pintu perseginya. Tertulis nama.... Hah?


.


.


"Loh. Dimana Arfa?" Eun Jae baru saja selesai dengan kegiatannya. Zahra yang mendengar langsung keluar dan ikut memandang sekitar.


"Sus. Gadis tadi ada dimana ya?" tanya Zahra pada asistennya di luar.


"Ah. Yang tadi itu? Dia katanya ingin jalan-jalan,"


"Bagaimana sih anak itu? Lukanya juga belum mengering masih aja jalan-jalan. Perlu di rawat intensif Arfa ini,"


"Sudah mengomelnya. Kita cari dia sekarang. Sus, saya tidak ada jam praktek atau janji lagi, kan ?" tanya Zahra


"Tidak ada dokter,"


"Baguslah. Ayo!" ia menarik lengan Eun Jae agar mengikutinya.


"Kita berpencar saja," usul Eun Jae


"Tidak. Aku tau dia dimana?" langkah mereka semakin cepat. Zahra benar yakin. Hubungan persahabatan memiliki daya tarik tersendiri. Sejauh apapun posisi mereka namun perasaan tetaplah dekat.


Jari Zahra menekan pada pendetektor kunci. Setelah usai, ia membuka pintu besi itu. Benar dugaannya.


Di jajaran mortuary kabinet nomor dua dari bawah yang ketiga dari pojok. Pintunya telah terbuka dan Arfa kini tengah terduduk lemas di samping mayat yang membeku itu.


"Anna? Kamu kenapa disini?" dengan gemetaran ia menyentuh pipi dingin itu. Benar-benar sangat dingin. Air mata mulai menetes dari ujung mata Arfa. Badannya gemetar.


Eun Jae yang melihat itu langsung mendekat. Mendekap tubuh rapuh Arfa dari belakang. Ia sudah tau sejak awal tentang kematian Anna. Begitupula dengan yang lainnya. Hanya saja mereka masih menunggu waktu yang tepat untuk memberitau Arfa.


Tangan Arfa meraih lengan Eun Jae yang ada di depan dadanya. Menggenggamnya cukup erat sampai-sampai menembus dari baju yang dikenakan lelaki itu. "Sudah Arfa. Tenang. Tenangkan dirimu!"


Bagai angin lalu kata-kata itu sama sekali tak mengusik perasaan Arfa. Ia kacau sekarang. Zahra masih terpaku di ambang pintu. Menyandarkan punggungnya pada bingkai besi itu.


Ia tau bagaimana keakraban antara seorang Anna dengan Veronica. Bahkan meski gadis itu adalah Arfa, Anna masih memiliki tempat yang spesial di hatinya. Entah sebagai Arfa atau Veronica, mereka benar-benar sangat dekat dengan Anna.


"Fa! Arfa? Bangun!" Zahra mendekat. Gadis itu telah tak sadarkan diri. Dalam dekapan Eun Jae. Dalam lingkungan penuh duka. Dalam kejadian yang tak terduga.


***


Hujan turun dengan derasnya. Namun itu sama sekali bukan menjadi kendala bagi sesi pemakaman bagi Anna. Ada Arfa di barisan paling depan. Bersama dengan ayah dan ibu Anna. Lalu di lanjutkan dengan Zahra, Angel, dan Kevin serta Sheilla dan Yeol.


Hanya ini tamu yang datang. Bukan karena keluarga Semenoviah adalah keluarga tak berkelas. Malah mereka adalah bagian dari bangsawan terpenting di Smart World.


Sama halnya seperti banyak atom yang menjadi budak pihak lawan. Jika sampai mereka menarik banyak kaum keluar dari Smart World maka pihak jahat itu akan mengetahuinya.


Arfa masih terisak bekas acara di pemakaman tadi. Ibu dan ayah Anna juga tak bisa mempungkiri bahwa anak mereka satu-satunya telah tiada. Ini bukanlah kematian yang akan hidup setelah setahun waktu bumi. Ini bukan kematian khas dari manusia biasa.


Anna kehilangan jantungnya dan juga seperempat dari otaknya hangus. Ini jelas-jelas berbeda dengan kematian yang selama ini di alami Arfa. Anna benar-benar pergi untuk selamanya.


"Fa. Kita harus cepat pulang," ujar Sheilla pelan. Ia juga belum puas dengan acara menangisnya. Namun mau bagaimana lagi? Tempat ini sangat dekat dari wilayah Smart World. Bukan saatnya reinkarnasi Veronica nampak oleh pihak dunia sana.


Namun gadis itu tak berkutit. Ia masih saja sesegukan dengan tangan yang meremas erat tanah makam Anna. "Fa. Disini berbahaya. Apa kau ingin kita semua mati?"


Arfa terpejam. Ia kembali teringat alasan kenapa Anna mati? Karena gadis itu melindunginya. Andai saat itu mereka tak pergi ke kamar mandi, mungkin semua tak akan terjadi. Tapi, semua sudah menjadi takdir. Tak ada yang bisa mengubah masalalu. Namun semua yang terjadi sekarang akan menentukan masa depan.


Arfa menghapus air matanya. Sudah cukup untuk Anna. Tidak untuk yang lainnya. Jika harus menderita bukan mereka yang menyokong Veronica. Ia bangkit. "Ayo pulang!"


Semua kembali menyusuri jalan setapak. Di persimpangan, keluarga Semenoviah lebih memilih untuk belok ke kanan. Ke arah yang lebih mendalam di pulau ini. Mereka harus kembali.


Sedangkan yang tersisa, memilih jalan ke kiri. Menuju pantai. Disana ada speedboat yang akan mengantarkan mereka ke ibukota provinsi. Lalu menerbangkan jet pribadi Kevin menuju Korea Selatan.


Nyatanya semua tak seindah alur. Mereka tak bisa menggunakan jet karena masalah jaringan. Arfa dan Sheilla naik penerbangan pertama menuju Jakarta. Setelahnya mereka akan naik pesawat lagi agar bisa ke Korea Selatan. Masalahnya sekarang adalah menjauhkan Arfa dari provinsi Maluku secepat-cepatnya. Makanya dia harus berangkat di awal.


Sisanya akan menaiki pesawat kedua menuju ke Singapore. Kecuali Kevin. Ia akan mengurusi masalah jetnya. Perlu ijin panjang agar dapat diterbangkan dengan cuaca yang tak menentu sekarang.


.


.


Setelah 14 jam perjalanan akhirnya Angel sampai di tujuan. Yeol langsung pamit karena urusan mendesak. Zahra dan Angel langsung menuju rumahnya. Mungkin Arfa sudah sampai karena jika dilihat dari tiket yang dipesan online tadi, mereka hanya transit setengah jam sedangkan pesawat Angel tertahan di singapore mencapai dua jam lebih.


Namun, belum juga mobil yang dikendarai Angel sampai memasuki komplek, alarm ancaman berbunyi nyaring. Zahra yang juga ikut menemani, menjadi bingung. Memang ada apa?


Mobil melaju sangat perlahan memasuki komplek. Mengambil jalan memutar dengan kecepatan seperti orang berjalan saja. Saat pandangan mata mereka dapat menangkap area pelataran rumah Angel, mobil berhenti.


Angel mengambil kacamata inframerahnya dari dasbor. Benar saja. Beberapa orang sedang berada di balik tembok. Ada juga yang menanti di belakang gerbang. Mereka banyak sekali.


"Ada apa?" tanya Zahra yang masih terpaku. Ia sama sekali tak menemukan apapun yang aneh dari rumah temannya itu.


Angel menyerahkan kacamatanya pada Zahra. "Apa Arfa ada di dalam?" sambil bertanya lirih.


...💕💕💕...