
"Apa yang harus kita lakukan? Dia bisa mati jika terus begini," ujar Angel frustasi. Arfa masih tak sadar-sadar meski kulitnya telah kembali normal.
Kevin baru saja dapat panggilan mendadak untuk melakukan sebuah misi pilotnya. Penerbangan entah kemana lagi. Dan pekerjaan ini sama sekali tak mengizinkan penanggungjawabnya untuk menunda.
Jadi di kamar ini hanya tersisa Sheilla yang bingung sambil menatap tubuh Arfa. Oma yang tampak terpejam sambil menyandarkan punggung di sandaran ranjang cucunya. Lalu Adel yang tampak memikirkan cara supaya dapat memulihkan kembali tubuh Arfa. Mereka hanya berlima disini ditambah dengan sang pasien meski tak sadarkan diri.
"Bagaimana dengan Dio? Mungkin dia bisa menyadarkannya. Bukankah dia pelengkap princess Vero?" sebuah ide terlontar dari mulut Adel begitu saja. Dari tadi ia berusaha mencari ingatan dari setiap buku yang pernah ia baca dan teringat pasal jodoh pelengkap. Maksudnya pelengkap DNA nya. Bukankah jodoh Arfa, maksudnya Veronica, adalah Dio?
"Itu juga yang aku pikirkan. Tapi, dia sudah diasingkan sejak kecil. Aku sama sekali tidak tau dimana dan bagaimana dia," ujar Sheilla menanggapi.
"Kita bisa melihat dari alat di perpustakaan itu kan oma?" Angel berargument. Semua langsung menatap ke nenek tua itu. "Terakhir kali aku pernah bertemu sekali. Aku masih ingat parasnya,"
"Iya. Bisa. Tapi kita harus ke Indonesia. Butuh waktu lama bukan?" jawab oma sambil menimbang-nimbang.
"Lebih baik daripada tidak berusaha sama sekali. Kita cari terlebih dahulu Dio," sahut Angel yang langsung bangkit. "Oma. Kita berangkat sekarang. Bisakan? Aku akan memesan penerbangan paling awal. Dr. Adel dan Sheilla berjaga saja di sini,"
"Kenapa tidak dengan Jet kak Kevin ? Itu lebih cepat. Kau bisa meminta pilot di sana untuk membantu. Beberapa dari mereka adalah pengikut Veronica," usul Sheilla.
"Bagus. Aku akan menghubungi mereka. Ayo oma!" kedua wanita beda usia itu mulai berjalan keluar. Adel mengantar sampai pintu. Membukakan teleportasi singkat agar dapat menembus pintu. Ya. Jika tidak begitu, ruangan ini akan terisi udara lagi dan kondisi Arfa bisa saja memburuk.
Sheilla masih memandangi wajah Arfa yang terlelap. Adel kembali dan memilih duduk di sisi ranjang yang lain. Yang lebih jauh dari tiang infus dan tubuh Arfa. "Dokter. Kau istirahat saja. Kau pasti lelah. Kita bergantian jaga saja,"
"Baiklah. Itu ide bagus,"
***
Sheilla sama sekali tak berpindah dari duduknya. Ini sudah tiga jam sejak Angel dan Oma pergi tadi. Itu berarti juga Dr. Adel sudah tertidur selama jam itu juga. Sheilla tak tega membangunkan. Mungkin wanita itu lelah.
Jika dihitung, mungkin Angel masih di atas udara. Dan Sheilla juga tak memiliki aktivitas lain selain memandangi wajah Arfa. Ia tak bisa menggunakan alat komunikasi di ruang steril ini.
Jadi dia lebih memilih memandangi wajah gadis ini. Dulu. Saat sekolah ia sangat menyukai pelajaran mengenal ekspresi wajah. Bahkan ia belajar lebih dalam untuk materi yang satu ini. Dari yang ia pahami, wajah seseorang yang sakit bukanlah seperti Arfa saat ini. Dia juga tidak memenuhi wajah tidur yang damai ataupun wajah mayat. Ada yang sedikit ganjal.
Sheilla terus mencari apa yang cocok dari ekspresi ini. Alis terlihat tak tenang tapi bibir sama sekali tak berkerut. Bulu mata sedikit menaik. Ah. Sudah 3 jam ia mencari makna dari wajah dengan pipi sedikit bersemu ini.
"Sheilla. Apa kau tidak lapar?" pertanyaan itu membuat perhatiannya teralih. Adel telah bangun dari tidur singkatnya. Duduk dengan masih mengucek-ucek mata agar sadar. Mungkin ia terbangun karena lapar.
"Emmm.... sedikit. Kenapa? Apa dokter lapar? Mau saya masakkan sesuatu?"
Wanita itu malah tersenyum. Apa ia masih dalam alam bawah sadar? "Aku benar-benar sangat ingin mencicipi masakanmu yang terkenal se-Grybe. Tapi sebaiknya kau tidak keluar dari kamar ini,"
"Ah. Aku hampir lupa. Lalu? Apa dokter akan masak sendiri?" ia kan masih dalam mode penyamaran bubu. Tidak mungkin kucing imut itu tiba-tiba bisa memasak.
"Ini rahasia. Aku nggak pintar masak sama sekali," keduanya terkikik pelan saat Adel berbisik barusan. "Bukankah di depan ada supermarket? Biar aku beli makanan!"
"Baiklah,"
Adel terlihat berjalan keluar dari kamar Arfa. Ya. Seperti sebelumnya. Dia membuka portal dimensi dan berteleportasi menembus pintu. Hal ini memang benar-benar bisa dilakukan hanya dengan memusatkan pikiran.
Sheilla kembali lagi berpikir. Kali ini ia memilih tak memandangi Arfa. Ia sedang mengingat-ingat makna wajah apa yang ia lupakan. Ya. Dia menyukai teka-teki meski dalam situasi genting seperti ini. Emm... mungkin dengan begitu dia bisa membantu menyadarkan Arfa.
"Hey!" kejut seseorang pada Sheilla. Gadis ini langsung bangkit, berdiri, dan memasang kuda-kuda pencak silat yang ia pelajari dari sekolahnya di smart world.
"Dio?!" matanya terbelalak memandangi sesosok pria dengan hoodie abu-abu dengan pelapis leather coklat tua di luarnya. Lelaki manis itu tersenyum.
"Kenapa? Apa ada yang salah?" Sheilla berkedip berulang kali. Memandangi pria dengan jeans denim panjangnya itu.
"Kau.... kau... benar-benar Dio?,"
"Bukan. Aku Charlie," Sheilla berkerut kening. "Ya iyalah. Aku Dio," gadis itu memberengut. "Ngomong-ngomong Charlie sedang sakit loh. Kau tidak ingin menghampirinya. Dia terus merintih Sheilla... Sheilla...,"
"Dasar!" bahu Dio terpukul keras dengan lengan bawahan Arfa itu. "Bukankah tujuanmu ke sini untuk menghampiri Veronica?"
"Tidak. Tujuanku kesini untuk menyampaikan hal tadi," ya. Charlie adalah pasangan dna tak sempurna milik Sheilla. "Kalau Veronica bukanlah tujuan tapi kewajiban,"
"Ya terserahmu saja,"
Lelaki itu terkekeh pelan. Menampilkan lesung pipi yang menambah manis wajahnya. "Sejak kapan dia begini?" ia mendatangi ranjang Arfa. Duduk di sisinya sedangkan Sheilla tepat berdiri di sebelah tiang infus.
"Dua hari? Aku tidak tau pasti," Dio langsung menoleh pada Sheilla dengan tatapan tajam. "Hey. Aku tidak sengaja meninggalkannya. Dia juga yang memintaku melakukan tugas,"
"Hmmm. Aku tau. Dia sudah terlalu lama berkeliling di dimensi waktu,"
"Hah?"
Lelaki itu mendekati telinga Arfa. Ia mulai berbisik pelan. "Ugly. Ini aku, Dio. Kenapa kau disini?" jeda beberapa saat. "Kembalilah! Hanya pejamkan matamu dan pusatkan semua pikiranmu pada Kak Angel,"
"Hey. Apa itu berhasil?" tanya Sheilla sambil ikut berbisik meski lantang. Dio menatap tajam padanya dan mengisyaratkan untuk diam dengan meletakkan jari telunjuk di depan mulutnya sendiri.
Garis alis di raut muka Arfa kembali tenang. Wajahnya tidak lagi bersemu merah muda. Wajah penuh kedamaian sekarang yang di perlihatkan gadis itu. Dengan senyum kecil yang mempesona.
"Waw," gumam Sheilla pelan.
"Dia akan sadar beberapa menit lagi. Melewati dimensi waktu tidak boleh menggunakan kecepatan cahaya. Terlalu tinggi. Itu akan merusak susunan ingatan di sana,"
"Sudah. Aku tidak perlu penjelasan. Intinya seperti itu," Dio mencibir kesal tanpa suara.
"Ya sudah. Aku pergi. Jangan lupa jenguk Charlie! Dia terus manja,"
"Ya. Setelah Vero sadar," ujarnya tanpa memandang Dio. Hening setelahnya. Ia memperhatikan wajah Arfa yang telah berubah ekspresi meski sedikit seperti itu.
Dipikir kembali, berarti ekspresi tadi adalah saat kita menjelajah alam bawah sadar. Seperti berimajinasi atau bermimpi. Tapi, melewati dimensi lain apa termasuk alam bawah sadar.
"Eh. Dio....," bodoh. Lelaki itu pastinya telah pergi. Dia selalu begitu. Mentang-mentang bisa menciptakan alat teleportasi jarak jauh dia selalu menghilang di sana-sini. Belum saja Sheilla bertanya tentang pertanyaan itu. Lagipula kenapa tidak menunggu Veronica sadar sih?
"Vero? Kau sudah bangun? Ya Tuhan. Syukurlah. Kau benar-benar bangun,"
Kesadaran Arfa kembali cepat. Ia memandang sekeliling. "Aku di surga ya? Kenapa mirip sekali dengan kamarku?"
"Hey. Ini bukan surga. Ini bumi. Planet di bima sakti. Kau belum mati. Kau masih hidup,"
"Oh ya? Bukankah....," gadis itu memejamkan mata. Teringat hal sebelumnya membuat kepalanya pusing.
"Kau diselamatkan. Kau tidak bisa mati dengan seperti itu?"
Arfa membuka matanya kembali. Ia mengangguk paham. Saat dirinya akan bergerak menyesuaikan posisi, terasa nyeri di bagian perutnya.
"Hati-hati! Kau baru saja operasi,"
"Operasi?" beonya pada diri sendiri. Tangannya berusaha menyibak pakaian longgar yang ia pakai sekarang. Benar. Diperban. Inilah yang membuatnya penasaran sedari tadi. Jadi ini penyebab perutku sakit.
Sekilas ia teringat tentang mimpi.... mungkin. Ia tiba-tiba teringat perjalanan panjang nan melelahkannya barusan. "Aku koma?" tanyanya dan Sheilla mengangguk. "Berapa lama?"
"Emm... Dua hari?"
"Dua hari? Singkat sekali," gumamnya pelan.
"Hey. Bersyukur kau hanya koma dua hari. Nyawamu hampir melayang tau,"
"Tidak apa-apa. Tempat yang aku kunjungi benar-benar indah," baru saja Sheilla akan menjitak kepala wanita ini namun dibatalkan. Teringat bahwa Arfa baru saja selesai operasi. "Oh iya. Mana kak Angel?"
"Kak Angel? Kak Angel ke Indonesia ada keperluan. OH IYA. Aku harus menelponnya sekarang," ia akan meraih handphone Arfa di atas nakas. "Astaga. Aku lupa tidak boleh menggunakan handphone di ruangan ini,"
"Kenapa?"
"Ruangan ini disterilkan. Bukankah kau merasa lebih nyaman?" Arfa mengangguk setuju.
"Aku datttttaaaannnnggg," semua mata langsung tertuju pada bilah pintu yang tertutup. Adel kembali dengan kantong plastik berisi beberapa buah dan makanan sehat lainnya. "Arfa? Kau sudah sadar?"
"Ini Dr. Adel yang membantumu selama sakit," sahut Sheilla
"Oh. Terima kasih dokter atas bantuannya,"
***
"Aku memang tidak pandai memasak tapi aku tidak suka makan makanan yang tidak sehat," ucap Adel sambil menuangkan susu di setiap oatmeal pada 3 mangkuk. Ia menambahkan beberapa potong buah yang ia beli dan menghidangkannya untuk Sheilla dan Arfa.
"Untung sehat. Kalau nggak pasti Arfa dilarang makan," celetuk Sheilla sebelum acara makan dimulai. Mereka makan di meja makan dengan Arfa yang memakai kursi roda. Padahal sudah dilarang tapi tetap saja ngotot ingin makan di meja makan.
Pensterilan di kamar Arfa juga sudah dihapus sejak tadi. "Bagaimana kak Angel? Apa sudah dihubungi?" tanya Arfa disela-sela makannya.
"Sudah. Tapi tetap tidak bisa. Mungkin handphonenya di nonaktifkan karena penerbangan. Aku sudah mengirim pesan kok," jawab Adel.
"Oh iya. Dokter balik ke rumah sakit aja. Ada aku yang akan menjaga Arfa," usul Sheilla setelah usai makan. Dia yang pertama. Kini sepertinya tak perlu menyamar. Ingatan Vero lebih dari 50% kembali.
"Iya dokter. Tidak apa-apa. Aku juga sudah membaikkan? Lebih baik dokter istirahat saja,"
"Emmm.... okelah," ia juga selesai menyantap makanannya.
"Eh. Mana Cheon Gi?" Arfa meraih air minum dan meneguknya.
"Cheon Gi menginap di rumah Myung Hae," jawab Sheilla sambil membereskan peralatan makan yang baru saja di gunakan.
"Rumah Myung Hae? Ahhhh. Daniel. Aku harus bertemu Daniel," gumamnya pelan. Ia meraih handphone yang berada di sisi mangkuknya. Ya. Meski kini mangkuknya telah di ambil alih oleh Sheilla.
"Kau mau apa?" tanya Sheilla
Arfa tak mendengarkan. Ia mencari kontak dan menekan nomor bertujuk Myung Hae Imut. Ya. Nama itu belum ia rubah sejak awal Myung Hae memasukkan dulu.
"Yeoboseo?"
"Oh. Myung Hae. Dimana Cheon Gi. Kata kak Angel dia bersamamu. Benarkah?" Sheilla memandang Arfa yang sedang asik menelepon. "Halo? Myung Hae? Apa kau disana?"
"Apa ini Arfa Eonni?"
"Tentu saja. Dimana Cheon Gi? Katanya dia meninap di sana?"
"ARFA NUNA!!!" Arfa menjauhkan handphone itu dari telinganya sejenak. "Eonni sudah sadar?!!"
"Sudah. Oh iya Myung Hae. Appa mu ada?" tanya Arfa.
"Tentu. Ini dia ada di depanku. Dia juga mendengarkan eonni sekarang,"
"Oh ya?" Arfa langsung memerah karena malu. "Eonni akan ke sana sekarang. Eonni akan menjemput Cheon Gi,"
"Tidak. Tidak perlu. Aku akan mengantarnya,"
"Tidak. Eonni ada urusan lain,"
"Tapi, kan. Nuna baru sembuh," terdengar suara Cheon Gi menyahut.
"Nuna baik-baik saja. Nuna akan kesana sekarang,"
Sheilla telah menatapnya tajam. Begitu pula dengan Dr. Adel. Dasar gadis bandel.
...💕💕💕...