
Eun Jae masih diam terpaku dengan tangan yang menempel pada dagu. Ia berpikir benda mana yang harus dibeli. Semua terlihat sama. Hanya bungkusnya yang terlihat berbeda. Atau ia yang tidak tau maksudnya?
Ia masih memandang rak penuh khusus pembalut itu. Ya. Satu rak dihabiskan hanya untuk tempat benda yang sangat tabu bagi lelaki.
Eun Jae tadi bingung saat Arfa yang berteriak tiba-tiba usai makan. Ia kira wanita itu tersedak atau apa. Saat ia akan mendekat Arfa malah kembali berteriak.
"Tetap disitu! Kau mundur. Jangan dekat-dekat!" ia menurut. Wajah wanita itu sungguh terlihat cemas.
"Ada apa?" tanyanya bingung. "Kau sakit?" ia akan menyentuh kening Arfa namun lagi-lagi wanita itu berteriak dan menyuruh menjauh.
"Itu....," Eun Jae masih menunggu Arfa menyelesaikan kalimatnya. Tapi, entah kenapa ia terlihat sangat gugup. Apa benar-benar sedang sakit? "Bisakah....,"
Arfa memandang kesana kemari. Eun Jae yang bingung ikut memandang daerah yang dipandangnya. Tanpa tentu arah. "Bisakah apa?" tanyanya yang mulai paham bahwa Arfa bukan ingin menunjuk maksudnya dengan pandangan. Tapi, sedang menutupi kegugupannya. Eun Jae tak lagi mengikuti arah pandang gadis itu.
"Itu... apronmu. Bisakah......," Arfa mengigit bibir bawahnya. Tak mampu berkata-kata. "Aku pinjam!"
"Hah?" Eun Jae masih tak paham. "Apa?"
"Apronmu! Aku pinjam,"
"Untuk?"
****. Kenapa ia bertanya seperti itu? "Itu..... karena....huh. pinjam sebentar saja,"
Eun Jae berpikir. Bukan tentang memberikan apronnya. Tapi tingkah Arfa yang begini.... sepertinya familiar. Ah. Ya. Pacar Chun Seung juga pernah begitu dulu saat....
"Apakah kau-,"
"Sudah! Tidak perlu diucapkan. Berikan saja apronmu!" Eun Jae mengangguk paham. Ia mengambil apron yang berada di pantry dan akan memberikannya pada Arfa sebelum gadis itu berteriak. "Lempar! Lempar saja!"
Eun Jae menurut. Ia melempar apron hitam di tangannya. Tepat jatuh di wajah Arfa. "Ups. Maaf," Arfa berusaha menahan amarahnya dengan menarik napas dalam-dalam.
Ia sedikit bangkit karena akan melilitkan apron itu pada bagian pinggangnya. Namun terhenti. Ia lupa satu hal. Arfa kan belum membeli pembalut? AKH....
Ia kembali terduduk lemas. Matanya melirik ke arah Eun Jae yang masih menatapnya. Haruskah ia meminta tolong pada lelaki itu? Oh. Ya Tuhan. Harga dirinya di depan gebetan bagaimana? Sepertinya Arfa akan menghapus semua rasa cintanya pada Eun Jae.
"Perlu bantuan?" tanya lelaki itu.
"Aa.... itu," Arfa kembali menggigit bibir bawahnya. "Bisakah kau,"
"Permisi. Anda mencari pembalut yang mana?" tanya seorang pramuniaga wanita yang tanpa ia sadari sudah berdiri disampingnya. "Ingin yang merek apa? Siang atau malam? Dengan sayap atau tidak?"
Eun Jae menggigit bibir bawahnya bingung. Haruskah ia menelepon Arfa dan bertanya yang mana? Tapi dia bahkan tidak punya nomor handphonenya. AKH.... ini membuatnya gila.
"Apa saja. Terserah. Aku beli satu," wajahnya berpaling memandang ke arah lain. Menutupi rasa malunya.
"Merek ini memiliki daya serap yang-,"
"Ya. Aku beli yang itu saja," ucapnya memotong penjelasan pramuniaga itu. Sang penjaga wanita langsung mengemas permintaan Eun Jae dan mengantarkannya menuju kasir.
"Untuk kekasihnya ya? Anda sungguh sangat pengertian," ujar sang kasir yang juga seorang wanita. Eun Jae hanya menimpali dengan senyum.
Setelah semua selesai ia langsung membayar dan membawa belanjaannya keluar dari supermarket sialan itu. Para pramuniaganya tidak ada kerjaan lain apa.
Eun Jae memasuki mobilnya. Ya. Jarak ke supermarket cukup jauh jika dari rumahnya. Jadi, ia mengendarai mobil. Belum saja ia menyalakan mesin sebuah panggilan menerobos jaringan handphonenya.
Awalnya ia pikir itu telepon dari Arfa yang menyuruhnya agar cepat sampai. Itu pula yang pacar Chun Seung lalukan saat Eun Jae mengantar sahabatnya itu ke supermarket. Tapi bukankah mereka tidak memiliki nomor masing-masing? Tangannya merogoh handphone di saku mantel. Bertuliskan nama Yeol.
"Ada apa?"
"Anak-anak sudah menunggumu. Kau tidak datang ?"
Oh. Iya. Eun Jae hampir lupa jika hari ini ia ada acara bersama Fire. Ada pengosongan uang kas sebelum pergantian masa senior. Tingkatan Eun Jae akan wisuda bulan Februari kan? Jadi mereka berniat pergi ke panti asuhan. Panti asuhan yang sama dengan yang sering dikunjungi Eun Jae.
"Aku dalam perjalanan,"
"Cepatlah! Takut acaranya lama dan sampai malam,"
"Ya. Tunggu saja,"
Telepon sudah dimatikan. Oke. Sekarang Eun Jae akan memberikan benda tabu ini kepada Arfa baru berangkat.
***
Arfa gelisah di kamar mandi. Bisakah lelaki itu mencari benda bernama pembalut? Kalau salah bagaimana? Ia ingin bertanya lewat telepon tapi tidak ada kontak Eun Jae di handphonenya.
Pintu kamarnya terdengar sedang diketuk. Arfa akan keluar dari kamar mandi tapi ia teringat. Tubuhnya kini hanya terbalut kimono biru cerah setelah mencuci pakaiannya tadi. Oh. Dia benar-benar bodoh.
Pintu kamarnya berderit terbuka. "Arfa!" panggil Eun Jae.
"Aku di kamar mandi!" teriaknya. Ia membuka sedikit pintu lalu mengulurkan tangannya keluar. "Mana?"
"Ah. Ini," dirasa tangannya sudah menggenggam kantong plastik, ia kembali menarik lengannya masuk dan kembali menutup pintu. Tak lupa menguncinya.
Hal pertama yang ia lihat adalah merek dari pembalut yang dibeli Eun Jae. Ini pembalut kualitas terbaik meski Arfa tak biasa memakainya. Biarlah. Tak apa.
"Makasih!" teriaknya lagi. Eh. Tunggu dulu. Satu hal lagi yang ia lupa. Dalaman. Bagaimana dia bisa lupa? Bodoh. Bodoh. Bodoh.
Apa ia harus mengambilnya? Sepertinya Eun Jae masih diluar. Tadi saja lelaki itu masih menjawab ucapan terima kasih Arfa. "Eun Jae?" panggilnya ragu.
"Ya?" kan. Dia masih diluar. Apa Arfa sungguh harus minta tolong pada lelaki itu? Harga dirinya bisa hancur lebur. Arfa terlihat kalang kabut. "Perlu apa lagi?"
"Aa.... itu. Ambilkan koperku!,"
Arfa benar-benar mengutuk dirinya sendiri. Kenapa ia begitu bodoh dan pikun. Padahal ia mengira malam nanti akan sangat nyaman dan menyenangkan. Ia tak pernah terbayangkan sedikitpun harga dirinya jatuh sore ini. Dan itu di depan Eun Jae lagi.
"Kau ingin apa? Biar aku carikan!"
Arfa mengumpat dalam hati lagi. Haruskah ia katakan butuh ****** *****? Oh no. Tidak boleh. Arfa adalah orang yang bermartabat. "Tidak perlu. Aku akan mencari sendiri. Bawakan kopernya saja!"
"Kopernya terlalu besar untuk memasuki kamar mandi. Biar aku yang ambil!"
"Fa? Jadi tidak?"
"Eh. Jadi!" Arfa menarik napasnya dalam-dalam. Oke. Dia tidak mungkin berada di kamar mandi terus menerus. Pembalut juga tidak akan terpasang jika tanpa **********. Ia sudah membuka mulut tapi susah untuk mengatakannya. Suaranya seolah-olah hilang.
Ia menarik napas lalu membuangnya berulang kali. "Fa? Kau butuh apa?"
"****** *****," Arfa langsung terduduk lemas setelah mengucapkannya. Energinya serasa terkuras. Harga diri ini sudah jatuh sejatuh-jatuhnya.
"Apa?! Aku tidak dengar?!" oksigen serasa hangus begitu saja. Ah. Ia bahkan tidak membutuhkan oksigen untuk bernapas. Tapi, rasanya sangat sesak. Ia sudah berusaha keras dan lelaki itu tak mendengar? Dia benar tak mendengar atau bagaimana sih? "Fa! Kau tidak pingsan di dalam kan?!"
"Tidak!" jawabnya berteriak.
"Kau butuh apa?"
Oke. Biarlah terjadi. Setelahnya ia akan melupakan hal ini. Seperti tidak ada yang terjadi. "****** *****,"
Sedikit keras dari yang tadi. Ia yakin Eun Jae mendengar.
"Warna apa?"
Mati saja aku
Bisa-bisanya ia bertanya warna? Arfa benar-benar malu. Ia bahkan sudah akan menangis sekarang. "Yang mana saja! Terserah!" teriaknya cukup keras karena kesal. Ditambah lagi ia sedang pms.
Tak lama kemudian pintu terketuk dari luar. Ia bangkit dan membukanya sedikit. Kini lengan Eun Jae yang masuk. Dengan membawa benda sakral itu. Warnanya hitam.
Arfa buru-buru mengambilnya. Sungguh memalukan bukan? Tangan Eun Jae keluar dan Arfa buru-buru menutup pintu. Ia melakukan ritual sakral setelahnya.
Cukup lama ia di dalam. Eun Jae masih menunggu sambil duduk di sisi ranjang. Takut wanita itu butuh sesuatu. Bukankah ia harus stay?
Pintu berderit terbuka setelah beberapa lama. Ia bangkit dan saat mata Arfa menangkap bayangan Eun Jae ia langsung berteriak. Membuat lelaki itu juga terpancing berteriak tanpa sebab. "Kenapa?"
"BERBALIK!" Eun Jae masih diam tak mengerti. Arfa merapatkan mantel mandinya. "BERBALIK EUN JAE!!"
"Ah. Iya," ia langsung berbalik. Eun Jae sedikit bingung kenapa Arfa dari tadi marah terus. "Kenapa kau berteriak?" tanya Eun Jae sambil memandang Arfa dari cermin di hadapannya. Dan gadis itu tak menyadari.
"Kenapa kau masih disini?!"
"Aku kira kau akan butuh bantuanku,"
Arfa menarik napasnya dalam-dalam. Apa ada yang salah. Batin Eun Jae bingung. "Tidak ada yang perlu dibantu lagi. Jadi, keluar dari kamarku?"
"Ini bukan kamarmu, Fa," ingat Eun Jae
"Huh. Sama aja. Keluar!"
"Iya-iya," ia akan berbalik dan Arfa lagi-lagi berteriak. Ngomong-ngomong pita suaranya tidak sakit apa?
"JANGAN BERBALIK!!"
"Pintunya ada di sebelahmu, Arfa,"
Belum saja Arfa sempat menjawab handphone Eun Jae berdering. Lelaki itu langsung merogoh sakunya dan melihat layar ponsel. Nama Yeol tertulis. Oh. Ya Tuhan. Dia lupa acaranya. Pasti mereka murka sekarang.
Ia mengangkat panggilan tersebut. Arfa hanya memperhatikan dari belakang. Suara ribut langsung menyambutnya. Sepertinya Yeol menyalakan loudspeaker.
Dimana kau ?
Pimpinan kapan datang
Cepat
Terjebak macet,kah
"Aku akan sampai," ia berbalik dan Arfa kembali berteriak. "JANGAN BERBALIK!!"
Eun Jae langsung kembali ke posisi semula. Suara ribut di ujung sana langsung terhenti. Sepertinya mereka mendengar suara Arfa. Beberapa saat kemudian handphone di depan telinganya berbunyi.
"Kau jika sedang berkencan bilang. Kita tidak akan menunggu lama, kan," ucap Chun Seung di ujung sana
"Tidak. Tidak. Kalian salah paham,"
"Sudah. Tidak apa-apa. Kita akan berangkat sendiri," tambah Yeol.
"Tunggu aku. Aku akan kesana sekarang," Eun Jae buru-buru mematikan handphonenya. "Aku mau keluar. Bagaimana jika aku tidak boleh berbalik?"
"Ya... jalan mundur!,"
Eun Jae menurut. Sekarang ia sedang terburu-buru. Setelah sampai di sisi Arfa, ia berhenti sejenak. Kini gadis itu sedang membelakanginya sambil tangan mempererat kimono yang ia kenakan.
"Apa salahnya aku berbalik? Jika takut aku melihatmu, cermin itu juga memperlihatkannya,"
Arfa melotot. "EUN JAE!!"
"Aku pergi," lelaki itu langsung lari keluar kamar. Tak luput juga untuk menutup pintu.
Arfa mendengus kesal. Ia memandang ke cermin. Benar. Bayangannya terpantul. Ia langsung mengacak rambutnya frustasi. Kenapa Eun Jae tidak bilang dari tadi? Dasar pria sialan. Harga dirinya bukan lagi jatuh-sejatuh jatuhnya. Tapi terpendam di titik terdalam bumi.
Tunggu. Ada satu hal lagi yang ia lupa. Kursi di dapur. Pasti juga ada bekas darahnya. Ia harus membersihkannya dengan segera.
...💕💕💕...
...HAI READER...
...BEBERAPA BAB AKAN TERTUJU PADA KISAH ASMARA ANTARA ARFA DAN EUN JAE...
...JANGAN SAMPAI KETINGGALAN YA...
...VOTE AND COMENT DONG...