You, Me, And My Secret Life

You, Me, And My Secret Life
13. Candaan



"Saat sampai, jangan langsung turun. Aku akan membukakan pintu untukmu," ujar Eun Jae masih fokus pada jalan yang dihiasi pohon-pohon bergugur disisi kanan kiri. Mereka sudah memasuki daerah rumah Keluarga Jang, yang seolah dilingkupi hutan.


"Kenapa ?"


"Ada sedikit masalah. Ikuti saja dulu. Akan kujelaskan nanti,"


Mobil pun berhenti setelah menempuh kira-kira 2 km dari gerbang utama. Mobil tersebut berhenti tepat di depan wastu mewah keluarga Jang.


Dengan segera, Eun Jae turun dari mobil kemudian berjalan menuju pintu penumpang depan. Lelaki itu tidak main-main dengan ucapannya.


Ia memasang senyum tampannya didepan Arfa sambil mengulurkan tangan kanan. Sungguh sangat tampan sampai-sampai rasanya Arfa tidak mampu berdiri. Shut up. Ada apa denganmu, Fa.


Apalagi saat tiba-tiba lelaki itu menarik tangannya untuk digenggam. Mungkin karena terlalu lama menunggu respon Arfa. Namun tetap saja gadis itu agaknya tak terima. Jantungnya terasa sakit, sesak.


Sambutan kecil langsung tersuguh dari keluarga Jang. Mrs. dan Mr. Jang terlihat seraso dengan pakaian senada. Sedangkan Myung Hae tetap imut meski warna pakaiannya jauh berbeda.


"Selamat datang para modelku. Wah. Kalian memang pasangan serasi. Foto ini akan terlihat sangat natural nanti," Arfa langsung mengerutkan keningnya


"Pasangan? " beonya pelan tapi terdengar jelas di telinga Eun Jae.


"Annyeong Haseyo," sapa Eun Jae seperti tak terjadi apa-apa. Arfa langsung menoleh ke arah Eun Jae sambil menggeleng-gelengkan kepala. Eun Jae mengedipkan satu matanya. Arfa membalasnya dengan gelengan lagi.


"Ada apa dengan kalian? " tanya Mr. Jang. "Ayo kita masuk! Di luar dingin,"


"Tuan....," Arfa akan bersua tapi terpotong.


"Ah. Ini. Dia ingin ke toilet tapi ingin aku yang mengantarkan. Dari dulu, dia susah beradaptasi dengan orang lain. Jadi, ia takut,"


"Arfa. Arfa. Tidak kusangka kalian manja sekali. Ya sudah antarkan saja tuan Song," ujar Mrs. Jang sambil tersenyum lebar. Membuat Arfa ikut tersenyum karena malu. "Kami akan menunggu di studio,"


Dasar Eun Jae


"Ne,"


Sedangkan Keluarga Jang berbelok menuju studio, Eun Jae langsung membawa Arfa ke arah toilet terdekat yang berada di rumah tersebut. Entahlah. Tau darimana ia letaknya. Baru saja sampai, Arfa langsung mengomel. Mengeluarkan segala keluh kesannya.


"Apa maksudnya ini? Pasangan? Bahkan kita bukan teman. Aku tak mengerti ini semua. Kenapa juga kau tidak menyangkal? Mereka itu....,"


"Sebentar. Biar aku jelaskan!" tekan Eun Jae agar Arfa berhenti bicara.


"Ya ya ya. Cepat jelaskan! "


"Kepala sekolah membuat rumor kita berpacaran agar bisa tetap ikut modelling. Karena kita telat kemarin, jadi seharusnya kontrak kita batal. Tapi kepala sekolah memaksa dan membuat candaan begini,"


"Candaan? Ini Gila! Lebih baik aku tidak usah ikut ambassador jika begini,"


"Kau kira aku juga punya pilihan? Aku dipaksa,"


"Tapi kenapa harus membual begitu? "


"Manaku tau. Yang terpenting sekarang adalah bagaimana kita bisa terlihat seperti layaknya sepasang kekasih,"


"Iuh,"


"Baiklah. Kau tidak setuju, kan? Aku sebenarnya juga tidak. Kita bicara jujur saja pada Mrs. Jang,"


"Lalu akibatnya?"


"Ya... mungkin nama kepala sekolah kita akan sedikit jelek,"


Arfa terdiam sejenak. "Tapi tidak baik berbohong,"


"Makanya kita jujur. Kau juga tidak mengharapkan ambassadorkan?"


"Tidak sih. Tapi, kepala sekolah akan hancur namanya. Lembaga kita juga. Tingkat Atas blackfire menipu ketua yayasan," Ia menarik nafas dalam-dalam sebelum akhirnya," Kita berakting saja,"


"Kau yakin?"


"Aku tidak yakin padamu,"


Arfa mencibir pelan lalu berjalan terlebih dahulu untuk keluar dari toilet. "Lakukan saja karena kita tidak lama disini. Seharusnya kau berunding dulu padaku tadi,"


"Aku sudah berniat berunding tapi lupa karena sur—," langkah Eun Jae ikut berhenti saat Arfa juga berhenti.


"Apa yang kalian lakukan ? " tanya Myung Hae dengan judesnya. Ia berdiri tepat di depan saat Arfa membuka pintu


Keduanya sama-sama berpandangan. Sejak kapan anak kecil ini disini?


"Eonni, apa ahjussi ini marah-marah padamu? Atau dia menyakitimu? Katakan saja padaku. Akanku lawan," ia melayangkan mata elangnya pada Eun Jae yang malah terlihat menggemaskan.


"Ahjussi?" beo Eun Jae tak terima


"He... tidak. Dia pria baik," jawab Arfa


"Aku bukan ahjussi ya,"


"Aku ingin memanggilmu itu," kata Myung Hae


"Meski aku ini pacar eonnimu ? " Myung Hae nampak menimbang-nimbang sedangkan Arfa mulai jijik sendiri dengan perkataan lelaki itu. Pacar?


tahan sebentar saja


"Menjadi? "


"Harabeoji," (kakek)


"Aish. Kau ini....,"


"Sudah sudah. Berhenti berbicara yang tidak penting," suruh Arfa


"Nama sebutan untukku itu penting loh," ujar Eun Jae.


"Aku tau itu, oppa," tambah Arfa. Sepertinya ia mulai tertular Eun Jae. Rasanya menggelitik tapi nyaman memanggilnya seperti itu.


"Loh. Kok masih ada disini ? " tanya Mrs. Kim yang tiba-tiba datang. "Myung Hae, eomma menyuruhmu memanggil mereka kan? "


"Hehehe. Myung Hae tadi ngobrol sama kakak-kakak ini. Jadi, lupa waktu deh,"


"Aishh! Ya sudah. Ayo ke studio dulu! Kita lakukan pemotretan! Semakin cepat semakin bagus kan,"


"Iya," ujar Arfa antusias. Semakin cepat selesai semakin cepat pula drama ini berakhir. Ia sungguh merasa bersalah.


"Ayo! " Mrs. Kim dan Myung Hae memimpin di depan. Mengantar mereka menuju studio foto miliknya.


Sesampainya disana, Arfa tercengang. Ini bukan hanya seperti studio foto biasa. Ini layaknya butik. Ia sampai hampir lupa kalau wanita di hadapannya itu adalah direktur perusahaan fashion.


Tiba-tiba, sesuatu menyelip diantara jari-jemarinya. Membuatnya menoleh ke arah Eun Jae yang sudah menggenggam tangannya. Lelaki itu mengedipkan satu mata pada Arfa.


Mrs. Kim berbalik. Oh. Ini maksud pria itu. Ia menyempurnakan dramanya di hadapan penonton. Apa ia aktor ?


Dua pelayan menghampiri setelahnya. "Antarkan dua orang ini untuk melakukan pemotretan! Katakan pada fotografer untuk mengirim fotonya padaku nanti," ucap Mrs. Kim pada dua pelayan wanita itu.


"Kalian selesaikan saja dulu pemotretannya. Aku ingin pergi ke dapur,"


"Iya. Tentu,"


Mrs. Kim melangkah pergi. Myung Hae mengikuti di belakangnya. "Oppa. Jagakan eonni ku baik-baik! Jangan menyentuhnya macam-macam. Nanti lecet," bisiknya saat melewati keduanya.


"Apa seperti ini boleh ? " tanya Eun Jae lalu mencium pipi Arfa. Membuat tubuh gadis itu menegang.


Sontak saja Myung Hae memandangnya galak. Membuat Eun Jae tertawa pelan. Gadis kecil itu mengepalkan tangannya lalu mengangkatnya seolah-olah memberi gertakan pada lelaki itu. Tinjuan Myung Hae.


Setelah peninggalan gadis kecil itu, ia masih saja tersenyum lebar. Arfa sudah menoleh dan akan berbicara padanya.


"Maaf. Aku hanya ingin menggoda anak itu tadi. Bukankah terlihat imut?," ucapnya membuat mulut Arfa terkatup kembali. Lelaki itu mengusap pipi Arfa yang habis ia cium dengan punggung tangannya. "Lupakan saja! "


Lupakan? Jantung Arfa sudah terlanjur berpacu cepat dan lelaki itu menyuruhnya melupakan? Wah. Daebak.


"Tuan. Nona. Mari kami antar! " ucap salah seorang pelayan membuat aktifitas tangan Eun Jae terhenti. Ia menggapai tangan Arfa lalu membawanya masuk lebih dalam ke ruangan ini mengikuti dua pelayan.


Arfa seperti tak punya energi sekarang. Ia lemas. Tak pernah merasakan hal seperti ini sebelumnya. Bahkan dengan Min Ho sekalipun.


***


Pemotretan baru saja selesai. Menyisakan dua sejoli yang kelelahan akibat ulah sang fotografer. Tega-teganya ia menyuruh berganti 15 pose yang berbeda-beda selama semenit. Mereka menghabiskan sejam bersama si fotografer menyebalkan itu. Eun Jae berjanji dalam hati jika punya anak buah seperti itu akan ia pecat. Mentang-mentang mereka hanya model atasannya. Bukan atasan sungguhan.


Eun Jae menyandarkan punggungnya pada sofa di ruangan tersebut. Sedangkan Arfa bukan hanya menyandarkan punggungnya. Tapi, ia juga membawa serta tubuhnya untuk mencium sofa panjang ini. Telentang nyaman.


"Kalau begini, aku lebih baik berpura-pura sebagai pacarmu selamanya daripada bertemu fotografer sialan itu," ujar Arfa kesal tanpa membuka matanya.


"Hmm....," kenapa harus berpura-pura?


Suasana hening seketika. Mereka sama-sama memejamkan mata. Melepas penat untuk beberapa saat.


Namun tak lama kemudian, Eun Jae terusik saat seseorang tiba-tiba membelai rambutnya. Ia membuka mata dan menemukan Mrs. Jang sedang menatapnya lekat. Sontak saja wanita itu menjauhkan tangannya.


"A...ma-maafin tante ya. Kalian jadi kecapean begini," Arfa ikut membuka mata dan langsung duduk rapi saat menyadari mrs. Jang sedang duduk disisi pegangan sofa single yang digunakan Eun Jae.


"Ah. Maaf miss. Kita malah tidur-tiduran," ucap Arfa. Terkekeh kaku.


"Aku yang minta maaf. Terlalu memaksa fotografer agar hasilnya profesional. Kalian pasti lelah. Ayo! Aku sudah menyiapkan makanan,"


Mrs. Jang berdiri. Diikuti Eun Jae dan Arfa dibelakangnya. "Apa akan lama?" tanya Arfa.


"Coba kau tanya," gadis itu langsung melotot horor. Ia lalu menyejajarkan langkah dengan Mrs. Jang. Meninggalkan Eun Jae di belakang.


"Maaf Mrs. Jang kita ngerepotin banget,"


"Aku terlanjur memasak banyak. Anggap aaja kalian membantu menghabiskan makanan. Aku juga membuat tumis udang. Pasti kamu suka,"


"Wah. Udang itu favoritku," Mrs. Kim hanya tersenyum menanggapi ucapan Arfa. Ia menghela napas beratnya yang pasti disadari gadis itu. "Loh. Mana pacarmu?," langkah keduanya terhenti karena tak menemukan Eun Jae lagi disisinya.


Arfa menoleh dan mendapati lelaki itu telah berhenti berjalan. Ia memandangi sebuah figura besar yang membuar Arfa penasaran. Gadis itupun turut mendekat.


"Ada apa?," tanya Mrs. Kim yang juga mendekat. Ia ikut memandang figura dengan foto keluarganya itu. "Ini keluargaku,"


"Yang ini, oppanya Myung Hae?," tanya Arfa sambil menunjuk siluet anak lelaki berumur kisaran 10 tahunan. Ada bayi kecil yang digendong Mrs. Jang dalam foto. Dan ia yakin jika itu pasti Myung Hae.


"Iya. Namanya Jang Min Han,"


Eun Jae langsung menoleh menatap istri pimpinan yayasan tersebut. "Kemana dia?,"