You, Me, And My Secret Life

You, Me, And My Secret Life
19. Penculikan (1)



Tergeletak seorang gadis yang mengenakan celana jeans hitam dan kemeja satin ungu muda pada sebuah kasur dari kamar besar dan rapi. Matanya masih tertutup rapat dan wajahnya terlihat pucat.


Sedetik kemuadian, ia menghasilkan gerakan. Menggeliat. Gadis ini membuka mata dan langsung mengambil posisi duduk. Matanya yang masih setengah membuka itu mengedarkan pandangan. Dimana dia? Tempat ini asing. Mungkin itu yang sedang berkelana dalam pikirannya.


Ia mengingat-ingat. Apa yang terjadi hingga ia bisa tersesat disini. Namun, dalam bayangannya hanya terdapat setitik cahaya putih. Selain itu gelap tak ada penerangan. Hal ini membuat kepalanya pusing.


"Ah. Kau sudah sadar rupanya," kepalanya langsung tergerak ke arah sumber suara. Seorang pria tengah berdiri di ambang pintu. Tadinya. Karena sekarang ia tengah berjalan mendekat ke ranjang dan duduk di sisi sang gadis. "Lama juga pengaruh bius itu padamu. Aku bosan menunggu,"


"Kau.....," ia terdiam. Seseorang ini adalah pria yang membuatnya takut minggu lalu. Pria yang membuntutinya di restorant. Lelaki yang sama juga dengan yang ia temui di tangga darurat gedung fisika. Sontak saja ia menggeser tempat duduknya menjauh. "Siapa kau?"


"Mungkin kau tak mengenalku. Yang penting aku sangat mengenalmu,"


Kata-kata itu..... "A-a-a...pa yang kau katakan?,"


"Aku adalah orang yang akan selalu mencintaimu. Menjagamu dimanapun dan kapanpun. Aku akan selalu ada disisimu meski kau tak akan tau itu," Arfa terkejut. Itu.... kalimat di suratnya dari anak kecil di lobby hanwa. "Bukankah isinya bagus? Apakah kau menyukainya? Kurasa kau tersanjung setiap hari,"


"Siapa dirimu sebenarnya ?" ia bangkit dari ranjang. Mulai menjauh.


"Aku adalah orang penting dalam hidupmu. Tapi, lupakan itu. Hari ini, kau adalah umpanku,"


"Hah?" wanita itu menatap lantai. Merasa takut. Menetralkan jantungnya yang menggila tiba-tiba.


"Arfalia. Kau tidak bodohkan atas kata dasar umpan?" Arfa mendongak dan mendapati lelaki tadi telah berdiri di hadapannya. Sejak kapan ia mendekat? "Kau tumbuh cantik," tangannya mengarah ke puncak kepala sang gadis. Mengelusnya perlahan.


Arfa berjalan menjauh darinya. Ia terus melangkah mundur tanpa memperhitungkan tempat dimana ia sekarang berada. Hanya dua langkah ke belakang dan punggungnya telah menempel pada dinding. Ah. Ya Tuhan. Kenapa adegan film ini yang terpakai.


Pria itu semakin dekat dan sekarang berada tepat di depan Arfa. Ternyata, pria ini memiliki tinggi satu jengkal di atasnya. Jarak keduanya sekarang tak ibaratnya sampai lebih dari 1 meter.


"Kau tak perlu takut. Aku tak akan menyakitimu," ujar pria itu sambil mengelus rambut Arfa sekali lagi.


Spontan, Arfa langsung menepisnya dan menampar pipi pria itu dengan keras. Spontan. Akibat dari ini, sang pria benar-benar merasa terhina. Tak lama setelah kejadian itu,dia mengucapkan sebuah kata tanpa arti. DIEKS !!! Kemudian masuklah dua orang wanita ke dalam kamar.


Sang pria yang lumayan tampan tadi, langsung mundur dua langkah. Dan para perempuan berseragam layaknya pramugari, langsung memegang kedua tangan Arfa. Ia tak bisa lagi melepas diri.


"Penghinaanmu cukup kejam nona Arfa,"


Saat itu, salah seorang wanita yang memegang tangan kanan Arfa, mengeluarkan setangkai mawar yang dilapisi plastik bening layaknya bunga lainnya. Ia langsung menyodorkannya di dekat wajah Arfa.


Gadis ini spontan menjauhkan wajahnya. Namun beberapa detik kemudian, ia merasa pusing dan hilang kesadaran. Sepertinya, bunga mawar itu telah diberi obat bius. Benar-benar sesuai dugaannya jika ada yang tidak beres.


❄❄❄


Arfa tersadar untuk yang kedua kalinya. Namun kali ini ia tidak bangun di atas ranjang luas nan empuk lagi. Sekarang pemandangan ruang kosonglah yang menyambutnya pertama kali. Hanya ada dirinya dan beberapa pria berseragam serta sebuah kursi yang sedang ia duduki sekarang.


Badan Arfa terikat erat di pahatan kayu tersebut. Untung hanya badan saja yang tak bisa bergerak. Jadi, mulutnya tetap leluasa untuk melawan.


"Hey, kalian!! Jangan mematung saja! Lepaskan ikatanku ini!" ujar Arfa dengan lantang. "Kalian tuli ya. Atau terkena rematik?!" tambah Arfa karena tak ada yang menyahut. "Dasar manusia-manusia bodoh. Pria-pria dungu. Keparat," tetap hening. Tak ada yang bergerak.


"Kalian ini benar-benar bodoh. Patuh hanya karena uang. Menggunakan tubuh hanya untuk hal sepele semacam ini? Dibayar berapa untuk tubuh murahan kalian?!" bentak Arfa tak ingin menyerah. Teknik tanpa melawan. Mulut wanita memang berkuasa.


"Kau ingin mati nona?" suara lembut itu terdengar menyesakkan. Sebilah Army Knife telah terarah tepat di lehernya. Gerigi-gerigi pada sisi Gerber Mark II itu sedikit menusuk. "Tutup mulutmu!"


Arfa bernapas pendek-pendek. Ragu untuk menggerakkan nadi di lehernya. Hanya berpindah 0,1 cm saja bisa membuat darah mengucur deras.


"Yang lain, jaga di depan!" suara itu.....Arfa benar-benar masih mengingatnya. Suara khas dari pria mengerikan di kamar tadi.


"Ne,"


Apa ia dalam bahaya besar? Kini hanya mereka berdua di ruangan ini. Pisau itu telah menjauh dan Arfa langsung menghirup udara sebanyak-banyaknya. Lelaki itu berjalan menghadap sang gadis.


"Kau kehabisan napas seolah-olah habis berciuman panas saja," Arfa melengos. Kesal. "Kenapa? Tidak percaya? Apa perlu kubuktikan?" lelaki tadi mendekatkan wajahnya. Membuat Arfa menggerak-gerakkan kepalanya gelisah. Menggeleng-geleng.


Kini jarak mereka hanya sekitar 10 cm. "Kau tau? 10 cm," Arfa menahan napas. "Jarak yang tepat untuk menjeda ciuman," senyum kemenangan terbit di bibirnya. Setelah itu ia menjauhkan wajah. Arfa bernapas lega. "Kau tipe wanita kesukaanku," lelaki itu berdiri. "Jika semua urusanku selesai, mari kita berkencan!"


"Siapa yang sudi berkencan denganmu?! Tidak. Aku tidak mau,"


"Ini bukan tawaran nona cantik. Tapi perintah," lelaki itu melirik jam di tangannya. "Lima menit lagi. Aku yakin dia akan datang,"


BRAK !!


Pintu dibanting terbuka. Terlihat beberapa penjaga yang telah tergeletak di depan sana. Membuat Arfa bergidik ngeri dengan banyaknya darah.


"Ah. Ternyata kau datang lebih awal," lelaki ini mengarahkan Gerber Mark-nya ke leher Arfa. "Keluarlah jika tidak ingin dia menjadi korban!,"


5 menit. Sunyi. 10 menit. Tetap sunyi. "Hey. Keluarlah!" 15 menit. Tak ada yang muncul. 20 menit. Lelaki ini melirik arlojinya. 26 menit. Ia mencengkeram dagu Arfa kuat-kuat. Membuat sang pemilik mengaduh kesakitan.


30 menit lebih 10 detik. Ia menghempaskan wajah Arfa. Lalu berjalan menuju pintu yang tengah terbuka lebar itu.


PRANG!!!!


Arfa langsung memejamkan mata saat serpihan kaca mulai menjatuhinya. Lelaki di ambang pintu langsung menoleh dan mendapati dinding kacanya pecah. Dinding yang berada tepat di balik punggung Arfa.


Ikatan terlepas. Membuat sang gadis membuka mata dan menangkap siluat serba hitam di belakangnya. Cepat-cepat ia membuka pengikat di kaki lalu mengambil posisi berlindung di belakang tubuh pria itu


Si pemakai masker hitam dengan topinya ini mengeluarkan sebuah pistol. Mengarahkan moncongnya ke depan. Ke lelaki yang kini telah tersenyum sinis.


Ia menjatuhkan Army Knife lalu mengangkat ke dua tangannya tinggi-tinggi. Tapi ia masih terlihat angkuh. Seolah-olah ada yang sedang ia rencanakan.


DOR !!


Serba hitam berbalik. Mengarahkan tembaknya pada seseorang yang bersembunyi pada pohon di luar sana. Bagaikan memiliki mata pada tempurung kepala, ia tau ada seseorang yang tengah mengarahkan laser tembakan ke arahnya.


Secepat kilat ia berbalik lagi. Arfa hanya mengikuti gerakannya.


DOR !!


Tembakannya tepat mengenai betis kanan lelaki mengerikan itu. Ya. Ia bisa membaca gerakan jika anak buah lelaki ini tadi akan menembaknya karena mendapat kesempatan. Tapi, ia tidak bodoh.


Dengan segera, ia menggandeng tangan Arfa lalu membawanya keluar dari rumah ini. Para pengawal yang berjaga pada wastu lelaki itu, mulai keluar.


Samar-samar Arfa masih mendengar suara mereka yang memanggil "Tuan Jeon Yeong,". Tapi, bukan itu yang penting sekarang. Ia harus mempercepat langkahnya mengikuti seseorang berjaket hitam yang telah menolongnya.


❄❄❄


Pria serba hitam itu mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi. Berusaha secepat mungkin menjauh dari rumah besar ini. Saat merasa cukup jauh, ia memberhentikan mobil.


"Kita mau kemana?" tanya Arfa.


"Aku ingin membeli sesuatu," gadis ini melongokkan kepalanya keluar. Mereka sedang berada di depan sebuah minimarket.


"Apa aku harus ikut?"


"Kau tidak boleh ditinggal sendiri," suara serak itu terdengar lembut.


"Hemm--eh," ia ditarik keluar. Mungkin karena Arfa terlalu lama berpikir. Lelaki ini menutup pintu kemudian masuk ke minimarket dengan keadaan tangan masih bergenggaman.


SH {serba hitam} langsung menuju ke deretan troli lalu mengambil yang paling belakang dengan tangan kiri. Yang kanan masih setia menggenggam Arfa.


Gadis ini hanya mengikuti kemana arahan pria dengan atribut hitamnya. Aneh. Suaranya sepertinya familiar. Apa sang penyelamat rumah sakit, ya?


Sepuluh bungkus roti langsung ia letakkan dalam keranjang. Tanpa memilih rasa apalagi merek. Asal saja. Lalu beralih menuju lemari pendingin. Mengambil minuman manis, minuman berenergi, isotonic, dan entah apalagi. Arfa mulai curiga jika orang ini akan mengadakan pesta. Mungkinkah karena ia selamat? Ah. Khayalan yang cukup tinggi.


Oh ya. Ia juga mengambil tiga bungkus coklat dengan merek kesukaan Arfa. Lindt classic milk chocolate almond. Bagaimana ia tau?


Mereka langsung pergi ke kasir dan menota lalu membayar. Kembali ke mobil dengan urutan seperti awal. Lelaki itu mengantarkan Arfa sampai kursinya. Membuka dan menutupkan pintu. Setelahnya baru ia masuk ke kursi kemudi. Lalu apa gunanya ia ikut? Diajak memilih pun tidak.


"Makananlah! Kau belum makan," Arfa menerima sekantong belanjaan tadi. Jadi.... ini semua untuknya? Ah. Ya Tuhan. Sungguh terlalu banyak.


"Ini......,"


"Aku tidak menyuruhmu menyantap semua. Makan yang kau ingin makan. Isi perutmu," seolah mengerti apa yang ada di hati Arfa.


"Gomawo,"


Mobil kembali melaju. Dan Arfa sibuk dengan makanan yang baru saja ia buka. Apalagi kalau bukan yang pertama ia minati selain coklat.


Mobil mulai memasuki jalanan besar. Tidak begitu ramai bahkan bisa dikatakan cukup senggang. Arfa melirik arloji putih di tangan kirinya. Pantas saja. Ini sudah jam 1 malam.


Mereka berhenti lantaran lampu merah. Lelaki ini meregangkan otot-ototnya dan hal itu tak lepas dari pandangan Arfa. "Kenapa kau menolongku?" pertanyaan itu berhasil membuatnya berhenti memutar-mutar kepala.


"Kenapa? Salah?,"


"Apa kau mengenalku?"


"Emmm," lelaki itu tampak berpikir sambil menopang kepalanya dengan tangan yang menempel pada kaca. "Maybe," ah. Bahkan ia tak melepas topinya. Terlihat aneh jika di dalam mobil.


"Hah?! Jika kau tidak mengenalku kenapa menolongku?"


"Aku mengenalmu. Entah dengan dirimu," lelaki itu kembali fokus kepada jalanan meski lampu masih merah.


"Tapi, kenapa kau menolongku?"


"Salah?" ulangnya sekali lagi. Arfa pun juga mengulang pertanyaan yang sama bukan? Jadi ia menjawab dengan jawaban yang sama pula.


"Bukan begitu. Tadi itu situasi bahaya. Pasti ada sebuah alasan, kan?"


"Hanya ingin," SH memandang lampu lalu lintas yang sepertinya mencurigakan.


"Hah?! Jika aku tidak mengenalmu, berarti kita tidak seakrab itu kan, hingga kau ingin menolongku,"


"Siapa yang bilang kau tidak mengenalku?" lelaki itu menoleh. Samar-samar Arfa bisa memandang matanya.


"Kau tadi mengatakannya,"


"I said maybe. Kau mungkin mengenalku atau... tidak sama sekali. Aku tak tau,"


SH kembali fokus pada traffic light. Sepertinya memang ada yang aneh. "Tapi, siapa nama.....,"


Mobil melaju kencang dari 3 persimpangan di depannya. Di belakang ada 2 mobil dengan sirine di atasnya, juga mendekat. Ia baru sadar kenapa lampu lalu lintas tidak kunjung berganti.


Mereka semua langsung berhenti tepat 3 meter jaraknya dari mobil hitam ini. Puluhan orang berseragam polisi keluar bersamaan. Mengacungkan senjata ke arah mobil yang mereka tumpangi. Shut up. Apa ini?


Arfa mulai gemetar. Ada apalagi ini. Namun, tiba-tiba seseorang menggenggam tangannya. Memberi sebuah energi abstrak untuk menenangkan diri. "Tetaplah di dalam! Jangan keluar apapun yang terjadi,"


"Kami pihak polisi. Cepat keluar! Atau kami tembak sekarang juga," teriak dari mikrofon di luar sana terdengar jelas. SH melepas pagutan tangan mereka. Ia keluar dan langsung menutup pintu kembali.


"Letakkan senjata!" ia hanya pasrah. Mengeluarkan postol di sakunya dan sebilah pisau lipat yang tadi ia gunakan untuk memotong tali di pergelangan tangan Arfa. Ia lalu mengangkat kedua tangan.


Dari kerumunan para pria bersenjata di depan, muncul seseorang yang sangat familiar di mata Arfa. Dan dia langsung menunjuk pria serba hitam.


"Tangkap dia! Dia penculiknya," ujarnya


Melihat ucapan pria itu, Arfa langsung keluar dari dalam mobil. Kesalahpahaman tidak boleh diteruskan.


"Tunggu. Tidak, Yeol,"


"Arfa?!" ujar Yeol yang langsung lari menghampirinya. "Kau baik-baik saja?"


"Yeol. Bukan dia yang menculikku,"


"Tidak ada yang terluka,kan?" Yeol membalik telapak tangan Arfa yang ia genggam. Tidak ada yang berdarah disana.


"Hentikan! Hentikan!" Arfa menghempas genggaman Yeol begitu saja. Tidak menggubris. Ia menghampiri para polisi, sepertinya, yang tengah memborgol tangan serba hitam. "Bukan dia yang menculikku. Jangan tangkap dia!  Yeol, jelaskan pada mereka!,"


"Apa dirinya mengancammu?" ia menarik tangan Arfa menjauh.


"Tidak. Untuk apa dia mengancamku? Dia orang yang menolongku,"


"Benar. Dia telah mengancammu. Polisi cepat bawa dia!"


"Yeol. Percayalah,"


"Tidak apa, nona. Kami hanya akan memeriksanya. Jika tidak bersalah akan kami bebaskan dalam kurun waktu 48 jam," ucap salah satu dari mereka. "Yang lain, kembali!"


Lelaki yang berbicara itu langsung menunduk kemudian membawa serta pria serba hitam itu.


"Tunggu. Hey, para polisi. Dia bukan penjahat. Lepaskan dia!" pinta Arfa sambil akan melangkah mengejar. Namun berhasil dihentikan oleh Yeol.


Disisi lain, SH sedang dituntun oleh seorang polisi dengan tangan yang diborgol. Ia merasa sedikit aneh pada seseorang yang mengaku polisi ini. Kaki sebelah kanannya, pincang. Seolah-olah terluka.