
Bagiku semua terlihat hitam. Tak ada apapun sekarang. Hanya ada aku berdiri sendirian. Bagaimana aku bisa disini? Sama sekali tak ada yang bisa kulihat.
Terakhir hal yang kuingat adalah..... gedung lays. Ya. Di gedung itu aku berada. Bertemu dengan seorang wanita yang mengaku kembaranku? Benarkah? Wajah kita memang sedikit mirip. Tapi..... tidak mungkin kan keluargaku menipu selama ini.
Lalu tangga.... aku jatuh. Dan bagaimana aku disini? Mataku beredar. Tak ada apapun yang bisa kuterima. Apa mungkin aku benar-benar tiada ? Tempat ini seperti dalam film-film. Saat ada orang yang akan menjemput untuk membawanya ke surga. Atau suara-suara tangis keluarga yang tak ingin tokoh pergi.
Tapi sama sekali tak ada yang menjemputku. Menangis.... mereka saja pasti tidak tau aku telah mati. Lalu hanya mengira aku menghilang dan tak kembali. Bahkan jazadku tak akan ditemukan.
Tiba-tiba lingkaran cahaya muncul di depanku. Membuatku sedikit terkejut hingga mundur beberapa langkah. Cahaya itu semakin besar dan terang. Aku yang silaupun berusaha menutupi mata dengan lengan. Reflek tubuhku masih berfungsi.
Tak ada lagi rasa menyakitkan di mata. Perlahan aku membuka mata dan menurunkan lengan. Aku tidak lagi berada pada tempat hitam. Aku berada pada sebuah aula teater lebar penuh penonton.
Musik yang di bawakan cukup bagus. Klasik dengan permainan piano hitam di atas panggung sana. Perlahan aku melangkah. Mendekati panggung.
Namun langkahku terhenti saat tau siapa di atas sana. Itu adalah..... aku? Aku berkedip sejenak tapi tak ada yang berubah. Apa aku melihat diriku sendiri bermain piano?
Benar-benar gila.
Tepuk tangan penonton menyadarkanku. Pianis yang mirip denganku itu mulai menuruni panggung. Terlihat jelas jika dia menangis. Aku mengikutinya sambil terus memanggil. Hanya HEY yang aku ucapkan. Aku kan tidak tau namanya. Mana mungkin dia Arfa juga kan?
Tiba-tiba langkah gadis itu berhenti. Untung saja. Aku lelah mengejarnya. Apalagi entah kenapa perutku terasa sakit. "Hey. Apa kau biasa berjalan cepat?" tanyaku sedikit ngos-ngosan. "Hey. Aku bicara padamu? Kenapa wajah kita sama? Aku dimana sekarang?"
Tak ada responan. Ia memandang ke depan. "Arfa!!" seseorang memanggilku? Apa ada yang mengenalku di sini? Mataku tertuju pada seorang pria yang berjalan mendekat. Sepertinya dia yang memanggil. Dan dia juga yang sedang di pandangi oleh pianis ini.
Tiba-tiba lelaki itu langsung memeluk wanita di sampingku? Hey. Aku yang Arfa kenapa dia malah menyambar orang yang salah? Atau jangan-jangan karena wajah kita sama dia salah orang? Wah bisa bahaya kalau begini.
Aku sudah akan memisahkan mereka tapi... "Aku mencarimu kemana-mana," Hah. Mencariku? Kenal dia saja tidak.
Wanita di sampingku ini menangis tapi segera ia hapus. Aku disini berasa menyaksikan film saja. Jujur.
"Menjauh dariku!" ucapnya sambil melepas pelukan secara kasar
"Ada apa denganmu ?" tanya lelaki itu. Tunggu. Ada yang ganjal. Aku kan Arfanya. Kenapa dia bicara pada gadis ini? Apa jangan-jangan dia benar-benar tertipu?
"Menjauh," ia berujar lirih. Terus menghindar. "Apa yang kau mau Daniel?"
"Fafa?" aku masih stay mengawasi.
"Berhenti memanggilku itu. Kita putus sekarang,"
"Hey. Ada apa ini?"
Copianku itu menarik napas panjang. Ini masalahnya apa sih? Kenapa aku yang sebagai Arfa asli tak mengerti apapun?
"Aku hanya tak ingin berurusan dengan pembunuh," kupandangi mata lelaki itu. Ada banyak kebingungan disana. Dan keterkejutan yang amat besar. Apa ini? Seharusnya Arfa bisa melihat itu.
Dengan segera, wanita ini berjalan menuju ruangan bertulis ruang ganti Arfalia. Waw. Apa dia benar-benar Arfa? Apa dia aku?
"Arfa! Arfa! Buka sebentar! Sepertinya kau salah paham!!" teriak pria itu dari luar ruangan. Malangnya. Baru saja aku akan menyentuh pundaknya, tapi.... tanganku menembus. Tunggu. Apa aku benar-benar mati? Apa aku hanya tersisa roh? Apa ini?
Aku terdiam. Sampai tak menyadari lelaki itu telah pergi beberapa menit lalu karena diseret oleh security.
Tunggu. Jika aku menembus tubuhnya berarti aku juga bisa menembus pintu ini. Perlahan tanganku menyentuh pintu. Benar-benar masuk. Ada rasa senang tapi juga ada rasa kecewa. Aku benar-benar mati.
Ah. Mungkin tubuhku di curi oleh wanita tadi dan dia berpura-pura menjadi aku. Mungkin seperti dalam film. Atau jangan-jangan ada yang mengoperasi plastik wajahnya hingga mirip denganku? Atau si kembaran itu?
Badanku seutuhnya masuk ke dalam ruangan ini. Tapi yang kutemukan adalah tubuh bersimbah darah. Tergenangi cairan merah sama seperti saat aku berada di tikungan tangga sebelum seperti ini.
"Selamat tinggal Arfa 11. Akan selalu kunantikan Arfa 12 lahir," mataku memandang ke sumber suara. Wanita itu.... yang mengaku kembaranku ada di sana. Grace membawa pistol di tangannya. Tapi ia sedang tak memandangku. Ia memandang jazah tubuhku. Oh tubuh yang mirip denganku. Jelas-jelas tubuhku pasti hangus di gedung lays saat itu.
Aku merasa dejavu sejenak. Kata-kata itu. Selamat tinggal Arfa sebelas. Dia juga mengucapkan kalimat yang sama namun selamat tinggal Arfa 12. Ya. Perbedaannya pada jumlah angka. Apa ini artinya?
.
.
Lama berpikir membuatku tak menyadari suasana di sekitarku telah berubah. Kini aku berada dalam lingkup pedesaan. Mungkin. Di hadapanku rumah kuno sederhana. Tidak besar namun bukan gubuk pula. Pintu rumah terbuka. Keluar dua anak beda umur dan beda jenis kelamin. Yang laki-laki masih berumur sekitar 10 tahun. Ia mengenakan seragam sekolah dasar. Yang kakaknya..... ya ampun. Wajahnya sama sepertiku lagi
Ya. Lagi. Fuhh...
Kali ini aku hanya diam. Dua manusia itu berjalan bersama menyusuri jalanan. Menyapa beberapa tetangga yang terlihat. Ah biarlah. Itu tidak penting. Tapi dimana aku sekarang? Kenapa aku berada di tempat yang sangat kuno ini?
Jika aku mati, ya mati saja. Kenapa harus membawaku travel kesana kemari? Huh. Benar-benar menjengkelkan. Apa dunia ingin menunjukkan bermacam-macam Arfa di dunia ini sebelum aku ke surga.
Aku memandang ke depan. Dua orang itu telah menikung ke kanan. Tunggu. Apa mungkin Arfa yang satu ini akan meninggal juga? Apa ia juga akan dibunuh Grace itu?
Kalau iya kesimpulanku sederhana. Banyak yang berwajah sama di dunia ini. Seperti kata rumor, kita memiliki 7 kembaran. Mungkin saja Grace bingung mana targetnya yang asli. Dan aku adalah salah satu korban tak bersalah. Itu artinya dia bukanlah kembaranku. Dia hanya berbicara pada targetnya yang kembarannya. Ah. Jika benar nasibku sangat sial. Poor Arfa.
Langkahku menuntun diriku mengikuti gadis tadi. Entah apa ia juga memiliki wajah yang sama sepertiku, yang pasti aku mungkin bisa menyelamatkannya.
Eh. Mereka belok mana setelah menikung ke kanan tadi? Kanan lagi atau kiri? Atau malah lurus? Ah. Lurus mungkin. Aku berjalan lagi. Melihat banyak jenis orang yang melakukan kegiatan pagi hari. Membeli sayur keliling. Merumpi dengan ibu-ibu dan mereka semua menggunakan bahasa jawa yang halus sekali. Meski aku tak paham tapi aku tau jenis bahasa yang mereka gunakan. Hanya jenisnya bukan artinya.
Tepat sekali. Di depan sana ada sekolah dasar. Aku berlari. Tapi tak ada wanita mirip aku di sana. Dia sudah pergi. Aku kembali berlari. Mencari keberadaannya.
"Siapa kau?!" teriak seseorang yang dapat aku dengar. Itu suaraku. Aku sangat ingat betul bagaimana dengan suaraku sendiri. Kakiku berlari menuju lorong jalan di sana. Benar saja. Ada Grace. Lagi dan lagi. Ia memegang pistol yang sama. Dan aku yakin orang yang membelakangiku adalah orang yang mirip denganku.
Pistol itu terangkat. "Selamat tinggal Arfa 10. Akan selalu kunantikan Arfa 11 lahir," aku berlari. Tanganku spontan menarik lengannya untuk menghindar. Tapi bodohnya aku. Ini menembus. Peluru itu tepat menancap di kepalanya. Darah terciprat. Bahkan percikan itu menembus tubuhku. Iuhhh
Aku memandang Grace yang tersenyum simpul lalu tiba-tiba menghilang. Dia makhluk apa sebenarnya? Apa ia juga roh sepertiku? Tidak mungkin. Dia bisa memegang pistol tadi dan wanita yang hidup melihatnya. Jika ia roh mungkin dia juga bisa melihatku. Kitakan satu gelombang.
.
Tunggu. Sepertinya ini bukan abad 21. Ini..... aku bukan travel kesana kemari. Aku sedang time travel. Waktuku mundur. Apa semua ini? Apa aku di film? Atau bermimpi? Aku tidak masuk dunia komikkan sejak tadi. Ya seperti Pharos atau permaisuri terlaris. Atau film korea yang lagi buming, Scarlet Heart itu.
Tanganku meraih pipi tapi.... menembus. Gila. Bahkan roh tidak bisa menyentuh kulitnya. Ini dimana? Aku dimana? Tidak aku siapa? Dan apa?
Blush....
Rasanya hangat saat seseorang berlari menembusku. Eh. Ternyata aku bisa merasakan. Aku ini apa sih? Seseorang yang tadi menembusku kini telah berlari menghindar dari medan perang. Dia menyamping sedikit dan saat itulah aku tau dia adalah.... aku. Bukan. Orang yang mirip aku.
Apa mungkin ini petunjuk? Ya. Mungkin saja. Jadi aku memutuskan untuk mengikutinya lagi. Lagi? Ya. Diakan salah satu orang yang mirip denganku.
Langkah gadis itu terhenti. Aku pun juga. Matanya menatap kosong ke depan. Aku juga. Dan lagi lagi lagi. Grace. Ah. Apa dia akan mati sekarang? Tapi dia tak memegang pistol. Ada pedang indah di tangannya.
Aku teringat sesuatu. Kata-katanya waktu itu. Dia membunuh aku .... dengan pistol dua kali. Dan sembilan kalinya dengan pedang. Apa ini? Atau jangan-jangan....
"Selamat tinggal Arfa 9. Akan selalu kunantikan Arfa 10 lahir," kata-kata itu lagi. Pedang berhasil menembus perutku. Iya hanya ujungnya. Karena Grace terlalu dalam menusukkannya pada si orang yang mirip denganku jadi aku yang berada di belakangnya menembus hanya ujungnya.
Arfa 9. Apa maknanya? Ada berapa Arfa sebenarnya? Aku dulu disebut Arfa 12 berarti ada 12 Arfa yang berada di perbedaan jamannya. Jadi, sebelum ini ada 8 Arfa lagi. Sepertinya itu maksud dari semua ini. Dan semua Arfa itu dibunuh oleh Grace? Benar-benar keji. Tapi, kenapa dia tak pernah menua? Ini beda generasi kan? Atau aku yang salah?
CLING PRANK
Aku menatap ke depan. Pedang yang telah tercabut dari tubuh Arfa 9 jatuh terbentur pedang lain yang sedang berperang. Ya. Arfa 9 tadi jatuh sambil menembusku. Tak ada lagi rasa sehangat tadi meski tidak dingin juga.
TEK KRETEK TEK BAM TEK
Kaki mereka yang asik bertarung menginjak berulang kali pedang itu hingga patah. Grace hanya memperhatikan. "Kurasa aku harus membeli senjata modern," ujarnya sebelum menghilang.
Lagi?
***
Aku menghembuskan napas lelah. Sebenarnya aku ini berada di mana sih? Kapan aku akan menikmati aroma surga? Atau jangan-jangan aku akan dilempar ke neraka bersama para iblis? Tidak. Apa dosaku tidak akan diampuni meski aku dibunuh secara tidak manusiawi?
Oh. Jika dihiting. Kini kehidupan Arfa ke 2. Mungkin setelah semua selesai aku akan di kirim ke surga. Atau malah aku akan hidup kembali meski mustahil. Jujur saja aku lelah. Berjalan ke sana kemari dengan keadaan perut yang sakit. Aku pun tak tau ada apa? Jangankan mengecek! Menyentuh bajuku saja tidak bisa. Inipun baju yang sama seperti yang kukenakan saat aku mati di Arfa 12. Huh. Noda darahnya pun ada meski tak amis.
Aku sedang memandangi Arfa 2 ini yang sedang menulis sesuatu. Sepertinya ia bangsawan. Ruangan ini seperti ruang kerajaan dalam film meski tidak sama persis. Hanya mirip. Bajunya pun mewah dan baru saja ia menyuruh dayang-dayang keluar. Hidupku mewah di zaman ini. Berbeda jauh dengan setelah-setelahnya.
"Arfa," ah. Pasti tak lama lagi Grace akan datang. "Arfa. Arfa," dia asik sekali menulis. Woy. Ada yang memanggilmu Arfa 2. "Arfa," ada yang menepuk pundakku. Aku menoleh dan menemukan Anna di sana. Ya. Anna dari zaman ku ke 12. Ya Tuhan. Apa aku selamat?
"Aku memanggilmu dari tadi," ucapnya. Sungguh. Ini Anna. Temanku ke kamar mandi yang hilang saat itu. Bahkan pakaiannya masih sama.
"Kukira orang yang memanggilnya," ujarku menunjuk Arfa 2 yang masih sibuk menulis. Entah menulis apa itu. Ini bukan kerajaan nusantara. Aksaranya sangat aneh.
Anna melirik sekilas ke orang yang kumaksud. "Bagaimana kau bisa ada disini?" tanyaku. "Kau terjebak?" wanita itu hanya tersenyum.
Tunggu. Jika dia terjebak selama itu, aku akan berapa lama? "Rupanya kau sudah tau. Ayo! Aku akan menunjukkan yang lebih bagus,"
"Hah?"
Belum sempat mengiyakan ia sudah menyeretku berdiri. Ya posisiku tadi sedang duduk tepat di depan Arfa 2. Kali ini genggamannya tak menembus. Apa ia denganku sejenis? Tapi bukankah itu artinya...
Kami menembus pintu dan langsung disuguhkan pemandangan kota yang sangat menawan. Bagaimana bisa? Tadi saat ikut masuk bersama Arfa 2 di luar masih seperti kerajaan dalam komik-komik. Dan ini....
Aku menoleh ke belakang. Tak ada pintu kamar Arfa 2. Tak ada kerajaan atau segala sesuatu yang berkaitan dengan jaman masa itu. Aku kembali memandang ke depan. Deretan gedung tinggi berjejer rapi di depan sana.
Anna kembali menarikku. Membuat kekagumanku selesai. Apa aku maju ke masa depan? Kota ini benar-benar canggih.
Lihatlah. Setelah kami menyebrang dan sampai pada gedung tinggi tanpa pintu. Ya tanpa pintu. Atau mungkin kita berada di bagian belakangnya. Aku tidak tau.
Tapi gedung ini memendek melebar dan terbelah. Pintu besar berbentuk setengah lingkaran menyuguhkan para manusia yang baru saja datang. Kami ikut masuk bersamanya. Awalnya suasana di dalam gedung berbentuk hampir setengah bulat seperti tadi namun ia berubah.
Hamparan rumput nan luas ada di sini. Sejauh mata memandang ke depan, ada bukit tinggi yang hijau. Langit nampak cerah. Bukankah tadi kita masuk gedung?
Seseorang berjalan berlawanan dengan kami. Aku memperhatikannya sampai-sampai memutar kepalaku. Lelaki itu mengusap angin kosong dan muncullah pintu kaca pada umumnya. Ia membukanya lalu pintu dan orang itu menghilang.
"Fa!"
"Eh. Iya," aku kembali fokus pada Anna. Mataku memandang ke depan. "Ada apa?" tanyaku tiba-tiba. Dia hanya tertawa kecil.
"Jangan sampai tertinggal. Kita tidak bisa naik lift tanpa mengikuti orang hidup," hah. Orang hidup? Maksudmu kita mati gitu?
Seseorang baru saja mengusap angin kosong. Muncul semacam hologram namun jika dibandingkan dengan apa yang ada di zamanku ke 12, cahaya ini lebih terlihat nyata. Sama sekali tak terlihat seperti hanya sebuah layar.
Entah apa yang ditekan orang disampingku ini. Tiba-tiba saja kami terangkat. Aku memegang erat tangan Anna. Entah. Memang gila jika orang mati takut jatuh. Tapi aku bukan roh yang melayang jika ingin tau.
Anna terkekeh pelan. Ia lalu menghentak-hentakkan kakinya. Seolah ia menginjak lantai. "Ini lantai transparan Fa. Emm.... di duniamu bisa disebut lantai hologram,"
Hey. Mana ada lantai hologram. Hologram itu layar bukan lantai. Tembus pula. Meski begitu aku mulai melonggarkan eratanku pada lengan Anna. Kakiku lebih merasakan apa yang kupijak. Ya. Benar. Terasa seperti lantai. Seperti. Karena menurutku ini bukan lantai.
Rerumputan di bawah sana semakin kecil. Woy. Kita mau kemana sih? Gedung ini tidak tinggi-tinggi amatkan?
Anna kembali menarikku. Eh. Kita sudah sampai dan kami menginjak awan. Atau. Mungkin hologram awan. Aku tidak peduli. Intinya ini benar-benar spektakuler. Lihatlah di depan sana! Banyak pohon apel berjejer rapi. Bahkan kakiku kini sudah tak di awan lagi. Ini tanah seperti umumnya.
Sungguh ini terlibat indah. Apa aku sudah di surga? Ya Tuhan. Aku tidak menyangka surga seindah ini. Ada air terjun tinggi di samping kananku. Airnya bahkan menciprat dan menembus kami.
Tunggu dulu. Kok masih nembus? Apa ini bukan surga? Tapi ini alam yang indah sekali. Alam dalam gedung tinggi. Atau dugaanku tentang kita menuju masa depan memang benar? Bumi bisa semaju ini? Aku berasa seperti orang desa yang takjub dengan tangga yang bisa berjalan #eskalator.
"Arfa. Kau lihat itu?" aku memandang ke arah yang di tuju Anna.
...💕💕💕...