You, Me, And My Secret Life

You, Me, And My Secret Life
65. Mungkin Kau Harus menyalahkan Takdir



...**...


...Kalau aku tanya nih yaa.... kalian bakal pilih mana?...


1. Happy endding tanpa sekuel


2. sad endding dengan arfa season 2


......iseng aja sih tanya. heeheehee......


...Selamat membaca**...


...***...


Sebuah tinju memukul keras tulang pipinya. Pelakunya kini memandang marah pada sang korban. Tangannya masih mengepal. Yaa... meski Yeol hanya diam saja di depannya dengan darah di ujung bibir.


"Kau tau semuanya! Kenapa tak memberitauku?!!"


"Apa maksudmu?!!" ia juga memandang nyalang ke arah Joon Yeong. Pukulannya memang bisa ia tahan tapi apa alasan kegilaannya ini?


"Arfa! Kau menyembunyikan semua tentangnya," Yeol menghembuskan napas kasarnya. "Sampai kapan aku harus menjadi bahan mainanmu?! Veronica bukan hanya urusanmu, Yeol! Ingat!"


"Aku tidak menyembunyikan identitasnya. Waktu itu, ini masih belum pasti,"


"Belum pasti?! Apa setelah pasti, ada jaminan kau memberitauku? Alasanmu kurang logis, Yeol. Akui saja kau masih tak terima, kan saat aku yang malah dijodohkan dengannya?! Tidak bisakah kau menerima Grace sebagai pendampingmu?!" Joon Yeong lalu tertawa sinis. "Kalian cocok. Sama-sama brengsek,"


Satu pukulan mendarat di pelipis Joon Yeong. Wajah lelaki di depannya itu sudah memerah. "Jangan bawa-bawa perjodohan,"


"Hehh. Kenapa? Jadi teringat saat Arfa mengcopy ingatanmu dan akhirnya ia tau kau menyukainya? Sadar! Itu yang membuat persahabatan kita retak. Aku tidak salah,kan?!" tangan Yeol sudah merah terkepal. Kesal. "Berhenti membantu Arfa untuk kembali ke Smart World. Aku yang ambil alih dari sini,"


Joon Yeong berbalik menjauh namun langkahnya terhenti saat suara Yeol kembali menyahut. "Bantuanku tidak ada hubungan denganmu! Berhenti mengatur,Yo" dan Yeol menghilang terlebih dahulu. Pergi dari halaman belakang yang senyap sejak awal. Sedangkan Joon Yeong sudah mengeratkan rahangnya kuat-kuat. Meredam amarah. Kenapa persahabatan mereka hancur dengan cepat?!


Tangannya merogoh saku saat sebuah panggilan telepon mengusik. Nomor yang paling ia benci menyambung dan terpaksa ia terima. "KAU DIMANA, BODOH! Arfa diculik!,"


...***...


Gedung itu terlihat kuno tapi masih terawat bagus. Arfa tak tau ia dimana saat membuka mata tapi dirinya sadar kalau ini bukan tempat sembarangan. Udaranya terasa lebih segar. Ia memejam lagi. Mengembalikan seluruh sisa kesadarannya di balik obat bius yang masih melekat. Saat kembali membuka mata, ia baru sadar bahwa sedang diikat kuat pada kursi kayu rapuh dengan tali kasar. Mungkin ini barang satu-satunya yang terlihat tak terawat. Dan, ia juga baru sadar. Seorang wanita berjongkok ria di hadapannya.


"Akhirnya bangun juga. Apa tugas sekolahmu menumpuk sampai kau tidur nyenyak begini?" sindirnya sarkas. Arfa terdiam kaku. Dia Grace. Mereka bertemu lagi.


"Ya. Kita bertemu lagi. Dan sudah seharusnya begitu. Jadwal malaikat maut untuk menjemputmu sudah dekat. Aku harus cepat-cepat membantu,"


Arfa menelan ketakutannya bulat-bulat. "Apa sebenarnya maumu? Apa ada yang salah di antara kita? Kau saudara kembarku, Grace," wanita di depannya malah tertawa renyah sambil bangkit dan pindah tempat duduk di sofa yang agak jauh. Hanya ada mereka berdua di ruang entah apa ini.


"Masih bisa menganggapku saudara? Apa nenek tua di Indonesia itu tak mengembalikan ingatanmu tentangku?" Arfa mengerutkan kening. "Ver! Hubungan kita bukan sekedar saudara kembar. Apa perlu kujelaskan berulang kali? Kau," sambil mengarahkan telunjuknya pada Arfa. "Musuh paling kejamku,"


Gadis di depannya masih diam membisu dan itu sangat membuat jengah Grace. "Kalau Dio, kau pasti tau kan?" nama itu malah mengingatkan Arfa pada kepergiaannya dari bumi. Pengkhianatannya untuk Eun Jae. "Permusuhan kita bermula dari sana," Grace membuang mukanya sejenak lalu kembali dengan wajah bengisnya. "Dalam sejarah tak ada yang namanya anak kembar bagi exhuman. Mereka hanya bisa terlahir tunggal dalam satu waktu. Dan dalam kebudayaan kita, perhitungan jodoh telah dilakukan sejak dalam 4 bulan kandungan. Masalahnya, kau lahir setelahku. Dan merebut Dio yang seharusnya jadi milikku. Kau tau,Ver. Aku sangat benci takdir kita,"


Arfa meringis pelan saat sebuah potongan ingatan ia yang berlarian bahagia dengan seorang gadis seumurannya. Itu ia dan Grace. Tapi ini terlihat tak nyata. "Takdir tidak salah. Ini hanya kebudayaan,Grace. Kita bisa mengaturnya,"


"Jangan berlagak bodoh! Kau juga tau kalau ini perhitungan gen!" Grace bangkit marah. "Kau juga mengatakan itu saat pertengkaran terakhir kita. Kalimat bodoh!" ia kembali mendekat pada Arfa. Mencengkeram dagunya kuat-kuat. "Entah harus berapa kali aku membunuhmu seperti ini sampai benar-benar berhenti bereinkarnasi. Tapi, cukup mengasikkan. Sayangnya ini Arfalia genap, Arfalia 12. Biasanya aku juga harus membunuh penyelamatnya,"


Sebuah tembakan keras terdengar nyaring. Berasal dari luar bangunan ini. "Menurutmu, siapa yang akan datang? Kekasihmu Joon Yeong? Atau.... kesayanganmu Eun Jae?" Arfa sudah menegang di tempatnya bertepatan dengan Grace yang melepaskan cengkeramannya. "Kuharap keduanya. Bye Arfalia 12. Akan selalu kunantikan Arfalia 13,"


Wanita itu sudah melagkah menjauh. Arfa kalang kabut sendiri saat suara mulai ramai diluar sana. "KAU HANYA BERURUSAN DENGANKU GRACE. JANGAN BAWA YANG LAIN!!"


"Ini semua sudah takdir," Grace berhenti sejenak. Tanpa berbalik. "Mungkin kau memang harus mulai menyalahkannya,"


Setitik air mata itu keluar tepat setelah Grace menghilang. Bagaimana jika yang datang adalah Eun Jae? Lelaki itu selalu ada untuknya saat bahaya seperti sekarang. Tidak. Ia tidak boleh melibatkannya. Arfa berusaha melepaskan talinya tapi gagal. Ia kembali berusaha tapi tetap tak ada hasil. Arghhhhh....


Secara tiba-tiba asap bermunculan dari balik gorden jendela lalu menyusul api yang semakin lama semakin besar. Asap itu mengalir cepat melewati satu benda ke benda lain. Arfa mulai panik sedangkan diluar sana matahari mulai tenggelam. Bersamaan dengan langkah seorang laki-laki menjauh dari kumpulan pria kekar yang terkapar di atas halaman. Ia bersembunyi di balik tembok saat mendengar langkah kaki keluar dari sebuah ruangan.


Hak tinggi itu terketuk nyaring di area yang tiba-tiba sunyi ini. Lelaki bersenjata yang bersembunyi itu langsung terbelalak saat menyadari siapa wanita disana. "Grace?" beonya pelan. Setelahnya, dengan gerak cepat, ia memasuki ruangan kecil dan menemukan targetnya terikat di atas kursi usang. Ia langsung mendekat dan melepas ikatan tali Arfa dengan gesit.


"Eun Jae?" Arfa sudah berdetak hebat di tempatnya. "Apa yang kau lakukan disini?!" tapi Eun Jae sama sekali tak peduli. Ia berhasil melepas ikatan di lengan kekasihnya lalu membantunya berdiri. Arfa langsung menghentikan langkah Eun Jae yang akan menggiring keluar. Tak menghiraukan ruangan yang semakin panas.


"Apa perlu menjawab pertanyaan remeh itu saat situasi begini?"


"Seharusnya kau-,"


"Rumah ini akan meledak beberapa menit lagi. Kita harus cepat keluar,"


Kali ini Eun Jae berhasil menarik paksa Arfa. Gadis ini sudah melenguh kesal. Saat ia akan menyangkal lagi, jalan di depan mereka terblokir karena suatu ledakan mendadak. Eun Jae semakin mengeratkan genggamannya lalu membawa Arfa putar balik dengan lari cepat. Ledakan di belakang mereka terlihat beruntun dan memekikkan.


Eun Jae berbelok ke ruang yang terlihat paling gelap. Dia merapatkan tubuh Arfa ke tembok lalu menutupi dengan badannya sendiri. Ledakan di lorong semakin menjadi tapi tiba-tiba terhenti. Napa sesak Arfa bahkan belum hilang sekarang. "Apa yang barusan itu?" tanya Arfa dengan suara bergetarnya.


"Detektor sensitif. Sepertinya Grace sudah mengaktifkannya,"


Arfa memandang tepat ke manik mata Eun Jae yang masih melirik ke luar pintu terbuka. "Bagaimana kau mengenalnya?" saat itu juga Eun Jae membalas tatapannya.


"Apa kita harus membahas hal remeh itu sekarang?" Arfa menggeleng lemah. Ia terkejut dengan pandangan mata Eun Jae yang terlihat berbeda. Rasa-rasanya, ini bukan warna manik yang memikatnya selalu. Bahkan setelah lelaki di depannya berpaling, bayang-bayang keanehannya masih menghantui. "Kita keluar. Sepertinya barat daya terlihat aman," bisiknya pelan.


Ia menggenggam tangan Arfa lagi lalu menariknya keluar dari ruang remang-remang ini. Lelaki itu terlihat melangkah berhati-hati dan meminta Arfa menginjak pada bekas pijakannya. Gadis ini jadi paham. Mungkin sistemnya mirip ranjau. Jadi, dia menurut tanpa melawan. Dengan alasan Eun Jae aneh diabaikan sejenak.


Arfa sedang menunduk mengingat-ingat langkah pria itu saat tangannya di tarik paksa dari belakang. Ia tersentak, berhenti dan menoleh. Matanya terbelalak dan langsung berbalik penuh saat pelaku penarikannya memeluknya erat. "Apa kau baik-baik saja?" ujar ia setelahnya.


"Eun Jae? Bagaimana kau ada disini?" Arfa menoleh ke belakang. Kosong. Ia mengedar pandangan dan tetap tak menemukan si penuntunnya tadi.


"Mencari siapa?"


Mata Arfa bertubruk pandang pada Eun Jae. Dan kali ini, ia sadar. Inilah manik kekasihnya. Berbeda dengan yang tadi. Arfa ingat itu. "Bagaimana kau bisa disini?"


"Jangan banyak bertanya! Kita harus cepat keluar dari sini. Pintu depan sudah terkunci sejak awal,"


Langkah Eun Jae dihentikan dengan tarikan. "Ada pendetektor sensitif. Seperti ranjau. Kita harus berhati-hati," lelaki di sana hanya tersenyum sambil memamerkan ketenangannya.


"Aku tau,"


Gadis ini hanya bergumam pelan. Pikirannya kacau sekarang. Tadi itu Eun Jae ada di hadapannya tapi.... kenapa tiba-tiba muncul dari belakang? Apa mereka orang yang berbeda? Arfa yang akan menanyakan apa Eun Jae sebelumnya berinteraksi dengannya jadi gagal karena posisi mereka sekarang. Eun Jae baru saja membuka pintu lebar dan halaman belakang terlihat membentang. Ujungnya bukan pedesaan atau rumah warga untuk mereka kabur. Tapi lorong tinggi dengan dinding rumput tinggi.


Eun Jae menoleh untuk melihat apa Arfa baik-baik saja dan untungnya harapan itu terkabul. Lelaki ini mengecek pistol di balik punggungnya yang baru Arfa sadari ada di sana. "Tidak ada jalan lain. Kau tetap di belakangku," ucapnya dengan pandangan tenang.


Arfa tersentuh saat Eun Jae mengelus punggung tangannya menyalurkan kekuatan. Ia memang gemetaran sekarang. Satu, karena insiden Eun Jae aneh. Dua, karena peringatan dari Grace tadi. "Kenapa kau kemari, Eun Jae? Apa alasan logismu mempertaruhkan nyawa seperti ini?"


"Bukankah ini sudah kebiasaan? Aku akan selalu ada untukmu,"


"Tapi–"


Keduanya sama-sama berjengit kaget. Eun Jae langsung berbalik dan membawa Arfa di balik punggungnya. Tangan yang satu sudah siap memegang senapan. "Mundur perlahan, Fa,"


Arfa menoleh kebelakang. Lorong itu sepertinya labirin. "Tapi Eun Jae–"


"Mundur saja!"


Ia akhirnya menurut. Melangkah perlahan menuntun mereka memasuki labirin. Pandangan Eun Jae semakin was-was. Entah langkah ini menuju kemana, mereka juga tak tau. Belok ke kanan lalu kiri dan kanan dua kali. Mereka sampai di jalan buntu dan terpaksa putar balik. Sepuluh menit kemudian keduanya sudah sampai tengah-tengah labirin dengan hiasan air mancur. Tapi lima menit setelahnya mereka sudah kembali ke sana sebanyak tiga kali.


"Eun Jae, ini tidak akan berhasil,"


Lelaki itu memandang mata lesu Arfa. "Apa kau lelah?" tak ada jawaban. Mereka hanya saling pandang untuk beberapa saat hingga Eun Jae menarik pistol dari punggungnya lalu berjongkok terbalik di hadapan Arfa. "Naiklah!"


"Apa yang kau lakukan? Aku bisa jalan sendiri,"


"Kau lelah, Fa. Disini tidak ada Joon yeong, jadi aman,"


Ada rasa sakit di hatinya saat situasi keduanya masih harus diingatkan lagi pada Joon Yeong. Pada pengkhianatan Arfa. "Naik! Atau kutinggal,"


"Aku bisa–"


"Naik Arfa!"


Gadis itu menghembuskan napas kesalnya lalu menurut. Eun Jae bangkit dengan Arfa dalam gendongannya. Mereka sama-sama diam dan berpikir. "Sepertinya yang ini sudah," Arfa menghentikan langkah Eun Jae dengan ucapannya. "Yang lampunya agak redup itu belum," tunjuknya memberi tau. Eun Jae hanya menurut.


"Tidak. Kita sudah belok sini tadi. Ambil yang barat," "Aku tidak tau arah saat disini, Fa," "Maaf. Maksudku kanan. –eh. Kenapa terlihat tidak asing? Putar balik Eun Jae," "Yang lurus dengan kita," "Yah buntu," "Ambil beloh kiri saja disebelum tikungan kedua. Tidak-tidak. Kita sudah lewat sini. Berarti lurus baru pertigaan ujung kita ambil yang tikung tajam ke kiri,"


Eun Jae hanya menurut dan mereka memasuki daerah yang pencahayaannya hilang. Tak ada lampu mini lagi dan bulan sedang sabit sekarang. Arfa mengeratkan pelukannya pada bahu Eun Jae. Benar-benar sunyi dan gelap. "Eun Jae. Apa kau tidak membawa hp?"


"Tidak,"


Arfa semakin melirih pelan. "Aku takut,"


"Ada aku,"


"Kata-katamu basi. Aku masih takut,"


"Ada aku,"


"Eun Jae.Aku tidak bercanda. Aku sungguh takut," ia memukul pundak Eun Jae pelan. Membuat lelaki itu terkekeh dan makin memelankan langkahnya.


"Biasanya sesuatu itu muncul dari belakang,"


"EUN JAE!!!"


Tawanya keluar lagi. Benar-benar renyah. Dan Arfa merindukannya sejak awal. "Pegang pistol ini. Kalau ada apa-apa langsung tembak,"


"Hantu tidak akan mempan,"


Kata-kata itu membuat langkah Eun Jae terdiam. "Kau mengkhawatirkan hantu saat begini? Musuh kita lebih berbahaya, Fa,"


"Terserahku,"


Eun Jae terkekeh pelan. "Mereka saja takut padamu," Arfa yang sudah akan membalas langsung bungkam. Matanya menatap asap yang sudah memenuhi kaki mereka.


"Eun Jae. Lihatlah!" tunjuknya ke bawah. Daun-daun disisi mereka mulai terbakar. Kejadiannya sama persis seperti di ruangan tadi. "Eun Jae. Kita akan terbakar. Cepatlah berlari!" lelaki itu tak menurut. Malah menyentuh daun yang terbakar itu dan menjauhkannya dalam sedetik kemudian. "Kau gila?!"


"Ini bukan api sungguhan. Tapi....,"


"Tapi apa?!"


"Lebih mematikan. Dalam semenit kau bisa hangus menjadi debu,"


"Ya sudah. Cepat lari! Turunkan aku kalau begitu! Kau harus lari lebih cepat. Kau harus keluar,"


"Kita harus keluar,"


"Eun Jae. Jangan buang-buang waktu denganku! Kita–"


"Api ini cuman simulasi, Fa. Kau akan benar-benar mati jika menganggapnya benar-benar ada," gadis di balik punggungya langsung berkerut kening. "Tutup matamu! Bayangkan kita ada di tempat aman,"


"Tidak semudah itu. Grace sengaja ingin membuat kita mati dengan ini,"


"Grace tetap menggunakan teknologi untuk itu. Percaya padaku. Ini tidak akan membunuhmu jika kau tidak percaya. Memejamlah, Fa," Arfa yang akan membantah lagi langsung disahut dengan perintah yang sama. Ia akhirnya menurut. Terpejam dengan semakin erat memeluk Eun Jae. Ia merasakan langkah mereka yang mulai berjalan lagi. Dan lambat laun rasa panas itu semakin dingin. Ia baru membuka mata saat Eun Jae menurunkannya di kursi.


Mereka ada di luar labirin. Tanpa terbakar. Tanpa terluka. Arfa masih melihat sekeliling dengan tak percaya lalu terpecahkan dengan Eun Jae yang menerima telepon dari jam di tangannya.


"Kami terjebak di labirin tadi," Arfa ikut berdiri mendengarkan. "Ya. Didepan gedung tinggi belakang perumahan itu. Cepat!"


"Siapa?" Arfa bangkit.


Eun Jae menoleh. "Joon Yeong,"


"Joon Yeong? Sejak kapan kalian akrab?"


Lelaki di depannya tak menjawab. Malah terpaku di tempat. Matanya menyipit menyorot area yang terlihat jauh. Saat Arfa akan menoleh, Eun Jae langsung memeluknya erat. "Ada apa, Eun Jae?" ia berusaha melepas tapi nihil. Kekuatannya terlalu lemah.


"Aku merindukan kita yang dulu, Fa," jawabnya sambil menukar posisi secara cepat. Arfa masih bingung di tempatnya.


"Kita tidak bisa kembali Eun Jae. Kau tau itu,"


Arfa menghembuskan napas beratnya saat tak ada jawaban sama sekali sampai lima menit berlangsung. "Aku mencintaimu, Fa. Sangat," suara serak itu menyahut dan tiba-tiba berat Eun Jae menjadi menumpu padanya. Dari kejauhan, dia bisa melihat sinar laser yang menyorot mereka.


Ia sadar. Makin terbelalak saat tangannya merasakan cairan basah dari rambut Eun Jae. Merah.


...💕💕💕...


...Lumayan nihhh...


...2000an katanya.......


...Sungguh aku jatuh cinta sama Eun Jae. Kalau enddingnya nggak jadi sama Arfa bolehlah dia buat aku aja??...


...Heeehee. Canda...


...Salam hangat, penulis...