
Arfa terus saja memandangi layar ponselnya tanpa henti. Tersenyum senyum sendiri di kamar tidur sambil bersandar di pembatas ranjang. Bukanlah film atau video yang sedang ia tonton. Melainkan beberapa foto terbaru di galeri.
Di layarnya terlihat jalan raya yang berada di depan kafe white blue. Namun, bukan itu yang membuatnya tertarik. Ada seorang pria dengan sweater hitam berbalut jaket tebal berwarna sama. Lalu dipadukan oleh celana jeans hitam serta topi hitam yang sangat Arfa ingat. Ya. Meski ingatannya agak eror tapi gambaran topi SH melekat jelas di otaknya.
Yes. SH. Serba hitam. Begitulah Arfa memanggilnya. Ingatannya yang tiba-tiba hilang tak membawa rasa aneh dalam tubuhnya. Rasa itu tetap ada. Getaran yang gila.
Lalu bagaimana ia bisa mendapatkan foto SH yang meski hanya tubuh yang tak jelas? Lalu bagaimana ia bisa yakin?
Tadi, usai ia melakukan sesi foto dengan Cheon Gi, tangannya bergerak lihai melihat hasil jepretan. Background yang mereka gunakan cukup mendukung. Cameranya pun cerah.
Dua jarinya memperbesar hasil gambaran. Melihat apa ada sesuatu di wajah putihnya. Mungkin jerawat. Namun sebelum bagian wajah tersorot, ia telah tertarik pada sebuah sosok manusia di seberang jalan sana. Tangannya semakin memperbesar dan terlihat jelas siapa yang ada di sana. Ya. Meski wajahnya tak nampak akibat topi dan bagian atas sweater menutupi mulut. Tapi, bukankah ingatan Arfa hanya mengaburkan wajah. Postur tubuh itu mirip seperti SH si penyelamat.
Spontan Arfa melihat ke arah jalanan. Benar ada dan dia masih ada di sana. Pandangannya entah kemana karena tertutup topi tapi tubuhnya jelas-jelas menghadap tempat dimana ia berada sekarang. Lelaki itu sedang menelepon.
Arfa kembali pada handphonenya dan siap menjepret. Mengabadikan beberapa buah foto area luar dengan sembunyi-sembunyi. Perbesaran di pasang sehingga terlihat ia sedang mengambil foto dalam jarak yang sangat dekat. Fitur handphone barunya cukup mendukung.
"Nuna. Nuna. Keluarlah!" teriakan Cheon Gi membuat Arfa kembali pada suasana saat ini. Terdengar pintu diketuk. "Nuna. Barang-barangmu datang,"
"Sebentar!" buru-buru ia melempar handphone ke atas kasur. Arfa langsung bangkit dan segera membuka pintu. Mengikuti arah Cheon Gi keruang tengah tempat dimana para pengangkut berada.
"Nona. Ini saya menemukan kucing di sebuah kamar. Apakah punya nona?" tanya salah satu petugas yang langsung diangguki Arfa. Ia meraih Bubu kedalam gendongan.
"Barang-barangnya langsung dibawa ke kamarku aja," timpal Arfa yang langsung menuntun para petugas membawa beberapa dus barangnya. Setelah tuntas dan dibayar, kumpulan pria ini pamit pergi. Angel mengantar sampai depan sedangkan Arfa dan Cheon Gi duduk-duduk pada karpet ungu berbulu di ruang tengah. Tak ada niatan menata-nata.
Keduanya sibuk bermain dengan Bubu. Arfa sangat senang Bubu kembali dan tak hilang. Tapi sepertinya tak akan pernah hilang. Ia yang selalu datang menghampiri Arfa.
"Namanya siapa tadi Nuna?" tanya Cheon Gi sambil mengelus bulu Bubu yang berada dalam pangkuan Arfa.
"Bubu,"
"Ah iya," ujarnya seakan-akan teringat kembali. "Bubu imut,"
"Iya dong. Kan kayak yang punya,"
Cheon Gi menoleh ke arah Arfa heran sambil mengerutkan kening. Sok kaget. "Maksudnya, Arfa nuna imut gitu?"
"Iya lah,"
Cheon Gi merengut. "Iyain aja. Biar aku nggak dibunuh,"
"Eh," meski begitu keduanya tertawa dikemudian waktu.
Tiba-tiba dering telpon membuat tawa mereka terhenti. Dua pasang mata itu menuju ke atas meja rendah tempat asal suara. Handphone Angel yang berdering.
"Kak Angel! Ada telpon!!" teriak Arfa tanpa beranjak dari duduknya. Lagi males gerak. Matanya tertuju pada pintu utama yang tertutup. Kedengaran tidak ya sampai luar. Tapi kenapa Angel lama sekali hanya mengantar rombongan tadi.
"Angel Nuna ke supermarket katanya," sahut Cheon Gi. Sejenak memandang Arfa lalu kembali pada Bubu yang sudah main-main di bawah meja. "Nuna angkat aja. Mungkin penting," Cheon Gi berusaha meraih Bubu.
Akhirnya Arfa meraih handphone itu. Ia juga berpindah duduk di atas sofa. Pengirimnya bernama A. Bukankah nomor ini juga yang menghubungi Angel saat di restoran waktu itu. Arfa jadi sangat yakin kalau ini memang benar-benar penting. Segera saja ia jawab panggilan tersebut.
"Lama banget cuman jawab,"
Tut
Tangan Arfa spontan mengakhiri panggilan secara sepihak. Suara itu... ia yakin suara itu milik pria yang tengah bergelayut di pikirannya. Dia kembali melirik layar handphone Angel. Benarkah? Apa suaranya hanya mirip seperti SH?
Jantungnya berdegup kencang. Perasaannya tak karuan. Pikirannya kemana-mana meski hanya disekitar pasal SH. Bagaimana bisa pria yang menyelamatkannya akrab dengan kakaknya? Tidak mungkin. Tapi ia yakin tadi benar SH dan hubungan mereka bukan hanya sekedar kenal. Bahasanya terlalu kasual.
"Ada apa, Nuna?" tanya Cheon Gi menoleh ke arah kakaknya yang terlihat pucat pasi.
"Ah. Tidak ada apa-apa," jawabnya meyakinkan. Cheon Gi hanya mengedikkan bahu dan kembali bermain dengan Bubu.
Ringtone HP Angel yang berupa lagu berjudul "Pure Love," kembali terdengar saat Arfa ingin meletakkannya di atas meja. Nomer yang sama.
"Kan orangnya telpon lagi. Nuna sih nggak bilang kalo Angel Nuna lagi keluar," ujar Cheon Gi yang menyadari handphone itu berbunyi lagi.
Arfa mengangguk paham. Entah kenapa. Tapi setelahnya ia menghirup napas dalam-dalam lalu menerima panggilannya sekali lagi. Kali ini sebelum suara maut yang memacu adrenalin jantung terdengar, Arfa sudah membuka mulut.
"Maaf. Kak Angel sedang pergi," ujar Arfa dengan cepat.
Tuuut tuut tuuut
Sambungan kembali diputus secara sepihak. Namun bukan dengan Arfa tapi orang dengan nama kontak A. Selang beberapa detik baru Arfa melepas layar handphone dari depan telinganya.
"Apa katanya, nuna?" tanya Cheon Gi tanpa melihat.
"Katanya, dia akan menghubungi lagi nanti," bohongnya sambil meletakkan handphone di atas meja. Ia kembali duduk bersila di bawah bersama Cheon Gi.
Mereka kembali bermain bersama tapi Arfa sama sekali tak fokus. Ia akan tersenyum pada Bubu saat kucing itu mendekat dan mengeong padanya manja. Matanya sesekali melirik handphone di atas meja landai ruang tengah yang merangkap ruang tamu ini.
"Boleh asal nggak aneh,"
"Ambilkan air buat Nuna dong!" dengan senyum mautnya. Adik lelaki Arfa ini penurut. Ia langsung melenggang ke dapur. "YANG DINGIN YAA!!" tambahnya berteriak.
Sesaat setelah tubuh kecil adiknya menghilang, Arfa kembali meraih handphone kakaknya. Ia mengirim kontak bernama A pada nomornya. Setelah terkirim, ia menghapus jejak sekalian history telepon yang tadi.
Beberapa menit kemudian, Cheon Gi datang dengan dua gelas air putih. Arfa yakin satunya untuk dirinya sendiri. Kenapa tidak minum di dapur saja?
Pintu terbuka. Memperlihatkan Angel yang masuk dengan tangan mengusap-usap lengan bagian atas. "Di luar dingin. Mungkin salju akan turun besok," ujarnya saat telah melepas mantel dan duduk di atas sofa empuk. Ia meraih handphone. Arfa berharap Cheon Gi tidak bilang ada yang menelepon.
"Nuna. Tadi ada...," Arfa hampir terbelalak namun napasnya menghela lega tak kala Angel memutus ucapan adiknya. Dan sepertinya dokter ini tak mendengarnya.
"Oh iya, Fa. Besok kakak ada 5 operasi berturut-turut. Mungkin pulang malem. Jangan keluar rumah ya!"
Cheon Gi selesai menandaskan minumannya. "Kalau begitu Cheon Gi titip ttobeokki di samping rumah sakit ya? Katanya bukanya setiap malam aja," ujar Cheon Gi antusias. Sepertinya ia telah melupakan masalah telepon.
"Tentu. Tapi, ada syaratnya," balas Angel
Cheon Gi sudah memberengut. "Baiklah," ia bangkit. Syaratnya sudah dapat ditebak kalau Angel menginginkan Cheon Gi tidur siang. Ya. Bagi anak seumurannya sangat susah untuk tidur siang.
Arfa tertawa mengejek pada Cheon Gi. Lelaki kecil itu berbalik lalu menjulurkan lidah yang dibalas serupa dengannya. Tanpa membuat Angel curiga.
Setelah tersisa dirinya, ia berjalan menuju dapur untuk mengembalikan dua gelas yang telah kosong tanpa isi. Lalu segera masuk ke kamar dan mengunci pintu. Bubu juga turut masuk.
Ia langsung meraih handphone barunya di atas nakas. Mengecek nomor bertajuk A yang dikirim melalu akun chat milik kakaknya. Untung masuk.
Mata Arfa berkeliling dan berhenti pada kardus-kardus dari apartement sebelumnya. Ia membongkar satu persatu dan menemukan yang ia cari pada kardus ketiga. Laptop.
Dinyalakannya segera benda itu. Membuka sandinya lalu mengklik sebuab icon perangkat lunak di sana. Ia mengetik nomor A yang akan ia lacak. Hacker. Ya. Arfa pernah menjadi hacker khusus untuk genk SMP nya karena mahir teknologi. Genk sekolah dengan Min Ho sebagai ketua.
Tangannya bergerak lihai. Dikira olehnya semua mudah namun baru 2 menit ia berada dalam lautan huruf dan angka sebuah hantaman membuat laju hacknya terhambat. Hantaman sekali lagi dan Arfa menggerutu kesal. Saat tangannya siap melawan dengan jurus seribu ketikan tiba-tiba tertulis, "gagal,"
Arfa mengumpat dalam hati. Ia tak bermain sendiri. Sepertinya ada hacker lain yang mencoba melawannya. Atau lebih tepatnya mempertahankan posisi akunya yang akan terbajak.
Arfa merenggangkan ototnya lalu kembali mengetik nomor tujuan. Melakukan aksi dengan sangat cepat. Di ujung sana, entah apa si pemilik nomor kembali melawan. Arfa terus dengan ahlinya mengerakkan tangan. Siapa yang bisa mengalahkan gadis yang telah mahir sejak terlahir. Ya. Dulu saat upacara adat pengambilan barang, Arfa memilih handphone di tangan ayah. Itu yang dikatakan neneknya.
Beberapa jam berkutat dan akhirnya tetap saja. Seperti 7 kali yang lalu. Gagal. Arfa tak ingin menyerah saat pintu terketuk dari luar. Suara Cheon Gi berusaha menyeruak ke dalam kamar.
"Nuna jelek. Bangun! Sudah malam. Makan malam sudah siap," Arfa terbelalak. Cheon Gi tidak bohongkan? Ia melirik jam diujung laptop. Benar saja. Sudah pukul setengah tujuh. Ya Tuhan Arfa tidak sadar.
Haruskah ia keluar? Tapi, itu artinya ia menyerah karena pastinya kini si lawan sedang membuat keamanan ketat. Sebelum perisai itu dibuat, ia harus bisa menang. Jika telah jadi maka Arfa sama sekali tidak akan bisa membobol. Jika ia bertarung, yang diujung sana tak memiliki waktu untuk membuatnya.
"Nuna masih kenyang! Barusan makan mie! Kalian duluan saja!" teriak Arfa sebagai balasan. Tidak ada niatan untuk membuka pintu.
"Nuna masak udang kuah!"
Udang kuah yang dimaksud Cheon Gi adalah olahan seafood dengan kuah kental resep khas Angel. Arfa sangat merindukan masakan itu. Tapi, mau bagaimana lagi? Ini lebih mendesak. Mungkin lain waktu ia bisa meminta Angel untuk memasakkannya lagi.
Ia kembali berteriak lalu menyuruh untuk makan duluan. Cheon Gi hanya berujar, "Baiklah,". Dan setelahnya tak ada lagi gangguan. Arfa kembali berkutat melawan si hacker resek. Dalam sejarah tidak ada yang namanya Arfa kalah dan ia akan membuktikannya.
Beberapa jam kemudian.....
CEKLIK !!!
Layar laptop Arfa menggelap lalu kembali menyala beberapa detik kemudian. Tidak lagi berada dalam arena tarung menghack. Ia kembali mengklik icon khusus miliknya dan akan berusaha lagi tapi sebuah notif membuatnya mengumpat lagi dan lagi.
Keamanan tinggi. Tidak bisa menembus.
Arfa menjatuhkan laptop yang ia pangku sejak tadi di ranjang. Kakinya yang agak kesemutan ia selonjorkan. Gagal sudah. Padahal ia telah berusaha sangat keras.
Gadis ini menghela napas berat. Baru kali ini dalam sejarah kemampuan teknologinya, ia terkalahkan. Apa ia harus les pada sang rival tadi? Huh. Awas saja sampai bertemu. Harga dirinya jatuh sudah.
Meong....
Bubu yang berada di ujung kakinya berputar manja. Arfa sedang tidak mood sekarang tapi kucing itu terus mengganggu. "Apa yang kau inginkan?" tanya Arfa kesal. Masih tak ada jawaban. "Sheila. Hentikan !" kucing itu diam lalu memandangnya sinis. Bukankah Arfa tidak memanggilnya Bubu? Siapa Sheila?
Arfa menghela napas panjang. Ia bersila di atas kasurnya saat kucing itu mendekat lalu duduk berhadapan. Arfa mengulurkan tangan dan menyentuh kaki kanan depan milik kucingnya.
Setelahnya kedua makhluk beda jenis ini memejamkan mata. Sebuah cahaya keluar dari sela-sela gandengan. Terus keluar perlahan dan membentuk sebuah bola. Persis seperti yang pernah dilakukan Angel dan Eun Jae, udara dalam bola itu dikeluarkan. Dalam 30 menit selanjutnya Arfa telah membuka bola matanya malas.
Ia memandang kucingnya lalu melepas tangan dari kaki mungil di sana. Sedetik kemudian seorang wanita cantik berada di hadapannya. Menggantikan posisi Bubu.
"Tega sekali kau meninggalkanku sendiri di apartement,"
...💕💕💕...