
...***Sepertinya aku akhir-akhir ini update terlalu sedikit yaa.....
...Mian kawan...
...Oke. Kita balas dendam untuk hari ini***....
.........
Telinganya sudah disumpal earphone dan terputar lagu sangat keras. Namun sama saja. Pikirannya tidak lepas sama sekali dari Eun Jae. Tubuhnya menegang akibat lelaki itu yang mengambil tempat duduk tepat di belakangnya. Sungguh menegangkan bukan?
Ia sudah berusaha memejamkan mata dan tertidur pulas namun tak ada hasil. Ingin bergabung dengan anak-anak lain yang sibuk bernyanyi, bercerita, namun ia takut. Takut pandangan tajam itu menghunusnya.
Arfa bahkan takut untuk berbicara dalam hati. Dugaannya bahwa Eun Jae dapat membaca hatinya sudah 100 %. Ya. Meski lelaki itu tak pernah mengatakannya namun semua sudah sangat cukup jelas untuk dipekakan. Entah dari mana ia bisa melakukannya namun Arfa tetap yakin akan hal itu. Setidaknya ia harus was-was bukan?
"Fa. Kau tidur?" ia membuka matanya saat Shi Ah menyebut namanya. "Aku pindah duduk sebentar, ya? Ada yang ingin aku bicarakan dengan anak fisika,"
"Hmm," ia kembali menutup matanya. Apa tidak ada yang ingin mengajaknya bicara? Anak yang duduk di depan mungkin? Ia sungguh sangat ingin jauh-jauh dengan Eun Jae.
Arfa meraih salah satu earphone yang tadi dipakai Shi Ah. Ya. Sejak awal mereka berbagi lagu bersama. Wanita itu memasangnya kembali ke telinga. Ia sedikit mengecilkan suaranya sekarang. Gendang telinganya bisa pecah nanti.
Baru saja di pasang earphone itu sudah berpindah lagi. "Sudah selesai? Bicara apa?" gumamnya namun cukup untuk di dengar Shi Ah. Ia malas membuka mata. Kini ia sedang berkelana di alam imajinasinya.
Tak ada jawaban. Arfa tak peduli. Imajinasinya tentang bagaimana jika Eun Jae adalah exhuman lebih menarik. Mungkin saja ia adalah exhuman tersembunyi yang tak pernah diketahui. Meski ia tau bahwa itu mustahil karena pendeteksi seorang exhuman tak pernah salah dalam menentukan sekawanannya. Ya. Setidaknya sebuah kehaluan bisa menyalurkan banyak kebahagiaan pada dirinya.
Sebuah benda, ah bukan. Sepertinya kepala menyandar di bahunya. Sungguh sangat berat. Arfa merasa risih. Ia menghentakkan sedikit pundaknya itu namun tak ada pergerakan. Yang kedua kali lebih keras dan terdengar gumaman tak suka dari sang pemilik kepala.
"Hmmm!"
Arfa secara spontan membuka matanya. Ia duduk dengan tegak. Menjauhkan punggungnya dari sandaran kursi yang secara otomatis membuat seorang pria di sampingnya terbangun.
"Eun Jae? Ngapain disini?" ucapnya pelan namun penuh penekanan.
"Temanmu ingin berbicara dengan Yeol. Katanya penting," Arfa langsung berdiri. Memandang kursi belakang yang terhalang sandaran akibat bentuknya yang tinggi. Terlihat Shi Ah yang sedang asik berbicara panjang lebar dengan Yeol. Bahkan pandangan Arfa tak membuat mereka risih.
Eun Jae segera menarik tangan pacarnya itu. Membuatnya kembali duduk. Setelahnya ia memakai bahu Arfa untuk tidur. Memasang kembali earphone berkabel yang tadi sempat terlepas.
Arfa hanya bisa diam. Sungguh. Jantungnya telah berdetak tak karuan sekarang.
TING !
Sebuah notifokasi chat mengganggu lagu yang teralun. Arfa melirik handphonenya dan mendapatkan sebuah pesan dari kontak yang tak lama ini sering ia hubungi.
Manusia Purba
Udah sampe belum?
Aku udah sampai bandara Jepang sekarang.
"Siapa itu?" tanya Eun Jae yang ternyata juga melirik. Arfa tak merasa terganggu. Lagipula manusia purba ini hanyalah kontak milik sepupu kak Radit yang sangat menyebalkan.
"Sepupu kak Radit,"
"Akrab ya? Sampek-sampek kirim pesan posisi,"
Eun Jae kembali membenamkan wajahnya. Ia berusaha tidur. Arfa yang menyadari nada bicara lelaki itu langsung menoleh. "Bahkan kamu nggak pernah ngabarin tentang kepulanganmu bareng Min Ho waktu itu. Aku kecewa loh,"
Ada sesuatu yang terasa menyayat hati Arfa. Dia memang bersalah dalam masalah ini. Mulutnya akan membenarkan masalah namun Eun Jae keburu bangkit dari tidurnya. Ia pindah lagi ke belakang.
"Sudah?" tanyanya dengan sangat dingin. Sikap khasnya.
"Ah. Ya sudah. Terima kasih, Eun Jae," ujar Shi Ah yang terdengar jelas di telinga Arfa. Wanita itu kembali dan duduk di sampingnya. Arfa langsung bersikap santai. Ia kembali mendengarkan lagu barat yang teralun indah di telinganya. Kini giliran save and sound yang beracoustic dengan piano.
Lagi-lagi hal yang mengingatkannya pada Eun Jae. Piano. Ia jadi merasa bersalah pada prianya itu. Gadis ini memilih memandangi pemandangan luar dari jendela. Untuk memejam rasanya sangat sulit.
***
PRRIIIIIIITTTTTT
Bunyi peluit terdengar keras menembus tenda-tenda yang berdiri di atas tanah lapang. Siswa blackfire entah yang sibuk mengobrol seusai makan pagi atau memilih berdiam diri di tenda langsung berkumpul di satu titik.
Kemarin setelah mendirikan tenda, semua diberi waktu istirahat karena hari yang cukup melelahkan. Tempat yang mereka pesan, ternyata sangat kotor akibat penyewa sebelumnya tak menjaga dengan baik. Jadi sebelum mendirikan tenda, mereka masih harus bersih-bersih.
Tadi malam hanya diisi dengan tidur di tenda masing-masing. Ya. Tentu saja pengecualian bagi Arfa. Ia tidak bisa tidur sama sekali. Pikirannya masih melayang pada satu titik.
Kini, saat ia dalam sebuah barisan dengan dipimpin oleh panitia sebagai ketuanya, gadis ini malah sibuk memandang ketua grup sebelah. Sedangkan pria yang diperhatikan itu hanya mengabaikan. Seolah-olah keberadaan Arfa itu hanyalah angin lewat. Seperti pandangan gadis-gadis lain.
"..... kendaraan terakhir adalah kuda," hanya kata-kata itu yang dapat ditangkap olehnya. Kini dirinya terbelalak. Kuda? Arfa tidak pernah suka yang namanya kuda. Dulu karena sangat tertarik dengan film kolosal, ia mencoba menaiki kuda seperti para ksatria. Namun naasnya, kuda itu malah membuatnya hampir mati jatuh ke jurang. Arfa remaja memiliki trauma atas kuda sampai sekarang. "Baiklah! Ayo, dimulai sekarang!"
Baru saja ia akan menghampiri sang panitia yang berceramah tadi namun gerakan murid lain menghentikannya. Ia tak bisa mengutakarakan bahwa dirinya tentu saja tidak ingin menaiki kuda.
Eun Jae, pria yang tadi diperhatikan olehnya kini balik memperhatikannya sebelum akhirnya Shi Ah membawa Arfa keluar dari kerumunan murid. Gadis ini sudah kehilangan kesempatan untuk berbicara dengan panitia.
Sahabatnya itu menyerahkan sebuah peta. Arfa langsung menerimanya. Ya. Satu murid satu peta. Ada bagian petualangan dengan jalan kaki, menerobos hutan, menyebrangi sungai dengan perahu, jalan lagi melewati rawa lalu.... naik kuda hingga sampai di perkemahan. Arfa menghela napas beratnya. Semoga saja waktu memberinya jawaban.
***
Para murid yang sedang mengikuti kegiatan petualangan hutan mulai berkendara dengan kudanya masing-masing. Begitu pula dengan teman-teman satu kelompok Arfa yang baru saja mengucapkan salam perpisahan dan berpamitan untuk pergi duluan kepadanya.
Sedangkan gadis ini tetap diam bersama pemandu kuda di sampingnya. Berulang kali manusia itu menanyakan kapan Arfa akan menaiki kudanya. Namun selalu saja tunggu yang di ucapkan olehnya hingga area tersebut mulai sepi. Gadis ini sebenarnya bisa mengendarai kuda. Namun, ia punya trauma tersendiri. Bagaimana jika kuda itu mengamuk?
"Nona, kapan anda akan mulai berkendara?" suara lembut gadis di sampingnya dapat terdengar jelas. Arfa langsung menghadap kepada wanita tersebut dengan wajah sedikit ragu.
Kuda berwarna hitam telah berada di depannya. Namun, ia tetap tak berniat untuk menaiki hewan tersebut.
Apa tidak ada kendaraan yang lain keluh Arfa dalam hatinya.
Tangan Gadis itu mulai menyentuh bulu-bulu kuda tersebut secara perlahan. Tiba-tiba saja hewan itu mengangkat dua kaki di depannya. Arfa terkejut.
"Tenang, dia memang seperti itu," ujar sang pemandu kuda. Kemudian ia membantu Arfa untuk naik. Namun tak berapa lama tubuh Arfa duduk di atasnya, kuda ini langsung memberontak, mengangkat kaki depannya tinggi-tinggi hingga membuatnya terjatuh.
"Au!" keluh Arfa.
Tanpa disadarinya, dari kejauhan Eun Jae memperhatikan kejadian itu. Ia tertawa geli menyadari bahwa sang pujaan hatinya ditolak oleh seekor kuda.
"Apa anda baik-baik saja?" sang pemandu kuda langsung membantu Arfa kembali berdiri. Basi sekali pertanyaannya. "Mungkin kudanya sedang tak enak badan. Aku akan mencarikan yang lain,"
"Sudahlah. Semua kuda itu sama. Entah sehat atau tidak. Mereka tetap jahat," Arfa sudah dipuncak kekesalan.
"Tapi....,"
"Aku tak butuh!" sentaknya. Sifat buruknya mulai muncul kembali. Keras kepala.
Sang pemandu kuda hanya bisa diam. Bingung juga harus menangani satu siswi ini bagaimana.
Tiba-tiba seseorang menepuk pundak sang pemandu. Wanita itu menoleh. Sebelum ia berkata, pria disana telah menyuruhnya diam dan pergi saja hanya dengan gerakan satu jari. Pemandu itu menurut dan ia menggantikan posisinya tanpa suara.
"Apa kau tak ingin pulang?"
Arfa terdiam mendengar pertanyaan itu. Ia menoleh. Sedikit terkejut dengan keberadaan lelaki yang sedang berjalan mendekat itu. "Ayo! Kubantu naik!" ia menangkupkan kedua tangannya kesisi kuda.
"Eun Jae?!" ujar Arfa tak percaya. Namun beberapa detik kemudian semua sirna. Ia kembali teringat tentang kuda. "Apa kau ingin aku jatuh lagi?! TIDAKKK!!! Aku tidak mau naik,"
"Lalu, kau akan diam disini, begitu?" tanya Eun Jae menggoda.
"Aku akan mencari kendaraan lain,"
"Tidak ada kendaraan selain kuda disini,"
"Immposible," ia langsung memperhatikan sekeliling.
"Sudahlah. Ayo!" Eun Jae menarik tangan Arfa mendekat kearah kuda. Awalnya Arfa memberontak namun tenaganya tak cukup kuat untuk melawan pria itu.
Eun Jae memaksa Arfa untuk naik. Setelah itu, dirinya duduk di belakang gadis tersebut dan memegang kendali kuda. "Baik-baik saja, kan?" Arfa terdiam. Menandakan bahwa dirinya tak suka dengan perlakuan Eun Jae. Pemaksaan.
Kuda tersebut mulai berjalan dalam kendali lelaki itu. Awalnya Arfa sangat tegang namun setelah beberapa menit berkendara, ia mulai tenang. Pikirannya kembali jernih. Hingga ia teringat tentang masalah yang sedang dialami oleh mereka.
"Eun Jae, apa kamu masih marah padaku?" ujar Arfa setengah yakin. Kuda yang keduanya naiki langsung berhenti di tengah perjalanan. Eun Jae menarik tali kekangnya.
"Adakah yang bilang aku marah?"
"Waktu itu aku sudah berniat mengirimu pesan. Tapi tak terkirim. Aku baru sadar kebesokannya. Akhir-akhir ini kamu juga sibuk. Aku dan Andre tak ada apa-apa. Ya. Dia katanya masih mencintaiku. Tapi aku tidak. Sungguh!"
Pria itu hanya diam tak merespon. Arfa tak ingin putus asa. Ia tahu Eun Jae tak 100% marah padanya. Buktinya pria itu masih peduli padanya saat ini. Saat ia bermasalah dengan seekor kuda.
Tiba-tiba ia mencium pipi Eun Jae. Mata pria itu langsung memandangnya dengan pandangan tanpa arti. " Kenapa? Apa ada yang salah? Maaf, aku lancang. Aku hanya ingin membuktikan bahwa kamu salah paham. Itu ku lakukan agar kamu percaya aku mencintaimu. Aku tidak...,"
Secara tiba-tiba pula Eun Jae langsung mencium bibir Arfa untuk menggentikan ocehan gadis itu. ********** pelan namun hanya sebentar.
"Saranghae," suara lembut Eun Jae berhasil membuat debaran jantungnya menggila.
"J-j-j-j-jadi.... ?"
"Aku tidak pernah marah. Bukankah kamu tau akhir-akhir ini aku sangat sibuk. Apa kamu menganggapku masih marah?" Arfa menggeleng lemah. "Atau.... hal tadi masih kurang?"
"HEY! kau ini-TIDAK sama sekali,"
"Ya. Mungkin saja,"
"Berani-berani ya kau mencium bibirku lagi," Arfa memukul lengan Eun Jae meski tak terlalu keras.
"Salah siapa melakukannya setengah-setengah? Aku hanya mengajarimu cara mencium dengan benar,"
Wajah Arfa terlihat memerah. Entah marah atau malu, ia langsung turun dari kuda tunggangannya meski awalnya Eun Jae menghentikan. "Kau mau kemana?" sambil mengikuti Arfa yang sedang berjalan menjauh tanpa turun dari kudanya.
"Aku akan kembali sendiri," balasnya tanpa menoleh meski kuda hitam itu tetap mengikutinya.
"Kembali saja sambil berjalan sampai tempat kemah," ujarnya setelah turun dari kuda yang berhasil berhenti di depan gadisnya. Menghentikan langkah kaki Arfa.
" Siapa bilang mau jalan kaki?" ia menarik handphone dari sakunya dan menekan sebuah nomor telepon. Nama penerimanya sengaja diperlihatkan jelas di depan Eun Jae, Min Ho.
Dengan gerakan cepat, lelaki itu menarik handphone tersebut. Menggengamnya sekaligus memutus telepon yang belum sempat tersambung. Kemudian memasukkan benda kotak tersebut ke dalam saku celananya. "Lebih baik kamu kembali bersamaku. Aku janji tak akan bersikap aneh-aneh lagi," ujarnya penuh kelembutan.
Arfa terus memperhatikan Eun Jae secara lekat sebelum pria itu memecah lamunannya. "Jangan memperhatikanku seperti itu! Aku akui aku cemburu," senyuman lebar langsung mengembang di pipi Arfa. Tangannya mencubit kedua pipi kekasihnya dengan gemas.
"Baiklah. Aku cuma bercanda. Aku tidak akan menyia-nyiakan waktu bersamamu dengan menyuruhnya datang. Lagipula telepon itu tidak akan tersambung. Di sini tidak ada sinyal,"
...đź’•đź’•đź’•...
...Arfa memang agak membingungkan yaa...
...Tetep stay pada You, Me, and My Secret Life ya...