
Gadis itu membereskan alat-alat sekolahnya dengan malas. Apa gunanya terburu-buru? Lagian ia harus menuju tempat aneh lagi setelah ini bukannya berbaring nyentak di atas kasur.
"Yakin nggak mau bareng?" tanya Shi Ah sekali lagi. Ia sudah rapi kini. Siap meninggalkan kelas.
"Nggak usah. Sana cepetan berangkat! Katanya ada kursus bahasa inggris,"
"Heheehe. Ya udah. Duluan. Bye bye Arfa,"
"Bye,"
Gadis itu sudah selesai dengan merapikan buku-bukunya tapi masih berniat duduk sebentar. Ia membuka handphone dan langsung menuju aplikasi komik. Matanya berbinar saat mendapati komik favoritnya crazy up hari ini.
"Nungguin aku buat pulang yaa? Ayo!" suara Min Ho sudah berada di hadapan Arfa.
Gadis ini langsung bangkit dan memasukkan handphone ke dalam saku blazer. "Maaf. Masih ada keperluan,"
"Kenapa sih, Fa? Kamu ngehindar terus?" lelaki itu mencekal lengan Arfa dengan cepat.
Tapi gadis ini langsung menghempaskannya. "Apaan sih? Aku sibuk," lalu ia melangkah keluar lebih dulu. Sudahlah. Sepertinya ia memang harus cepat-cepat pergi ke gedung fisika. Sebelum Min Ho berhasil menyusul.
***
Arfa melihat denah yang terpampang di aplikasi sekolahnya. Lab berada di lantai dua dan lift sepertinya agak ramai. Jam segini anak-anak fisika juga baru pulang. Ini memang jam terlama pelajaran aktif di blackfire. Jadi Arfa memilih tangga darurat.
Lampunya sedikit redup. Mungkin waktunya ganti. Jadi ia memotretnya lalu mengirim ke laman keluhan di aplikasi. Besok pasti sudah diperbaiki.
"Kalau jalan lihat yang benar," gadis itu langsung menengadahkan matanya dan berhasil menatap sosok lelaki yang berdiri di atasnya, selang beberapa anak tangga.
"Bukan urusanmu," Arfa akan berlalu tapi lelaki itu terkekeh menghina.
"Kau hampir menabrakku nona,"
"Hampir, ahjussi. Masih belum,"
Lelaki dengan seragam blackfire itu tampak berdecak. Dan Arfa sama sekali tak menghiraukan. Mungkin anak yang juga malas mengantri lift. Entahlah. Kenapa anak fisika semuanya menyebalkan.
Arfa sampai di depan pintu ruang lab. Ia mendorongnya perlahan dan ruangan yang terang menyambutnya cepat. Tempatnya sangat besar yang pastinya sangat dibutuhkan untuk anak fisika yang memang sering praktikum dalam hal enginering.
Ia menemukan lelaki tadi pagi di meja paling besar. Dia terlihat sibuk. Ada sebuah alat yang terlihat sangat menarik di mata Arfa. Dimana ada hologram yang digunakan sebagai remote operasinya.
"Laptopku di tas," ucap lelaki itu sadar partner sialannya sudah datang. Arfa langsung mengambilnya. "Filenya bernama 128,"
"Sesingkat itu?" tapi Eun Jae sama sekali tak menjawab. Arfa mencibir pelan. Ia mengambil kursi dan terlihat duduk rapi di meja yang lain.
"Itu menggunakan bahasa inggris yang baku. Jika kau tidak mampu lebih baik keluar,"
"Diamlah! Aku akan menyelesaikan ini dengan benar sampai karya tulismu di puji paling baik,"
Hanya ada kekehan yang menyahut. Arfa tampak tak peduli. Ia membaca dulu semua isi word di hadapannya. Dan mulutnya sesekali mengeluh pelan dengan tataan bahasa yang sangat berantakan.
"Pantas saja Kevin Oppa marah. Dia membenarkan begitu banyak kesalahanmu,"
Dan setelahnya benar-benar hening. Sesekali dengingan alat yang sedang diperiksa Eun Jae terdengar. Alunan suara tik juga setia menemani. Arfa tampak larut dalam pekerjaannya. Yang tanpa ia sadari seseorang sedang memandangnya dalam. Eun Jae tersenyum kecil. Sesuatu yang memang jarang ia lakukan.
Thanks Kevin
Baru saja ia akan mengalihkan pandangan deritan pintu terdengar lembut. Tapi sebuah suara riuh menyambutnya dengan kencang.
"Hai brother!! Kita bawa makanan dari– eh. Ada cewek? Sejak kapan kau berpacaran, Eun Jae?"
Arfa yang mendengar itu memutar bola matanya malas. Kalimat panjang yang tadi sudah tersusun rapi di otaknya malah hilang seketika. Wanita ini menoleh ke arah dua pria yang baru datang. Bukannya memandang si pembuat onar, matanya malah menangkap lelaki satunya sedang menatapnya horor. Seperti bertemu hantu.
"Dia adik ipar Kevin," jawab Eun Jae
"Ohh. Yang anak seni itu? Cantik ya? Hai? Boleh kenalan?" Arfa langsung menggeser duduknya saat lelaki tadi memilih kursi di sebelahnya.
"Jangan ganggu! Dia sibuk!" tegur Eun Jae.
"Cemburu amat sih. Dia juga nggak keberatan,"
"Kau bodoh apa polos?! Lihat wajahnya sudah terlihat risih," lelaki tadi yang menatap Arfa kaget juga ikut bersua. "Lebih baik bantu Eun Jae. Alat ini belum selesai,"
Lelaki di samping Arfa ini mencibir tapi tetap bangkit. Gadis satu-satunya itu langsung menghembuskan napas lega. Ia kembali pada pekerjaan awal.
Kenapa dia sudah muncul? Apa waktunya?
Arfa langsung menoleh pada tiga sejoli itu. Tapi semua terlihat diam. Gadis ini memang memiliki kemampuan lebih dalam pendengaran. Yang baru-baru ia sadari kalau dirinya juga bisa mendengar kata hati. Gadis itu tersenyum kecil. Ternyata sungguhan ia bisa mendengar kata hati orang.
Ia juga sesekali mendengar tentang schedule dari lelaki onar yang entah siapa namanya. Salah satu jadwalnya adalah berencana menawarkan tumpangan pulang pada Arfa. Arhhhhh. Tapi satu hal yang pasti, ia sama sekali tak mendengar apa yang sedang dipikirkan Eun Jae. Ternyata lelaki itu cukup pendiam juga meski di dalam.
Pintu yang biasanya otomatis tertutup sendiri kembali berdecit terbuka. Kali ini Kevin dengan kemejanya yang sudah di gulung sampai siku masuk ke dalam. Ia sedikit terkejut mendapati adik iparnya diam satu ruangan dengan tiga lelaki sekaligus.
"Kenapa kau disini, Fa?"
"Lah? Kan Oppa yang menyuruhku membenarkan tulisan," jawabnya sambil menunjuk laptop di depan matanya.
"Tapi bukan berarti kau diam disini. Ayo pulang!"
"Biar saja disini! Kita tidak keberatan," sahut lelaki pembuat onar tadi.
"Aku yang keberatan, Chun Seung. Ayo, Fa! Pulang,"
Gadis itu berdecak pelan. "Ada yang bawa flashdisk?"
"Bawa saja laptopnya," Eun Jae menyahut tanpa menoleh. Ia sedang sibuk menyolder entah apa itu.
Arfa pun langsung mengemasi barang-barangnya. Bukan maksudnya barang-barang milik Eun Jae lalu menghampiri Kevin yang masih berdiri tegak. "Antar aku pulang!" dan tanpa berdalih, lelaki itu berjalan keluar ruangan lebih dulu.
Dari luar, samar-samar ia mendengar suara lelaki pembuat onar tadi. Lelaki dengan nama Chun Seung.
"Wow. Mr. Kevin sangat protektif,"