You, Me, And My Secret Life

You, Me, And My Secret Life
1. Terbang ke Korea



Gadis itu, dibantu oleh sang oma membereskan barang-barang yang akan ia bawa untuk pergi ke korea. Wajahnya sudah ditekuk masam. Karena sebenarnya ia masih ingin di sini. Indonesia adalah tempat favoritnya. Meski Jakarta termasuk panas dan melelahkan dengan macet dimana-mana.


"Sungguh oma. Arfa bisa ambil cuti lagi beberapa hari. Blackfire juga membuka sekolah daring. Jadi tidak perlu terburu-buru mengirim Arfa kembali,"


"Tidak. Kau harus kembali hari ini. Dua semester kau ikut program pembelajaran jarak jauh. Oma mau kau sekolah normal. Jangan ambil program itu lagi,"


"Tapi oma. Mengertilah. Aku akan sendirian di sana. Kakak terus saja study keliling negara. Boleh yaa kembalinya setelah kakak tidak terlalu sibuk? Please,"


"Tidak boleh. Ini semester akhirmu di SMA. Cepat bereskan semuanya," keputusan oma benar-benar sudah bulat. "Ferdi!! Apa mobilnya sudah siap?!" oma lalu berjalan keluar kamar cucu terakhirnya itu.


Arfa benar-benar kesal. Ia tidak suka kembali ke Korea. Kalau boleh bilang, ia memang tidak suka tinggal sendiri di apartementnya. Tapi lebih dari itu. Ia punya mantan yang sayangnya satu gedung dengannya sejak dua tahun lalu. Ya... meski beda lantai tapi tetap saja itu mengkhawatirkan.


"ARFA! KITA BERANGKAT 30 MENIT LAGI!" teriak omanya kencang dari luar rumah.


***


Pesawat baru saja mendarat di Bandara Incheon dan gadis itu sudah memakai topi hitamnya karena cuaca yang lumayan panas. Karena memang bulan ini musim gugur masih belum menyentuh tanah kelahirannya. Ia menunggu kopernya keluar dari bagasi saat tiba-tiba seseorang sudah berdiri disampingnya dengan sapaan hangat.


"Hy, Fa. Long time no see!" Gadis itu menoleh dan melotot kaget saat orang di urutan pertama yang ia hindari sudah ada di depan mata. "Pulang dari Indo? Aku juga liburan ke Bali kemarin. Sayang sekali kita tidak bertemu,"


"Sorry. Jakarta and Bali memang sangat jauh. Jangan berharap lebih!" balasnya dengan ketus sehingga menarik sebuah tawa renyah dari lelaki disebelahnya.


"Kau makin manis saat marah. Jadi, ambil program tatap muka untuk semester akhir?"


Arfa tak menjawab karena kopernya sudah melintas di depan mata. Ia langsung menyambarnya dan pergi begitu saja.


"Hey. Butuh tumpangan? Kita searah," lelaki itu ternyata juga sudah mendapatkan barangnya dan berlari menyusul Arfa.


"Terimakasih. Kedua kakiku yang satu tujuan saja tidak pernah berjalan bersama. Aku bisa mencari taksi,"


Gadis itu yang akan pergi lagi-lagi dicekal dengan cepat. "Sebegitu bencinya kau padaku, Fa? Oke. Aku minta maaf kalau perselingkuhanku dulu menyakitimu. Tapi kita bisa mulai dari awal lagi kalau kau mau,"


"Are you crazy?!"


"Kau dari awal tahun mengambil program pelajaran online. Bahkan satu tahun ini tinggal di Indonesia. Jangan mengelak kalau bukan karena kita satu kelas dari awal masuk!"


"Kalau kau sadar baguslah. Jadi, tidak usah membuntutiku lagi," Arfa menghempaskan tangan mantannya yang dari tadi meraih lengan tanpa ijin sama sekali.


"Fa! Kita..."


"Oppa!"


Keduanya langsung mengalihkan pandangan ke arah datangnya suara. Ada gadis imut seumuran anak SMP yang berlari mendekat. "Aku mencarimu dari tadi. Ternyata oppa ada di — eh. Ada Arfa eonni. Annyeong!"


"Annyeong Min A," sapa Arfa lembut.


"Apa eonni dan oppa balikan? Jadi kemarin yang liburan itu berdua? Oppa kenapa tidak memberitauku?"


"Hentikan fantasi gilamu, Min A," tegur lelaki itu pada adik perempuannya.


"Aku duluan ya," pamit Arfa


"Eh. Bareng aja kak. Mau ke Hanwa kan?" Min A menyebutkan aparrement mereka. "Kita bawa mobil kok,"


"Ye. Kita pulang bareng," gadis SMP itu langsung menggeret Arfa keluar dari bandara. Min Ho, kakaknya. Bahkan sampai terkekeh pelan melihat betapa susahnya Arfa melepas genggaman adiknya. Gadis itu melotot garang pada Min Ho yang bukannya menolong malah menertawakan.


Arfa benar-benar merasa risih di mobil ini. Beruntung ia duduk bersebelahan dengan pak sopir. Jadi dengan sengaja gadis itu ijin memutar musik agak kencang dari radio agak Min A ataupun Min Ho tak mengganggunya sama sekali.


Ia berucap terimakasih saat sudah sampai dan langsung menolak saat di ajak makan malam bersama dengan alibi lelah ingin tidur. Akhirnya mereka berpisah saat ia keluar lebih dulu dari lift.


Tangannya menekan sandi kunci unitnya. Dan langsung menuju sofa untuk membaringkan badan. Ya Tuhan. Kutukan sangat besar sehingga ia harus bertemu Min Ho di hari pertamanya datang ke Korea.


Tiba-tiba bunyi notifikasi chat membangunkannya. Dari kakak tercintanya. Angelia.


Eonni


Apa sudah sampai?


Arfa mengernyit heran. Sejak kapan kakaknya tau ia pulang ke Korea? ahh. Pasti oma pelakunya.


^^^Me^^^


^^^Y^^^


Panggilan suara langsung terdengar beberapa detik kemudian.


"Ada apa?" tanya Arfa


"Wahh. Ketus sekali kau dengan kakak sendiri,"


"Nggak penting tau. Ada apa sih?"


"Uluh uluh. Gitu banget yang mau masuk sekolah tatap muka. Semoga ketemu jodoh yang nggak brengsek kayak Min Ho," lalu disusul tawa renyah dari ujung sana.


"Kalau mau ngebully adiknya nggak usah telpon deh,"


"Ohh. Sorry. Baperan banget sih. Eonni mau bilang. Kevin oppa jadi guru di jurusan fisika blackfire. Kalau butuh apa-apa langsung kesana aja,"


"Gaya banget kakak ipar ngajar fisika. Sepintar itukah?"


"Hello. Tunanganku itu lulusan teknik penerbangan terbaik. Aku juga udah bilang kalau kamu mau ambil sekolah tatap muka. Besok ke ruangannya ya,"


"Ngapain?"


"Nitip salam,"


"Ihh. Enggak ah,"


"Kartu kredit eonni ada di Kevin. Punyamu juga,"


"Eh. Kok gitu. Terus besok Arfa sekolah ke sekolah naik apa?"


"Kan bisa numpang Min Ho. Satu apartement jugaan,"


"EONNI!!,"