
Secara perlahan ia mengoleskan salep setelah membersihkan lukanya. Bukan luka di tangannya melainkan luka milik si serba hitam, Eun Jae. Wajahnya masih ada goresan-goresan yang terbuka. Dan pelipis itu, ia menyeka semua darah yang mulai kering dengan handuk basah. Merawat semua dengan telaten.
Ya. Setengah jam yang lalu, ia berniat mencari kotak P3K. Pasti setiap rumah memiliki perlengkapan kesehatan tersebut. Dan benar saja. Ia menemukannya di dalam laci nakas.
"Wah. Perhatian sekali kau,"
"Omo!!" ia langsung menjatuhkan salep di tangannya. Menoleh pada Chun Seung yang hobi muncul mendadak. Napasnya yang sedikit memburu membuat lelaki itu terkekeh pelan. "Bisakan kau ketuk dulu jika akan masuk?"
"Untuk apa? Memangnya kalian sedang apa di dalam kamar berduaan?" godanya yang membuat Arfa melengos kesal.
"Setidaknya aku tidak terkejut,"
Ia tertawa lagi. Sepertinya ini hobi kedua Chun Seung selain suka muncul seperti makhluk gaib, menertawakan Arfa. "Kau kan sudah tau aku ada di dalam rumah. Kenapa harus terkejut?"
"Tau ah," Arfa kembali melanjutkan kegiatannya. Mengobati luka-luka Eun Jae dengan telaten.
Suasana hening sesaat. Posisi mereka sama seperti semula. Hanya saja kini Arfa lebih memilih duduk di bawah lantai bersama Chun Seung.
"Kau ada hubungan apa dengan Dr. Zahra?" pertanyaan itu membuat suasana sedikit terisi.
"Dia sahabat kakakku,"
"Oh. Pantas saja akrab,"
Hening lagi beberapa saat sampai Arfa menghentikan kegiatannya. Bukan karena telah usai tapi ada sesuatu yang mengganjal.
"Bolehkah aku bertanya?" lelaki itu tak menjawab tapi Arfa menganggap itu adalah sebuah isyarat 'ya'. "Siapa Joon Yeong itu?"
Chun Seung terdiam. Tak bersuara sampai beberapa menit. "Kau tanyakan saja pada Eun Jae. Aku mau pulang. Sudah pagi,"
Arfa sontak mengalihkan pandangan pada jendela yang masih tertutup. Lalu melirik jam di pergelangan tangannya. Benar. Sudah jam 6 pagi.
Chun Seung telah berdiri. Bersiap pergi. Sebenarnya bukan karena ini sudah pagi. Mana ada orang yang pamit pulang hanya karena ini sudah pagi. Tapi, ia terlalu takut jika ditikam banyak pertanyaan oleh gadis ini. Takut salah bicara karena ia tidak tau siapa sebenarnya Arfa. Ada hubungan apa dia dengan Eun Jae atau mungkin malah memiliki hubungan dengan genk Tiger.
"Eh. Iya. Kertas resepnya dimana?" ia baru teringat pasal alamat kakaknya.
"Ya di apotek lah. Kenapa?" Chun Seung dibuat bingung dengan wajah kecewa Arfa
"Tidak apa-apa kok. Yaudah. Katanya mau pulang?"
"Buru-buru amat. Mau ngapain sih berduaan terus," katanya yang langsung mendapat lirikan tajam. "Jaga dia baik-baik! Dan kau, jangan keluar dari rumah ini sebelum ijin pada Eun Jae!" Arfa mengangguk malas. Setiap akan keluar lelaki ini pasti berkata seperti begini. Bosan.
Chun Seung pun menghilang setelahnya. Arfa yang ingin mengantar juga tak diperbolehkan. Alhasil ia hanya bisa melanjutkan pekerjaan sebelumnya. Mengobati luka Eun Jae.
*
Suasana sedikit gelap itu mulai ia akhiri. Matanya ia buka secara perlahan. Menampilkan kondisi kamar bernuansa segar yang sudah sangat ia kenal.
Dirinya berusaha bangkit namun sesuatu terasa menusuk-nusuk di punggungnya. Sakit tapi kenapa?
Ia mencoba mengingat-ingat. Ah. Ya. Kemarin dia tertembak akibat.... dimana Arfa? Apa ia selamat?
Punggung yang sudah menyender di kepala ranjang itupun langsung bangkit kembali. Ia akan beranjak pergi sebelum sebuah suara menyentaknya kaget.
"Eh. Jangan bangun dulu!" gerakannya terhenti saat ada seorang gadis berdiri di ambang pintu kamarnya. Ia melangkah mendekat. Meletakkan nampan yang ia bawa di atas nakas lalu membantunya membenarkan posisi duduk. "Jangan banyak bergerak! Nanti tambah sakit,"
"Kenapa kau disini?"
Arfa mengangkat wajahnya yang tadi fokus pada selimut Eun Jae. "Mau ngerampok. Kau pikir aku ngapain disini setelah kejadian kemarin?"
Terdengar hembusan napas panjang dari Eun Jae. Arfa hanya memperhatikannya. Sepertinya akan menjadi hobi barunya. Menatap wajah Eun Jae. Mata memikat itu yang paling ia suka.
"Makanlah! Aku sudah membuatkan bubur,"
Lelaki itu kini memandangnya cukup lama. Cukup untuk membuat jantungnya lari pagi. "Apa Dr. Zahra kemari?" Arfa mengangguk. Tak mampu bergerak lebih. Lagipula kenapa bertanya yang tidak perlu.
Kini mata Eun Jae teralih pada semangkuk bubur dan segelas air putih di atas nakas. Bingung harus bersikap bagaimana? Kecanggungan mengalahkan tebal atmosfir bumi.
Arfa bangkit. Ingin pergi saja saat suasana penuh kecanggungan seperti ini. Bingung harus bertindak apa. "Gomawo," ia yang baru saja berdiri kini harus memandang kembali Eun Jae di hadapannya dengan mengerutkan alis. "Kau telah membuatkan bubur," lelaki itu menambang senyum tipis.
Please. Jangan memasang wajah begitu! Itu membunuhku. "T-tidak. Seharusnya aku yang berterimakasih padamu. Terimakasih karena telah menolongku,"
Diam lagi. Ini membuat Arfa semakin lapar saja. "Aku pergi dulu. Makanlah dan minum obat itu," sambil menunjuk plastik berisi obat di samping nampan. Setelah itu ia keluar kamar ini.
Ditutupnya pintu itu perlahan. Ia bersandar pada daunnya yang terlihat kokoh. Posisi jantungnya ia sentuh. Mereka, para arteri, darah, dan jantungnya sedang olahraga pagi. Tanpa jogging atau pemanasan. Langsung berlari. Ada keringat dingin membasahi kening Arfa.
Perutnya kini melakukan konser. Oke. Baiklah. Arfa harus memulai acara makannya juga. Sepertinya tak masalah jika lelaki ini memberikan beberapa bahan masakan padanya.
Ia berjalan ke arah dapur dengan tangan yang masih memegang dada. Namun terlepas saat ia membuka kulkas.
Oke. Ia akan memasak sesuatu hanya dengan bahan.... ya Tuhan. Lemari pendingin ini hampir kosong.
Emmm..... tapi sepertinya memasak nasi goreng masih bisa. Ia mengambil sebutir telur, sepotong daging yang tersisa sangat sedikit, lalu beberapa sayuran, dan bahan lainnya.
Ditutupnya lemari pendingin itu lalu ia beralih pada pantry. Mulai menyiapkan semua. Namun terlebih dahulu, ia memasang apron. Sedikit kesulitan karena tangan kirinya yang terluka.
Meski begitu, perutnya terus menuntut. Membuat rasa sakit di tangannya tak terasa sama sekali. Mungkin ia akan mengurusnya setelah memasak. Atau setelah makan? Entahlah. Yang penting fried rice nya jadi sekarang.
Wangi bumbu-bumbu menyeruak penciuman. Arfa semakin lapar tapi untung saja ini hampir matang. Diambilnya sedikit nasi dengan spatula di tangannya. Ia mencicipi. Tau tidak tentang mitos orang Indonesia pasal makanan asin? Arfa tidak ingin dikatai ingin menikah jika masakannya keasinan. Ya. Meski disini tak ada mereka yang akan berargumen begitu.
Eun Jae mendorong mangkuk buburnya menjauh sampai ketengah meja. Tunggu. Sejak kapan ia ada di sini?
"Aku ingin makan yang kau masak,"
Arfa masih diam namun semenit kemudian kesadarannya kembali. Loadingnya cukup lama. Mungkin akibat belum makan. "Kenapa kau di sini? Sejak kapan?" ia menunjuk dengan spatula ke arah pria yang kini duduk di meja makan memandangnya.
"Sejak kau lahir. Aku ingin protes kenapa aku diberi bubur?"
"Karena kau sakit,"
"Kenapa harus bubur? Aku tidak sakit pencernaan," Arfa menghela napasnya yang terasa berat. "Berikan aku nasi gorengmu!"
"Tapi ini...,"
"Aku ingin,"
Arfa menghela napasnya lagi. "Baiklah. Tunggu dulu," ia kembali berbalik. Menyelesaikan acara masaknya hingga plating yang membutuhkan waktu sekitar 10 menit.
Dua piring nasi goreng siap. Arfa heran sendiri. Seingatnya ia hanya memasak seporsi tapi kini cukup untuk maka dua orang. Ah. Itu tidak terlalu penting.
"Kau lama," dua piring di pantry telah diangkat seseorang. Arfa berbalik dan memandang pada pria yang kini berjalan menuju meja makan. Sekali lagi ia menghembuskan napas panjang.
Tidak sabaran sekali
"Apa kau hanya akan berdiri disitu?"
Arfa tersadar. Ia mulai mengarahkan tangannya pada ikatan apron di pinggangnya.
Cukup lama. Ikatannya sangat manja. Apa Arfa tadi tak sadar mengikat sangat kencang? Kini tengah bersusah payah membukanya hanya dengan tangan kanannya. Telapak yang kiri mulai panas lagi. Perih.
Tiba-tiba seseorang menghentikan aksi tangannya. Eun Jae hadir tanpa tanda-tanda. Membantu melepas apron yang ia kenakan. Gerakannya yang ingin melepas tali seperti sedang memeluk Arfa akibat berarah dari depan. Jantung gadis ini kembali senam.
Di angkatnya apron hitam itu dari leher Arfa. Meletakkannya di meja pantry begitu saja. "Ayo!" ajak lelaki itu yang membuat Arfa kembali sadar.
"A-aku akan cuci tangan dulu," Eun Jae hanya mengangguk dan memandangi Arfa yang kini berjalan ke arah wastafel.
Dengan segera gadis ini memutar kran. Mengalirkan air yang sengaja ia kurangi debitnya. Arus deras semakin membuat tangannya yang melepuh merasa sakit.
"Kenapa dengan ini?!" tangannya terangkat. Apa rintihan kecilnya terdengar hingga lelaki ini kembali ke sisinya?
"T-tidak ap-apa-apa," Arfa berusaha menariknya namun tenaganya tak cukup kuat.
"Bagaimana tidak apa-apa? Ini melepuh. Apa kau ceroboh saat masak?!"
Arfa hanya diam. Tak berani menjawab dan hal itu semakin membuat Eun Jae jengkel. Ia langsung saja mengangkat tubuh gadis ini hingga terduduk di pantry dapur. Tepat di samping wastafel. Menggeret lebih menyusahkan daripada menggendongnya.
Ia pergi sebentar lalu kembali dengan peralatan kesehatan. Mengobati telapak kiri Arfa yang terlihat jelas luka lepuhnya. Bagaimana bisa gadis ini bertahan? Luka ini tak bisa dianggap sepele.
Lalu beralih pada pergelangan tangan kanan yang juga sedikit ada luka yang sama. Arfa hanya memperhatikan tingkah seseorang di hadapannya ini sampai tiba-tiba gerakan pengobatan berhenti. Bukan karena selesai tapi ada sesuatu yang menggangu otak Eun Jae.
"Ini HCl. Kau terkena air keras?" Arfa hanya diam saat mata tajam itu memandangnya garang. Menuntut tajam. Hingga semenit berlalu ia baru mengangguk lemah.
"Bagaimana bisa?" Arfa akan membuka mulut namun terdiam lagi.
"Katakan," ucapnya dengan pandangan yang sedikit meredup.
"Aku sengaja menuangnya,"
"Untuk?"
"Melepas tali di tanganku kemarin,"
"Tapi kenapa kau melakukannya? Aku akan menolongmu. Kau tidak perlu bertindak,"
"Tapi buktinya aku yang menolongmu,"
"Fa. Aku sudah mengirim Chun Seung untuk datang ke lokasi jika aku belum kembali jam 3. Kita hanya perlu menunggu kemarin,"
"Bagaimana aku bisa menunggu jika aku tidak tau? Lagipula kau kemarin tertawan," suaranya mulai melemah. "Aku khawatir,"
"Hah?"
"Aku khawatir," ucapnya sekali lagi tanpa mengeraskan suaranya. Itu cukup membuat Eun Jae menghela napas panjangnya.
"Kenapa kau mengakhawatirkanku?"
"Ya. Tentu saja karena kau adalah penolongku. Aku merasa tidak enak jika kau juga terluka,"
Eun Jae melanjutkan kegiatannya. "Apa kau akan begitu juga kepada polisi yang menolongmu?," tak ada jawaban sampai pengobatan sederhana lelaki ini selesai.
Ia mendongak setelah membereskan semua alat kesehatan yang ia gunakan. "Jangan melukai diri sendiri demi orang lain!,"
Arfa hanya memandang lelaki itu tanpa berkata apa-apa. Padahal dalam hati ia sudah memiliki pernyataan tapi kau malah membahayakan diri sendiri demiku.
"Aku tidak membahayakan diri demi orang lain," Arfa tercengang meski tak menampakkan keterkejutannya. Lelaki ini menjawab seolah-olah dapat mendengar isi hati Arfa saja. "Kau bukan orang lain, Fa," ia sungguh dapat mendengar protes dalam hati Arfa sekali lagi. "Karena kau adalah bagian dari diriku,"
...💕💕💕...