You, Me, And My Secret Life

You, Me, And My Secret Life
46. Ngambek



"Fa? Buka pintunya sebentar!" Eun Jae masih mengetuk pintu kamar tamu rumahnya. Gadis itu sama sekali tak menghiraukannya.


Ini sudah lama sejak kejadian handphone Arfa berdering menerima panggilan dari serba hitam. Eun Jae bingung. Bagaimana bisa nomor ponselnya ada pada list kontak milik Arfa? Rahasia ini terlalu sederhana dalam penguapannya.


Ahh. Atau jangan-jangan gadis ini yang waktu itu menyerang keamanan akunnya? Tidak mungkin. Tapi.. ah. Biarlah.


"Fa. Ayo makan! Kau belum makan," sebenarnya ia mempunyai kunci cadangan namun Eun Jae masih ingin menghargai wanita itu.


"Pergi dari sana!" teriak seseorang untuk pertama kalinya. Oke. Ada kemajuan. Arfa mulai angkat bicara.


"Ini rumahku," balas Eun Jae dari luar. Mungkin dengan sedikit candaan wanita itu akan luluh dan memilih keluar. "Fa. Ayo makan! Hargai aku yang sudah memasak,"


Arfa masih diam di dalam. Ia duduk di atas karpet. Menyandarkan punggungnya pada sisi ranjang. Kepalanya terbenam pada lekukan kedua lutut.


Bukan. Dia bukan menangis. Ia sedang frustasi saja sekarang. Ia senang. Sungguh sangat senang. Serba Hitamnya adalah Eun Jae. Ya. Meski ingatannya tak kembali namun ia yakin akan hal itu. Bagian first kissnya saat itu dan juga kata saranghae bukankah berarti dari Eun Jae? Arfa senang. Siapa yang tidak senang dicintai orang yang dicintainya?


Namun keegoisan Veronica muncul. Ini bukan pasal perasaan lagi. Ini pasal ingatannya yang hilang. Bagaimana bisa? Eun Jae hanya manusia biasa. Bagaimana dia bisa mempengaruhi seorang Veronica? Baru kali ini dalam sejarah seseorang dapat mempengaruhi pikiran Veronica? Ia bangsawan. Ia putri. Ia mahkota kerajaan. Tapi, apa ini? Semuanya penghinaan.


Veronica frustasi. Begitu pula dengan Arfa. Kenapa semua bisa begini? Eun Jae? Siapa dia? Tidak ada pancaran exhuman dalam tubuhnya. Ia hanya seorang manusia biasa. Ataukah ia manusia spesial dengan kemampuan menggunakan otak lebih dari 50 %?


Meski begitu, tetap saja tidak bisa mempengaruhi seorang putri mahkota sepertinya. Exhuman tidak membutuhkan oksigen untuk menghidupi selnya. Energi yang di butuhkan tubuhpun sedikit sehingga membuat semua asupan menuju otak. Mereka terbiasa dengan mengerjakan semua melalui kemampuan maksimal otak. Melatih stamina disana. Tentu saja mereka lebih hebat dari manusia biasa. Ya. Meski manusia mungkin bisa juga menggunakan kemampuan otaknya secara maksimal. Tetap saja. Tidak ada yang bisa menaklukan Arfa karena jika ada, dia juga tidak akan menjadi putri mahkota Grybe. Kerajaan pusat di Smart World. Tapi, lihatlah sekarang! Bahkan ia tidak bisa mengembalikan ingatan yang telah hilang.


Oh. Ya Tuhan. Ia sungguh frustasi. Arfa mengacak rambutnya sendiri. Ia memandang ke arah daun pintu di depannya. Apa Eun Jae masih ada disana? Andai ia membawa kacamata infrared dari rumah besar oma di Jakarta. Huhhhh.


"Yakin tidak keluar? Fa? Kau tidak ingin mengambil handphonemu?" ah. Iya. Dia baru ingat handphonenya ia tinggalkan setelah terjatuh tadi. Biar saja. Lagipula ia masih memiliki handphone baru yang dulu dibelikan Angel. Kakaknya memasukkannya ke dalam koper juga.


Ia jadi berniat pergi dari rumah ini. Biar saja. Lebih baik ia mencari hotel dan menginap. Arfa bangkit. Membereskan semua barangnya. Tak lupa juga ia kembali menghidupkan handphonenya untuk memesan taksi online. Tak mungkinkan ia pergi tanpa kendaraan?


Ia bahkan telah memakai mantelnya. Bersama dengan koper yang juga pernah menemaninya pada hari pertama di Korea, ia menghampiri pintu. Ragu-ragu saat akan membukanya.


"Fa... Makan yuk!"


CEKLEK


Eun Jae teperanjat. Ia mundur selangkah saat pintu terbuka. "Akhirnya.... ayo mak-, mau kemana?"


Arfa tak mendengarkan. Ia langsung saja berjalan ke samping karena memang kamar ini agak masuk ke lorong. Gadis ini tak menghiraukan Eun Jae yang tercengang melihatnya sambil menggeret koper.


"Diluar sedang badai salju," ujar pria itu singkat. Arfa berhenti melangkah tepat di depan bilah pintu. Ia sedikit menoleh sejenak ke arah Eun Jae. Hanya sedikit. "Aku hanya memberitau. Lebih baik kau makan dulu,"


Arfa kembali ke tujuan awal. Ia membuka pintu dan keluar. Eun Jae masih memandangi pintu. Ia menghitung dari 3 mundur di dalam hati. Dan benar saja. Tepat saat angka 1 terucap di mulutnya, pintu kembali terbuka. Arfa bersama kopernya kembali masuk. Wanita itu terlihat merapatkan mantel yang ia kenakan. Bandel sih.


Eun Jae terkikik pelan. Arfa memandang tajam ke arahnya. Membuat lelaki itu terpaksa berhenti menertawakan. "Memangnya kau mau kemana? Jangan pulang ke rumahmu dulu!"


Eun Jae berjalan mendekat. Tangannya ia masukkan pada saku. Termasuk handphone Arfa yang tadi ia genggam. "Makanlah dulu! Kau hanya sarapan saja tadi,"


Tak ada jawaban. "Kau marah? Aku-,"


"Sudah cukup Eun Jae! Sudah cukup sampai sini saja perkenalan kita. Anggap saja kita orang asing selamanya. Berbohong? Untuk apa kau melakukannya?!"


Eun Jae menghembuskan napas beratnya. Ia mengeluarkan telapak tangannya dan menghadapkannya ke arah Arfa. Gadis itu menatap bingung. "Kau ingin meminta maaf? Tidak. Aku tidak menerimanya,"


Arfa membulatkan tekad. Harga dirinya tidak bisa diinjak berulang kali. Ia akan menjadi wanita mahal sekarang. Tunggu. Bukan berarti sebelumnya dia murahan. Maksudnya menjadi lebih mahal lagi. Ia hanya ingin menolak sedikit.


Arfa berjalan melintasi teras rumah Eun Jae. Tak peduli lagi akan suhu dingin yang sangat mencekam. Sedangkan Eun Jae masih bingung. Sejak kapan tangan terbuka makna dari sebuah permintaan maaf? Ia melakukan itu agar Arfa membaca sendiri pikirannya. Ya. Ia tau Arfa punya kemampuan lebih dalam aktivitas bagian dalam tubuh. Termasuk mencopy seluruh ingatannya.


Eun Jae memilih mengikuti Arfa. Tak peduli jika ia hanya memakai pakaian yang tak terlalu tebal. Ia meraih tangan gadis itu. Meminta berhenti.


Arfa sedikit menarik senyumnya lalu berbalik. Wajahnya sudah dibuat kesal kembali di hadapan Eun Jae. Lelaki itu malah terdiam. "Ada apa?! Lepaskan tanganku!" ucapnya sambil menyentakkan pergelangan tangan yang di genggam Eun Jae.


"Ah. Itu.... ," Eun Jae jadi bingung saat tak ada reaksi apa-apa setelah Arfa menyentuhnya. Apa kekuatan membaca ingatannya hilang? "Aku hanya ingin mengucapkan hati-hati. Dan, Good Bye,"


Arfa pura-pura tak menghiraukan kemudian langsung menuju pagar kayu yang tinggi itu. Mendorongnya dan keluar begitu saja. Sudah ada taksi di sana. Sang sopir membantu memasukkan kopernya ke dalam. Sedangkan ia sudah mulai kedinginan. Ia turut menyusul sang koper.


"Mau kemana, non?" tanya sang sopir saat mereka telah ada dalam taksi.


"Hotel dekat sini saja, pak,"


"Yang paling dekat berjarak 14 km. Bagaimana non? Mungkin akan lama karena ada badai,"


"Hah? Emm.... baiklah,"


Mobil mulai melaju. Sejenak Arfa berbalik. Tak ada tanda-tanda Eun Jae akan mengikutinya. Arfa mulai memikirkan kembali kejadian sebelumnya.


"Apa aku terlalu kejam?" gumamnya pelan. "Aku tidak keterlaluan, kan?" ia menimbang-nimbang. "Apa ia akan frustasi?"


Ahh.. Arfa kini yang frustasi. Bagaimana jika Eun Jae malah membuat kesimpulan jika dia wanita alay? Lalu menjauh dan tidak mencintai Arfa lagi? Tidak. Arfa tidak mendambakan itu. Ia hanya ingin agar disusul.


Ia menoleh ke belakang lagi. Sama sekali tak ada mobil yang mengikuti. Jangankan itu! Jalanan ini sangat sepi. Hanya semilir angin bersalju yang menemani perjalanan.


Good Bye.


Arfa jadi kepikiran kata itu? Kenapa harus good bye? Ia sangat membenci kata itu. Kenapa selamat tinggal? Memangnya mereka tidak akan bertemu lagi? Seumur hidup seorang Veronica maupun setiap hidup Arfalia, sama sekali tak pernah mengucapkan Good Bye sebagai salam perpisahan. Selalu See You–. Tidak akan bertemu? Apa jangan-jangan Eun Jae?


"Tidak. Tidak mungkin," ujar Arfa menyemangati diri sendiri. Meski begitu wajahnya terlihat sangat khawatir. Sekali lagi ia menoleh ke belakang. Tetap sepi.


"Pak. Berhenti!" ucap Arfa sambil menepuk bahu kursi kemudi. "Putar balik ke tempat tadi, ya!"


Eun Jae bukan orang yang berpikiran sempit kan? Bukankan?


Sang supir menyanggupi. "Good Bye? Kenapa harus mengucapkan Good Bye sih?" ujar Arfa kesal. Sang supir hanya memperhatikan lewat kaca spion.


Untung saja badainya mulai reda. Sebenernya badai tadi memang tak terlalu parah. Jadi taksi yang di tumpangi Arfa bisa sampai lebih cepat.


Gadis ini langsung turun tanpa memikirkan hal lain. Supir itu pun tak protes. Ia tak takut penumpangnya akan kabur karena koper Arfa masih berada di dalam mobil.


Sedangkan gadis itu, sudah kalang kabut kesana kemari. Mencari keberadaan sang pemilik rumah yang tiba-tiba menghilang. Jangan tanyakan kenapa ia bisa masuk! Gerbangnya tak tertutup rapat. Itu semakin membuatnya khawatir.


Arfa membuka setiap pintu, namun tak mendapat hasil. Bahkan lelaki itu tidak ada di kamarnya. Setiap kamar mandi juga ia masuki. Namun nihil. Pintu balkon juga tak luput dari comotan tangannya.


Seketika itu pula matanya terbelalak. Bukan berarti Eun Jae ada di balkon. Atau sesuatu yang ada di bagian rumah itu. Tapi, suatu hal yang ia lihat di bawah sana. Tepat di taman belakang.


...💕💕💕...