You, Me, And My Secret Life

You, Me, And My Secret Life
62. Jadi Hanya Drama??



Tiba-tiba handphone Arfa berdering. Sebuah panggilan masuk dengan kontak bertulis 'manusia purba' terlihat jelas di matanya. Tak luput juga dari Shi Ah yang duduk tepat disampingnya. Bagaimana tidak? Letak handphone itu berada disisi mangkuk ramyeon, di tengah keduanya.


"Siapa itu?" tanya Shi Ah dan Arfa sudah merah padam. Gadis itu mengerti makna dibalik manusia purba yang tertera jelas disana. "Wow. Sebutan penuh kasih sayang kalian benar-benar romantis," Shi Ah bisa mengerti karena nama kontak itu juga tertulis secara hanguel di bawahnya.


"Dia memang agak absurd saat pertama kali kita berkenalan. Kupanggil saja begitu," ujar Arfa malu-malu. "Boleh ku angkat?"


"Why not? Silahkan!"


Arfa semakin merona tapi sama sekali tak ada niatan menyembunyikan apalagi mengelak. Shi Ah adalah teman dekatnya. Lagipula ia harus membuat rona pipi ini terlihat sangat natural.


"Maaf, aku baru menelepon,"Β  kata-kata yang keluar dari telepon Arfa mengingatkannya pada telepon yang tadi tak terjawab oleh Joon Yeong. "Ada apa?"


"Aku dikantin. Ada Shi Ah juga di sini," Arfa menjawab sambil bernada ria.


"Oh. Jadi, kau tak sendiri? Baiklah, kita bahas nanti saja,"


"Tidak. Tidak perlu kesini. Aku ke sana sekarang,"


"Apa yang akan kau bicarakan sangat penting? Baiklah. Kutunggu di Lorong B gedungku, lantai 3,"


"Love you too,"


Arfa menjauhkan handphone itu dari telinganya. "Uuuuu. So sweet sekali kalian. Aku harap bisa begitu,"


"Aku do'akan semoga terkabulkan," Arfa bangkit. "Aku ada urusan bentar dengan......,"


"Ya. Sana berkencanlah! Manfaatkan waktu istirahat dengan baik,"


Arfa hanya menanggapinya dengan tersenyum lalu pergi berlalu. Sebelum itu, Shi Ah kembali berbisik. "Jangan lupa doakan kebahagiaanku juga dengan Eun Jae!"


Ia memilih tak menjawab. Jantungnya serasa dihantam keras. Jemari tangannya spontan mengusap permukaan jam di pergelangan tangan. Menenangkan diri dan berharap semua rasa itu hilang. Rasa gilanya pada seorang manusia.


"Joon Yeong!" teriaknya menyapa saat melihat lelaki itu berdiri menyandar dinding sambil bermain game dari smartphonenya.


"Antusias sekali kau. Ada apa?" ia meletakkan handphone pada saku terdalam celana.


Sedangkan wajah Arfa berubah serius. "Aku tadi pagi bertemu Eun Jae. Kurasa....,"


"Kurasa?"


"Bagaimana ini? Tadi," Arfa menceritakan semua yang terjadi. Termasuk kalimat terakhirnya yang sejak awal meracuni otak.


"Wah. Dia memang keras kepala," Joon Yeong menengadah sejenak. "Apa maksud kata-katanya?"


"Entahlah. Aku juga tak mengerti,"


Joon Yeong berpaling ke sisi kanannya. Ada sesuatu aneh yang menariknya kesana. "Huh. Kenapa masalahmu lebih membuatku pusing daripada soal teknik tadi?"


"Mian. But, this is– Hey! Apa yang kau lakukan," Arfa mundur selangkah saat lelaki itu malah mendekat tanpa aba-aba. "Joon Yeong!"


"Ada Eun Jae," bisiknya pelan sambil menarik pinggang Arfa mendekat dengan dua tangannya. "Lihat ke Barat!"


Gadis itu menarik ekor matanya kesana. Memang ada siluet hitam berdiri tegak. Meski tak jelas, tapi ia percaya pada ucapan Joon Yeong. Lagipula untuk apa lelaki itu berbohong?


"Kenapa dia disini?" Arfa memelankan suaranya. Bukankah Eun Jae hanya bisa membaca suara hatinya saja? Semoga saja seperti itu. "Apa dia memperhatikan kita?"


"Apa?! Aku tidak dengar?!" Arfa mengumpat pelan saat Joon Yeong malah berteriak kencang di depan wajahnya. "I Love You. Ucapkan dengan benar,"


"I LOVE YOU!! Kurang kencang!" Arfa sengaja berteriak tepat di telinga Joon Yeong. Lelaki itu menatapnya tajam. "Balas dendam," guman Arfa pelan.


"Kau bermain-main denganku rupanya. Mau kucium?"


"Silahkan kalau berani!" Arfa malah menantang. Matanya melirik lagi kesamping. "Kenapa dia belum pergi? Apa dia menunggu kita berciuman?"


"Orang gila mana yang ingin melihat mantannya berciuman dengan pria lain," kali ini lelaki itu ikut berbisik.


"Ya sudah. Lakukan saja!"


"Hey! Kau gila?"


"Jika dia menunggu, kenapa tidak?"


"Fa. Aku yakin bibir ini masih suci," lelaki itu mengusap ujung bibirnya lembut. "Lagipula aku juga ingin menjadikan ciuman pertamaku pada orang yang kusayang,"


"Ck. Kau niat membayar hutang atau tidak?"


Joon Yeong melotot. "Sebegitunya kau ingin menjauh dari Eun Jae? Kukira orang Indonesia tidak suka asal cium sana cium sini. Kudengar itu etikanya,"


"Peduli apa dengan etika!" Arfa memejam. "Cepat lakukan! Aku benci dia disini,"


Namun tanpa sengaja, matanya menatap ke arah seseorang yang sedang berdiri tegak juga di ujung lain lorong. Alis orang di ujung sana terangkat seolah bertanya apa yang kau lakukan disini?


Senyuman Eun Jae langsung sirna. Ia melangkah pergi begitu saja.


"Dia sudah pergi," ucap Joon Yeong sambil menjauh dari Arfa. Melepas rengkuhannya. "Aku bahkan belum menciummu. Kenapa sangat tegang?"


"Shut up. Jangan menggodaku!" Arfa mundur beberapa langkah. Menyandarkan punggungnya pada tembok. "Ujiannya masih ada dua hari. Drama ini lama sekali tamatnya," ia menghembuskan napas beratnya.


"Lagipula kenapa kau memilih drama? Tinggal tinggalkan saja pasti selesai,"


"Awalnya aku juga berpikir begitu. Tapiβ€”"


"Jadi semua ini hanya drama?"


Arfa langsung menegang di tempat. Kedua sejoli itu saling memandang kaget lalu sama-sama menoleh ke sumber suara. Ada teman sekelas Joon Yeong disana. Chun Seung. Teman dekat Eun Jae juga.


...***...


"Jadi... apa maksud kalian sebenarnya? Yang kau ceritakan bohongkan?" Arfa yang duduk di depannya hanya menunduk. Sedangkan lelaki di sebelah gadis itu tampak acuh tak acuh. Sibuk sendiri dengan americano yang tadi ia pesan. "Fa! Jawab!"


"Sebagian," baru kali ini ia berani mengangkat kepalanya meski sedikit. "Aku dan Joon Yeong memang bersahabat sejak kecil. Tapi kita sudah lama hilang kontak,"


"Artinya kalian tidak ada hubungan serius? Lalu, tujuannya apa drama ini?!"


"Tujuan kami jelas dan punya alasan!" balas Joon Yeong ketus. Membuat Chun Seung tambah kesal.


"Apa?! Paling hanya ingin membuat dia sengsarakan?!" Arfa langsung meraih tangan Joon Yeong sebelum lelaki itu ikut berapi. Menggenggamnya lembut. Menyalurkan ketenangan.


"Bisa tidak kau tunggu di mobil? Aku ingin bicara berdua dengannya," ya. Mereka kini berada pada salah satu cafe dekat sekolah. Joon Yeong tersenyum manis sebagai jawaban lalu bangkit. Melirik kesal pada Chun Seung, berbanding terbalik dengan apa yang ia perlihatkan pada Arfa.


"Aku punya alasan melakukan itu. Dan alasannya bukan seperti yang kau ucapkan," Arfa Kembali menjelaskan.


"Memang ada alasan selain itu?"


"Chun Seung. Aku mencintainya. Mana mungkin aku ingin menyakiti Eun Jae,"


"Katakan itu pada Eun Jae? Apa bisa?!"


Arfa menghembuskan napas beratnya. "Aku akan pulang ke Indonesia. Dan mungkin.... Tak akan Kembali,"


"Masalahnya apa? Eun Jae bisa-"


"Aku tidak ingin. Ya. Aku tidak mau Eun Jae mencariku. Aku ingin hubunganku berakhir sampai sini," aku tak ingin dia mencariku dan berujung mati di smart world


"Apa kau tak tau seberapa cintanya dia padamu? Kau juja mencintainya bukan? Kenapa harus berakhir?"


"Karena aku yang ingin," itu bukan suara Arfa. Joon Yeong yang kembali langsung menarik gadisnya bangkit. Mengajaknya beranjak. "Berhenti menganggu kami!" perintahnya tegas. "Ayo Kembali! Ujian akan dimulai 5 menit lagi,"


Gadis itu menurut saat Joon Yeong membawanya pergi. Ia menoleh sejenak pada Chun Seung yang masih duduk menatapnya. Lalu tak lama kemudia ikut bangkit dan meninggalkan cafe melalui pintu keluar yang lain.


Arfa jadi kalut sendiri. Bahkan sampai tubunya telah duduk di kursi kelas tetap saja wajah bingung itu masih melekat. Ia termangu sambal menatap Chun Seung yang memang duduk berjarak dua bangku ke samping darinya. Test mereka memang digolongkan sesuai univ jurusan dan keduanya memang sama-sama ingin lanjut di Eropa. Karena hal itu ia sendiri kehilangan focus pada test terakhir hari ini.


"Chun Seung," panggilnya tepat saat guru penjaga baru keluar dari kelas. Tak peduli pada belasan pasang mata yang menatapnya penasaran. "Aku mo-"


"Aku nggak akan bilang," gadis itu sontak berkerut kening bingung namun tak lama kemudian berganti senyuman senang.


"Gomawo, Chun Seung. Kau-,"


"Karena kurasa dia cukup pintar untuk memahami situasi sebenarnya. Aku ikut tanggal main kalian. Tunggu saja hingga ia memegang tuas kendali,"


Gadis itu terpaku di tempat. Berusaha mencerna kata-kata Chun Seung yang bahkan telah pergi tanpa ia sadari. Maksudnya, Eun Jae paham atas semua yang terjadi selama ini? Apa mungkin drama gila ini akan berakhir sia-sia? Tiba-tiba ia jadi kepikiran Shi Ah. Apa reaksi sahabatnya itu saat tau hubungan mereka?


"Arfa!" panggilan seseorang berhasil memecah lamunannya. Ia menoleh ke arah sumber suara dan menemukan Joon Yeong sudah berdiri menunggu di ambang pintu. Gadis ini langsung menghampiri sebelum menarik banyak kefokusan anak kelasnya yang memang masih ramai. "Mau langsung pulang?"


"Hmmm. Emang mau kemana?"


"Lupa ya?" Joon Yeong mengelus surai panjangnya sejenak sambal merapikan beberapa helai yang berantakan. "Kayaknya kemarin kamu bilang minta temenin beli bahan bahan buat kue ultah Cheon Gi,"


"Eh iya. Aku bener-bener lupa," Arfa nyegir tanpa dosa. "Untung kamu ingetin. Tapi kamu nggak sibukkan?"


"Nggak. Tapi besok aku nggak bisa nemenin. Ada pelantikan ketua Tiger baru untuk sub di blackfire,"


"Ooo... jadi, bukan pimpinan disini lagi dong. Aku jadi pingin ikut. Nggak enak rasanya kalau nggak nemenin pacar sendiri," Arfa sedikit melirik ke jendela kaca yang ia lewati. Dari sana dapat dilihat bahwa sedari tadi, Eun Jae mengikuti gerak-gerik mereka.


...πŸ’•πŸ’•πŸ’•...