You, Me, And My Secret Life

You, Me, And My Secret Life
35. Memories of Arfalia (2)



"Arfa. Kau lihat itu!" aku memandang ke arah yang dituju Anna.


Sebuah pohon apel lebat dan besar dengan sungai yang mengalir tak jauh dari sana. Itu sungai terusan dari air terjun tadi. Ada dua gadis kecil seumuran.... Myung Hae mungkin. Mereka duduk duduk di tikar sambil memandang ke pohon. Karpet itu anyaman pohon namun motifnya sebuah bunga-bunga lily yang bertabur indah dengan latar biru langit. Terlihat benar-benar seperti bunga asli namun tak timbul ataupun nampak cetakannya.


Tanpa sadar aku mendekat. Anna yang sudah takku genggam lagi tangannya juga turut di belakangku. Saat ini aku dapat melihat dua anak laki-laki sedang ada di atas pohon.


"DIO YANG ITU!" teriak salah satu gadis yang rambutnya bermodel Mix it with Braids.


"YANG INI AJA!" jawab anak lelaki yang sedang duduk di dahan pohon. Tangannya menunjuk apel yang tepat berada di atas kepalanya.


"TIDAK. AKU MAU YANG DI UJUNG. KATANYA ITU LEBIH ENAK,"


"SIAPA YANG BILANG? ITU TIDAK ENAK," aku tertawa pelan. Begitupun Anna.


"YEOL YANG BILANG," tawaku berhenti sejenak. Aku mengikuti arah pandang anak bernama Dio itu pada lelaki yang berada di dahan sisi lain. Yeol? Apa hanya namanya yang sama?


"Itu memang Yeol yang kau tau,"


Aku menoleh ke Anna. Dia masih memandang ke depan. "Gadis itu adalah kau,"


"Hah?"


"Yang pirang itu aku," aku memandang perempuan yang juga duduk di tikar. Rambutnya pirang. Sama persis seperti Anna.


"YEOL. KUBUNUH KAMU NANTI," teriak Dio jengkel. Aku dan Anna tertawa lagi.


"DIO. CEPATLAH! AKU MAU APELNYA," rengek anak itu. Aku tertawa lagi membayangkan itu benar-benar aku. Tapi terlihat dari rambut dan matanya memang mirip. Wajahnya juga sama persis seperti dalam foto yang diberikan nenek.


"YEOL. AKU MAU YANG UJUNG JUGA. KATAMU KAN LEBIH ENAK," aku memandang ke arah gadis berkuncir model 3 mini ponies.


"RASAIN!" cibir Dio sambil terus merangkak ke ujung. Yeol mendengus kesal.


"KENAPA HARUS AKU YANG AMBIL?"


"EH. PIHAK LAKI-LAKI KAN KALAH TADI. HARUS NURUT," tambah Anna kecil tak terima. Gadis kecil di sampingnya juga ikut memperhatikan Yeol yang merangkak. Ia berteriak. "HATI-HATI YEOL. JANGAN SAMPAI JATUH!"


"EH. KOK CUMAN YEOL. AKU MANA?" mataku kembali pada Dio. Begitu pula dengan diriku yang kecil.


"EH. DIO UDAH DAPET APELKU. TURUN YO. TURUN," aku kecil mendekati pohon sambil menggerak gerakkan tangan mengisyaratkan turun.


"BILANG DULU KAYAK YANG KAMU BILANG KE YEOL. AKU CEMBURU TAU," aku tertawa lagi. Cemburu? Ya... mungkin lelaki itu berusia 10 tahun dari pada aku dan Anna kecil yang masih tiga tahun dibawahnya. Tapi kan juga termasuk kecil.


"DIO YANG TAMMMMPAN SEKALI. HATI-HATI YA. JANGAN SAMPAI JATUH! AKU JUGA BAKAL SAKIT KALAU KAMU JATUH," lelaki di atas sana tersenyum senang. "SEKARANG TURUN!"


Ia mengangguk paham dan merangkak turun. Aku kecil meloncat-loncat senang.


BRUKKKK !!!


Kegirangan gadis kecil itu terhenti. Ia langsung berlari ke arah Dio yang sudah tengkurap karena salah melangkah tadi. Dia sih pakai gaya-gayaan mau merangkak di dahan sambil berdiri.


Kini Dio telah terduduk. Aku kasihan tapi tetap tertawa. Begitu pula dengan Anna. Aku kecil langsung berkaca-kaca sambil memandangi Dio. "Sakit ya? Sakit sekali? Aduh. Gimana? Aku panggilin pengawal buat bawa ke rumah sakit ya?"


Tampak jelas kalau dia sangat khawatir. Orang yang sedang mengalami hal seperti Dio jika diberi perhatian seperti itu pasti semua rasa sakit terasa hilang. Apalagi dengan orang yang disayang. Lihatlah! Lelaki itu kini malah tersenyum.


"Tidak. Sama sekali tidak sakit. Sungguh," sambil menghapus setetes air mata anak di hadapannya yang tiba-tiba lolos. Oh so sweet banget. Padahal mereka cuman bocah ingusan. Aku aja kalah.  "Nih. Apelnya. Jangan nangis lagi!"


Aku kecil mengambilnya dengan kasar lalu melempar ke sungai begitu kencang. "Apelnya tidak enak. Dia jahat," aku tertawa lagi dan lagi. Memang kelakuan anak kecil itu menggemaskan ya. Anna kecil dan Yeol yang baru turun juga ikut tertawa.


"Padahal dia yang minta tadi," bisik Yeol pada Anna. Aku yang mendengarnya kembali tertawa. Mataku kembali lagi pada dua bocah yang sekarang malah berpelukan. Kayak teletubbies aja.


Eh. Tapi kenapa aku mengkhawatirkan lelaki itu? Dio? Sepertinya aku tidak pernah mengenal sebuah nama bernama Dio dalam hidupku? Atau.... dia adalah ingatan yang belum kembali? Dio?


"Anna. Siapa Dio it.......tu," loh. Anna kemana? Kenapa tiba-tiba menghilang? Aku memandang sekitar namun ia benar-benar hilang. Lah. Bagaimana denganku sekarang? Aku ditinggal begitu saja?


"Aku bisa menjadi dirimu," suara itu. Bukankah itu suara..... aku berbalik. Ini... bukankah ini pohon apel yang tadi. Perasaan aku hanya berjalan lurus kenapa kembali pada tempat yang sama?


Eh. Tunggu dulu. Ini sedikit ganjil. Aku mendekati empat anak yang asik duduk di atas tikar yang sama. Dibawah pohon apel yang seolah-olah sudah menjadi hak milik mereka.


"Bagaimana bisa? Tunjukkan padaku," Anna kecil tak lagi berkuncir 3 mini ponies. Begitu pula dengan aku kecil. Rambut mereka terurai. Baju keempatnya juga berbeda. Mereka tak lagi berpakaian musim panas. Tubuh masing-masing terbalut busana musim gugur. Ya. Pohon-pohon ini juga beberapa bagian rontok. Berarti ini bukan suasana yang tadikan? Aku apa time travel lagi?


Aku kecil menyentuh tangan Anna. Ia terpejam. Semua memperhatikan secara seksama. Pandangan penasaran menghujaninya. Tak lama kemudian ia tersenyum-senyum. Membuat yang lain tambah penasaran.


Beberapa detik kemudian, aku kecil membuka mata. Ia melepas pagutan tangan pada Anna kecil. "Aku adalah Anna. Karena aku memiliki memory Anna," kini bukan hanya tiga anak itu. Akupun ikut mengerutkan kening.


"Oh ya? Bagaimana bisa?" tanya Dio penasaran.


"Kata ayah, aku bisa melihat bagian dalam manusia. Kalian tau tentang aku yang bisa mendengarkan suara hati? Itu salah satunya," ucap aku kecil bangga.


Sejenak aku berpikir. Benarkah? Ya. Memang aku memiliki pendengaran yang tinggi. Aku bisa mendengar sesuatu dengan jarak yang jauh. Tapi apa bisa juga mendengar suara hati yang frekuensinya sangat kecil?


"Wah. Kamu bisa bahaya ini. Harus dimusnahkan," ucap Yeol membuat aku kecil mendengus kesal.


"Eh. Kamu juga punya otak yang terlampau pintar. Kamu yang lebih dulu dimusnahkan. Aku jadi tak bisa ranking paralel gara-gara kamu,"


"Ya itukan deritamu,"


"Tidak. Sebaiknya aku membaca seluruh isi otakmu," aku kecil mulai berdiri. "Aku bisa langsung lulus tahun ini," aku kecil mendekat. Yeol juga sudah bangkit. Mereka akhirnya malah kejar-kejaran. Dio dan Anna kecil tertawa kencang.


Akibatnya karena Yeol memilih naik ke atas pohon. Ah. Dia tau saja jika aku tidak bisa memanjat. Mungkin berlaku juga untuk anak kecil itu. Alhasil aku kecil melempari benda apapun ke atas. Meminta lelaki itu untuk turun.


Dio bangkit. Kenapa? Karena barang-barang itu malah memantul dan salah satunya tepat mencium kening putihnya itu. Aku tertawa saat lelaki itu kesusahan memeluk aku kecil yang meronta-ronta. Dio berusaha menenangkan.


Sepertinya aku kecil benar-benar emosional. Sama seperti sekarang. Tiba-tiba aku teringat Min Ho dan Shi Ah yang pernah melarangku pergi untuk tamasya tanpa alasan. Aku memang mudah emosional.


Tunggu. Bukan ini tujuanku. Aku harus mencari Anna. Dimana dia? Apa aku akan terjebak disini? Itu baik jika aku bisa terlihat. Tapi ini sama saja.


Mataku tanpa sengaja memandang ke depan. Lelaki seumuranku sedang berdiri sendiri. Matanya sepertinya memperhatikan tempatku berada. Apa disini ada bahaya? Ah. Biarlah. Aku juga tidak akan digigit ular sekalipun tak menghindar.


Mataku beredar namun entah kenapa pikiran ini memaksaku untuk kembali padanya. Ya. Pada lelaki jangkung itu. Aku kembali menatapnya. Sepertinya ada yang aneh. Dia menggunakan.... pakaian musim panas? Sungguh?


Bukankah tempat yang aku pijak sekarang sedang musim gugur. Atau jangan-jangan......


Dia tersenyum. Untukku? Aku menoleh kebelakang. Lurus tempatku berada tak ada satu orangpun. Aku kembali padanya. Dia masih melihatku dengan pandangan yang sama.


Perlahan dia mendekat. Aku sama sekali tak bergerak. Entah itu menghindar atau ikut mendekat. Ia semakin dekat dan entah kenapa terlalu cepat untuk ia sampai berjarak hanya tiga meter dariku.


"Ugly. Ini aku, Dio,"


Apa? Dio?


...💕💕💕...


...***Hai Guys!!...


...Salam hangat dari aku, clara, sang penulis Arfa...


...Aku sama sekali tak pernah menyapa pembaca yaa...


...Bagaimana cerita ini***?...


...***Seru?? Kalau iya beri dukungan kalian yaa...


...Terimakasih telah bertahan sampai bab ini...


...salam hangat, from me***...