
"Mereka Fire. Dan aku, pimpinan Fire," Arfa menelan ludahnya perlahan.
Memang benar
"Apanya yang benar?"
Arfa langsung menoleh pada Eun Jae yang mengemudi. Bagaimana... lelaki itu... "Aku bukan ketua aslinya. Jangan terlalu takut!" ia mengalihkan topik. Sungguh lupa kalau tadi adalah suara batin Arfa. Memang susah membedakannya.
Tapi Arfa benar-benar teralih. "Berarti maksudnya.... eh. Bukankah itu akan membuatmu terjebak dalam bahaya selalu,"
"Aku terlalu kuat untuk sebuah bahaya,"
Ck. Arfa sangat tidak suka candaan Eun Jae yabg sekarang. "Kenapa harus berpura-pura menjadi ketua? Apa kau begitu setia pada ketua asli kalian? Kau bahkan hampir mati saat terakhir kali melawan Tiger. Ya kan?!!"
Eun Jae tertawa sekilas. Ia merasa hangat atas sikap perhatian Arfa. "Kau tau Tiger?"
"Jangan mengalihkan topik lagi, Eun Jae!"
yahh. Gagal. "Tenanglah Arfa. Aku akan baik-baik saja selama kau baik-baik saja. Sudah sampai. Ayo! Matahari akan terbit sebentar lagi,"
Perhatian Arfa langsung teralih ke luar mobil. Mereka berhenti di sisi sebuah parkiran. Yang benar saja. Mau dilihat darimana sunrise yang bagus kalau di parkiran? Ia mengikuti langkah Eun Jae sambil kebingungan.
"Eun Jae! Jawab aku!"
"Ayo! Kita perlu berjalan sejenak," lelaki itu menggapai tangan Arfa. Membawa gadis ini bersamanya menyusuri jalanan setapak yang menjorok ke bawah gedung tinggi. Bukan. Ini bukan menuju basemant. Ada jalan yang dihiasi oleh pepohonan bersama salju-saljunya.
Perjalanan mereka tak mulus. Beberapa kali Eun Jae harus menarik dan menuntun langkah Arfa agar tidak salah menginjak. Ya. Lapisan saljunya masih cukup tebal. Musim dingin baru berjalan setengahnya.
"Duduklah!" ucap Eun Jae sambil menepuk beton yang tak begitu kotor. Arfa menurut.
Mereka tiba di sebuah tempat dengan pemandangan perkotaan yang indah. Gedung-gedung tinggi di bawah sana nampak sangat kecil jika dilihat dari posisi Arfa sekarang.
Eun Jae duduk di sisinya. Mereka dinaungi pohon besar dengan bagian atas tertutup salju. Dibelakang mereka terdapat semak-semak belukar yang sangat tinggi. Mereka tidak mati meski menerima cuaca ekstrim seperti ini. Lebih kebelakang lagi, gedung 10 lantai berdiri kokoh. Sedangkan dihadapan mereka sudah berada tebing yang entah ujungnya kemana. Bahkan kaki Arfa kini hanya menginjak dengan perlahan area salju yang terlihat rapuh. Benar-benar terasa seperti bukan tanah.
"Apa kau sering ke sini?" tanyanya berusaha tak bergetar. Ia meyakinkan diri bahwa Eun Jae pasti akan melindunginya. Ia tidak akan jatuh dengan mengenaskan.
"Lumayan,"
Arfa menarik napas berulang kali. Menormalkan jantungnya yang mulai memacu hormon adrenal. Ini lebih mengerikan dari pada roller coaster
Sebuah telapak tangan mengggapai jemarinya. Arfa menoleh dan menatap ke arah Eun Jae. Lelaki itu telah memberi senyuman yang sangat manis. Membuat suasana sedikit melegakan. Arfa tak lagi bergetar.
"Jangan takut! Kau tidak akan jatuh,"
"Kalau jatuh?"
"Aku akan menangkapmu,"
"Ck," Arfa berpaling. Memutus kontak dari mata yang selalu memikatnya itu. "Ohya. Aku ingin bertanya,"
"Silahkan!" wanita itu kembali menatapnya. Arfa memang banyak tanya. Tapi Eun Jae suka itu. Asal bukan masalah yang tidak bisa mereka bicarakan. Demi keselamatan bersama.
"Kau... serba hitam itukan?," ia tak perlu menjawab karena Arfa sudah mempunyai asumsi yang sama. "Apa kau juga yang menyelamatkanku di rumah sakit? Lalu... saat di gedung lays? Benar itu kau kan?"
"Why? Kenapa kau melakukannya?"
"Alasannya masih sama. Karena aku mencintaimu," Eun Jae memandang ke depan. Jejeran perkotaan yang tak lama lagi akan tersinari cahaya matahari. Pembiasan dengan salju yang turun akan memperindah sinarnya.
"Kenapa kau mencintaiku?"
Lelaki itu tertawa kecil. "Apa itu butuh alasan?" Arfa berpaling. Entah kenapa jantungnya kembali berpacu cepat. Padahal ia tak lagi memikirkan daerah curam di bawahnya. Hanya tersisa Eun Jae di otaknya.
Keduanya sama-sama berfokus pada titik di depan sana. Mulai keluar cahaya dari ujung sana. Perlahan namun terlihat jelas-jelas indah. Memang spot yang bagus.
"Apa cintaku sepihak?"
"Hah?" Arfa langsung menoleh. Ia mendengar namun tak begitu yakin dengan pertanyaan yang diucapkan lelaki itu.
Eun Jae menatapnya dalam-dalam. Kembali. Mata memikat itu menghipnotisnya. Memberi belengu hingga tak dapat berpaling. "Izinkan aku membuktikannya!"
Arfa mengerutkan kening. Namun tak lama kemudian sebuah ciuman mendarat di bibirnya. Tak lama namun cukup untuk membuat semua energi terserap habis. Hampir saja ia terpeleset jika Eun Jae tidak meraih pinggangnya.
"I Love You," ujar Eun Jae berbisik. Wajah mereka masih sangat dekat meski tak lagi berciuman.
Tak ada jawaban dari sang empu. Pipinya sudah merona tanpa meminta izin. Jantungnya mencuat dengan cepat. Bahkan detakannya sangat terasa oleh Eun Jae. "Tidak ada jawab-,"
CUP
"Too," sahutnya malu-malu. Membuat Eun Jae terkekeh geli.
"Apanya yang juga?"
Arfa berpaling. Pipinya sudah menjadi kepiting rebus sekarang. Merah. "Hey. Kita kehilangan sunrisenya,"
Eun Jae mengikuti arah pandang Arfa. Ya. Seperti ucapannya. Mereka tertinggal apa tujuan awal kemari. Keduanya langsung tertawa saat menyadari apa penyebabnya.
DRRRTTTTT DRRRRTT
Arfa meraih handphone di saku mantelnya. Ada panggilan tanpa subjek masuk. Eun Jae sempat melihat nomor asing itu. Ia langsing mengerutkan kening. "Seperti nomor....,"
"Nomor siapa?" Arfa menoleh padanya. Jarak mereka masih terlalu dekat. Segera saja lelaki itu sedikit menjauh.
Gadis itu berdeham pelan setelahnya.
"Entah. Mungkin dugaanku salah. Jawab saja,"
Gadisnya menurut. Menggeser ikon telepon hijau lalu mendekatkan handphone ke telinganya.
"Yeoboseo?"
Arfa. Ini kakak,
...💕💕💕...