You, Me, And My Secret Life

You, Me, And My Secret Life
24. Sleep



Kram. Itulah yang dirasakan Arfa sekarang. Dia..... keringat dingin mulai mengalir di balik rambutnya yang tergerai. Menyebrangi leher indahnya. Apa yang ia maksud? Cukup sudah membuat Arfa olahraga pagi ini.


Aku bagian darinya? Arfa langsung merutuki diri karena mengucapkannya dalam hati. Bukan berarti ia berencana mengungkapkan dengan lisan tapi..... sepertinya lelaki ini sungguh bisa membaca pikirannya. Bagaimana jika itu terjadi? Bukankah Arfa akan terlihat tolol karena memikirkan sebuah kalimat : Karena kau adalah bagian dari diriku.


Ah. Ya Tuhan. Sungguh Arfa tidak bisa berpaling dari kata-kata itu. Apa ini bisa disebut gombalan? Tapi lihatlah wajah Eun Jae sekarang. Tak ada yang berubah dan tampak biasa saja dengan keseriusan standar. Lalu apa ia benar-benar serius? Cius? Mi apa?


Kalau begitu, makna dari kalimat tadi apa? Bisakah dijelaskan. Arfa bagian dari Eun Jae. Secara kelihatannya mereka punya tubuh yang berbeda. Mereka punya pemikiran berbeda. Semua sepertinya berbeda. Milik Arfa milik Arfa. Milik Eun Jae milik Eun Jae. Lalu maknanya apa?


"Ayo makan!" Arfa mengerjap. Memandang lelaki yang masih stay di hadapannya. Ia berhasil membuat Arfa berhenti berpikir dalam lamunan. "Apa kakimu juga terluka? Mau ku gendong?"


Arfa langsung menggeleng cepat. Sindirannya cukup ampuh membuat Arfa turun dari pantry saat tubuh Eun Jae mundur selangkah.


Lelaki ini pergi lagi saat Arfa mulai menuju meja makan. Lalu tak lama kembali dengan peralatan medis yang sudah menghilang. Sepertinya ia langsung meletakkannya di tempat semula.


Mereka makan dalam diam. Entah menjunjung tinggi etika atau hanya saling canggung seperti semula. Rasanya sunyi sepi tak berwarna. Hanya ada dentingan sendok garpu yang bertabrakan dengan piring kaca.


Cukup lama waktu berjalan hingga mereka sama-sama meneguk air putih secara bersamaan.


"Minum obatmu," ujarnya sambil menunjuk plastik di nampan bubur dengan dagunya. Ia sudah bersusah payah mengumpulkan keberanian dan mempersiapkan kata-kata saat ia mengunyah makanan tadi.


"Ini obat dari siapa?" tangan Eun Jae kini telah menggenggam bungkusan berisi obat-obatan yang tadi pagi diantar oleh Chun Seung.


"Resep Dr. Zahra,"


Lelaki ini banya manggut-manggut paham. Mengeluarkan obat berbentuk pil dalam botol itu dari tempatnya. Hanya ada satu jenis dan tanpa berpikir panjang ia menelannya bersama seteguk air. Arfa sedikit heran karena seingatnya ada dua resep dalam kertas itu


"Kau bangun pagi sekali," ucap Eun Jae memulai pembicaraan.


"Bangun? Apa kau kira aku bisa bangun? Kita sampai sini jam setengah empat," Eun Jae menoleh ke arah jam di dinding pada bagian atas pembatas ruang tengah. Kini jam 7 pagi.


"Tidurlah! Kau harus istirahat. Banyak kamar di sini. Pilih saja sendiri!,"


Arfa mengangguk. "Aku pun sudah mulai mengantuk," ia berdiri setelah merapikan meja makan. Ditangannya ada tumpukan piring kotor beserta gelasnya.


"Biarkan saja! Ada ART yang akan datang," Arfa mengernyit bingung namun akhirnya dapat memahami maksud Eun Jae saat seorang wanita paruh baya terlihat menghampiri.


"Oh. Ahjumma? Kau sudah datang?" ujar Eun Jae saat mengikuti arah pandang Arfa. Ia berdiri dan terlihat sopan pada wanita tua itu seolah-olah tak ada status majikan dan pembantu. Hanya remaja dan orang yang lebih tua.


"Maaf tuan muda. Saya tadi lupa pergi ke pasar. Tapi saya akan segera....,"


"Tidak perlu. Saya sudah makan,"


"Oh...," ahjumma itu mengangguk-angguk paham. Lalu pandangannya beralih pada Arfa yang langsung memberinya senyuman. Ia pun membalas dengan yang tak kalah lembut.


"Dia Arfa. Temanku," pandangan ahjumma itu beralih sebentar pada sang majikan tapi langsung kembali pada Arfa tak lebih dari sepuluh detik. Ia tersenyum hangat lalu menunduk.


"Saya ART disini. Panggil saja Han Byul ahjumma,"


Arfa mengangguk. Lalu matanya beralih pada Eun Jae yang siap melangkah menuju kamarnya lagi. Ada yang aneh dengan cara jalannya.


Ia mendekat dan ART itu hanya memperhatikan sampai tiba-tiba tubuh Eun Jae jatuh tersungkur. Arfa yang masih belum sampai di dekatnya langsung berlari mendekat. Begitu pula dengan pembantunya yang tergopoh-gopoh mendekat.


"Ahjumma.... bantu saya membawa Eun Jae ke kamarnya,"


Tanpa berkata-kata lagi, keduanya menuntun badan lelaki ini menuju kamarnya. Untung saja dia pingsan tak jauh dari pintu. Tapi lebih untung jika dia tak pingsan.


Arfa menggapai handphone di nakas. Tangannya berusaha menelepon nomor Dr. Zahra tapi sama sekali tak ada sambungan. Kini Eun Jae telah berbaring di ranjangnya tak sadarkan diri. Ada ahjumma yang berdiri di sisi Arfa sedangkan gadis ini stay duduk di pinggiran kasur sambil mengotak-atik handphone Eun Jae.


Sejak lelaki ini tiba-tiba pingsan sungguh membuatnya khawatir. Apa ada yang salah? Atau jangan-jangan makanannya beracun? Tidak mungkin. Arfa sekarang biasa saja. Tapi, kenapa?


"Nona, ada telepon," ucap ahjumma membuatnya tersadar dari lamunan. Ia memandang pembantu itu sejenak lalu beralih pada handphone di tangan.


Ada panggilan masuk tapi bukan dari seseorang yang dinantinya. Bukan Dr. Zahra. Melainkan Chun Seung. Meski begitu, ia mengangkatnya karena mungkin saja lelaki itu bisa ia pinta untuk menjemput Dr. Zahra.


"Fa. Eun Jae sudah minum obat? Belum, kan,"


"Sudah. Dia sudah minum," ada decakan dari sambungan sana tapi tak begitu mengalihkan perhatian Arfa. "Chun Seung, bisakah kau jemput Dr. Zahra? Eun Jae sekarang tidak sadarkan diri,"


Ada helaan napas berat di sana. "Obat tidurku tertukar dengannya. Bungkusan obat milik Eun Jae ada padaku,"


"Maafkan aku. Tadi aku salah memberikan bungkusan. Jangan khawatir! Nanti jika reaksi obatnya hilang, dia akan bangun,"


Kini Arfa yang menghela napas berat. "Baiklah. Terimakasih karena sudah memberi tau. Lain kali lebih teliti,"


Ada tawa kecil di sana yang menjawab. "Oke," keduanya sama-sama mematikan sambungan.


"Ada apa nona?," tanya ahjumma yang sedari tadi memperhatikan gerak-gerik Arfa. Helaan napas berat, keterkejutan, dan semuanya.


"Tidak ada apa-apa. Ahjumma bisa kembali bekerja. Biar aku yang menjaga Eun Jae,"


Wanita paruh baya itu mengangguk paham lalu pamit undur diri. Kini hanya tersisa dirinya dan Eun Jae yang terlelap.


.


.


Arfa memperhatikan sekeliling. Nuansa kamar yang elegan dan rapi. Ya. Sungguh rapi jika dibandingkan dengan kamar para pria kebanyakan. Atau sepertinya dapat dikatakan rapi dalam standar umum. Kamarnya saja kalah.


Matanya terpaku pada sebuah figura kecil di atas meja belajar. Ia berdiri dan mendekat lalu mengambil bingkai biru tua itu. Ada sebuah foto seorang anak lelaki imut di sana dan sepertinya Arfa pernah melihatnya. Tapi..... dimana ? Lagi-lagi merasa dejavu.


Ia kembali mengedarkan pandangan. Memperhatikan sekitar. Buku-buku, lemari, ada meja rias juga. Ia menghampiri furnitur ini. Meja di sana tidak seramai milik Arfa. Itu pasti.


Ia menguap. Ngantuk mulai mengendalikan tubuhnya. Langkahnya perlahan kembali ke sisi Eun Jae. Lelaki ini begitu berani menyelamatkannya kemarin.


Mengingat Joon Yeong lagi membuatnya tersambung pada sang penyemangat dulu. Ia masih ingat kata-kata Joon Yeong jika ia mulai menyukai Arfa saat dirinya terkurung di gudang waktu itu. Berarti, bukan Joon Yeong pengirimnya. Disurat itu jelas-jelas sang pengirim mencintainya sejak lama. Tapi, siapa?


Arfa kembali melayangkan pertanyannya pada Eun Jae. Atau jangan-jangan lelaki ini? Tapi apa mungkin? Emm... bisa jadi juga. Dia bilang Arfa adalah bagian darinya. Dia menyelamatkannya. Dia berkorban demi Arfa.


Gadis ini kembali teringat kata-kata Joon Yeong. Ia mengatakan bahwa cemburu ada lelaki lain yang menyukainya. Dan kata-kata itu tertuju pada si serba hitam. Apa Eun Jae menyukainya?


Tapi, apa mungkin? Sejak kapan? Mereka bahkan lebih banyak bertengkar ketimbang memperhatikan isi hati. Sepertinya Arfa harus memperhatikan semboyan 'benci dan cinta beda tipis'


***


Tubuhnya menggeliat. Mungkin lelah karena terlalu lama tidur. Lihatlah diluar sana yang tak pernah tersinari matahari akibat semakin dekatnya musim dingin. Bukan berarti tak ada matahari sama sekali. Ini hanya majas hiperbol.


Perlahan ia membuka mata. Hal pertama yang ia lihat adalah nuansa kamarnya sendiri. Ia memejam lagi lalu tak butuh semenit ia kembali membuka kelopaknya.


Saat akan bangun dari tidur, sesuatu membuat ia tak dapat bergerak. Eun Jae menoleh dan mendapati seseorang tengah berbaring nyenyak dengan lengannya sebagai bantal. Lelaki ini batal bangun dan lebih memilih memiringkan posisinya.


Cukup lama ia menikmati pemandangan ini. "Aku menyuruhmu memilih kamar dan kau memilih kamarku?" tanyanya yang lebih seperti ditujukan pada diri sendiri..


TOK TOK TOK


Pintu diketuk perlahan. Tentu saja Eun Jae kesal dengan siapa orang yang berani mengganggunya. Tapi, dia tak semudah itu marah pada orang. Dia termasuk laki-laki lembut.


"Tuan muda?" suara ahjumma menggema masuk ke dalam kamar. Memaksa tubuh Eun Jae untuk bangkit dari kenikmatan dunia, memandangi bidadari. Begitu pendapatnya.


Ia mengganti lengannya dengan bantal sungguhan. Lalu perlahan bergerak untuk turun dari kasur. Tak ingin mengganggu kucing yang sedang tidur. Hehehe.


"Tuan muda. Ada telpon," ucap ahjumma saat Eun Jae membuka pintu. Ia langsung melangkah ke arah telepon rumah sambil bertanya siapa yang menelepon.


"Tuan besar," langkah Eun Jae terhenti sejenak namun tak lama kemudian ia kembali berjalan. Menghampiri telepon rumah lalu mengambil gagangnya.


Hanya beberapa menit yang ia habiskan untuk bicara di telepon. Setelahnya Eun Jae bergegas kembali ke kamar. Mengambil mantel hangatnya, handphone, dan langsung melenggang pergi.


Namun, saat ia telah menarik pintu agar tertutup lagi, Eun Jae terhenti. Ia terdiam sejenak lalu kembali masuk ke rumah menuju ke dalam kamar.


Beberapa menit ia habiskan dengan duduk di sisi ranjang. Menatap Arfa yang masih terlelap. Haruskah ia mengajaknya? Ia khawatir jika meninggalkannya sendiri. Tapi, rasa-rasanya tak tega membangunkan wanita yang tengah tertidur lelap itu.


Eun Jae menarik selimut. Menutupi tubuh gadis cantik itu. Sepersekian detik kemudian ia telah keluar dari kamarnya. Menghampiri ahjumma dan berpesan agar menjaga temannya itu. Jangan sampai membiarkannya keluar hingga Eun Jae kembali.


Setelahnya, lelaki ini menghilang di balik pintu.


...💕💕💕...