You, Me, And My Secret Life

You, Me, And My Secret Life
31. Kebohongan Maut



Sepasang sepatu hitam baru saja masuk ke dalam supermarket. Ia menyapa sebentar seorang lelaki muda sang penjaga kasir. Langkahnya menuntun ia menuju keranjang lalu mulai mengambil apa yang ia butuhkan. Mulai dari dosirak yang ia impi-impikan hingga banana milk yang sudah sangat terkenal di Korea Selatan. Ia berdiri tegak sambil memperhatikan lagi rak di depannya.


Tak menemukan apapun akhirnya lelaki kecil ini mulai membawa keranjang dengan susah payah ke kasir. Ia mengangkat ke meja kasir dengan bantuan pria muda itu. "Apa lagi yang kau butuhkan?"


Seseorang tiba-tiba masuk tapi mereka sama sekali tak menggubris. Ia memakai rok pendek selutut warna pink yang senada dengan jaket tebalnya. Lalu sweater putih disertai dengan kaos kaki panjang berwarna sama. Ia memakai sepatu pink juga.


"Udang kering. Apa ada?"


"Ada. Tepat sekali. Sisa satu," jawab sang pramuniaga itu sambil meletakkan semangkuk tertutup berisi udang kering. Kalau yang ini memang khas buatan dari supermarket tertentu.


Tiba-tiba gadis kecil yang baru datang tadi menyambarnya begitu saja. Spontan anak laki-laki di sampingnya kaget dan langsung menoleh marah.


"Berapa?" tanya gadis cilik itu to the point


"Hey. Itu punyaku,"


"Aku yang mengambilnya dulu. Jadi, ini punyaku," sambil memandang tak kalah tajam ke arah musuh di sampingnya.


"Aku yang memesannya. Jadi aku yang punya,"


"Tidak ada hukum seperti itu. Siapa cepat dia yang dapat. Ahjussi berapa ini?" ia langsung mengalihkan pandangan ke arah kasir yang sedari tadi hanya menikmati pertengkaran anak-anak ini.


"Aku tidak setua itu untuk kau panggil ahjussi,"


"Kembalikan!" teriak Cheon Gi, lelaki kecil itu sambil merebut mangkuk styrofoam tersebut. Namun ditahan oleh gadis seusianya.


"Tidak. Ini punyaku,"


"Punyaku,"


"Aku yang mengambilnya,"


"Aku yang memesannya,"


"Sudah sudah," lerai sang penjaga kasir jenuh sambil merebut benda berisi udang kering tersebut. Keluhan atas panggilan ahjussi tadi benar-benar diabaikan. "Kalian bodoh sekali. Bertengkar hanya demi benda ini,"


"Kau takkan mengerti betapa berharganya benda itu bagiku," ujar gadis tersebut. "Aku ingin membeli benda tersebut untuk Eonni ku. Dia sangat menyukai udang. Dia telah mengalami hal buruk baru-baru ini,"


"Aku juga ingin memberikannya untuk nunaku. Nuna baru saja tertusuk kaca kakinya," tambah Cheon Gi tak ingin mengalah.


"Itu tidak seberapa. Eonni ku diculik dan ditawan,"


"Nunaku juga begitu,"


"Sudah sudah. Hentikan!" lerai sang pegawai sekali lagi. "Kembalilah ke rumah dan minta kakak-kakak kalian membeli yang lain,"


"Tidak. Ini sangat penting bagi Eonni. Aku tidak bisa menukarnya,"


"Aku juga tidak bisa," dua sejoli itu langsung saling lirik tajam.


Pegawai lelaki ini menghela napas kesal. Lalu menarik lengan baju Cheon Gi mendekat. Ia membisikkan sesuatu pada telinga lelaki kecil itu.


"Apa yang kalian bicarakan?" tanya sang gadis cilik ketus.


"Ini rahasia antar pria," balas Cheon Gi lalu tertawa kecil. Ia mengangguk setuju pada pramuniaga supermarket ini. Entah apa yang mereka bicarakan.


"Kau," sambil menunjuk gadis bermarga Jang itu. "Ikutlah anak ini ke rumahnya. Hanya di depan sini. Buat kakaknya menerima tawaran untuk memesan makanan lain,"


"Emm.... baiklah. Demi Eonniku,"


***


Gedung Lays bertingkat 10 yang terlihat masih bagus namun tak dimanfaatkan sejak setahun lebih, kini telah berada di hadapan seorang gadis dengan celana hitamnya dan sweater ungu. Terbalut jaket tebal berbulu serta geraian rambut hitam keriting gantung miliknya.


Ia menarik napas dalam-dalam kemudian menghembuskannya dengan perlahan melalui mulutnya sebelum ia melangkah keluar dari taksi dan memasuki gedung bertingkat tersebut. Jantungnya berpompa dengan cepat hingga membuat ia berkeringat dingin di tengah-tengah salju.


Langkahnya pelan gemetaran namun pasti. Semakin mendekat langkahnya semakin kuat dan cepat. Tangannya tangkas mendorong pintu yang sedikit tak terawat itu. Ini dulunya adalah gedung perusahaan besar namun akibat kebangkrutan menjadikannya terbengkalai. Meski begitu, sesuai informasi, gedung ini masih dipakai sebagai penyimpanan bahan bakar.


Gadis yang tak lain adalah Arfa ini, langsung menuju ke arah lift. Akses ini pastinya masih digunakan dengan baik oleh para penyimpan bahan kimia itu. Namun sudah banyak kali ia menekan tombolnya, lift tetap tak terbuka. Ganti dengan lift yang lain namun tetap saja tak ada hasil.


Pandangannya beredar. Satu-satunya jalan menuju rooftop adalah tangga darurat. Jika hanya 10 lantai mungkin ia masih mampu. Mungkin.


Dapat. Ia menemukan pintu menuju tangga darurat. Untung saja tak terkunci. Ia memandang sejenak ke arah deretan beton di atasnya. Menarik napas dalam-dalam sambil menyemangati diri.


Tak lama setelah itu, ia mulai menaiki anak tangga untuk menuju atap. Benar-benar pengorbanan yang sangat besar darinya untuk adik yang sangat ia cintai. Meski ia seorang wanita, namun jangan diremehkan tentang kekuatannya.


Dari yang dilihat, memang ia adalah seorang wanita lugu dan lemah lembut. Namun didalamnya telah tumbuh jiwa lelaki karena ekskul pencak silat 6 tahun di sekolah dasar. Meski tak seperti dulu, tapi ia tak dapat diremehkan.


Butuh waktu yang lama untuk sampai atas, meski akhirnya ia berhasil. Keringat mulai mengucur dari tubuh Arfa. Napasnya memburu saat tangan kanan itu mulai menggenggam gagang pintu.


PLAK PLAK


PLAK


Terdengar suara tangan seseorang sedang bertepuk dari arah belakang Arfa. Secara spontan, ia menoleh. Terlihat seorang wanita cantik dengan mata yang mirip dengan Arfa. Mengenakan dress panjang merah semata kaki dengan belahan hingga lutut. Terlihat kurang kontras dengan cuaca saat ini. Cuaca bersalju dengan pakaian tanpa lengan seperti itu membuat Arfa mengernyit heran.


"Hebat. Tak kusangka kamu mampu naik hingga sampai disini," ujarnya dengan aksen indonya.


"Who are you?" tanya Arfa to the point


"Siapa aku? Apa kamu tidak mengenaliku? Wanita di aula gedung kepala blackfire," Arfa mengernyit. "Seharusnya aku berhasil membunuhmu waktu itu. Tepat sebelum umur 17 tahun. Agar tidak ada ingatan-ingatan Vero yang menghampirimu,"


"Siapa sebenarnya kau?!"


Wanita itu tertawa renyah. "Akhh. Aku lupa. Lelaki penyelamatmu itu menghapus ingatanmu dengan sangat bagus. Begini saja," wanita itu mengambil sesuatu dari belakang tubuhnya. Entah tersimpan dimana ia berhasil mengeluarkan sebuah voice recorder mini dari balik tubuhnya.


Ia menekan tombol play dan terputarlah suara Cheon Gi yang tadi memanggil nama Eonni di telepon. Apa ini artinya...... Arfa ditipu? Apa ia dijebak?


Kini Arfa masih terpaku. Jadi, wanita ini orangnya? Tapi kenapa ia merasa tidak asing? "Kamu mengenalku gadis. Sangat mengenalku tapi kamu belum mengingatnya. Ini suara asli Cheon Gi. Aku... yang menculiknya dua tahun lalu "


"Si-si-siapa ka-kamu?," aksen indonya telah bercampur aksen seoul sambil bergetar. Menambah buruk sastra negara.


"Aku akan memperkenalkan diri. Namaku Grace. Kurasa kamu tau itu," Arfa kaget. Ia tau. Itu nama yang tertulis pada surat peninggalan dari orang tuanya. Wanita dihadapannya sedang tersenyum smirk. "Aku saudara kembarmu. Yang ini aku yakin kamu belum tau,"


Apa katanya? Saudara kembar? Bagaimana bisa? Ya. Mungkin wanita ini terlihat muda tapi apa mungkin Arfa memiliki saudara kembar? Nenek bahkan kakaknya tidak pernah cerita apalagi surat-surat wasiat yang muncul setiap ulang tahunnya itu.


Wanita yang mengaku Grace ini membawa tangan kanannya yang memegang alat perekam tadi kebalik badan. Saat tangannya muncul kembali, ada sebuah pistol hitam yang ia pegang.


"Kamu mengingat ini?" ia mengangkat senjata berbahan peluru itu. "Aku menembakannya 2 kali padamu. Sembilan kematianmu yang lain menggunakan pedang. Apa kamu ingat Arfa?


"Tapi kali ini akan seru. Aku akan menonton drama live," Arfa masih tak angkat bicara. Ia benar-benar tak paham dengan bahasa sang penipu ini. "Fuh," wanita di depannya terlihat jengkel. "Lihat! Lihatlah bagian bawah kakimu!"


Arfa meski bingung secara reflek menggerakkan kepala menunduk. Kakinya kini terlihat mengabur akibat asap. Asap yang keluar dari bawah pintu. Bau hangus membungkus penciumannya. Ia mulai panik.


"Tak lama lagi, apiku akan menghancurkan gedung tua ini. Bersama denganmu," Arfa berbalik. Kembali berusaha membuka pintu rooftop. "Hey. Usahamu sia-sia," ia menoleh pada sang wanita yang kini memegang segantung kunci. "Kau ingin keluar? Tapi sepertinya...... semua pintu telah kukunci," kemudian ia menjatuhkan semua kunci itu kelantai dasar begitu saja.


Arfa melotot kaget. Sungguh. Apa semua ini? Lagi-lagi kepalanya berdenyut sakit. "Selamat tinggal Arfa 12. Akan selalu kunantikan Arfa 13 lahir," ucapan terakhir wanita itu sebelum menghilang entah kemana tak begitu Arfa hiraukan. Ingatan beruntun sedang menghantam kepalanya.


Asap semakin banyak. Membuat Arfa tersadar sesuatu. Ia harus keluar. Ia harus berusaha. Secepat kilat ia menuruni anak tangga. Ia bisa naik dengan cepat pasti juga bisa turun lebih cepat sebelum semua meledak. Ya. Ini gedung tempat penyimpanan bahan bakar ilegal. Itulah yang ia tau dari membajak informasi saat perjalanan tadi.


Namun baru sampai 3 lantai, ia keseleo dan jatuh menggulung debu hingga berhenti ditikungan tangga. Permukaan yang kotor dan banyak serpihan kasar serta kondisi tangga yang tak rata membuat tubuh Arfa lumpuh. Kepalanya yang membentur cukup keras di setiap anak tangganya membuat darah menggenang samar-samar akibat asap.


Arfa tetap berusaha bangun. Ia paham sekarang. Siapa wanita itu. Dan dirinya bagaimanapun caranya harus bisa selamat dari sini. Wanita itu adalah orang yg selalu dibahas dalam surat wasiat dari orang tuanya. Wanita yang harus ia hindari dimanapun dan kapanpun.


Berulang kali ia berusaha bangkit tapi usahanya bernilai nol. Tak ada perubahan sama sekali. Kali ini Arfa hanya bisa pasrah. Harapannya ia tak sedang berada di lantai 7 tepat dimana tempat penyimpanan bahan bakar ilegal berada.


Kilasan kehidupan menghampirinya. Bercampur dengan aktivitas kehidupan Arfa yang lain. Apa mungkin ini akhir hidupnya? Apakah karma akibat tak patuhnya ia pada nasehat orang tuanya dicurahkan Tuhan pada hari ini? Siapa yang sadar Arfa tak dirumah?


Flashback


Arfa yang berusia 7 tahun, sedang membaca surat dari orang taunya. Ya. Surat ini diamanatkan untuk Arfa saat ia berulang tahun ke 7 pada nenek kakeknya.


Halo, putriku....


Selamat ulang tahun ya....


Kamu membaca surat ini ? Berarti bunda dan ayah minta maaf tidak bisa menemani ulang tahunmu yang ke 7


Dimana bunda dan ayah berada sekarang kamu tidak perlu merasa sedih. Bunda dan ayah sangat senang memiliki putri sepertimu.


Jika kamu berumur 17 tahun nanti, ingatlah anakku. Berhati-hatilah pada seorang wanita dengan mata yang sangat mirip denganmu. Dia memiliki suara dari seorang wanita yang sedikit serak. Seperti penyanyi rock yang kau tau. Dan....


Belum saja Arfa selesai membaca, ia langsung menghentikannya. Arfa kecil ini malah meletakkannya di laci belajar. Bosan dengan surat yang sama. Saat masih kecil mungkin ia tak mengerti dan membacanya dengan senang hati tapi kali ini tidak lagi.


Flashback end


.


.


Mata Arfa mulai menutup. Detak jantungnya melemah dan napasnya mulai hilang. Tapi, tetap tak ada yang datang menolongnya. Arfa berpikir, mustahil ada yang menolongnya. Siapa yang mengira dia berada di gedung besar tak terpakai ini? Siapa yang tau dia pergi berpuluh-puluh kilometer dari rumahnya? Dia tak meninggalkan jejak sama sekali karena terlalu takut tadi.


Mungkin memang ini akhir hidupnya. Tanpa jejak dan penuh misteri.


...💕💕💕...