
Zahra mampir lagi ke ruangan Arfa setelah selesai urusannya dengan Eun Jae. Ruangan itu kini sepi. Nampaknya semua sudah pulang sejak lama. Pasiennya kini malah sibuk mengupas jeruk telaten. Buah yang dibawa keluarga Jang tadi.
Keluarga Jang? Zahra meringis sendiri mengingat nyonya besarnya.
"Kak Zahra? Kenapa berdiri disana? Masuk. Aku punya buah pisang,"
Zahra terkekeh sambil beranjak mendekat. "Kau kira aku monyet?"
"Mirip,"
Zahra berlagak akan menjitak, tapi ditahan. Saat Arfa menyodorkan jeruk yang telah ia kupas, Dokter itu menolak. "Bagaimana? Ada keluhan?"
"Eonni, kau dokter bedah. Bukan yang menanganiku. Kenapa sangat sering berkunjung? Kau jatuh cinta yaa?"
Zahra tersenyum kesal. Membenarkan kalimat Eun Jae, apa anak ini benar-benar sakit? "Aku datang bukan sebagai dokter. Sebagai pengunjung,"
"Maaf, nyonya. Jam berkunjung telah habis," ujarnya meniru suster yang tadi menegur teman-temannnya.
"Maaf, nona. Koneksiku tinggi,"
Arfa malah terkekeh. "Kembali saja bekerja. Jangan kesini kalau bukan jam istirahat. Aku tidak ingin pasienmu datang lagi kesini dan mempermalukanku,"
Kali ini Zahra langsung tertawa. Ia mengambil duduk di pinggiran ranjang pasien. "Aku yang dipermalukan olehmu ,Arfa. Bisa-bisanya kau—"
"Diam kak!"
"Whee?? Aku tidak tau kalian sedekat itu? Apa kau menyuukainya?"
"Impossible,"
"Uhh... Yang lagi jatuh cinta.. Aku juga dengerloh masalah pemotretan tadi. Apa dia alasanmu putus dari Min Ho?"
"Hentikan fantasi gilamu!!"
Zahra sudah tertawa puas melihat wajah jengkel adik temannya itu. Ya. Angel adalah partner sekolahnya dari sd, bisa dibilang sahabat yang klop banget.
"Kalau begitu kau masih belum Move dari Min Ho?"
"Zahra Eonni?!! Kembali bekerja sana!"
"Uh. Kau mengusirku?" wanita itu menyingkir saat Arfa melayangkan pukulan berulang kali.
"Aku tidak mau kau jatuh miskin dan tidak memberi aku hadiah ulang tahun yang mahal. Jadi bekerjalah dengan rajin!"
"ohh. Apa kau marah ulang tahunmu terlewat karena koma??"
"EONNI!!"
"Iya iya. Aku pergi. Jaga diri baik-baik!"
Zahra mengacak rambut Arfa kencang lalu kabur dengan cepat. Pasien ini hanya menhela napas kesal. Ini baru teman kakaknya Zahra. Kalau sudah digabung dengan kakaknya, Angel, mungkin Arfa minta mati saja sekarang.
Gadis itu memilih meraih handphonenya dan langsung girang mendapati pesan neneknya yang katanya sudah mengirim kusing kesayangannya dengan aman. Berkata juga kalau prosedurnya sangat susah. Sepertinya oma kesayangannya itu tidak tau apa yang terjadi pada Arfa. Tapi syukurlah
Sedangkan Zahra baru saja mencapai pintu lift. Setelah menekan tombol, ia menunggu lift sambil berkutat dengan handphonenya. Itulah yang dilakukan banyak orang. Real?
Pintu lift terbuka. Dan Zahra mengalihkan pandangan dari handphone. Berpapasan dengan seorang pasien dengan tiang infusnya yang keluar dari sana. Mereka saling memberi senyuman manis. Mata wanita di depannya benar-benar indah. Membuatnya terpikat.
Dokter cantik itu menekan tombol lantai 6. Tempat dimana ruang kerjanya berada. Ia kembali sibuk dengan handphone. Namun, tiba-tiba gerakan tangan yang menggulir halaman komik terhenti. Pikirannya tersentak pada wanita tadi.
"Dia ...— Arfa!!" Kali ini wajahnya di penuhi rasa khawatir pada adik sahabatnya itu. Ditekan-tekannya berulang-ulang tombol berangka 4. Dimana Arfa berada.
Sepertinya situasi sedang menjebaknya. Kali ini lift berhenti dan lampu mati. Disusul suara sirine kebakaran yang melengking nyaring. Ia semakin gelisah. Bukan karena ia yang terjebak di dalam lift. Hal itu akan diselesaikan pihak teknisi paling lama 15 menit. Tapi, khawatirnya ditujukan pada Arfa.
Bodoh. Padahal baru saja ia mendengar perintah tunangan sahabatnya yang meminta menjaga Arfa dengan baik setelah ia mengabarkan bahwa adik iparnya itu siuman. Ceroboh sekali aku bagaimana ini?
***
Chun Seung yang tadi ikut mengantar Eun Jae ke rumah sakit kini terlihat mengotak-atik radio mobil. Ia tadi ikut karena dirinya bosan seusai presentasi contest mereka. Ya. Contest dimana esaay kemarin yang dihancurkan Arfa. Ia gabut, karena Yeol tiba-tiba menghilang. Jadi ia mengikuti sohib satunya yang memiliki jadwal cek kontrol.
"Jangan putar aneh-aneh!"
"Aneh seperti apa? *******?"
"**** you," desis Eun Jae pelan.
Tiba-tiba saja earphone ditelinga kiri Eun Jae memberikan informasi bahwa sebuah panggilan sedang masuk ke nomor teleponnya. Ia menekan 'terima' tepat saat Chun Seung angkat bicara padanya.
"Ada apa?" tanyanya pada sang penelepon. Seingatnya, kali ini obat dari Dr. Zahra tidak tertinggal. Kenapa ia menelepon?
" Jam segini jalan yang satunya macet," jawab Chun Seung santai.
"Hah?!"
"Kenapa kau begitu terkejut?"
"Aku putar balik," Chun Seung menatap pria itu aneh. Saat menemukan celah, Eun Jae benar-benar memutar balik mobilnya.
"Apa kau punya jalan lain?"
"Iya. Tentu saja," Zahra memohon pada Eun Jae untuk menolong adik sahabatnya itu. Atau bisa dibilang, hubungan mereka lebih dari itu. "Aku akan ngebut. Semenit lagi sampai,"
"Hah! Santai saja Eun Jae,"
"Baiklah," jawabnya saat Zahra meminta untuk tidak mematikan sambungan.
Sedangkan Chun Seung dibuat bingung. Eun Jae sama sekali tak menurut. Kecepatannya bertambah. Ia tau jika ini mobil sport, tapi bukan berarti Eun Jae bisa mengendarainya di jalan seperti ini dengan kecepatan 300 km/jam.
Dan lelaki ini bertambah bingung lagi saat mobil berhenti tepat di depan gedung Rumah Sakit Kota Seoul. Ia akan bertanya namun Eun Jae telah keluar terlebih dahulu setelah sebelumnya mengambil topi hitam di dashboard mobil.
"Lewat tangga! Lift sedang mati sekarang," suara yang keluar dari earphone Eun Jae terdengar jelas. Ia menuruti perintah.
"Bagaimana denganmu?" tanyanya tanpa menurunkan kecepatan melompati tangga sekaligus 3 sampai 4 anak tangga.
"Aku baik-baik saja. Pihak teknisi berusaha membuka liftnya. Eun Jae sepertinya singalku.....,"
Tut.... tut....tut...
Eun Jae berhenti melangkah. Mengecek kembali earphonenya namun sia-sia. Ia melemparnya asal lalu kembali menuju lantai 4.
Sesampainya ia di pintu darurat lantai tujuan, Eun Jae mengatur napasnya. Memutar handle pintu namun tidak bisa. Dikunci.
Ia berdecak kesal. Menyiapkan bahunya dengan sekuat tenaga lalu mendobrak pintu itu. Tahap pertama gagal namun saat hantaman ke 3 pintu langsung terbuka. Membuatnya terhuyung.
Tanpa berpikir panjang ia berlari dan terus berlari menuju kamar rawat inap Arfa. Namun, dirinya tak menemukan keberadaan gadis yang dicarinya diatas ranjang. Arfa tergeletak di bawah lantai. Sepertinya ia sedang sesak napas akibat asap kebakaran karna terlihat dari wajahnya dan caranya bernapas.
Dengan segera Eun Jae bermasker menghampirinya. Melihat seseorang datang, Arfa ingin berteriak meminta tolong padanya, namun ia tak bisa bicara. Alhasil, ia menggenggam tangan orang berseragam blackfire itu.
"Bisakah kau bertahan?," Arfa menggangguk.
Sekilas Eun Jae melihat lebam di mata kaki Arfa dan juga tiang infus yang tergeletak begitu saja disisi gadis ini. Sepertinya Arfa baru saja mengalami insiden menyakitkan. Tanpa persetujuan, ia langsung saja menggendong Arfa dan membopongnya keluar.
Langkahnya cepat menuju tangga darurat. Sedangkan tanpa mereka sadari seorang wanita berjas dokter sedang memandangi mereka. Ia juga turut keluar dari kamar Arfa. Ditangan kanannya sudah ada sebuah pistol.
^^^💥DHUAR !!💥^^^
Badan Eun Jae sedikit terpental kedepan. Sebuah peluru berhasil menembus punggung atas kirinya. Sepertinya si penembak mengincar jantungnya namun gagal.
Terpaksa Eun Jae menurunkan gadis didekapannya. Menyandarkan Arfa pada tembok di sebelah pintu darurat. "Jika kau bisa pergi, pergilah!," ucapnya pelan namun mendapat gelengan keras dari Arfa. Sayang pria bermasker itu sudah lebih dulu berbalik menatap sang penembak.
Dengan keadaan darah yang keluar deras mewarnai seragam sekolahnya, ia membelalakkan mata. Mengetahui siapa seseorang di depan sana. Sedangkan Arfa malahan tak melihat wajah siapa itu karena tertutupi tubuh pria penolongnya.
Matanya malah fokus pada darah yang terus saja keluar. Bahkan tetesannya ada yang mengenai baju rumah sakit Arfa.
"Ah. Ternyata kau?" Ujar gadis itu seolah-olah tau siapa di balik masker hitam. "Pengorbananmu besar. Tapi.....," ia menodongkan pistol tepat ke arah kepala Eun Jae.
"Hai Ver.... a... hai Arfa. Ucapkan salam perpisahan padanya," sedangkan yang dimaksud sudah menutup mata sejak ia terpaku dengan darah Eun Jae. Ia tidak begitu menyukainya.
Pelaktuk ditekan dan ....
^^^💥DHUAR 💥^^^
Benda kecil berkecepatan tinggi keluar dari moncong pistol, melayang di udara, memecah molekul-molekul panas akibat api yang masih membara. Mata Arfa masih setia tertutup.
Tak ada yang terjadi. Karena Zahra datang di waktu yang tepat dan mengarahkan moncong pistol itu ke atas. Wanita didepannya menoleh tak suka. Menghempaskan tangan Zahra yang masih setia memegangi lengannya.
"Jangan Gila!!,"
Tak lama kemudian suara langkah kaki para pemadam kebakaran terdengar sedang melewati tangga darurat menuju lantai 4. Zahra langsung memberi kode pada Eun Jae untuk segera pergi sedangkan wanita berpistol tadi sudah lenyap tanpa diminta. Ia lalu menghampiri Arfa yang belum juga membuka mata.
Para pasukan pemusnah api datang saat Arfa mulai membuka matanya. Nafasnya tak beraturan sambil berusaha menjelaskan sesuatu pada Zahra.
"Disini, pistol, darah, pria itu, darah, darah, da....," Arfa langsung tak sadarkan diri. Zahra dan beberapa karyawan yang lain membawanya menuju salah satu kamar rumah sakit. Tentunya di lantai yang lain.