
Arfa memandang kucingnya lalu melepas tangan dari kaki mungil di sana. Sedetik kemudian seorang manita cantik berada di hadapannya. Menggantikan posisi Bubu.
Wanita itu bernapas lega. "Dikehidupan selanjutnya aku tidak ingin berpura-pura menjadi kucing lagi," ia lalu menatap tajam Arfa. Yang ditatap masih berwajah masam. Setia bad mood. "Kau juga. Kenapa meninggalkanku di apartement sendiri. Aku tidak bisa berubah menjadi manusia dan kelaparan berhari-hari,"
Dia bukan jelmaan. Hanya saja ia memiliki kemampuan lebih dalam berkamuflase. Seperti Arfa yang memiliki kemampuan lebih dalam pembacaan ilmu dalam. Layaknya membaca pikiran hati.
"Aku lebih sengsara ya. Aku diculik," bela Arfa
"Kau diculik oleh.....," wanita itu diam sejenak. "Oleh orang yang peduli padamu. Kau tidak akan dibiarkan tanpa makan,"
"Peduli apa? Liat nih tanganku," Arfa menunjukkan telapak tangan kirinya yang sudah mulai membaik. Gadis seumuran dihadapannya hanya melirik remeh.
"Sudahlah. Aku lapar, Ver eh Fa. Beri aku makan!"
"Sheila aku malas yang mau keluar. Kau ambil sendiri sana!" gadis itu melotot tak terima pada Arfa.
"Memangnya kau tidak lapar apa?!"
"Tidak. Sama sekali tidak," sial. Belum saja Arfa menutup mulutnya sang perut mengadakan konser dadakan. Membuat gadis bernama Sheilla itu nyengir bahagia.
"Lebih baik kau cepat ambil 2 porsi makan untuk kita sebelum cacingmu semakin mengamuk. Oh tidak. Bukan 2 porsi. 3. Aku sangat lapar," Arfa mendengus kesal.
"Ada syaratnya,"
"Apa?" tanya Sheila tak sabaran. Arfa nyengir sambil menunjuk rambut bagian atasnya.
"Ambilkan atom penghapusnya!" Sheilla berkerut kening. "Aku sangat ingin tau siapa yang menghapus ingatanku. Tidak ada sejarah aku terpengaruh,"
"Ya inilah sejarahnya. Sedang dibuat," sahabatnya yang satu ini benar-benar mengesalkan. Arfa menatap tajam padanya. "Baiklah-baiklah. Sini!"
Ia langsung saja menarik rambut panjang Arfa tanpa permisi. Membuat sang empu memekik kesakitan. "Sakit bego! Pelan napa. Seingatku aku ini atasanmu,"
Ingatan. Ya. Arfa akhir-akhir ini mendapat ingatan aneh semenjak kejadian kebakaran di rumah sakit. Berawal dengan sebuah nama yang terngiang jelas berulang kali. Annaya Veronica.
Awalnya ia tak pernah tau apa itu. Tak begitu peduli. Mungkin kepekaan telinganya sedang eror jadi merekam suatu suara yang jauh entah dimana. Namun mimpi-mimpi muncul. Aneh dan yang paling sering adalah sebuah bayangan ia memegang tangan kucingnya lama sambil memejam selama 30 menit.
Secara nyata ia tak peduli sama sekali karena beberapa hal lain. Namun, tetap saja semua itu menuntut untuk menganggu otaknya.
"Kau tau, Bubu. Aku akhir-akhir ini merasa sakit," keluhnya pertama kali pada makhluk hidup meski hanya kucing peliharaannya." Sungguh aneh. Apa kau paham?" ia melirik Bubu yang berada dalam pangkuan.
Kucing itu hanya mengeong lalu membenamkan wajah ke sela-sela tubuh Arfa. "Meski ku jelaskan pun kau tak akan mengerti. Andai kau bisa berubah menjadi manusia,"
Otaknya kembali mengingat aksi saat dia menggenggam tangan kucingnya. Arfa berusaha mengalihkan pikiran pada buku-buku novel bacaannya.
Sekilas ia punya niatan untuk melakukan apa yang ada dalan ingatannya. Mungkin saja Bubu berubah menjadi manusia sungguhan seperti dalam ingatan. Rapi, ia langsung membuang jauh-jauh pikiran aneh itu.
Tapi tetap saja, dia diam-diam mencoba. "Kau diam saja ya Bubu. Aku hanya iseng," ujarnya yang langsung memejamkan mata. Dan ternyata Bubu pun ikut memejamkan mata.
Tanpa Arfa sadari ia kini telah berada dalam sebuah ruangan transparan berbentuk bola. Untung saja ia tak tertidur dalam waktu 30 menit itu. Gadis ini membuka mata dan terkejut dengan lingkungannya. Ia berada dalam bola yang jelas terasa dan dapat melihatkan kondisi apartementnya seperti sebelumnya. Yang berbeda hanyalah suasana disini lebih nyaman.
Tanpa sadar Bubu telah turun dari pangkuannya. Menjelma, ah bukan, kembali membentuk tubuhnya semula. Seorang gadis cantik dengan mata sipit dan rambut panjangnya. Sedangkan Arfa berusaha menyentuh permukaan bola itu dengan jari telunjuknya.
Manusia Bubu itu langsung mencegah dan meraih tangan Arfa. Si pemilik kaget saat menyadari ada seorang wanita dalam bola yang sama. Dan lebih mengangetkan lagi karena wajahnya sangat mirip dengan yang ada pada ingatannya.
"Jangan mengeluarkan tanganmu! Atom lain bisa masuk," suara wanita itu.... entah kenapa terasa sangat familiar.
"S-si a-apa k-k-kau?" pertanyaannya penuh kegugupan .....atau ketakutan. Entahlah. Berhasil membuat wanita itu tertawa keras.
Arfa masih terdiam. Matanya melihat kepangkuan pahanya dan Bubu memang tidak ada. Apa benar? Setelahnya semua nampak kabur. Ia pingsan.
"Ingatanmu yang salah. 20 % benar," kata-kata Sheilla pada saat ini menyadarkan Arfa dalam lamunan sejanak yang terasa berjam-jam. "Memangnya buat apa sih atomnya. Lagipula ingatan yang sudah dihapus tidak bisa kamu ambil dari mereka,"
"Aku hanya ingin menyelidiki. Mungkin saja ada sidik jarinya," jawab Arfa setelah sadar sepenuhnya dari nostalgia.
Sheila menonyor kepalanya hingga gadis ini tertunduk sejenak. "Heh. Kau lupa ukuran atom? Mana bisa sidik jari tercetak. Oon banget sih," Arfa cemberut.
"Ya. Aku salah. Tapi minimal keluarkan saja atom itu. Aku ingin otakku bersih," yang ia maksud adalah atom penghapus serba hitam. Penyebab ingatannya hilang.
Sheila menurut. Setelah usai, ia membuangnya sembarangan. Seperti ia tak memegang apapun padahal ada atom yang pastinya tak akan terlihat. Dia punya mata yang tajam. Ah. Tidak-tidak. Dia memakai softlens serbaguna.
Alarm berbunyi. Menandakan 4 menit mereka telah hilang. Keduanya harus kembali berakting semenit lagi.
Saat bola benar-benar lenyap semenit kemudian, Sheila telah kembali menjadi kucing dan Arfa langsung menuju dapur rumah. Menepati janji.
Arfa berkeliling memandang dapur yang sepi lalu menghampiri meja makan. Tangannya membuka tudung saji di meja makan. Pikirnya, mungkin tidak ada makanan yang tersisa tapi ia terbelalak saat masakan yang disebut Cheon Gi, udang berkuah itu, masih ada. Bahkan disampingnya disertakan semangkuk nasi seolah-olah semua disiapkan khusus untuknya.
Suasana dapur sepi. Ia melirik jam putih dipergelangan tangan yang menunjuk pukul 12 kurang 15 menit. Ya. Jam yang diberikan oleh seseorang berisial DFL yang ia ingat sebagai sahabat sejatinya. Yang ia ingat. Hadiah ulang tahun ini katanya dititipkan kepada Sheilla
Arfa langsung saja duduk di salah satu kursi. Meraih dua mangkuk yang menggodanya sedari tadi mendekat. Ya Tuhan. Bahkan sendoknya juga sudah ada.
Gadis ini melahap makanannya. Sejenak ia terdiam tak mengunyah. Masakan ini masih hangat. Tapi bunyi kruyukan perut menyadarkannya. Ia kembali melanjutkan aktifitas hingga menelan bolus yang telah hancur itu.
"Lezatkan?" suara itu membuat Arfa menoleh. Mendapati Angel yang berdiri bersandar pada ambang pintu dapur.
"Kakak belum tidur?" kaget Arfa. Bukankah ini sudah malam dan kakaknya ini akan sangat sibuk besok. Atau jangan-jangan masakan yang masih hangat ini sengaja disiapkan Angel?
"Aku yakin kau akan keluar dalam keadaan lapar," ujar Angel. "Tapi, kenapa kau berbohong sudah memakan mie. Stoknya masih full aku lihat,"
Arfa hanya nyengir. "Aa... itu.... tadi aku ada urusan yang sangat mendesak kak. Sulit untuk ditinggalkan,"
Angel mengidikkan bahu. "Terserahmu saja! Cepat habiskan! Kalau kurang masih ada di panci," Angel berlalu pergi. Padahal Arfa akan bertanya perihal A.
Ia jadi teringat sesuatu. Sheila menuntut makan. Apa cukup masakan kak Angel yang katanya di panci itu ? Ia bangkit. Berjalan lebih masuk ke dapur dan menengok isi panci. Cukup.
Segera ia mengambil udang asam manis saus tiram itu untuk diletakkan pada mangkuk. Tak lupa semangkuk nasi dan sendoknya. Ia mengambil nampan. Meletakkan semuanya–termasuk makanannya yang belum tandas–ditambah dua gelas air putih ke atas nampan lalu membawanya ke kamar.
Tanpa menyadari, Angel melirik balik dinding pembatas.
***
"Aku besok ada tugas," ujar Sheila usai meneguk air putihnya hingga tandas. Ia memandang Arfa yang belum juga selesai makan. "Jaga diri baik-baik!"
"Ya elah. Ada kau pun aku tetap menjaga diri," Sheilla terkekeh pelan.
"Eh iya. Aku ingin memberi usulan. Pasal ruang rahasia,"
"Apa?"
Gadis di depannya itu tersenyum. Membuat Arfa menatap jengah. Namun kata-kata selanjutnya berhasil menghentikan aktifitas makannya. Bahkan setelah itu tak dilanjutkan acara menyantap udang tersebut.
"Dengan ruang rahasia kita tidak perlu membuat bola steril ini lagi,"
...💕💕💕...