You, Me, And My Secret Life

You, Me, And My Secret Life
45. Nomor Teleponmu



"Aku pernah kesini?" pertanyaan itu membuat gerakan ahjumma terhenti. Ia menengok ke arah Arfa sambil mengernyitkan dahi.


"Nona ini masih muda tapi pelupa, ya. Nona kemari belum sampai sebulan yang lalu," ujarnya sambil tertawa. Lalu melanjutkan kegiatan menata buah-buahan di dalam kulkas.


Arfa berpikir, memang kapan ia pernah pergi ke rumah temannya? Hanya rumah Shi Ah, Min Ho saat SMP dulu, dan.... tidak ada. Bahkan ia tidak tau dimana rumah Anna, sebagai manusia normal di bumi ini


"WHOAAAMMMM," seseorang datang mendekat. Siapa lagi kalau bukan pemilik rumah. Ahjumma yang telah selesai dengan urusannya langsung bangkit dan menutup pintu.


"Tumben tuan bangun pagi,"


Arfa mengernyit. Tunggu dulu, dilihat dari penampilannya lelaki ini baru bangun dari tidurnya. Tapi bukannya tadi dia mengusir Arfa karena ingin mandi? Oh. Jadi dia tidur lagi?


"Kau tidur lagi?"


Eun Jae hanya berdeham sambil mengambil duduk di salah satu kursi makan. Ia menyelonjorkan tangan dan kepala di meja makan. Kembali terpejam. Astaga.


"Biasa nona. Ini rekor pertama tuan muda bangun terpagi pada hari libur," Arfa melongo. Membuat ahjumma terkekeh pelan. "Nona mau memasak?"


"Ah. Iya. Ahjumma belanja apa saja tadi?"


***


Arfa baru mengambil sendok untuk mencicipi masakannya. Merasa tidak ada yang kurang, ia mematikan kompor. Kini hanya tersisa dia di dapur. Ahjumma tadi izin karena anaknya sedang sakit.


Arfa baru tau kalau wanita tua itu adalah ART di rumah ini. Ia hanya datang di pagi hari untuk membawa bahan makanan dan mengisi apa yang kurang di rumah ini. Datang hanya untuk membersihkan rumah dan paling lambat pulang pukul 2 siang. Hari ini sama seperti sebelumnya. Namun karena rumah sudah dibersihkan Arfa jadi tak ada lagi yang ia lakukan. Tugas memasak pun sudah diambil alih oleh gadis itu juga. Meski sebenarnya ia memang jarang memasak untuk Eun Jae.


Arfa melirik sekilas ke arah Eun Jae yang masih saja tertidur. Memangnya tadi malam ia pulang jam berapa sih? Sampai jam segini masih mengantuk. Gadis itu menyiapkan makanan. Memasukkannya ke dalam beberapa mangkuk.


Setelah usai, ia menuju meja makan. Sengaja meletakkan semuanya dengan sedikit kencang. Lelaki di depannya langsung terbangun. Benar kata ilmu fisika. Perantara paling kuat dalam menyalurkan suara adalah benda padat.


Eun Jae kini telah duduk dengan benar meski punggungnya masih menyender pada sandaran kursi makan yang tak sampai setengah badannya. "Sudah selesai? Cepat sekali," ujarnya sambil diselingi menguap.


"Sebaiknya kau cuci muka, sikat gigi baru makan. Aku tidak ingin makan dengan orang bau mulut,"


Eun Jae hanya tertawa. Matanya terbuka setengah. "Baiklah, princess wangi," ia bangkit dari duduknya. Berjalan menuju kamar. "Tunggu aku kembali. Jangan makan dulu!"


"YANG BERSIH!!" teriak Arfa saat pintu kamar Eun Jae telah tertutup rapat. Ia terkekeh pelan kemudian. Entah apa penyebabnya.


Beberapa menit kemudian, lelaki itu kembali. Terlihat lebih bersih dengan rambut yang basah. Apa ia mandi? Bahkan dirinya tak lagi mengenakan sweater yang kemarin. Kini hanya bertampilan biasa dengan kaos lengan panjang berbalut celana kain setumit.


"Jangan lama-lama liatnya! Nanti naksir loh," lelaki itu duduk tepat di hadapan Arfa. Memang benar. Eun Jae terlihat lebih memukai saat ini. Apalagi dengan rambut basahnya. Kenapa sih cowok tampan kalau rambutnya basah tambah tampan aja? Seolah menyedot energi dari benda di sekitar. "Fa. Tidak jadi makan?"


Arfa mengerjap. Ia baru menyadari Eun Jae telah melambai-lambaikan tangannya tepat di depan wajahnya. Pipi Arfa langsung bersemu malu.


"Apa aku setampan itu sampai kau bengong?"


"Siapa juga yang bengong? Sudahlah cepat makan,"


Arfa meraih sendok di samping mangkuk nasinya. Mulai memakan dengan lahap. Eun Jae memperhatikan sejenak lalu menarik ujung-ujung bibirnya ke atas. Setelahnya ia menyusul Arfa juga.


Mereka makan dalam diam. Arfa berasa sedang makan di dalam keluarga Jang. Ya. Keluarga itu punya aturan agar tidak berbicara sambil makan. Makan harus di meja makan bersama keluarga. Ah. Kenapa Arfa jadi memikirkan keluarga Myung Hae?


Eun Jae meneguk minumannya usai makanannya tandas. Ia teringat sesuatu. Lelaki ini mengeluarkan handphone dari saku celana lalu mendorongnya ke arah Arfa.


"Simpan nomormu di situ! Sangat susah jika kita tidak saling tau nomor telepon masing-masing," Arfa mengangguk setuju. Memang benar. Ia pun sudah berniat meminta nomor lelaki itu namun terlupa.


"Tanggal lahirku," ucapnya sambil berjalan menuju wastafel. Tak lupa beberapa alat makan kotor di tangannya.


"Mana aku tau tanggal lahirmu,"


"2 Februari,"


Arfa mengetikkan empat angka itu. Handphone menyala dengan kunci yang telah terbuka. Sebenarnya kunci ini juga bisa menggunakan wajah Eun Jae. Makanya tadi ia mengarahkan latarnya ke wajah lelaki itu.


Tunggu. 0202?? Tanggal ini berasa tidak asing bagi Arfa. 2 Februari.... itu.... ah entahlah. Kenapa banyak hal yang ia lupakan.


"Eun Jae. Ajari aku fisika dong," pinta Arfa mengalihkan diri dari pikirannya sendiri.


"Untuk apa?" Lelaki itu memunggungi Arfa karena masih mencuci alat-alat makan mereka.


"Aku mengajarimu Seni. Kau mengajariku fisika? Bagaimana? Serukan?"


"Aku tidak butuh,"


Arfa memandang punggung Eun Jae kesal. "Ayolah!!"


"Jangan banyak omong! Cepat save saja nomormu disana,"


Arfa cemberut. Tapi tetap menurut. Setelah usai acaranya bersama air, Eun Jae melepas semua peralatan di tubuhnya lalu mendekat dan duduk di tempat semula. "Baiklah. Aku akan mengajarimu fisika. Sebagai gantinya, ajari aku seni lukis,"


"Oke. Aku setuju,"


"Nona. Kau belum memasukkan nomormu," ingat Eun Jae membuat Arfa cengengesan. Ia kembali menekan pasword yang sama. Setelahnya ia mengetikkan beberapa angka pada papan keypad. "Oh ya? Ngomong-ngomong kenapa ARTmu bisa kenal aku?"


Eun Jae hanya menggidikkan bahu. "Entahlah," seberapapun usaha Arfa untuk mengingat, ia tidak akan bisa mengembalikan ingatan pasal serba hitam. Mungkin hanya sekilas dan beberapa adegan yang terlihat samar. Namun lainnya pergi begitu saja. Makanya Eun Jae tak terlalu ambil pusing. Alasan itu pula yang membuatnya menerima permintaan Angel untuk menitipkan Arfa padanya. "Mungkin ia salah mengenal,"


"Oh," ada nada kecewa disana. Jika ahjumma itu salah maka yang dimaksud adalah wanita lain. Dan wanita itu adalah kekasih Eun Jae. Itu yang ahjumma sebut padanya tadi. "Nah. Kau telpon nomorku. Aku juga akan menyimpannya," Eun Jae mengangguk sambil menerima sodoran hp dari Arfa.


Gadis di hadapannya langsung pergi menuju kamarnya. Mengambil handphone. Eun Jae masih perlu menyimpan nomor Arfa di handphone karena gadis itu hanya sekedar mengetikkannya sampai keypad.


Sedangkan Arfa langsung meraih handphone yang tadi ia letakkan di atas nakas. Wanita itu kemudian keluar dari kamarnya. Tepat saat ia akan menutup pintu, sebuah pangilan memasuki nomornya.


Ini bukan nomor yang tidak dikenal seperti harapannya. Ini adalah nomor yang ia salin dari handphone kakaknya. Arfa memberikan nama 'serba hitam' disana. Nomor yang awalnya bertajuk A.


Tangan kirinya perlahan menutup pintu. Satu lagi menggeser ikon hijau bergambar telepon lalu mendekatkan benda kotak itu ke telinganya. Jantungnya kini berdebar kencang.


"Ini nomorku. Simpan yang benar!" itu suara.... Arfa langsung mengarahkan pandangannya ke arah dapur. Di sana Eun Jae sedang menyandarkan handphonenya pada daun telinga.


Seketika itu pula handphone di tangan Arfa terjatuh.


...💕💕💕...


...Bagaimana ?...


...Suka tidak ?...


...Like and coment yaaaa.......