You, Me, And My Secret Life

You, Me, And My Secret Life
6. Fire >< Tiger



Min Ho memandangi handphonenya sesekali. Mengecek apa pesannya sudah dibalas atau tidak. Entahlah. Ia memang mengaku salah tentang perselingkuhan tiga tahun silam tapi jujur. Arfa masih menetap dihatinya. Ia ingin mengulang semuanya dari awal jika Tuhan mengijinkan. Memang harus mengijinkan.


Seseorang menyenggol pinggangnya keras. "Boss memanggilmu kawan," bisik teman disebelahnya.


"Eh. Ya?"


"Sepertinya perhatianmu tidak disini yaa?" ucap ketua rapat itu dengan tekanan dalam. "Aku tanya. Bukankah gadis ini satu gedung apartement denganmu? Satu kelas juga kan?"


Min Ho langsung mengarahkan matanya ke refleksi cahaya proyektor di depan sana. Matanya sedikit membulat saat mendapati foto Arfanya, ada disana bersama seorang lelaki lain. Berjalan berdua.


"Min Ho! Jawab!"


"Ah. Iya. Di-dia satu gedung denganku. Ada apa, boss?"


Senyum miring tercetak disana. "Kau sepertinya tidak benar-benar mendengarku tadi. Dia target kita selanjutnya,"


"WHAATT!!" mata Min Ho melotot sempurna.


Tapi boss nya sama sekali tak peduli. "Kurasa ia ada hubungan dengan musuh kita. Lebih baik kau cepat bawa dia masuk ke dalam TIGER. Semakin cepat semakin baik. Dia bisa dijadikan alat yang bagus,"


"ANIYO!" tubuhnya otomatis berdiri.


"Apa maksudmu?!"


"M-maksudku.... dia anak baru. Tidak tidak. Ini ide buruk,"


"Tau apa kau Min Ho? Jalankan saja! Aku ketuanya disini,"


Min Ho akan membantah lagi tapi teman di sampingnya sudah menghentikan dengan menarik lengannya. Lelaki ini langsung menghembuskan napas berat. Ia kembali duduk dengan berat hati.


Ini gila. Sungguh gila. Arfa, mantan pacarnya, menjadi target geng nya sendiri??? Akkhhhhrrrr....


Matanya kembali mengecek layar handphone saat sebuah notifikasi masuk ke dalam sana. Pesan balasan yang dari tadi ia tunggu.


^^^^^^Me^^^^^^


^^^Fa^^^


^^^Ada beberapa hal yang aku tidak paham tadi?^^^


^^^Bisa ajari aku??^^^


Arfa♡


Datang ke unitku sekarang!


Min Ho langsung bangkit dari duduknya. "Aku pulang dulu. Ada urusan," tangannya mengambil mantel yang tersampir, meraih kunci motornya lalu beranjak pergi tanpa peduli reaksi apa yang diberikan ketuanya. Ia sudah sering begini.


***


Arfa langsung lari terbirit-birit saat bel rumahnya berbunyi. Ah. Ralat. Bel unit apartementnya. Ia langsung membuka pintu dan tersenyum manis pada tamu yang datang. Biarkan saja kalau-kalau lelaki itu merasa asing dengan perubahannya yang tiba-tiba. Lagipula hanya sementara.


"Masuklah!"


Min Ho tanpa sungkan langsung duduk di sofa ruang tamu. Memang kebiasaannya begini. Yang pasti sebelum perselingkuhannya terungkap waktu itu.


"Mau minum apa?"


"Lemon Ice, please,"


"Ah. Air putih? Oke," gadis itu langsung melenggang ke dapur. Membuat Min Ho terkekeh pelan. Ada apa dengan Arfa hari ini? Tunggu! Apa wanita itu tengah mabuk? Tidak mungkinkan...


Arfa kembali dengan segelas air putih. Sungguh air putih, tanpa rasa ataupun camilan lainnya. "Materi apa yang ingin kau tanyakan?"


"A—," Min Ho lupa memikirkan hal ini. Ia bahkan tidak membawa buku sama sekali.


"Moduskan? Aku tau," air yang tadi dibawanya, ia minum sendiri. Bahkan Min Ho belum menyentuhnya. "Jadi, bisakah aku meminta tolong?"


Min Ho memutar bola matanya malas. Jadi ini alasan Arfa terlihat seperti orang mabuk yang bertingkah seolah mereka masih berpasangan?


"Kau tau aku tidak pernah menolakmu,"


"Pertanyaan tadi hanya formalitas. Itu. Bantu aku membenahi essay tentang teknologi. Ada beberapa istilah yang aku tidak tau," tunjuknya pada laptop di atas meja. Min Ho bahkan baru sadar ada benda itu disana.


"Kau lupa kalau aku juga anak seni?"


"Tidak usah berpura-pura. Kalau bukan karena aku kau tidak akan masuk kelas seni kan?"


"Narsis banget!"


"Bantu aku ya, Min Ho?? Please... Ini menyangkut hidup matiku,"


"Ada syaratnya?"


"Apa?"


"Kita balikan,"


"In your dream! Kalau nggak mau bantu yang nggak usah,"


Min Ho tertawa renyah melihat wajah kesal Arfa. Memang wanita itu paling manis saat cemberut. "Iya-iya. Aku bantu," lelaki itu sudah mendaratkan bokingnya di atas karpet. Menarik laptop agar lebih dekat.


"Gratis,"


"Impossible!"


Min Ho lagi-lagi terkekeh. "Mungkin dengan begini kau tau ketulusanku dan kita bisa kembali bersama,"


Arfa langsung menjitak kepala lelaki itu dengan cukup keras. "In your dream! Udah cepet napa seh ngerjain doang,"


Membuat lelaki itu menoleh kesal. "Tidak bisakah kau meminta tolong dengan lebih tulus?"


"Baiklah, tuan Kang. Bisakah anda membantu saya dengan cepat? Setelah itu akan ku traktir makan di cafe Mirliton. Jadi selesaikan sebelum cafenya tutup yaa,"


Min Ho memberikan tanda hormatnya dengan cepat. Arfa akhirnya lega saat lelaki itu mulai mengerjakan permintaan sesuai ketentuan. Sebenarnya Arfa bisa saja menyelesaikannya sendiri tapi Min Ho lebih paham hal ini. Dia juga seseorang yang sangat pintar di bidang IT, meski juga menyukai seni. Lagipula Arfa sudah sangat ingin memperbaiki semuanya. Min Ho tak seharusnya di jauhi selama itu.


"Buat apa sih Fa essay beginian?" tanya lelaki itu tiba-tiba tanpa mengalihkan pandangan.


"Kerjain aja kali,"


"Projeknya bagus. Meyakinkan. Yakin deh ini pasti dapet posisi pertama. Punya siapa?"


"Emmm... siapa ya? Aku lupa. Anak fisika, murid kesayangan Kevin Oppa. Bahkan kemarin Oppa sampek marah karena aku merusak essay ini,"


Min Ho tertawa sejenak sambil melihat wajah gadis yang masih ada di atas sofa di belakangnya. Terlihat kerutan kesal di sana. "Siapa?"


"Tunggu. Sepertinya.... emmm... Ah. Myun Jae?" Wajah Min Ho menegang. "Tapi kok aneh yaa? Siapa sih namanya?" gerutu Arfa kesal sendiri. Sebenarnya ia adalah ahli menyimpan memori. Tapi ia memang sengaja menolak mengingat siapa nama lelaki itu dari awal.


"Eun Jae?"


"Ah! Iya iya iya. Kau kenal?"


"Sebatas nama,"


Lalu ia melanjutkan pekerjaannya. Tapi pikirannya masih tak terkoneksi dengan hal ini. Berarti, apa yang dikatakan ketuanya tadi benar? Atau jangan-jangan dua geng ini sedang menjadikan Arfa target?


Tidak! Tidak boleh!


Ia menoleh lagi. "Tapi Fa—" ucapannya terputus saat Arfa mengisyaratkan diam dengan jari telunjuk di mulutnya sendiri. Lalu tangan gadis itu meletakkan sebuah benda kecil hitam yang tadi menempel pada kerah baju milik Min Ho.


Matanya langsung melotot. Ini alat penyadap suara. Gila. Sepertinya gengnya sendiri sedang menjebaknya. Arfa menuntut penjelasan dengan matanya. Saat wanita ini akan menghancurkan alat tersebut, Min Ho langsung mencegahnya.


"Berarti kau cukup dekat dengan Eun Jae? Kuharap kau berhati-hati Fa. Dia bukan orang baik,"


"Mwo?"


"Dia ketua gangster kalau kau tau," Arfa menaikkan alisnya. Kemana arah pembicaraan Miin Ho ini. "Sangat berbahaya untuk mendekatinya. Jauh-jauh yaa. Aku janji akan melindungimu sebisaku,"


Untuk beberapa menit kemudian sunyi. Tak ada suara sama sekali. Arfa berusaha bertanya melalui pandangan tapi Min Ho sama sekali tak peka. "Aku lanjutin essaynya dulu,"


Tapi yang ia lakukan setelahnya adalah menghancurkan alat penyadap itu dengan mikrowave milik Arfa di dapur. Benda itu meledak di dalam dan gadis itu juga mengikuti kesana.


"Ada apa sebenarnya?"


"Seseorang mengawasiku melakukan perintah atau tidak,"


"Hah?"


Min Ho berbalik menghadap Arfa. Ia memegang kedua pundak gadis itu. "Nomorku masih ada dipanggilan darurat angka 1, kan? Jika ada apa-apa, cepat hubungi aku!"


"Ada apa sebenarnya?"


"Kau yang ada apa tiba-tiba mengambil kelas tatap muka? Nyawamu sekarang diincar, Fa"


Wanita itu malah tertawa. "Jangan bercanda!"


"Seriuslah!" Arfa langsung diam atas tawanya. "Intinya jangan terlalu dekat dengan Eun Jae,"


"Apa dia bahaya? Lagipula ada Kevin Oppa disampingku,"


"Kevin adalah mantan ketua di Fire, geng milik Eun Jae. Tapi bukan itu masalahnya Fa. Mereka tidak berbahaya, tapi aku"


"Kenapa kau berbahaya?"


"Musuh fire sudah mengincarmu, karena baru kali ini ada wanita di dekat Eun Jae. Dan aku, anggota musuh itu, TIGER,"


Arfa menutup mulutnya sendiri. Kalau bagi dia nama Fire begitu asing tapi tidak untuk Tiger. Geng ini cukup terkenal di kalangan mafia korea, yang dimana teman kakaknya, ada yang menjadi salah satu dokter bedah di markas geng mafia lain. Maksudnya, kakaknya sering membicarakan kebrutalan Tiger selama ini. Wanita itu selalu bersyukur tidak menjadi dokter di bawah perintah geng mafia manapun.


"Bercandamu tidak lucu Min Ho," ucapnya meski tau kalau ini semua bukan lelucon. Dirinya hanya terlalu kaget menerima semua. "Aku akan menjaga diri sebaik mungkin. Jadi jangan khawatir!" ia menepuk pundak Min Ho pelan. "Sepertinya sudah banyak kau bantu aku tadi. Bagaimana kalau kita makan sekarang? Aku sudah lapar. Biar aku yang melanjutkannya nanti malam,"


***


Arfa meregangkan otot-ototnya setelah selesai merevisi essay pada laptop di hadapannya. Tiba-tiba ia jadi kepikiran ucapan Min Ho tadi. Lalu tanpa kendali tangannya menjelajahi pencarian internet, mengetik nama fire gangster.


Dan


Benar-benar muncul. Fire lebih dikenal dengan sebutan mafia dengan pusat operasinya berasal dari eropa.


Tiba-tiba Arfa tertawa sendiri. Tidak mungkin kan anak sma menjadi ketua disana?