You, Me, And My Secret Life

You, Me, And My Secret Life
48. Dare



"Dare apaan ?"


Semua terperanjat. Tak perlu menoleh ke sumber suara mereka telah tau. Sepertinya cara paling ampuh adalah kabur dari kenyataan. Satu persatu mulai menyiapkan diri.


"Pimpinan kita pulang dulu,"


"Sunbae, bye,"


"Jaga diri baik-baik!"


"Semoga sukses,"


"Bye ketua,"


Mereka serempak keluar. Menunduk sebentar pada Arfa yang langsung dibalas senyuman manis oleh gadis itu. Rumah yang semula ramai berisi sekitar belasan orang kini hanya tersisa tiga.


Arfa mulai mendekat dan duduk di sisi Chun Seung. "Dare apaan?" tanyanya. Eun Jae memelototi Chun Seung yang sudah akan membuka mulut.


"Bukan apa-apa. Kenapa keluar?" tanya Eun Jae mengalihkan pembicaraan. Jangan sampai Arfa tau! Bisa-bisa wanita itu marah atas apa yang sebenarnya terjadi.


"Emm..... tidak ada," ia mengambil cangkir corn teanya tepat saat Eun Jae berpamitan akan pergi keluar sebentar. Ya. Teman-temannya belum benar-benar pulang dan ia menyadari hal itu.


Suasana sedikit sunyi. Arfa memperhatikan pergerakan manusia lain yang berada di ruangan ini. Ia mengeluarkan beberapa pisau dari dapur dan meletakkannya di meja.


"Apa yang kau lakukan, Chun Seung?" tanya Arfa tanpa melepas pandangannya.


"Ini disebut persiapan. Sebagai teman yang baik aku akan membantumu. Lihat yang ini! Kau bisa melempar dengan berbagai macam bentuk. Seperti ini! Begini!" lelaki itu memperagakan sebuah pisau dan berpose seolah-olah akan melempar. Memegang dengan satu tangan sampai bentuk melempar menyamping.


"Aku tidak akan berperang. Kenapa aku butuh?"


Chun Seung meletakkan pisau tersebut. "Lihat saja nanti!"


"Isy," ia mencibir tak suka. "Oh ya. Bagaimana tentang yang tadi? Aku sama sekali tidak tau. Kalian bermain dare apa?"


"Pikir saja sendiri!,"


Pintu depan terbuka. Eun Jae kembali masuk. Hanya keluar sebentar. Lagipun ia tak memakai baju tebal jadi pasti tidak akan lama. "Buat apa ini?" tanyanya santai. Namun saat Chun Seung memberi jawaban yang sama lelaki itu langsung memunguti semua pisau dan mengembalikannya ke dapur.


"Apa kau gila?!" sentaknya sambil berjalan ke dapur. Diikuti oleh teman prianya itu. Sedangkan Arfa malah sibuk mencari sesuatu dari saku celananya. Ya. Itu alasan mengapa ia keluar tadi. Ia hampir lupa.


"Aku hanya memberi kebebasan,"


"Kebebasan apa? Dengan membunuhku?"


"Ya.... sebagai hubungan timbal balik. Bukankah kau mendapatkan sesuatu yang kau inginkan? Ciuman tulus. Bagaimana rasanya? Manis?" suaranya memelan.


Arfa berdeham dan pandangan mereka langsung tertuju padanya. Tentu saja ia mendengar semuanya. Langkah gadis ini ikut mendekat setelah bangkit dari duduk. "Setelah aku pikir-pikir ada yang aneh dengan tadi. Aku sungguh...... mal... marah. Sangat marah," mereka masih memandang. "Hey. Aku bukan orang bodoh. Aku sudah peka dari tadi,"


"Hah?!" dua pria itu tak dapat menutup mulutnya.


"Santai! Hubungam timbal balik tetap ada, kok. Aku anak seni. Selain suka bermain piano aku juga suka melukis," sebilah pisau lipat ia keluarkan dari saku celana trainningnya. Oh bukan. Celana milih Eun Jae yang sedang ia pakai. Ah. Sudahlah. Itu tidak penting. "KEMARI!!"


Arfa masih marah karena masalah Serba Hitam. Tapi ia juga marah karena sudah sibuk-sibuk khawatir, lelaki ini malah sedang asik bermain dengan temannya. Dan.... membuatnya melakukan hak memalukan di depan banyak anak blackfire.


Eun Jae langsung mundur dan Arfa berlari ke arahnya. Secara reflek pria itu juga berlari menjauh. "Hey. Berani-beraninya ya kau berbohong!" dan menikmati first kissku. Ah. Second kissku.


"Fa. Aku tau aku salah. Kita selesaikan secara damai," Eun Jae sudah mencapai ruang tengah. Chun Seung hanya tertawa menikmati penderitaan sohibnya. Beginilah teman.


"Apanya yang damai? Tidak ada cara damai," sebuah sofa panjang menghentikan aksi Arfa. Memberi jarak antara dia dan Eun Jae.


"Kau mau timbal balik, kan?" Arfa diam namun tangannya masih berdiri dengan sebilah pisau lipat. Perasaannya tidak enak. "Maka aku akan melakukan apa yang kau lakukan padaku tadi. Dengan senang hati. Aku akan kembalikan ciumanmu,"


"Tidak tidak. Aku bercanda," Eun Jae mundur saat Arfa malah memilih menaiki sofa. Sedetik kemudian ia bergerak cepat. Menarik salah satu lengan Arfa sedangkan tangannya yang lain secara spontan melemas karena kaget. Ia menepis pisau yang digenggam gadis itu.


Namun bodohnya, ia tak memperhatikan keseimbangan diri. Prediksinya bahwa dinding tepat berada di balik punggungnya salah besar. Keduanya langsung terjatuh dengan saling tindih.


"Ya Tuhan. Apa tidak cukup ciuman tadi? Jangan menunjukkannya di hadapanku!" Chun seung berteriak sambil menutup wajah dengan kedua tangan. Jangan lupakan jari-jemari yang tak menempel rapat. Apa gunanya coba?


Arfa langsung bangkit. Begitupula dengan Eun Jae yang barusaja menjadi bantalan baginya. Keduanya sama-sama terdiam.


"Eh. Tidak jadi? Anggap saja aku tidak ada," dua insan ini langsung memelototi sang pemilik mulut.


***


"Aku pamit, ya," ujar Chun Seung sebelum menutup pintu kembali. "Jaga dirimu baik-baik!" sambil melirik ke arah Eun Jae.


"Hey. Aku tidak sejahat itu ya," ketus Arfa.


"Ya, mungkin saja. Ohya, jangan lupa traktirannya!"


BRAK!!


Bahkan Eun Jae belum meluruskan hubungannya dengan Arfa.


Kepergian Chun Seung sekaligus membawa keheningan untuk hadir di antara kedua pemuda ini. Eun Jae bingung ingin mengawali bagaimana. Sedangkan Arfa sudah akan kembali masuk ke kamarnya.


"Fa! Ingin jalan-jalan?"


Gadis itu urung melangkah. Ia menaikkan alisnya bertanya heran. "Kemana?"


Eun Jae langsung menyunggingkan senyum. "Ayo melihat sunrise! Aku tau tempat yang bagus,"


"Memang dimana?"


"Bersiap saja! Aku akan menunggu di luar,"


"Awas saja jika mengecewakan!"


Keduanya benar-benar berpisah kali ini. Tak sampai lima menit mereka telah berada di dalam mobil. Memang perlu berdandan apa kalau hanya berniat melihat matahari terbit?


"Mm.... Eun Jae. Bolehkah aku bertanya?" lelaki itu berdeham sebagai jawabannya. Ia fokus menyetir sekarang.


"Siapa mereka?"


"Mereka yang mana?"


Arfa menggigit bibirnya. Sedikit takut. "Teman-temanmu yang tadi.... apakah mereka-,"


"Iya," mobil berbelok meninggalkan jalan besar. Disini sedikit senyap. Sama sekali tak ada kendaraan yang berlalu.


"Hah?"


"Mereka Fire. Dan aku, pimpinan Fire," Arfa menelan ludahnya perlahan.


Memang benar


"Apanya yang benar?"


Arfa langsung menoleh pada Eun Jae yang mengemudi. Bagaimana... lelaki itu...


...💕💕💕...