You, Me, And My Secret Life

You, Me, And My Secret Life
39. Langsung Keduanya



Arfa menunduk sebagai ucapan terima kasih dan salam good bye untuk keluarga Jang. Cheon Gi telah terbaring tak berdaya di kursi belakang. Mungkin dayanya habis dan perlu di charger ulang.


"Jangan sungkan untuk kemari lagi!" ucap Mrs. Jang dengan penuh keramahan. Arfa hanya mengagguk. Setelahnya ia memasuki mobil menyusul Sheilla. Tangannya melambai pada Mr. dan Mrs. Jang. Ya. Hanya tersisa kedua paruh baya itu. Myung Hae juga mengalami hal yang sama dengan Cheon Gi. Ia kehabisan energi.


Mobil melaju keluar dari lingkungan besar rumah keluarga Jang. Kini Arfa bisa bernapas lega. Hubungannya dengan Daniel telah membaik. Ya. Dari semua kematiannya, hanya kehidupan di Arfa sebelas yang memberikan penyesalan mendalam. Waktu yang tidak tepat untuk mati.


"Fa. Arfa!" panggil Sheilla tanpa beralih pada jalanan lenggang di depannya.


"Eh. Iya. Kenapa?"


"Bengongin apaan sih. Tuh hp mu berdering dari tadi,"


"Eh?" ia langsung melirik handphone dalam genggamannya. Bisa-bisanya tak terasa sama sekali getarannya.


Panggilan dari Shi Ah. Ada apa dengan anak ini? Kenapa tiba-tiba menghubungi. "Yeoboseo?" ucapnya setelah menggeser ikon telepon berwarna hijau.


"Maaf. Apa anda keluarga dari pemilik handphone ini?," tanya seseorang di ujung sana.


"Ah. Bukan. Saya temannya. Ada apa ya?"


"Oh. Maaf. Saya sudah menghubungi semua nomor tapi tidak ada yang menjawab. Nona pemilik handphone ini sedang tak sadarkan diri di club kami,"


"Club?" kenapa Shi Ah disana? Tumben-tumbenan.


"Apa anda bisa membantu nona ini? Kami takut terjadi sesuatu,"


"Ada di club mana dia? Aku akan kesana,"


"Club Octagon. Kami akan menjaganya sementara waktu,"


"Baiklah. Aku akan kesana,"


Telepon berakhir. Arfa tidak bisa diam saja sementara sahabatnya dalam masalah. Memang ada apa sampai gadis itu datang kesana? Sendiri? Tengah malam lagi? Benar benar.


"Sheilla, bawa aku ke club di belokan depan," tangannya kini sedang berselancar di google map. Mencari keberadaan club yang dimaksud. Dan yah. Ia baru tau kalau tulisannya menggunakan C bukan K. Ternyata artinya segi delapan. Kenapa namanya begitu?


"Kenapa ke club?" tanya Sheilla. Mereka masih belum mencapai lampu merah di depan sana.


"Temanku dalam masalah. Tinggalkan saja aku disana. Bukankah kau ada urusan setelah ini?"


"Aku akan tunggu,"


"Tidak Sheilla. Ini tidak akan sebentar. Tinggalkan saja. Aku akan baik-baik saja,"


"Fa. Mana bisa aku meninggalkanmu di tempat seperti itu?"


"Sudahlah. Tidak perlu kha- eh. Belok kanan,"


Sheilla langsung membanting setir ke kanan. "Kan jadi nggak fokus. Sudahlah. Antarkan Cheon Gi ke rumah! Bilang pada kak Angel aku ada urusan dengan Shi Ah. Eh. Berhenti!"


Sekali lagi aba-aba yang mendadak. Membuat Sheilla mengerem mendadak. Mereka sama-sama menoleh ke belakang. Takut Cheon Gi terguling. Tapi untung saja tidak.


"Sudah. Jangan khawatirkan aku!" ia mengalungkan tasnya. Tangan masih stay menggenggam handphone. Mulai kembali menghubungi nomor Shi Ah. "Bye. Sheilla,"


Ia keluar. Tangannya membetulkan posisi mantel di tubuh. Sheilla yang di mobil hanya memandanginya sampai wanita itu masuk club. Ah. Memang sejatinya Veronica itu keras kepala. Dan itu menurun pada reinkarnasinya juga.


"Dimana?" tanya Arfa pada telepon. Oh bukan. Pada orang di ujung sambungan telepon sana. Ia mulai kerepotan karena menghadapi banyaknya orang yang mabuk. Sungguh seperti di dalam film-film.


"Dibagian pub nona. Ada di dekat meja bar,"


"Ah. Baiklah," Arfa memang sedang berada di dalam bagian pub nya. Jadi tak perlu ke sana kemari untuk mencari. Sungguh. Tempat seperti ini sangat ia benci. Live Musicnya menyiksa.


Ia menghampiri meja bar. Seorang waitress melambai-lambaikan tangannya sambil mengangkat tinggi-tinggi handphone Shi Ah. Arfa langsung mematikan telepon dan menghampirinya.


Benar saja. Shi Ah sudah tak sadarkan diri dengan kepala menempel pada meja bar. "Apa yang terjadi denganmu Shi Ah?" ucap Arfa menatap miris pada sahabatnya itu. Ya meski mereka hanya mengenal beberapa bulan tapi tak terpungkiri ada hubungan yang sangat dekat di sana.


"Dia sudah lama disini. Nona ini minum sangat banyak," ujar sang waitress. Arfa memperhatikannya. Tertulis Angel pada nama dadanya. Untuk bukan kak Angel kakak Arfa.


"Ah. Terima kasih karena telah menjaganya. Bisakah anda membantu saya mencarikan taksi? Saya akan membopong badannya ke depan,"


"Apa perlu saya panggil teman lelaki saya? Biar mereka yang membawanya," Arfa melihat sekitar. Apa ada pria baik di tempat seperti ini?


"Ah. Tidak perlu. Saya bisa membawanya. Tolong anda carikan taksi,"


Wanita itu pergi. Arfa memasukkan segala barang yang menurutnya milik Shi Ah. Ya. Pasti ini milik Shi Ah. Tidak ada orang lain di sekitar sini. Setelahnya, ia mengalungkan tas itu. Tangannya meraih pergelangan Shi Ah. Mengalungkannya pada bahu lalu membangkitkan wanita ini.


"Euhhh!" gadis itu melenguh pelan dalam dekapan Arfa. "Kenapa susah sekali mencintaiku juga," racaunya sangat pelan lalu tak sadarkan diri lagi. Meski begitu Arfa masih sempat mendengarnya.


Ia mulai melangkah. Untung saja badannya ringan. Jadi, ia tak terlalu kesusahan. Tapi ia merasa pernah membopong orang dengan pose seperti ini? Tapi, kapan? Selintas ia ingat pada.... serba hitam. Ya. Wajah yang terlupa itu. Ia pernah membopongnya seperti ini.


Ngomong-ngomong bagaimana serba hitam sekarang? Apa dia yang menyelamatkannya dari kecelakaan di gedung lays? Ah. Ia lupa bertanya itu pada kak Angel.


Sudahlah. Urusannya sekarang pada Shi Ah. Gadis ini sama sekali tak sadar. Padahal tadi masih sempat mengigau. Apa minumnya sebanyak itu? Apa dia patah hati?


Waitress tadi kembali. Berkata sudah mendapatkan taksi sambil membantu Arfa mengangkat tubuh Shi Ah. Oh. Bukan. Menggeret.


Pintu taksi sudah dibukakan tapi tiba-tiba. "Eh. Tunggu," seseorang mencegah pergerakan Arfa. Apa ia tidak tau kini ia sedang menderita karena bekas jahitan di perutnya belum sembuh normal? Sungguh kejam. "Arfa?!"


"Loh. Min Ho?! Ngapain kamu disini?" tanya Arfa pada orang yang mencegahnya untuk memasukkan Shi Ah ke dalam taksi.


"Hey. Jadi, nggak nih taksi?" tanya seseorang yang sepertinya sedang mabuk. Namun ia masih memiliki kesadaran.


"Oh. Nggak jadi. Silahkan!" Min Ho membawa tubuh Arfa menjauhi pintu. Ia juga berterimakasih pada sang waitress lalu menggantikan posisi Arfa. Kini Shi Ah sedang di gendong ala bridal style olehnya.


"Loh. Ada apa sama Shi Ah?" seseorang lagi muncul. Seseorang yang sedang berkelana dalam bayangan Arfa tadi saat di rumah Mr. Jang. Bagaimana bisa takdir secara kebetulan membawa dua orang pria yang tadinya sedang dipertanyakan keberadaannya oleh Arfa? Secara bersamaan lagi? "Arfa? Ngapain di sini?"


"Aku tanya aja belum di jawab. Udah. Bantuin buka mobil disana. Kuncinya disaku,"


Eun Jae menurut. Ia mengambil kunci Min Ho. Menekan remote kontrol dan setelah menemukan mobil yang dimaksud, ia langsung menghampiri dan membukakan pintu. Shi Ah di letakkan pada kursi penumpang depan mobil Andre.


"Makasih ya Fa. Udah jagain Shi Ah. Aku tadi pergi bentar," Arfa langsung melotot.


"Bisa-bisanya ya kau tinggalin perempuan di tempat kayak gini?! Bahaya tau!!"


"Ada urusan penting banget tadi," jawab Andre sambil nyengir tanpa dosa.


"Lebih penting mana sama keselamatan sepupumu?!"


"Ya kan aku mana tau kalau dia bakal semabuk ini,"


"Kau sendiri? Kalau udah tau bahaya ngapain ke sini?" Arfa menoleh ke sampingnya. Eun Jae bertanya serius.


"Ya... Shi Ah dalam masalah, kan. Secara spontan aku kesini untuk melindungi sahabatku," entah kenapa berbicara dengan Eun Jae membuat jantung Arfa meletup-letup. Ia berharap pipinya tidak bersemu karena diberi pertanyaan. Seolah-olah Eun Jae sedang mengkhawatirkannya. Aihhssss


"Sudah. Yang penting kalian baik-baik saja," Arfa merasa nyeri pada perutnya semakin menjadi. "Aku akan mengantarkan Shi Ah. Kau pulang bersama Eun Jae saja ya? Oh. Aku lupa. Dia punya jadwal ke dokter sekarang. Kau tidak apa menunggu, kan Fa? Eomma nya Shia Ah sudah meneror sejak tadi,"


Wanita itu hanya mengangguk. Kenapa rasanya sangat menyakitkan? Eun Jae mulai menyadari hal itu. Kini Andre sudah menyalakan mobilnya. "Bye," ujarnya untuk kata terakhir.


"Fa? Kau kenapa?" tanya Eun Jae sambil mengelus lengan gadis itu. Arfa langsung menangkup tangan Eun Jae disana dengan tangan yang lain. Mata Eun Jae langsung tertuju pada jemari lain Arfa yang memegang perut. Ada darah yang menembus sweaternya. "Eh. Apa jahitannya lepas? Kau tadi membopong Shi Ah sendiri? Bukankah kau tidak boleh banyak gerak?"


"Eun Jae. Sakit," rintihnya pelan. Memprotes mulut lelaki itu yang malah banyak bertanya dibandingkan cepat menolongnya.


"Ah. Maaf," ia langsung membawa lengan Arfa untuk di kalungkan pada bahunya. Menggendong wanita itu hingga sampai pada mobilnya.


Arfa menghirup aroma dari mobil Eun Jae. Sedikit membuatnya tenang. "Tahanlah!" ucapnya sambil mengelus rambut Arfa sejenak. Seolah-olah menyalurkan kekuatan.


Setelahnya ia menuju kemudi. Membawa mobil ini setenang mungkin namun tetap cepat sampai tujuan. Hari ini ia punya janji dengan Dr. Zahra. Jadi tidak perlu lagi membuat janji.


Tak butuh waktu lama untuk sampai di rumah sakit kota. Ia langsung turun dan membopong Arfa menuju ruangan Zahra. Asisten yang memang sudah sangat mengenal Eun Jae membantu membukakan pintu. Wanita di dalam langsung terkesiap dengan siapa yang datang. Oh. Bukan. Siapa yang dibawa oleh orang yang datang.


"Arfa? Ada apa dengannya Eun Jae?" Zahra langsung menghampiri meja prakteknya. Bukankah tadi pagi Dr. Adel baru memberikannya laporan kalau gadis ini sudah siuman?


"Jahitan di perutnya lepas ," ucapannya membuat Zahra langsung mengambil peralatannya.


"Tidak ada waktu untuk menuju ruang operasi. Arfa, tatap saja Eun Jae. Jangan fokus pada operasinya," ujar Zahra yang mulai menyuntikkan obat bius hanya untuk area yang dibutuhkan. Ia tau jika gadis ini tidak tahan dengan kegiatan pembedahan, jahit-menjahit, dan segala macam.


Arfa menurut. Ia memandang ke wajah Eun Jae. Apa salahnya? Lagipula ia sedang rindu. Tunggu. Sejak kapan ia jadi seperti ini. Ya. Serasa rasa sakit dan nyeri benar-benar hilang.


Ia tersenyum kecil saat melihat wajah khawatir Eun Jae. Ada desiran aneh di dadanya. Eh. Tunggu dulu. Ada yang ganjil.


"Eun Jae? Bagaimana kau tau aku habis dijahit?" pergerakan Zahra bahkan terhenti demi mendengar kebohongan apa yang akan ia gunakan.


...💕💕💕...