
Tubuh Arfa kini telah dipindahkan ke kamarnya. Ada Angel yang sedang mengurus pensterilan bersama kevin. Ia mengubah ruangan ini kedap udara.
Lalu ada Dr. Adel, penanggung jawab dari operasi Arfa tadi. Ia menghubungkan selang infus dan beberapa peralatan kesehatan yang baru saja datang dari Indonesia. Di ruangan itu pula ada nenek Arfa. Ia duduk di sisi ranjang. Mengelap wajah cucu kesayangannya dengan handuk basah.
Kulit Arfa semakin memutih saja. Bukan putih seperti kalangan orang putih di luar sana. Tapi putihnya melebihi warna salju yang sedang membadai di luar sana.
Eun Jae sekarang sedang membawa Cheon Gi dan Myung Hae berkeliling entah kemana. Itu titah dari Angel. Jangan sampai anak-anak itu tau. Ya. Mungkin sekarang mereka terjebak badai. Semoga saja mereka sedang berada di ruangan hangat saat ini.
BRUKKK....
Angel langsung terjatuh pingsan setelah acara pensterilan ruangan berjam-jam ini. Ya. Yang ia lakukan sama seperti yang pernah dilakukannya bersama Eun Jae ataupun yang diperagakan Sheilla dengan Arfa. Hanya berbeda pada kapasitas tempat yang disterilkan. Kali ini lebih besar. Sebesar ruang tidur Arfa.
Kevin langsung membopongnya dan meletakkannya di ranjang. Berbaring di sisi Arfa. Karena disini tidak ada sofa. Adel yang ingin membantu dicegah oleh sang nenek. Wanita tua itu yang mengatasi Angel.
Hal seperti ini bisa saja terjadi. Energi Angel mungkin saja kurang fit tadi. Nenek mengelus tangannya perlahan. Menyalurkan energi yang ia punya.
Sedangkan di sisi lain, monitor detak jantung mulai mengeluarkan suara dan gelombang yang ditampakkannya dari organ milik Arfa. Alat ini berbeda dengan yang di rumah sakit. Ia lebih tipis, lebar, dan berwarna. Penuh tulisan tentang berbagai aktifitas dalam tubuh Arfa. Bukan hanya jantungnya. Alat ini bisa mendeteksi pemprokdusian asam lambung dalam pencernaan. Ataupun enzim lain.
Seperti saat ini. Ia juga sedang bekerja menampilkan bagaimana pergerakan jantung Arfa yang lemah. Jantungnya tak sama dengan manusia lain. Lebih kecil karena penyusutan namun memiliki tekanan yang lebih kuat. Detakannya samar dan tidak dapat dideteksi oleh alat-alat umum yang ada di bumi.
Kenapa begitu? Karena dia bukanlah manusia biasa. Dia manusia putih keturunan mutasi gen. Dia manusia yang akan memutih jika dalam kondisi lemah dan menghirup oksigen. Dalam artian lain, ia tak bernapas. Semua organ dalam tubuhnya beroperasi kecuali paru-paru. Dia anaerob obligat.
Sebutan bagi mereka adalah exhuman. Begitu pula dengan Angel. Ia keturunan exhuman. Maka dari itu dia bisa melakukan pensterilan seperti ini. Sebenarnya pensterilan seperti ini bisa dilakukan oleh semua manusia umum. Mereka hanya perlu menggunakan 90 % ke atas kemampuan otaknya. Dalam eksperimen para ilmuwan sudah ada yang menyimpulkan begitu. Mendapat sebuah kekuatan tersembunyi jika menggunakan otaknya secara penuh. Namun manusia umum terlalu lemah. Bahkan untuk mengerjakan soal Matematika tersulit sedunia, otak tak mencapai 10 % dalam penggunaan.
Pensterilan dengan memindahkan semua udara di dalam keluar, hanya membutuhkan satu orang exhuman dan satu manusia asli. Namun jika ingin menghasilkan sesuatu yang lebih besar mereka harus menggabungkan dua exhuman. Seperti barusan.
Tapi, memang apa sebenarnya exhuman itu?
Itu bermula ketika para ilmuwan mengadakan percobaan ilegal dengan manusia sebagai bahan eksperimennya. Mereka ingin membuat manusia yang tak memerlukan oksigen untuk bernapas. Percobaan mereka gagal dan mayat itu dibuang ke laut lepas tanpa ada yang mengetahuinya.
Meski begitu, perkiraan mereka dengan manusia percobaannya yang mati ternyata salah. Ia hanya memutih sebagai efek dari keracunan oksigen. Mereka membuat gen dari tubuhnya anti terhadap oksigen. Mengakibatkan jantungnya melemah dan tak sadarkan diri.
Itulah awal mula exhuman. Begitulah mereka menyebut mereka sendiri. Mereka memiliki beberapa keunikan. Namun ada juga yang hanya memiliki otak cerdas. Otak mereka akan berkembang pesat jika mereka tak menghirup oksigen. Memang mustahil tapi itulah mereka. Gen meraka anti terhadap oksigen.
Populasi exhuman ada beberapa di bumi. Namun mayoritas berada di dunia mereka. Smart World. Dunia tanpa oksigen yang mereka buat sendiri.
Kevin, dia juga exhuman. Dia adalah pasangan Angel. Dalam dunia mereka, dna yang mereka miliki tidaklah sempurna. Ya. Masih akibat dari mutasi gen yang tak sempurna itu. Percobaan gagal membuat exhuman tidak bisa asal pilih dalam pasangannya. Jika salah maka keduanya bisa kehilangan nyawa. Begitu pula apabila satu mati. Maka pasangannya tak lama kemudian akan mati akibat tak adanya penopang hidupnya di dunia.
Adel. Dokter ini sebenarnya dokter di dunia exhuman. Hanya saja ia berasal dari perkawinan antara manusia biasa dan seorang ayah yang exhuman. Membuatnya hidup di ambang kebingungan. Saat di umur 17 tahun, dia mulai menjadi manusia normal namun juga terikat dengan dunia exhuman. Ia bisa memutih. Ia juga punya jantung yang tak terdeteksi detakannya. Namun, ia bernapas. Ia tak langsung terbiasa menggunakan otak secara keseluruhan. Kecuali jika dilatih.
"Kulit Putri kembali normal," ujar Adel girang. Angel yang baru sadar langsung bangkit dan mengecek perkataan temannya itu. Benar saja. Kulit Arfa mulai membaik. Mungkin akibat oksigen yang tak lagi meracuninya dan cairan infus itu.
Angel menghela napas lega. Pusing dikepalanya serasa hilang. Rasa lelah akibat pensterilan seolah-olah sirna begitu saja. Ya. Meski hanya kabar kecil. Meski Arfa belum sadar namun itu cukup untuk membuatnya bahagia.
"Apa yang telah terjadi?" ucap seseorang yang tiba-tiba muncul di pojok ruangan. Ia melangkah mendekat dan berhenti tepat di sisi tubuh Arfa.
"Kau darimana saja! Kenapa tidak menjaga Veronica dengan benar. Hah?!" ucap nenek yang memukul kepala gadis itu cukup keras.
"Aduh. Oma. Sakit," rintihnya tak terima.
"Biar. Kau patut dihukum karena meninggalkannya begitu saja,"
"Iya. Kau kemana, Sheilla? Kenapa tidak ada di sampingnya?" tanya Angel turut menuntut. Namun nadanya lebih lembut dari nenek yang terlihat kesal.
"Aku sibuk membuat ruangan khusus. Veronica yang memintaku. Mana aku tau dia begini. Apa yang terjadi?" jawab Sheilla masih mengelus kepalanya yang sakit terkena jitakan dari oma. Nenek Arfa. Nenek mereka semua.
"Lihat apa yang terjadi?!" ucap oma yang akan kembali memukul namun ditahan oleh Sheilla. Gadis itu nyengir.
"Jantung oma bisa copotloh kalau marah terus. Manusia bisa salah. Masak exhuman nggak boleh sih?"
Oma menarik tangannya jengkel. Mereka semua tertawa. Sesaat lupa dengan keadaan dan suasana tegang yang terjadi.
***
Myung Hae dan Cheon Gi sedang berada di salah satu restorant dalam lotte mall. Mereka duduk dekat jendela kaca yang menampilkan suasana luar dengan badai salju kencang.
"Jadi kau sering kesini?" tanya Cheon Gi. Myung Hae mengangguk. "Sendirian?" ia mengangguk lagi. "Kenapa?"
"Apanya yang kenapa?" tanya Myung Hae bingung.
"Kenapa kau datang sendiri. Kenapa tidak bersama keluargamu?"
"Mereka sibuk," Myung Hae menyeruput minumannya.
"Apa mereka tidak khawatir?"
"Sebanyak itu?"
"Lebih dari itu. Kurasa pembicaraan kita juga terekam,"
"Waw," Myung Hae tersenyum puas dengan kegamuman Cheon Gi. Ia kembali menggenggam gelas yang terasa hangat itu. "Lalu kenapa kau tidak pergi dengan teman-temanmu?"
"Mereka tidak menyukaiku,"
"Apa?! Kau tadi bilang kalau kau selalu juara kelas. Kenapa mereka tak menyukaimu?"
"Tidak semua orang menyukai anak pintar. Beberapa dari mereka tidak ingin bergaul padaku karena merasa diri mereka miskin. Aku tidak pernah mempermasalahkannya. Tapi mereka menjauh. Tapi mayoritas lagi tidak suka karena aku pintar. Orang tua mereka selalu membanding-bandingkan anaknya denganku. Mereka membenciku karena itu,"
"Mmm.... tapi apa kau tak pernah merasa kesepian?"
"Aku terlahir begini. Aku terlahir tanpa teman,"
Suasana hening sejenak. Tiba-tiba Cheon Gi mengulurkan tangan kanannya. "Oh Cheon Gi," Myung Hae yang bingung hanya mengerutkan kening. "Aku ingin menjadi temanmu,"
Gadis kecil itu tersenyum lalu menjabat tangan Cheon Gi. "Jang Myung Hae. Mari kita berteman, Cheon Gi?"
"Tentu. Kita teman," keduanya sama-sama tertawa. Beberapa saat kemudian handphone Myung Hae berdering. Telepon dari nomor bertajuk Arfa Eonni. Ia langsung menunjukkannya kepada Cheon Gi dan keduanya terlihat bersemangat. Myung Hae mengangkatnya lalu menyalakan loudspeaker.
"Yeoboseo?"
"Angel Nuna?" ucap Cheon Gi. Myung Hae kecewa. Dikiranya itu telpon dari Arfa. Begitupula dengan Cheon Gi. Mereka kecewa.
"Iya. Ini aku. Kalian dimana? Mana Eun Jae?" tanya Angel diseberang sana.
"Ahjussi... eh Eun Jae oppa ada urusan katanya. Jadi pergi," jawab Myung Hae
"Loh. Siapa yang menjaga kalian? Kalian dimana?"
"Kami ada di lot-,"
"Di rumah Myung Hae. Kita ada di rumahnya Myung Hae Nuna," Myung Hae menatap Cheon Gi tak percaya. Lelaki kecil ini ternyata juga bisa berbohong.
"Oh. Baguslah kalau begitu. Angel nuna dan Arfa nuna tidak akan pulang. Jadi, Cheon Gi menginap saja di rumah Myung Hae. Tidak apakan Myung Hae?"
"Tentu saja," jawab yang bersangkutan.
"Kirim nomor orang tuamu ya. Kakak ingin minta izin dulu,"
"Tapi orang tua Myung Hae sedang di Eropa,"
"Loh. Kalau begitu kalian dengan siapa?"
"Disini banyak saudara-saudara Myung Hae. Ada paman dan bibi-bibinya," Myung Hae menatap Cheon Gi lagi heran. Kenapa anak ini bohong terus?
"Oh. Kalau begitu... katakan pada mereka kakak titip Cheon Gi ya. Ya sudah. Kakak banyak urusan. Nantiku telpon lagi,"
"Eh. Kak. Bagaimana ....,"
Tuuut tuut tuuut
Cheon Gi berdecak kesal. Belum saja ia bertanya tentang Arfa tapi telepon telah diputus dulu. "Hey. Kenapa kau terus berbohong?" pertanyaan Myung Hae membuat tali kekecewaan Cheon Gi putus begitu saja.
"Aku tidak ingin kak Angel khawatir. Dia sudah mengurus Arfa nuna,"
"Kenapa harus khawatir? Disini kita dijaga,"
"Apa nuna akan percaya jika kau yang kecil begini punya banyak bodyguard. Aku saja belum bisa mempercayainya,"
"Hey. Aku tidak kecil ya. Lagipula kenapa kau belum percaya? Apa ingin ku kenalkan dengan para bodyguardku?"
"Sudahlah. Lihat! Badainya mulai reda. Bisakah supirmu membawa kita pulang sekarang?"
"Tentu saja bisa. Kau benar-benar meremahkanku. Ayo!" gadis itu turun dan berjalan terlebih dahulu. Cheon Gi sekilas tertawa kecil lalu menyusul langkah Myung Hae.
Para bodyguard yang tadi terlihat sibuk sendiri langsung mengikuti tanpa menimbulkan kecurigaan. Tapi Cheon Gi menyadari itu.
Kali ini ia mungkin bisa percaya.
...💕💕💕...