
Ini sudah seminggu sejak Arfa yang menghilang begitu saja. Ya. Dia izin ada suatu hal mendesak yang harus dilakukan. Entah apa itu, yang pasti gadis asal Indonesia tersebut belum juga kembali.
Kewisudaan para murid tahun terakhir akan tiba. Di Korea Selatan, dimulainya tahun ajaran baru mulai bulan Februari. Ya. Seperti halnya Cheon Gi yang mulai sekolah di salah satu elementary school begitu pula dengan Arfa yang juga akan melaksanakan wisuda hari ini.
Eun Jae terus menunggu di depan gerbang. Menelepon nomor gadis itu yang tersave rapi di halaman kontaknya. Sama sekali tak ada jawaban.
Sebenarnya hubungan mereka pernah lebih renggang dari ini. Ya. Sebulan. Itu bukan kesengajaan Eun Jae kan. Meski begitu ia merasa sangat hampa. Mereka baru bersama bahkan tak sampai dua hari. Ia juga penasaran siapa yang menelepon gadis itu hingga membuatnya khawatir.
Apa ini tentang keluarganya? Ia juga tak paham. Nomor Angel juga tidak aktif. Dr. Zahra, jangan ditanya. Yang satu itu juga tak tau apa-apa. Katanya Angel memang sudah pergi sejak lama. Ada urusan pribadi.
Tapi setidaknya, ia hanya butuh satu hal untuk hari ini. Ya. Ini adalah hari ulang tahunnya. Setidak-tidaknya Arfa mengucapkan sesuatu untuk hari ini. Sesuatu yang bisa menghangatkan hatinya. Eun Jae tak pernah menganggap sebegitu pentingnya tanggal ini sejak kecil.
TING!!
Sebuah notifikasi menghampiri handphonenya. Ia meraih benda kotak itu yang memang masih dalam genggaman. Ada pesan singkat dari Chun Seung.
Chun Seung
Kau dimana? Ke lapangan tengah. Ada kehebohan akibat pacarmu itu.
Chun Seung
Arfa
.
.
Sedangkan disisi lain, tepatnya dihalaman sekolah Blackfire, semua anak sedang mengelilinginya. Di halaman ini berdiri sepasang siswa siswi bertoga.
"SARANGHAE ARFA!!!" teriaknya begitu keras hingga membuat semua perhatian tertuju padanya. Bahkan siswa siswi di dalam gedung ikut keluar ke balkon.
Sedangkan gadis di hadapannya tak dapat berkutit sama sekali. "HEY ! STUDENT OF BLACKFIRE HIGH SCHOOL! INTRODUCE MY GIRLFREIND. ARFALIA...," semua siswa bersorak kaget. Ada yang kecewa ada juga yang mendukung. "INI KEJUTAN UNTUK KALIAN! HAPPY GRADUATION ! AND HAPPY ANNIVERSARY FOR US!" pandangan Joon Yeong kembali pada gadis di depannya yang sedang berwajah campuran, marah plus salah tingkah.
Laki-laki ini mulai mendekat ke arah Arfa. Dan menghentikan langkahnya saat dirinya berjarak sekitar 1,5 meter, cukup untuk Joon Yeong berbicara tanpa berteriak "Hadiah pembukaan dariku untukmu di anniversary kita yang ke-2 tahun," lalu kedua tangan Joon Yeong telentang sambil memundurkan tubuh 2 langkah.
Dari balik gedung-gedung sekolah blackfire yang mengelilingi lapangan, keluar begitu banyak balon yang ujung-ujungnya terikat pada sebuah benda lebar bertulis. Pada benda pertama bertulis Mae Joon Yeong and Arfalia dengan banyak hiasan lain yang menyertai di bidang datar tersebut.
Sedangkan benda kedua bertulis "Happy anniversary ke-2 tahun,". Tulisan inilah yang berhasil membuat siswa blackfire lebih tercengang lagi.
Begitu pula dengan langit yang kini telah terhiasi balon-balon bentuk hati berwarna putih dan pink. Beberapa balon yang bentuknya agak beda, mulai meletus tegak lurus dengan posisi lapangan. Memberikan hujan mahkota bunga mawar merah yang indah.
"Aku sangat takjub," ujar Arfa sambil tersenyum sangat lebar. Ia tertawa penuh arti di balik kebahagiaannya. "Manusia purba, apa selanjutnya?"
"Kamu harus sabar. Acaranya masih banyak," jawab Joon Yeong sambil mendekat ke arah Arfa. Tangannya mulai membersihkan kepala gadis tersebut yang dipenuhi kelopak bunga mawar. Senyum merekah di bibir keduanya.
TIBA-TIBA....
Plas !
Tangan yang tadinya membelai rambut Arfa dengan manja, terhempas dengan terpaksa akibat dorongan pada lengannya. Lalu sebuah tinju keras menghantam tulang pipinya. Ia langsung jatuh tersungkur. Arfa menelan ludahnya susah payah. Semua akan dimulai.
Gadis itu melihat darimana asal tinju itu. "Eun Jae?!"
"Ikut aku!" langsung menggandeng tangan Arfa tapi gadis ini segera menghempaskannya. Ia malah menghampiri Joon Yeong yang jatuh tersungkur sambil membantunya bangkit.
"Apa kau baik-baik saja?" tanya Arfa sambil secara perlahan menyentuh ujung bibir Joon Yeong yang berdarah. "Sakit?" tak lama kemudian wanita ini berbalik dan menghadap Eun Jae yang masih terlihat marah." APA MAUMU!"
"Honey. Ini urusan antar lelaki," sahut Joon Yeong sambil memegang pundak Arfa dan menyuruhnya mundur. Sedangkan ia maju selangkah. Lalu tak lama kemudian membalas tinjuan dari sang lawan tadi. Para siswa yang masih menyaksikan langsung berteriak histeris.
"Ada apa ini?!" teriak seorang pria dari kejauhan. Semua pandangan langsung tertuju padanya dengan cepat. Terlihat dengan jelas wajahnya, guru tertampan terhits dan tergalak di blackfire highschool, Mr. Albert.
***
"Saya memiliki sebuah hipotesis sendiri tentang hal ini," ujar direktur bidang fisika berhasil memecah keheningan yang terbentuk sejak setengah jam yang lalu di ruangannya ini. "Jika kalian tetap diam, Saya akan melakukan cara saya,"
Meski begitu ketiga murid Blackfire yang berbeda bed pada setiap blazer mereka itu, tetap tak berkata apa-apa. Satu perempuan di antara dua laki-laki menjadi satu-satunya murid yang terlihat sopan saat menghadapi direktur fisika. Ia menunduk. Dia adalah anak seni. Sedangkan dua yang lainnya berasal dari kelas yang sama. Bahkan didikan langsung dari Mr. Albert, wali kelasnya.
Keheningan kembali lahir selama selang waktu 15 menit sebelum seseorang membunuhnya bagi. Siapa kalau bukan Mr Albert. "Mae Joon Yeong. Ikut saya!" sambil bangkit dari singgasananya.
"Untuk ap-" belum saja muridnya selesai bertanya, Mr Albert mengulangi perintahnya dengan nada sedikit menekan. Alhasil, Joon Yeong mengikuti direktur fisika itu menuju keluar ruangan. Setelahnya entah kemana arah layangan kaki mereka.
Keheningan tetap setia menemani. Menyelimuti dan berhasil memberi jarak antara siswa-siswi blackfire yang duduk bersebelahan. Tak ada yang berani angkat bicara sejak 10 menit Mr Albert bersama Joon Yeong meninggalkan ruangan.
"Apa yang kau rencanakan?" pertanyaannya tidak mendapat respon setelah setengah menit. "Aku tak butuh apapun di hari ini. Hentikan semua dramamu!"
Eun Jae masih terlihat bingung. Tanpa menyadari bahwa Arfa sedang menarik napas sangat dalam.
"Kami telah menjalin hubungan selama 2 tahun terakhir. Dan hari ini adalah anniversary kami yang kedua tahun. Entah kau percaya ataupun tidak, itu bukan urusanku. —Oh iya selamat ulang tahun, ya," ujar Arfa dengan senyumnya yang tak biasa.
"Jika ini bukan dramamu, apakah dia mengancammu? Apa yang dia ancam?! Katakan padaku!!"
"Dia tidak mengancamku,"
"Fa. Tenang. Disini tidak ada cctv. Tak akan ada kamera pengintai atau perekam suara. Kau tak perlu takut. Ini ruangan Mr. Albert,"
"Untuk apa aku takut? Apa kau masih tidak paham dengan kata-kataku? Berhentilah mulai sekarang!"
"Aku akan melindungimu. Apa yang dia ancamkan, ha?"
"Cukup! Tidak ada ancaman antar sepasang kekasih. Aku mencintainya. Jadi, jangan menuduhnya yang tidak-tidak!"
"Fa. Aku juga mencintaimu. Aku tak ingin kau terluka, "
"Eun Jae! Apa kau masih belum paham juga? —Sudahlah. Aku capek," langsung bangkit kemudian meninggalkan ruangan Mr. Albert sekaligus Eun Jae dalam keadaan kesal. Pria itu tak sempat mencegah.
Baru saja 10 meter jalan yang ia lewati, tiba-tiba seseorang menarik tangannya lalu membawa serta tubuh gadis ini menuju tempat sepi. Sebuah lorong yang hanya ada mereka di sana.
Meski cahaya di lorong itu agak redup, tapi Arfa masih bisa melihat siapa orang yang membawanya ke sini. Teman baik Eun Jae, Chun Seung.
"APA MAUMU?!!" ucap Arfa ketus.
"A-aku hanya ingin memastikan. Apa maksud di lapangan tadi?" tanya Chun Seung dengan volume kecil.
"Ya Tuhan. Kenapa semua orang menanyakannya? Apa belum jelas?!"
"Jika aku berkata belum bagaimana?" nadanya sedikit ketus.
"Itu bukan urusanmu!" Arfa tak ingin kalah ketus. Kemudian ia beranjak pergi, namun Chun Seung langsung menghentikannya dengan cara mencengkram erat lengan Arfa.
"Aku ingin kau menjelaskan semuanya, " wanita itu kembali menghadap pria dengan Blazer yang berbeda bet dengannya itu. Logo kelas seni. "Aku masih belum paham,"
"Dasar Fire!! Lalu aku harus menjelaskan darimana?"
"Mulai dari aku mengenal Joon Yeong?" pria didepannya hanya mengangguk." Enak saja!" langsung menarik lengannya yang sedari tadi ditawar oleh Chun Seung.
"Ya sudah kalau begitu. Ingat! Aku masih punya rekaman adegan di kolam saat itu, " mata Arfa langsung membulat mendengarnya." Mau disebar lewat mana? Sosmed? Atau cukup di mading? Atau mungkin....,"
"Berani sekali kau mengancamku!!"
"Oh. Kau memilih disebar saja?"
"Baiklah-baiklah. Akan kuceritakan!" ucapnya berhasil menghentikan mulut Chun Seung yang mengoceh sendiri.
"Begitu dong. Ini namanya teman. Mau bekerja sama?" Arfa hanya diam. "Jadi, sejak kapan kau mengenal dia?"
"Dia siapa?"
"Oh. Kusebar nih ya....?"
"Huh. Aku mengenalnya saat baru masuk SMA,"
"Bukannya kau masih di In....,"
"Aku mengenalnya lewat Kak Angel. Saat itu dia sedang merawat luka nya di klinik kakakku. Aku sedang menelepon kakakku tapi malah dia yang mengangkatnya, " Chun Seung langsung memasang wajah bingung. " Kak Angel sedang ke kamar mandi saat itu, "
Bibir clasmatenya membulat, membentuk huruf O. "Awalnya hanya percakapan singkat. Tapi, lama-kelamaan kita sering teleponan. Dan, saat liburan semester, ia berkunjung ke Indonesia. Hubungan kami semakin baik. Seiring berjalannya waktu dan akhirnya kita sahabatan lalu berakhir menjadi sepasang kekasih,"
"Tunggu! Joon Yeong adalah orang yang menculikmuu waktu itu. Tapi.....,"
"Syukurlah kau percaya. Akting kami bagus bukan? Bahkan kalian akan menjadikanku bagian dari Fire. Daebak!!"
"Jadi maksudmu? Semua ini sandiwara?"
"Tanya saja sendiri! Cukupkan dongengnya? Bye!" langsung pergi meninggalkan Chun Seung yang diam memaku. Bahkan pria itu tak sadar kalau Arfa sudah tak berada di sekitarnya.
Bodoh jika kau percaya! Itu cerita novel yang pernah aku baca. Batin Arfa sebelum pergi. Ini kan Chun Seung. Bukan Eun Jae. Arfa tidak perlu was-was.
...💕💕💕...