You, Me, And My Secret Life

You, Me, And My Secret Life
25. Sayang



Arfa membuka matanya. Ia mengerjap beberapa kali sampai matanya bisa menyesuaikan cahaya di kamar ini. Ia bangkit duduk sambil sesekali menguap.


Tangannya beralih membuka selimut sambil kedua mata beredar. Otaknya masih meloadding agak lamban akibat baru bangun. Namun lima detik kemudian ia menutup mulutnya yang terbuka dengan telapak tangan akibat terkejut.


Dia tidur di kamar Eun Jae. Ya. Arfa sangat kenal tata letak di sini. Tapi, bagaimana bisa dia memilih tertidur di sini? Atau jangan-jangan ia ketiduran?


Arfa memukul kepalanya sendiri. Ingin melampiaskan malunya tapi pada siapa. Apa pikiran lelaki itu jika melihat Arfa malah memilih tidur di kamarnya?


Eh. Tunggu. Dimana Eun Jae? Matanya kembali beredar tapi tetap tak menemukan subjeknya. Apa ia bangun? Itu pasti. Berarti dia tau jika Arfa tidur di ranjangnya.  Ahhrrrr....


TOK ! TOK ! TOK !


"Non," Arfa langsung mengalihkan pandangan pada daun pintu. Itu.... suara ahjumma. "Nona sudah bangun?"


Ia langsung bangkit dan menuju pintu. Membukanya perlahan. "Ah. Maaf menganggu istirahat nona,"


"Tidak apa-apa. Aku juga sudah bangun dari tadi," Arfa masih memegang bingkai pintu. Takut terjatuh. "Ahjumma jangan memanggil nona. Panggil saja Arfa!"


Wanita paruh baya itu malah tertawa kecil. "Tidak bisa nona. Mana mungkin saya berani memanggil pacar tuan muda dengan sebutan nama,"


"Hah? Pacar?"


"Oh iya. Saya hampir lupa. Makan malam telah siap. Kata tuan muda anda diminta makan terlebih dahulu," jawabnya seolah-olah tak mendengar pertanyaan Arfa tadi. Dan, Arfa pun terlupa karena ada yang lebih penting. Makan malam?


"Makan malam?" beonya sendiri. Ia mengecek jam di pergelangan tangan dan matanya terbelalak. Jam 8. Terlalu lama bukan tidurnya.


Ahjumma kembali tertawa pelan. "Nona bisa membersihkan badan terlebih dahulu. Tuan muda masih ada acara diluar," jelasnya seolah-olah tau pasti Arfa akan menanyakan hal tersebut. "Saya akan menghangatkan masakan,"


Arfa mengagguk saja. Ia masih syok. Begitu lama ia tidur. Dan.... kenapa Eun Jae tak membangunkannya? Ah ya. Ia sedang keluar. Eh. Sejak kapan dia keluar.


Ia berusaha melupakan berbagai pertanyaan. Badannya perlu di bersihkan seperti kata ahjumma.


15 menit kemudian ia telah duduk rapi di ruang makan dengan wajah yang lebih segar. Ahjumma memaksa menyiapkan makanan dan Arfa tidak merasa baik-baik saja dengan itu. Dia kan bisa sendiri. Tapi sepertinya keras kepala ahjumma lebih besar daripada dia.


"Ahjumma juga ikut makan saja," ucapnya saat wanita itu malah akan kembali ke dapur seusai menyiapkan segalanya.


"Tidak. Nona makan saja. Saya sudah makan,"


Arfa cemberut. "Aku tidak biasa makan sendiri," ia telah bangkit. Kalau begini harus dipaksa. Arfa mengambil piring dan sendok lagi untuk ahjumma.


"Tapi nona....,"


"Aku sudah menyiapkan ini," sambil menunjuk peralatan makan untuk ahjumma yang tengah ia letakkan di meja makan. "Tega sekali ahjumma membiarkannya sia-sia," tak lupa wajah sedih yang dibuat-buat.


Ahjumma tampak berpikir. Terlalu lama. Arfa langsung menarik wanita itu dan membawanya terduduk di kursi makan. "Kita makan bersama. Sedikit saja tak apa jika ahjumma benar-benar sudah makan,"


Wanita itu mengangguk pasrah. "Baiklah," membuat Arfa berjingkrak senang. Lalu ia melangkah menuju kursinya yang berhadapan dengan ahjumma.


Acara makan malam yang kemalaman pun terlaksana. Mereka makan dengan khidmat sambil kadang-kadang diselingi pertanyaan seperti, sejak kapan ahjumma bekerja di sini? Atau, apakah bekerja dengan Eun Jae menyenangkan? Tidak repot? Diakan lelaki.


"Sejak tuan muda masih belum lahir saya sudah bekerja di keluarganya," jawab ahjumma. "Tentu saja. Meski lelaki, tuan muda itu mandiri. Bahkan saya tidak pernah diminta memasak karena ia bisa sendiri. Tugas saya hanya membersihkan rumah,"


Arfa tercengang dengan beberapa jawaban yang terlontar. Pertanyaan pun tak henti-hentinya menghantui. Tapi, ia memilah apa saja yang akan ia lontarkan.


"Nona sendiri, sejak kapan mengenal tuan muda?,"


Arfa tampak berpikir sambil mengunyah makanan. "Tidak lama. Pertengahan tahun,"


"Wah. Tuan muda tidak pernah membawa orang selain tuan Chun Seung dan tuan Yeol. Pasti hubungan nona dengan tuan muda sangat dekat," Arfa akan bertanya perihal dua lelaki yang disebut itu sebelum akhirnya ahjumma kembali berkata sambil menahan tawa. "Bahkan kalian tidur di kamar yang sama,"


Pipi Arfa bersemu merah. Malu. Lagipula siapa orang yang tidak akan malu jika berada di posisinya. "Dimana Eun Jae? Dia pergi kemana?" tanyanya berusaha mengalihkan topik.


"Saya juga tidak tau," wajah usil ahjumma menghilang. "Sudah sejak pagi tadi. Mungkin tuan muda dalam perjalanan,"


Arfa terkejut. Selama itu? Tapi, ia mengangguk paham. Tangannya menyendokkan nasi dan lauk yang masih tersisa. Rasanya makan lama sekali. Mungkin karena satu suap diselingi sebuah atau dua buah pertanyaan.


Sendok ia layangkan ke arah mulutnya. Siap untuk dilahap. Namun tiba-tiba seseorang mendahuluinya. Bahkan wajah sang pencuri masih berada di sisinya. Suara kunyahan antar gigi bisa ia dengar jelas.


Arfa melirik dengan ekor matanya. Wajah itu sungguh dekat. Membuat jantungnya berlari di malam hari. Sial. Ia langsung memalingkan wajah.


Lelaki itu malah mengambil piring dan sendok Arfa. Ia mulai menyantapnya. "Tuan muda sudah pulang? Kalau tuan muda lapar biar saja buatkan,"


"Tidak. Ini cukup dan lebih enak. Bolehkan, Fa?" gadis yang dimaksud menoleh. Terpaku dengan wajah di sana. Tapi, akhirnya mengangguk lemah yang di balas senyuman dari Eun Jae.


Gadis ini masih memandang Eun Jae hingga selesai makan. Bahkan saat ahjumma mulai membersihkan meja makan. "Apa ada yang salah dengan wajahku?"


"Hah? Tidak kok," Arfa malah tersenyum kaku. Tentu saja ad— ia menahan diri untuk tidak berujar dalam hati. Eun Jae sangat berbahaya.


"Jadi....," ia malah menyandarkan kepala pada lengan yang bertumpu dengan meja makan. "Apa aku tampan? Kau bahkan tak berkedip saat menatapku,"


Arfa menghembuskan napasnya kesal. "Tidak. Tidak sama sekali,"


"Ohya?" Eun Jae malah mendekatkan wajahnya pada wajah Arfa. "Kau satu-satunya yang bilang tidak,"


Arfa menahan napas. Tapi tak lama kemudian Eun Jae menjauh saat ahjumma terlihat mendekat. "Makasih ahjumma telah menjaga kucingku," sambil melirik sekilas pada Arfa. Sedangkan gadis itu sudah melotot garang. "Maaf membuatmu terlambat pulang,"


"Tidak apa-apa tuan muda. Ini sudah tugas saya. Baiklah. Saya pamit terlebih dahulu," ahjumma menunduk sekilas lalu melenggang pergi. Kini tersisa Eun Jae dan Arfa yang tengah cemberut dibilang kucing.


Hening. Arfa masih memilih diam. "Mau tetep diem?" ia melirik ke samping dengan kesal. Terlihat Eun Jae kembali berpose dengan tangan bertumpu pada meja.


Ia berpaling. Berusaha memutus ikatan dari mata memikat milik Eun Jae. "Eh. Iya. Kita belum kenalan loh?"


Kali ini ia menoleh tapi tetap tak berbicara. Alisnya terangkat seolah-olah bertanya 'maksudnya' pada lelaki yang sudah mengulurkan tangan. "Aku Eun Jae. Song Eun Jae,"


Arfa tetap tak bergeming. Ia bergantian memandang tangan dan wajah sang pemilik. "Namamu ?"


"Kau sudah tau," kali ini ia angkat bicara.


"Perkenalan kita kurang bagus. Ayo kita ulang!" Arfa masih terlihat kesal meski raut wajahnya menandakan kekesalan itu mulai berkurang. "Tak kenal maka tak sayang,"


Arfa tersenyum masam. "Memangnya kalau kita sudah berkenalan kau akan sayang?"


"Tentu,"


Gadis ini terbelalak. "Hah?!"


"Sayang sebagai kawan,"


Arfa mendengus kesal. Entah kenapa ia tak suka dengan tiga kalimat tadi. Bisakan dua kata penyerta paling belakang dihilangkan dan diganti dengan yang lebih bagus?


Ia langsung menjabat tangan Eun Jae yang masih menggantung. Menyebutkan namanya dengan nada yang sangat terlihat bahwa ia marah. Eun Jae malah terkekeh pelan. Ia tak berniat melepas genggaman.


"Eh. Lepasin!" Arfa berusaha menyentak tangannya. Tapi, tak berhasil.


"Maafkan aku,"


Gadis ini tak lagi memberontak. Ia bingung dengan kata-kata Eun Jae. Wajahnya yang tadi usil pun berubah drastis. Sok sedih. Atau memang sedih. Entahlah.


Lelaki itu pun berdiri. Ia menarik tangan yang masih saling terpaut dengan Arfa. Membuat sang gadis langsung berdiri bahkan menubruk dada bidangnya kencang.


Eun Jae mengelus kepala Arfa. Pelan dan lembut namun akhirnya memberantakan geraian di sana. Buru-buru Arfa menepis. Ia merasa dejavu dengan elusan tangan Eun Jae pada kedua tangannya.


"Apa an sih?," ia akan menjauhkan badannya namun kembali ditarik oleh Eun Jae hingga kembali ke posisi semula.


Lelaki ini memeluk pinggang Arfa protektif. Seakan-akan tak ingin kehilangan. Dan sialnya Arfa pun menikmati rasa hangat yang tersalur. Ia merasa nyaman.


Hening. Tak ada apa-apa yang terdengar hingga akhirnya suara bisiskan tak jelas memasuki telinga Arfa. Sepertinya Eun Jae yang berbicara. Ia mendongak dan matanya langsung terpaku pada netra hitam gelap memikat itu.


"Jangan pernah marah padaku!" Arfa masih memandanginya.


CUP.


Eun Jae mengecup bibir Arfa pelan dan lembut. Hanya kecupan sekilas dan berhasil membuat keduanya sama-sama mengejang. "Saranghae Arfa,"


Dan setelahnya semua terlihat buram dan gelap bagi gadis ini.


...💕💕💕...