
Seorang dokter sedang duduk-duduk di sofa ruang kerjanya. Ia baru saja selesai dengan operasi salah satu pasiennya yang menderita jantung lemah. Ya. Transplantasi organlah yang telah ia lakukan. Kini ia ingin melepas semua peluh dan letihnya.
Badannya yang bersandar pada sofa memberikan kesempatan pada matanya untuk terpejam. Tiba-tiba sebuah suara membangunkannya. Handphone di atas mejanya bergetar.
Sejenak ia hiraukan. Namun itu bukanlah nada dering telepon atau notifikasi pesan chat. Itu... matanya langsung terbuka lebar. Ia bangkit dan menuju meja kerja lalu menyambar handphonenya kasar.
Benar saja. Tangan satunya langsung menyambar mantel yang ia sandarkan pada kursi kerja. Setelahnya ia mulai memasang earphone di telinga kiri. Ia terlihat panik.
"Yeobose....,"
"Eun Jae. Kau dimana?" ujar Dr Angel sambil menunggu lift terbuka.
"Aku sedang menuju blackfire. Ada rapat....,"
"Putar arah. Pergi ke rumahku sekarang. Ada situasi bahaya," lift terbuka. Ia segera masuk dan menekan lantai basemant.
"Apa?! Tidak ada apa-apa. Pelacak di kalungnya menunjukkan ia masih di rumah. Dia di kamar," meski mengatakan seperti itu nyatanya ia membanting setir dan memutar jalur menuju rumah Angel.
"Kalung apa?"
"Aku memberikan kalung padanya. Terdapat pelacak disana,"
Lift berdenting. Angel keluar saat dua besi berlapis itu membuka. Ia berlari menuju mobil. "Dia menghubungi Arfa,"
"Apa? Siapa?"
"Kau tidak akan tau meski aku menceritakan. Cepat ke rumah!" mobilnya keluar dari rumah sakit dan melaju kencang di jalanan.
"Dalam perjalanan,"
.
.
Keduanya sama-sama mematikan sambungan. Kembali lagi pada Cheon Gi yang baru saja memasuki rumahnya. Bersama seorang gadis yang sama sekali tak ia ketaui namanya.
Sambil menyebut kata nuna lantang-lantang, ia berkeliling mencari kakaknya. Mulai dari depan ke belakang lalu ke depan lagi. Setiap kamar ia buka, namun tak dapat menemukan kakak malang yang tadi terluka akibat pecahan gelasnya.
Hingga sampai lah ia di depan kamar kakak tercintanya itu. Tangannya memutar gagang pintu tapi sepertinya pintu ini terkunci. Diketuklah pintu itu sambil terus memanggil-manggil kakaknya. Namun tak ada responan.
"Ini kamar nunamu?" tanya gadis di sampingnya.
"Iya. Biasanya nuna selalu menjawab,"
Suara deru mobil terdengar di luar. Kedua anak ini menoleh tapi tak berniat keluar. Kaki mereka sudah terlanjur lemah untuk melangkah lagi. Dari pintu depan masuk seorang wanita yang asing bagi gadis kecil itu.
"Dimana nunamu?" wanita itu langsung menyambar Cheon Gi dengan pertanyaan.
"A-aku tidak tau. Aku dari supermarket. Kamarnya terkunci," jawab Cheon Gi agak gelagapan karena kaget. Angel langsung bangkit dan menuju pintu kamar Arfa di belakang tubuh Cheon Gi. Benar terkunci.
Ia langsung berlari entah kemana. Sepertinya mencari kunci cadangan. Tersisa Cheon Gi dengan teman barunya. Teman? Mungkin. "Perlu bantuan?" lelaki itu menoleh. Memandang wanita di sampingnya yang melepas jepit dan menggoyang-goyangkannya di hadapan Cheon Gi.
Tak ada jawaban menurutnya iya. Akhirnya gadis tak ia ketahui namanya itu mendekat ke pintu. Memasukkan penjepit hitam itu ke dalam lubang kunci. Tangannya memutar perlahan tapi dengan kepala yang berpaling. Ia berusaha mendengar lebih jelas perputaran di dalam sana. Dan
CLEK !!!
"Wow. Kau hebat," puji Cheon Gi salut.
"Kau tau? Oppa ku selalu melakukan ini jika ingin kabur. Aku diajarkan olehnya,"
Cheon Gi mengangguk paham. Lalu keduanya sama-sama memasuki kamar. Gadis ini memperhatikan sekeliling dan terpaku pada sebuah figura yang di tempel di atas ranjang.
Deru mobil kembali terdengar. Tak lama kemudian muncul pria yang mereka semua kenal. Entah itu Cheon Gi ataupun gadis bermarga Jang itu.
"Eun Jae Hyung?" "Ahjussi?" kedua anak ini saling lirik sejenak lalu kembali memandang pria tinggi di hadapan mereka.
"Cheon Gi? Myung Hae? Kenapa kalian disini?"
"Eun Jae? Kau sudah datang?" semua menoleh ke sumber suara. Angel berdiri di ambang pintu dengan tangan memegang berbagai macam kunci cadangan. "Bagaimana pintunya terbuka?" ia menghembuskan napas lelah. Ya. Terlalu khawatir membuatnya berkeliling kamar karena lupa dimana meletakkan kunci.
"Dia yang membuka," tunjuk Cheon Gi pada gadis di sampingnya. Sedangkan yang dimaksud malah terpaku pada figura.
Eun Jae mendekati meja belajar dan menemukan kalung yang dulu pernah ia sematkan sebelum Angel membawa Arfa pergi dari rumahnya. Ini juga alasan kenapa ia hanya menjaga Arfa dari jarak jauh.
"Nama nunamu siapa?" tanya gadis kecil itu pada Cheon Gi tanpa mengalihkan pandangan.
"Angelia. Dia dokter,"
"Bukan. Yang itu," sambil menunjuk figura besar di atas ranjang Arfa. "Apa namanya Arfalia? Murid blackfire?"
"Iya. Bagaimana kau bisa tau?"
Gadis bernama Myung Jae itu langsung mendekat ke arah dua sejoli yang sibuk membicarakan keberadaan Arfa. Mereka tidak bisa melacak ponselnya karena mati.
"Min Han oppa?" tanya Eun Jae bingung. "Gelang apa?" sahut Angel penasaran.
"Kakakku memberikan gelang bagu. Katanya itu bisa menemukan keberadaanku. Aku memberikannya pada Eonni,"
"Hah?" Angel nampak bingung namun tidak dengan Eun Jae.
"Aku tau maksudnya. Angel, laptop!"
"Hah? Apa? Laptop? Iya. Laptop," dengan gelagapan wanita itu langsung berlari menuju ruang kerjanya lalu mengambil laptop di sana. Membawanya kembali ke kamar Arfa.
Angel membukakan laptop lalu menyerahkan kepada Eun Jae. Lelaki ini mengambil duduk pada meja belajar Arfa. Mengetikkan segala macam kunci keyboard. Disamping kanan kirinya ada tiga orang yang memandang dengan cermat. Meski begitu ia tak mengetahui apapun.
Sampai pada id alat pelacak tangannya langsung mengetik sesuatu. Myung Hae memandangi gerakan tangan di atas keyboard. "Bagaimana ahjussi tau id nya?" tanyanya heran. Bahkan ia sama sekali tak tau.
"Emm.... semua hacker tau seperti itu," jawabnya lalu mengklik enter. Kembali mengetik sesuatu selama beberapa menit lalu gambar map terpampang jelas di depan layar. "Dia di gedung lays?"
"Gedung lays pojok kota?" tanya seorang pria yang baru saja datang. Mereka sama-sama menoleh.
"Kevin hyung?" ujar Eun Jae kaget.
"Angel menghubungiku tadi. Helikopter sudah menanti di rooftop gedung depan perumahan. Aku akan mengantarkanmu ke tempat tujuan dengan cepat,"
"Bagus. Ayo!" Eun Jae langsung bangkit. Tak perlu lagi memakai jaket, mantel, atau apalah itu. Semua masih melekat sejak awal dia kemari.
***
Dari atas sini dapat ia lihat kobaran besar api di gedung lays. Ini musim salju tapi kenapa api sebesar itu bisa menyala. "Apa kau bisa melihat apinya?" tanya Kevin pada Eun Jae yang langsung mengangguk.
Helikopter yang dikendarai pilot suami Angel itu mendarat sempurna di rooftop gedung. Eun Jae langsung turun. "Cepatlah! Gedung ini berisi bahan bakar di lantai 7,"
Lelaki itu mengangkat jarinya membentuk huruf O sambil berlari menjauh. Tanpa menoleh. Setelahnya ia menghilang di balik gedung.
Eun Jae berusaha membuka pintu rooftop tapi terkunci. Tangannya kembali berusaha tapi tetap tidak bisa. Dia harus cepat. Diliriknya lagi lokasi keberadaan Arfa melalui handphonenya. Gadis itu ada di deretan tangga darurat tapi entah yang keberapa.
Beruntungnya ia tangga darurat terletak di sisi paling pinggir gedung kaca ini. Matanya beredar dan menemukan tali yang biasa di gunakan untuk para pembersih dinding kaca gedung.
Ujungnya terbenam pada sesuatu yang kokoh. Ia mulai menuruni dinding itu perlahan. Tepat pada kaca paling atas yang menampilkan pemandangan tangga darurat. Ia memecahkannya dengan 5 kali hantaman. Tubuhnya nyeri dan berdarah karena pecahan kaca tapi bukan itu masalahnya.
Kakinya langsung menuruni anak tangga tanpa melepas tali yang mengikat pinggangnya. Asap sedikit mengaburkan pandangan tapi kecepatan langkahnya sama sekali tak berkurang.
Sedangkan mata seorang gadis yang tengah tenggelam dalam genangan darah mulai menutup. Nafasnya tersendat dan jantungnya mulai melemah. Ia hanya bisa pasrah pada Tuhan. Bibirnya mengujarkan sebuah nama singkat yang tak begitu kentara.
Tiba-tiba sebuah tangan menggapai lengan atas wanita itu. Dengan sisa tenaga ia merespon sambil meletakkan telapak tangannya di atas tangan pria penyelamat yang berada di lengan kanannya. Entah siapa itu yang pasti tangannya terasa hangat. Ini bukan halusinasi.
"Tolong!" bisiknya lirih.
Kemudian jemari penuh darah yang sedari tadi menggenggam erat tangan sang pria akhirnya melemas dan jatuh. Ia berusaha membangunkan namun tak berhasil.
Bau menyengat terhidang jelas di hidungnya. Ia melupakan pasal bahan bakar. Jika di hitung, pintu di hadapannya inilah yang berisi penuh bahan bakar. Tangannya langsung membopong tubuh mungil Arfa.
DHUAR !!!
Gedung meledak.
Tapi untungnya Eun Jae tepat waktu menarik tali yang mengikat pinggangnya. Tali ini menarik mereka kembali ke rooftop. Eun Jae melepas segala yang melekat di tubuhnya. Lalu berlari menuju helikopter di sisi lain rooftop
Benda ini mulai naik dan terbang membawa mereka munuju sebuah rumah sakit besar di kota Seoul. Kendaraan mendarat di lapangan depan rumah sakit yang langsung di sambut dua dokter beserta perawat-perawatnya. Inilah rumah sakit tempat Angel bekerja. Eun Jae meletakkan Arfa di atas brankar pasien lalu membantu para perawat mendorongnya menuju ruang emergency.
Lorong menuju UGD benar-benar disterilkan hingga membuat suara roda ranjang terdengar nyaring di telinga. Orang-orang yang mendorong ranjang itu berlari sekencang mungkin agar cepat sampai di ruangan yang dituju tepat waktu.
Namun saat telah sampai pada garis merah, garis batas untuk orang seperti Eun Jae dan Kevin berhenti. Mereka tak di izinkan masuk. Kecuali Angel yang meski tak menangani operasi seperti macam ini tapi ia mendapat ijin untuk membantu.
Pintu lorong khusus operasi menutup. Para medis masih terus berjalan hingga sampai pada ruang operasi A-3. Mereka bergerak cepat menangani masalah ini. Banyak luka jahit berlapis yang harus di berikan.
Sedangkan di ranjang itu sendiri, terdapat seorang wanita muda yang matanya tertutup rapat. Wajahnya menampakkan seolah ia hanya sedang tidur pulas meski semakin lama semakin pucat. Angel mulai menarik napas dalam-dalam menyadari itu.
Para perawat yang juga berada di sana, berjalan kesana kemari untuk membantu jalannya operasi bagi pasien yang baru saja jatuh dari tangga. Tiba-tiba salah seorang di antara mereka memberi tau sebuah hal yang langsung mengalihkan segala kegiatan.
"Dokter. Monitornya,"
Dengan segera semua mata manusia tertuju pada layar detektor jantung. Elektrokardiogram itu menunjukkan gelombang yang semakin rendah. Dokter yang menangani langsung meminta alat pemicu jantung dan mengaktifkannya.
Setelah pengaturan selesai, dokter langsung menempelkan pada dada telanjang Arfa. Badannya tertarik sejenak lalu kembali terhempas saat aliran elektron berhenti. Sekali dua kali hentakan berhasil memicu jantung kembali berdetak normal. Namun beberapa detik kemudian kembali lagi.
Sekali lagi dokter melakukan hal yang sama. Tegangan ditambah dan kali ini tak ada perubahan sama sekali. Sampai akhirnya suara itu menggema di seluruh penjuru ruangan. Suara yang paling di benci siapapun di dunia ini.
"Maafkan kami," ujar dokter penanggung jawab operasi. Angel mendekati ranjang Arfa lalu meletakkan jemarinya di depan hidung gadis itu. Ia benar-benar.... berhenti bernapas.
Angel langsung terjatuh lemas. Beberapa perawat mendekatinya. Beberapa lagi membantu melepas alat kesehatannya dari tubuh Arfa.
...💕💕💕...