
Arfa membuka matanya perlahan. Barusan, tidur yang sungguh melelahkan. Bahkan pipinya kini telah basah akibat menangis. Benar saja. Beberapa detik kemudian, ia terisak. Air mata malah mengalir lebih deras lagi.
Butuh waktu sejam untuk ia kembali tenang. Gadis ini bangkit dan mengambil handphone yang ia letakkan di atas nakas. Melirik jam yang sudah menunjukkan angka 6 lewat 17 menit. Ia bangkit. Hari ini ada acara di sekolahnya. Eun Jae akan menjemputnya jam 7.
Oh. Ya ampun. Aku berangkat dengannya kan?
Dadanya tiba-tiba nyeri lagi.
15 menit kemudian
TOK TOK TOK
"Nuna, ada tamu,"
Arfa yang sedang mengenakan lapisan musim dingin pada seragamnya langsung terlonjak. Apa Eun Jae secepat itu datangnya? Ini tidak sesuai janji. Jadwal mereka jam setengah delapan dan biasanya lelaki itu akan sampai 30 menit lebih awal.
"Siapa?"
"Lihat saja sendiri! Katanya diminta cepat,"
"Ah. Iya-iya," ia meletakkan blazernya di kursi belajar. Lagipula jam berangkatnya masih lama. Gadis ini memilih keluar dari kamarnya. Ada Cheon Gi yang masih mengenakan baju tidurnya. Tapi wajah lelaki kecil itu sama sekali tak menampakkan suasana baru bangun tidur. Mungkin ia hanya belum mandi. "Memang siapa tamunya?" tanyanya sambil mendekat ke ruang tamu. Langkahnya terhenti tepat sebelum mencapai sofa.
"Arfa. Ada suatu hal-," wanita disana langsung menggentikan ucapan tatkala melihat Cheon Gi yang berdiri di samping Arfa.
"Oh. Kak Zahra. Aku kira siapa. Ada apa?"
Dokter bedah itu tersenyum sekilas. "Tidak ada. Hanya ingin berkunjung,"
Arfa ikut tersenyum. Ia paham maksud dari kata itu. "Mumpung kakak disini, bagaimana jika sarapan terlebih dahulu. Aku akan membuat roti panggang spesial,"
"Wah. Beruntungnya aku. Ayo Cheon Gi! Kakak ingin makan bersamamu juga," Zahra menarik tangan lelaki cilik itu dan membawanya mengikuti Arfa ke dapur.
"Dimana Ali, kak?" tanya Cheon Gi. Ali adalah adik sang dokter yang kebetulan dia seumuran dengan adik milik Angel.
"Ah. Ali. Dia ada di rumah. Jangan tanya! Jam segini dia masih tidur" Zahra duduk di salah satu kursi makan setelah membantu Cheon Gi duduk di kursi miliknya.
"Ish. Bagaimana bisa dia belum bangun ?,"
"Tadi malam dia terlalu seru bermain player. Kak Zahra bahkan tidak tau. Dia tertidur di karpet. Bahkan playernya masih hidup,"
"Dia beruntung. Ah maksudku dia sangat nakal," Zahra tertawa sekilas. Arfa yang memandang dari arah dapur sambil mengambil roti panggang dari mesinnya juga ikut tertawa. Ya. Cheon Gi mana pernah bermain sampai larut. Kak Angel pasti telah marah.
By the way, sampai kapan Angel tak kembali? Ini sudah terlalu lama. Beberapa menit kemudian, sarapan siap. Susu coklat untuk Cheon Gi dan dua teh sebagai peneman makan roti panggang berselai ala Arfa.
"Apa Cheon Gi ingin bermain bersama Ali? Ayo ikut kakak pulang!" ajak Zahra. Sontak anak itu memandangi Arfa meminta izin.
"Kenapa tanya pada nuna? Ikut saja jika ingin!"
"Sungguh?" matanya berbinar. Jika bisa diibaratkan, sudah bagaikan biji kacang polong. Mengkilat hingga memantulkan wajah Arfa dengan sangat jelas. Kakaknya mengangguk meyakinkan.
"Nuna.... kalau aku... me-," ia terlihat ragu menyampaikannya. Arfa mengikuti awalan kata yang diucapkan anak itu. "Me...nginap,"
Gelak tawa dua wanita disana langsung lepas begitu saja. "Kenapa takut hanya untuk bilang begitu? Tentu saja boleh adikku tersayang," ujar Arfa sambil mengelus puncak kepala Cheon Gi. "Syaratnya, makan dulu dan jangan merepotkan kak Zahra nanti!"
"Tentu,"
Arfa menatap lekat Cheon Gi yang sudah terlihat sangat bahagia itu. Jika dia adalah orang dewasa, mungkin yang lain akan mengira jika ia menang undian lotre.
Setelah selesai makan, Cheon Gi langsung pamit menuju kamarnya. Membersihkan diri dan menyiapkan segala macam untuk beberapa hari menginapnya.
Sedangkan Arfa mengkode Zahra untuk mengikuti langkahnya menuju kamar. Ia membuka pintu. Berjalan ke pojok ruangan dimana ada lemari kayu disana. Ia menyibak beberapa jenis mantel, blazer, dan pakaian lain yang di gantung.
Zahra hanya memperhatikan saat gadis di depannya itu mencoret-coret asal di papan lemari. Membuat pola abstrak yang hanya ia tau. Setelahnya, papan kayu itu bergeser. Kedua orang ini masuk ke dalam ruangan bernuansa cerah dengan cat putih dan biru langit.
Zahra mengambil duduk di sofa panjang. Berdekatan dengan Arfa yang memilih kursi single. Sifat Veronica memang mendarah daging. Penguasa namun masih merakyat juga.
"Ada apa, kak?" tanyanya pada Zahra yang entah di dunia Exhuman lebih tua darinya atau tidak. Beberapa bagian masih belum lengkap dalam ingatannya.
"Kau harus cepat kembali ke Smart World. Semua sudah tak bisa dikendalikan,"
Arfa menghela napas beratnya. Meninggalkan bumi terlalu berat. Apalagi meninggalkan orang yang ia cintai tanpa bisa memberikan penjelasan. "Apa harus?"
"Kurasa tidak bisa bertahan lagi. Jika kau tidak kembali, dia akan membunuhmu. Setidaknya disana ada rakyat dan kerajaan yang melindungimu. Dia tidak bisa membunuhmu diam-diam,"
"Bagaimana dengan Cheon Gi? Kak Angel?"
"Aku akan menjaga mereka. Sungguh,"
Arfa tampak berpikir dalam. Semua memang tak semudah membalik tangan. Zahra juga telah mengetahui pasal asmara gadis itu. "Bisakah jika menunggu beberapa bulan?"
"Emm.. kurasa bisa. Jika tidak ada gerakan cepat dari musuh kita. Tapi jangan terlalu lama mengulur waktu,"
Arfa menunduk. Menatap karpet bulu yang sedang ia injak sekarang. Ruangan ini, tak beroksigen. Hampa. Inilah proyek Sheilla yang dulu dikerjakan saat Arfa mengalami kecelakaan di gedung Lays. Ruangan ini tak akan ada atom penguping yang di perbudak oleh musuh mereka untuk curi dengar.
Zahra bangkit dari duduknya lalu bersimpuh di depan Arfa. Ia menggenggam erat kedua tangan gadis itu. "Aku tau ini berat, Fa! Tapi kalau kau bertahan, mungkin bukan hanya Anna yang menjadi korban. Lagipula, ingatanmu yang kembali belum tentu akan didapatkan juga oleh Arfalia setelah ini,"
Gadis itu tersenyum kecut, berusaha tegar. "Ya. Aku bukan sekedar Arfalia. Aku Veronica,"
TING TING
Bel rumah berbunyi. Arfa menengadah. Siapa tamu jam segini sih? Ia membuka sambungan monitor kamera pintu dari meja kaca di hadapannya. Seketika hatinya merasa sakit dengan siapa yang sedang berada di depan gerbang rumahnya itu. Haruskah? Haruskah ia meninggalkan semua ini?
Ia tak sanggup.
...💕💕💕...