You, Me, And My Secret Life

You, Me, And My Secret Life
epilog



...epilog yaa guys. Entah kalian suka atau enggak. Silahkan dinikmati...


...Maaf kalau misalkan nggak sesuai harapan...


...Happy reading...


...^^^***^^^...


Lelaki itu terbaring tidur di atas ranjangnya. Sedangkan Arfa sibuk pada laptop kecil dipangkuan, duduk disebelah Eun Jae yang sebenarnya bukan hanya sekedar tidur. Ia sudah menghapus ingatan pacarnya itu tadi, tepat saat mereka berciuman. Dan kini Arfa ingin menambah modifikasi. Jika ternyata kekuatannya tak mempengaruhi Eun Jae seperti yang sudah-sudah–pembacaan suara hati yang tak pernah terjadi– maka ia juga merubah ingatan sebagai antisipasi. Kenangannya bersama gadis bernama Arfalia akan dihapus total. Tergantikan kisah Eun Jae dengan Shi Ah.


Maafkan aku, Shi Ah.


Mungkin Arfa terlalu kejam sekarang tapi tak ada pilihan lagi. Ia yakin semua bisa terlaksana. Eun Jae juga harus punya pendamping agar persentase kembalinya ingatan tentang Arfa semakin kecil. Dan Shi Ah cocok untuk itu. Mereka akan saling mencintai di akhir.


Setetes air matanya jatuh. Sakit. Arfa meremas dadanya yang terasa nyeri. Kulitnya kali ini sudah ditaraf tak biasa. Dan ia harus cepat-cepat kembali ke Indonesia sebelum pihak kerajaan tau kalau Seorang Veronica ada di korea. Seperti kata Sheilla, exhuman di negara ini akan dianggap menyembunyikan sang putri mahkota dan akan mendapat hukuman mati.


Gadis ini usai dengan urusannya dan bangkit dari ranjang. Untuk terakhir kali, ia memandangi wajah tampan ini. Mungkin jika suatu saat ia kembali turun ke bumi, hidup kekasihnya sudah berakhir. Daripada bertemu Eun Jae ia malah akan menyapa keturunan ketujuhnya saat itu. Sudahlah. Belum tentu juga ia akan kembali turun.


Ia berjongkok disisi ranjang. Lalu melingkarkan sebuah gelang di tangan Eun Jae. Ada liontin ukiran AE disana. Arfa tadi juga menambah ingatan Eun Jae dengan menjadikan gelang ini benda pusaka keluarganya. Setidaknya ia bisa tau kelak mana keturunan marga Song selanjutnya.


"Aku mencintaimu Eun Jae. Tapi aku harap, kau tak akan mengingatku lagi,"


...***...


"Ini Sheilla. Pendampingmu di Smart World. Apapun urusannya, dia akan membantu," ucap Sang Ratu Grybe pada anak semata wayangnya. Ia memperkenalkan Sheilla yang kini berdiri anggun dengan terusan selutut warna peach bersama geraian rambut panjangnya. "Apa Vero punya ingatan untuk Sheilla?"


Arfa tersenyum simpul. Mereka kini baru tiba di pulau yang akan menghubungkannya dengan Smart World. "Sedikit. Sheilla teman paling dekat Vero kan bun?"


"Ya. Pasti aku yang paling dekat denganmu," sahut Sheilla sambil disusul tawa yang lain. Bunda tiba-tiba menerima telepon yang mengatakan bahwa ia harus ke smart world detik ini juga. Alhasil ia pasrahkan tugas berkeliling pulau pada Sheilla.


Pasti dengan senang hati diterima keduanya.


"Bagaimana kabarmu?" Sheilla memulai sambil menuntun langkah berkeliling. Pertama kali Arfa kemari adalah saat pemakaman Anna dan ia belum sempat melihat-lihat.


"Cukup memutih," tawa keduanya terdengar lepas.


"Hatimu?"


Diam beberapa saat sebelum akhirnya. "Jangan mengungkit!"


"Emmm maaf," Sheilla melirik sekilas pada kulit Arfa yang mulai kembali normal. "Jika aku tidak tau kalau Eun Jae itu manusia murni, mungkin aku akan mengira bahwa ia adalah Dio yang menyamar. Dia terlalu melindungimu dan kalian terlalu terhubung dengan banyak hal,"


"Kalau benar-benar bisa begitu, aku akan memberikan apapun yang kau minta,"


Sheilla tak menyahut lagi. Ia mengarahkan langkah menuju sebuah rumah kecil tua yang lebih mirip gubuk di lembah bukit ini. "Apa siap untuk kembali?"


"Memang aku boleh bilang tidak?" keduanya tampak ceria lagi. Terkekeh bersama.


"Tentu saja boleh. Tapi bagiku. Tidak untuk takdir,"


"Ya sudah kembali sekarang saja. Presiden takdir akan makin membenciku jika aku terus mengulur waktu,"


Sheilla terkekeh sendiri sambil membuka pintu ruang bawah. Ia memimpin jalan yang diterangi lampu obor abadi. "Kau kurang bersyukur tuan putri,"


"Semua orang bisa mengeluh. Eh. Biar aku yang buka," Arfa meraih kenop pintu di ujung ruang bawah tanah ini. Sebuah sabana luas menyambut pandangan mereka. Beberapa detik gadis bumi ini terpaku sejenak. Wangi bunga mekar menyentuh hidungnya padahal tidak ada apapun di padang rumput ini.


"Mengingat sesuatu nona?"


"Tidak. Semuanya asing. Apa ini Smart World?"


"Kau masih bisa menghirup oksigen kan meski sedikit? Ini masih bagian bumi. Kita harus keluar tata surya,"


"Tidak akan ada efek samping dalam perjalanan. Tenang saja,"


"Berapa lama perjalanannya?" ia bertanya tepat ketika benda ini mulai bergerak.


"Waktu bumi atau Smart World?,"


"Lift ini menggunakan waktu apa,"


"Emm lima belas menit waktu bumi,"


"Waww,"


Arfa berpaling melihat luar. Tak ada pemandangan yang bisa ditangkap jelas oleh matanya. Ia mengedar pandangan juga. Tabung ini tak ada selang oksigen yang berarti manusia tidak akan bisa menggunakannya. Tapi jika mereka benar-benar ada di luar angkasa kenapa tidak melayang?


"Kau harus bertanya pada Dio tentang ilmu fisikanya kenapa kita tidak melayang di lift ini. Aku menununggu penjelasan juga ya," ucap Sheilla tiba-tiba. Arfa menoleh memandangnya.


"Apa Dio sepintar itu?"


"Tentu,"


"Lebih pintar mana dengan Eun Jae?"


Sheilla tampak berpikir lama. "Mungkin sama. Kita hampir sampai," hitungan monitor berhenti diangka zero dan pintu terbuka sedetik kemudian. Bagian depan mereka kini adalah lobi sebuah bangunan yang mirip dengan yang ada di bumi. Perbedaannya pada pintu yang sama persis dalam mimpi Arfa bersama Anna dulu.


"Ver! Vero!" bisik Sheilla agak keras karena gadis itu kini sibuk menghiraukan sekeliling. Arfa menoleh ke arahnya yang segera mendapat kode untuk melihat ke depan pintu bangunan. Ia membola seketika.


"Joon Yeong?"


"Aku Dio. Senang berjumpa kembali nona Veronica," ia mengulurkan tangan. Menyadarkan Arfa bahwa mereka kini ada di dunia yang berbeda dengan bumi.


"Ah. Maaf," ucapnya pelan sambil menerima jabatan.


"Pangeran Dio kenapa tidak bilang kalau ingin menjemput? Kalau begitu aku pasrahkan Veronica padamu saja. Dia ingin berkeliling,"


Arfa melotot tajam saat menolehkan kepalanya sembilan puluh derajat. "Aku memang berniat begitu. Apa Kau tidak keberatan Vero?" kali ini wanita itu menyunggingkan senyum lebar lalu mengambil langkah mendekat. Jika terlalu canggung saat menganggapnya Dio, maka Arfa akan bertindak selayaknya pada Joon Yeong saja.


"Asal tempatnya bagus,"


"Tidak ada yang tidak bagus di Smart World,"


Sheilla mundur perlahan saat keduanya berjalan lebih jauh. Arfa sadar ini akhir ceritanya, dan awal mula bagi kisah Veronica.


Aku, Annaya Veronica. Putri Mahkota Kerajaan Grybe.


...💕💕💕...


...Cerita ini akhirnya tamat. Akan ada sekuel selanjutnya. Ditunggu yaaa....


...Like and coment kalian sangat berharga...


...Karena dukungan dari kalian membuatku selalu semangat bersama tulisanku....


...Thanks, kepada kalian yang sudah bertahan...


...Gomawo sangat, untuk yang sudah memberi dukungan...


...Aku akan kembali secepatnya. Dengan awal mula kisah Annaya Veronica. Kalau mau tanya Eun Jae akan ada nggak di season dua? Jawabannya PASTI ADA...