
Seorang gadis tergeletak di atas spring bed abu-abu cerah. Matanya terpejam sejak dalam pelukan lelaki yang berhasil mencuri ciuman pertamanya. Ya. Meski hanya sebuah kecupan.
Disampingnya, Eun Jae terlihat fokus pada layar laptop. Duduk bersila dengan kedua tangan sibuk menari cepat di atas keyboard hingga sesuatu tampak bergetar di atas nakas.
Tangan kirinya berhenti beraksi. Ia berusaha menggapai handphone tanpa melihat. Sebuah pesan masuk dengan nama Dr. Angel. Orang yang tadi ia jumpai setelah pulang bertemu sang bunda. Yang membuatnya lebih lama di luar rumah.
Aku sudah ada di depan
Hanya pesan singkat dan berhasil membuatnya berhenti bekerja. Ia meletakkan laptop di atas ranjang lalu pergi membuka pintu untuk sang tamu. Perempuan cantik itu terlihat jelas dari monitor pengontrol.
"Masuk dokter," ujarnya usil dan langsung mendapat tatapan tajam dari Angel. Ya. Angelia, kakak Arfa satu-satunya.
Keduanya menuju kamar Eun Jae dan berhenti saat memandang tubuh Arfa tergeletak di atas kasur. Mereka saling lirik kemudian menyatukan telapak tangan kanan. Dilanjutkan gerakan memutar pada telapak tersebut. Lalu mengepal dan keduanya sama-sama terpejam.
Dari sana mencul sebuah sinar. Semakin besar seolah menyeruak keluar dari sela-sela buku tangan mereka yang saling menyentuh. Membentuk sebuah ruang bola sempit yang hanya pas untuk keduanya.
Udara dari dalam bola itu dikeluarkan. Tak ada yang tersisa meski hanya satu atom oksigen. Mereka tak nampak kesusahan bernapas sama sekali. Proses ini berlangsung sekitarnya 30 menit. Sangat lama.
"Waktunya hanya 5 menit," sang dokter memasang timer pada jam tangannya usai bola tercipta sempurna dan ia melepas tangan mereka.
"Sungguh? Kita menghabiskan setengah jam loh?" Angel tak menjawab. "Pasti ini bukan yang pertama kali bagimu. Kau juga pernah melakukannya dengannya, kan?"
"Jangan membahas yang tidak perlu, oppa!" gadis itu melirik tajam. "Bagaimana pemogramannya ,"
Eun Jae nyengir sedikit lalu ikut memandang Arfa yang masih saja terlelap. Ini efek dari sesuatu yang memaksa masuk ke dalam epidermis kepalanya. "Aku tidak sehebat princess Naya dari negri Grybe dalam mengapus ingatan. Tapi, cukup kok,"
Angel memandangnya. "Aku tau kau telah kembali. Tapi, jangan ceroboh! Kau bisa mati,"
"Aku tidak pernah ceroboh. Berhenti bersikap seperti kakakku," Angel terkekeh.
"Apa Eun Jae akan segera kembali?"
"Kurasa begitu. Sudahlah. Kau harus merawat adik dunia manusiamu,"
"Ada yang ingin ku katakan,"
"Apa?"
"Ini tentang masa depan kita,"
Eun Jae memandang penuh tanya.
***
Mata Arfa masih terpejam meski badannya tak lagi berbaring nyenyak. Ia telah duduk di kursi penumpang bersama Angel yang menjadi sopir. Ternyata pengaruh penemuan adiknya itu cukup besar.
Suasana jalanan lumayan lenggang. Memberi kesempatan pada mobil merah ini untuk melaju kencang. Angel kembali melirik dan gadis ini belum juga bangun. Apa yang dilakukan Eun Jae sebenarnya?
"Euh.....," lirih Arfa pelan sambil merenggangkan ototnya. Matanya mulai membuka. Ia bertingkah selayaknya orang bangun tidur.
Matanya langsung terbelalak saat memandang jalanan di depan sana. Jalanan. Sungguh jalanan yang ia pandang sekarang dengan lampu-lampu berjejer. Ini bukan mimpi, kan. Seingatnya.....
"Morning tukang tidur," ia menoleh. Memandang ke arah kursi kemudi. Dan ya. Dia bahkan sekarang ada di mobil bersama....
"Kak Angel?" sang sopir hanya tersenyum simpul. "Kenapa lo disini kak?"
Angel tertawa mendengar logat indo Arfa yang masih kental. "Kakakmu sudah lupa bahasa indo, Fa. Berbicaralah dengan bahasa sini saja,"
"Eonni kok bisa disini?," ia berganti bahasa sesuai peemintaan. "Eh. Bukan. Kok aku bisa disini?,"
Angel tertawa lagi. Kali ini lebih renyah. "Kamu lupa? Kamu ketiduran saat perjalanan pulang,"
"Ohya? Tunggu-tunggu," Arfa mengangkat tangannya. Matanya terpejam berusaha mengingat tapi tak ada apapun. Yang terakhir ia ingat adalah..... ciuman. Ia langsung terbelalak. Wajah buram yang terlintas.
Tunggu. Apa yang terjadi padanya ? Ia kembali terpejam tapi hanya wajah buram yang terlihat. Penculikan muncul disana. Joon Yeong dan.... ia kembali membuka mata. Bahkan nama saja ia tak ingat sama sekali. Tak ada catatan dilipatan otaknya.
"Kau diculik,"
Arfa menoleh. Ia memandang Angel penuh tanya. "Aku ingat itu. Siapa yang menolongku?"
"Tentu saja kakakmu ini. Eonni susah payah menolongmu,"
"Sungguh?!" ia terbelalak kaget namun akhirnya menggeleng-geleng tak percaya. Tidak. Diingatannya hanya wajah buram yang menolongnya.
Angel mengangguk tapi Arfa tetap tak percaya. Bagaimana mungkin Angel yang menolongnya? Kalau iya berarti wanita itu juga yang menciumnya. Gila.
Arfa menyentuh bibirnya. Rasa itu masih ada. Sangat jelas. Tunggu. Bukan itu yang harus dipikirkan. Kenapa dengannya ini? Ada sesuatu yang aneh. Ada sesuatu yang kurang. Ada sesuatu yang hilang.
"Sudah. Jangan dipikirkan!" Arfa memandang Angel lagi. "Lebih baik kau pikirkan Cheon Gi yang sangat merindukanmu. Dia ingin kau yang mengantarkannya sekolah hari ini?"
"Cheon Gi?"
Arfa kembali menyandarkan punggungnya. Memikirkan sesuatu yang hilang itu membuat ia pusing dan mual.
Eh. Tunggu.
"Cheon Gi?" ia menoleh histeris pada Angel. Matanya membola. "Cheon Gi sungguh di rumah? Jinja?!!"
Angel terkekeh pelan. "Ya. Kevin membantuku mengambilnya dari panti asuhan. Dan dia sangat merindukanmu sekarang,"
Arfa tersenyum kecil. Ia juga rindu adik lelakinya itu. "Aku tidak bisa percaya ini. Cepatlah kak! Aku harus melihat Cheon Gi dengan mata kepalaku sendiri
Ia nampak exsited namun pikiran tentang sesuatu yang hilang tak bisa musnah meski ia sudah berusaha mengalihkannya pada Cheon Gi. Adik semata wayangnya.
"Fa! Jangan terlalu memikirkan penculikan itu! Kevin sedang menanganinya,"
Arfa menghembuskan napas pelan. "Tidak. Aku sedang memikirkan Cheon Gi ku," bualnya lancar.
***
Flashback
Arfa kecil mengintip dari balik pintu. Ini tengah malam dan suara gaduh pada apartement minimalis tempatnya berada membuat ia terbangun.
Belum tuntas gadis kecil ini melihat apa yang tengah terjadi, kakaknya, Angel menarik tangannya. Memeluk Arfa kecil erat. Dapat dengan jelas ia merasakan getaran dari kakaknya.
"Kak. Kakak nangis?" tanyanya sambil berusaha melepas pelukan. Tapi, Angel tak mengizinkan. Ia hanya tak ingin Arfa melihat apa yang tak seharusnya ia lihat.
Dibalik pintu sana tangisan tersedu-sedu terdengar. Jeritan frustasi memenuhi telinga Angel. Gadis yang baru lulus sarjana kedokteran ini merasakan Arfa semakin berat. Adiknya tertidur. Ia langsung menggendong dan meletakkannya pada kasur imut milik Arfa sendiri.
Setelahnya, Angel langsung keluar menemui sang mama. Seorang pria tergeletak begitu saja di lantai. Wajahnya yang pucat pasi membuat Angel kembali menangis.
"Mama. Jangan nangis!" ia memeluk mamanya. Mengelus punggung wanita yang tengah mengandung besar itu. "Kasihan anak mama,"
Wanita itu berusaha melepas pelukan. Ia menggenggam kedua tangan anak angkatnya itu. "Angel. Kamu bisakan hidupkan lagi papa kamu. Kamu pasti bisa. Kamu bisa Angel. Tolong mama!"
Gadis ini hanya bisa menggeleng. Tangisnya semakin deras saja. Melihat mama yang terus memohon membuatnya merasa sangat rapuh. Jika saja bisa, mungkin sudah ia lakukan sejak tadi. Mencegah kutukan aneh ini.
"Ini semua gara-gara kamu. Mama benci kamu," mama memukul perut buncitnya. Angel berusaha menahan tangannya.
"Ma. Bukan ma. Jangan gini ma!" tapi tetap saja ucapan yang keluar kalimat itu. Mamanya terus menangis histeris sambil memeluk tubuh suaminya yang telah dingin itu. Hingga akhirnya mama tak sadarkan diri.
Arfa terbangun saat pagi telah menyambut. Sambil mengucek matanya ia keluar kamar. Memanggil nama kakaknya keras-keras. Ia melihat beberapa orang ada di rumah kecil ini. Mereka semua mengenakan pakaian hitam-hitam meski ada beberapa yang menimbulkan corak warna lain.
Arfa kecil melihat mama menangis di depan sebuah kotak. Ia menghampiri dan melihat papa tidur dalam kotak putih itu. Ada kak Angel yang memeluk mama dari samping. Terlihat menenangkan.
Tiba-tiba seseorang membawanya dalam gendongan. Omma kandungnya yang ada di Indonesia entah sejak kapan datang membawa gadis cilik ini menjauhi kerumunan. Wanita tua ini juga menangis.
"Omma ," ujar Arfa kecil kegirangan sambil merangkul leher omma. "Kapan omma kesini? Tadi malam ya? Kok tumben Arfa nggak dibangunin?" wanita itu tersenyum sambil mengangguk.
"Iya. Omma datang tadi malam. Arfa mandi terus makan masakan omma. Maukan,"
Ia mengangguk. Wanita tua ini membawa Arfa kecil yang masih dalam gendongannya ke kamar mandi.
"Omma. Kenapa kakak dan mama menangis? Tadi juga papa nggak mau bangun. Nggak mau peluk mama supaya nggak nangis kenceng-kenceng. Tumben?"
Omma hanya tersenyum. Ia langsung memandikan cucu keduanya ini. Arfa didandani bahkan ikut dalam pemakaman terakhir papa. Dalam keadaan masih tak mengerti alur cerita.
Wanita tua ini berunding dengan mama dan Angel. Ingin membawa keluarga kecil ini kembali ke Indonesia. Namun mama tetap ingin disini dengan alasan ia ingin dimakamkan disamping makam sang suami. Umurnya tak lama lagi. Sesuatu yang dulu tak pernah ia percaya kini pasti akan terjadi. Telah bermula dengan meninggalnya sang suami.
Omma ingin mengajak cucu-cucunya. Ya. Mereka telah diboyong oleh tantenya yang merupakan adik dari ayah Angel. Arfa dan kakaknya memang diasuh sejak kecil oleh sang paman dan tante yang kini memiliki julukan papa mama.
Ajakan omma ditolak oleh Angel. Alasannya ia masih ada study untuk jurusan spesialisnya. "Ajak saja Arfa, omma. Jika dia disini aku takut ia terdeteksi. Pasti dia datang untuk melihat anak mama,"
"Tapi dia tidak akan mau jika kamu tidak ikut, Angel,"
"Aku akan meyakinkannya,"
Omma menghembuskan napas beratnya. "Maafkan aku, omma. Karena aku semua jadi serumit ini," ujar mama sambil terisak.
Rasa sakit menjalar pada tubuh Arfa yang kala itu mengintip. Kebiasaannya. Meski ia tak memahami apa yang tengah dan telah terjadi. "Tidak. Ini bukan salahmu. Cinta tak pernah salah,"
Arfa langsung menutup pintu perlahan. Ia menangis dalam diam tanpa sebab yang jelas. Entah kenapa.
Setelahnya ia benar-benar menetap di Indonesia dan kembali sebulan setelah pemakaman mamanya selesai.
Flashback end