
Arfa begitu girang saat mendapati kucing kesayangannya sudah betkeliaran kesana-kemari di apartementnya. Kevin yang mengambilnya di bandara.
"Ahh. Bubu!!" ia berlari memeluk kucing persia putihnya. "Aku sangat merindukanmu,"
"Jangan alay-alay!" sahut Kevin yang memaang membawa Arfa pulang dari rumah sakit. Ia meletakkan barang-barang adik iparnya di atas sofa.
"Lelaki tidak akan mengerti hal seperti ini. Ya kan bubu?" kucing itu mengeong. "Lihat! Bahkan dia menyahutiku,"
"Kau bertambah gila,"
Arfa hanya memeletkan lidahnya sebagai ejekan. "Kau tidak mengajar kak?"
"Tidak,"
"Kenapa?"
"Mendapat tugas penting dari ibu negara,"
Arfa terkekeh karena ia tau siapa yang dimaksud ibu negara. "Memang apa tugasnya?"
"Menjaga adiknya yang nakal ini," cibir Kevin sengaja. Ia meneguk air dari botol setelahnya.
Arfa hanya cemberut singkat. "Ah iya. Kapan Eonni kembali? Katanya akan kembali sebelum aku ulang tahun. Ini mana? Tidak datang-datang. Angel eonni tidak diculikkan?"
"Siapa yang mau menculik kakakmu?"
"Hoh. Ku aduin baru tau rasa kau," Kevin yang kali ini menjulurkan lidah untuk mengejek Arfa. "Iuhh. Kau jelek sekali,"
"Kalau aku jelek mana mau Eonni mu denganku,"
"Eonni kan juga jelek. Kalian cocok kok," Kevin melempar botol kosong bekas ia minum air putih tapi meleset.
Handphone Arfa yang ia sakui berdering. Gadis itu meraihnya dan mendapati nomor milik Myung Hae menelepon. Gadis cilik itu memang memaksa mengetik nomornya pada kontak Arfa. Menamainya dengan judul myung hae imut😍. Sungguh alay.
"Eonni!! Kenapa keluar rumah sakit tidak bilang?? Aku mencarimu!"
Arfa menghela napas beratnya. "Lagian kenapa kau kesana? Sekarang jam sekolah. Kan kita sudah buat perjanjian kalau kau bolos kontak ini aku block,"
"Tidak. Aku tidak bolos. Aku mampir sebentar kesana tadi pagi sebelum berangkat sekolah. Tapi Eonni sudah tidak ada. Sekarang juga sedang iatirahat jadi aku bisa menelepon,"
Arfa menahan tawanya menyadari kini ia sudab terlihat seperti ibu-ibu yang memergoki anaknya nakal.
"Iya-iya. Belajar yang rajin,"
"Akan kuusahakan. Eonni. Kapan melakukan pemotretannya?? Eomma menanyakan,"
"Ah. Itu, apa yang lain sudah?"
"Ya. Sisa eonni dengan pasangan eonni. Tapi sebenarnya tidak perlu terburu. Eomma hanya mencari alasan untuk mengundang eonni makan si rumah," bisiknya di akhir
"Oh ya? Eonni akan menyusun rencana dan menghubungi pasangan eonni nanti,"
"Okeh," lalu terdengar bel yang sangat nyaring dari seberang sana. "Kenapa cepat sekali?" gerutu Myung Hae kesal
"Masuk sana!"
"Baiklah. Eonni cepat pulih. Bye,"
"Tidak boleh pakai bye. Pakai see you,"
"Iya iya. See you eonni,"
Lalu telepon dimatikan lebih dulu oleh Myung Hae. Sepertinya gadis kecil itu mulai benar-benar rajin bersekolah.
Arfa meletakkan handphonenya di atas meja. Lalu kembali melanjutkan bermain dengan Bubu sampai Kevin mendekat dan duduk pada sofa single di hadapannya.
"Eun Jae bilang nanti malam kau akan dijemput. Kalian akan ke rumah keluarga Jang,"
"Mwo?! Kenapa tiba-tiba?"
"Arfa. Dia menjemput malam dan sekarang masih jam 9 pagi. Namanya bukan tiba-tiba,"
"Oppa! Aku bahkan tidak punya pakaian,"
Lelaki itu hanya menyisir rambutnya frustasi dengan jari. Alasan wanita yang paling gila. "Terserahmu. Yang penting oppa sudah menyampaikan amanat,"
***
Arfa masih sibuk memutar badannya di depan kaca. Sejak siang tadi ia mengacar lemari dan akhirnya memilih dress hitam selutut dengan hiasan bunga timbul di beberapa bagian. Semoga tidak memperburuk banyak hal nantinya.
Kevin mengetuk pintu kamarnya. "Eun Jae sudah di lobby,"
"Suruh menunggu sebentar,"
"Fa. Dia menunggu sejak 20 menit lalu,"
Arfa berdecak kesal lalu meraih quilted bag hitamnya. Lalu keluar dari kamar. "Nah. Aku sudah siap. Puas?"
"Ck. Memakai dress ini dan mencangklongkan tas saja kau butuh berjam-jam,"
"Kau tidak akan tau permasalah kami para wanita. Sudahlah. Aku berangkat,"
Setelah sampai di lobby matanya beredar. Mencari partner kerjanya malam ini dan menemukan lelaki itu sedang duduk rapi di sofa tunggu. Sepertinya ia sedang bermain game. "Oy"
Eun Jae tak langsung menengadah. "Sudah selesai? Cepat sekali?" Arfa sampai mengangkat alis dibuatnya. Baru kali ini ada orang yang bilang ia dandan dengan cepat. Baru saat terdengar suara VICTORY lelaki itu bangun dari duduknya.
Kini Arfa baru tau penampilannya bagaimana. Matanya terpaku pada sosok pria yang mengenakan kemeja hitam dengan dua kancing teratas tak terpasang. Berpadukan bersama celana jeans hitamnya. Ia menelan ludahnya keras.
"Kenapa? Ada yang salah?"
"A-a. Enggak! Dimana kendaraan kita?"
"Ada di basemant. Tunggu saja di depan. Aku akan mengambilnya,"
Arfa hanya mengangguk kaku. Ia memandang punggung Eun Jae sampai menghilang. Lalu tak lama kemudian memukul kepalanya dua kali. Ada apa denganmu?! Jangan terpesona dengan bajingan.
Akhirnya Arfa memilih menunggu di luar pintu masuk. Bukannya mendapati Eun Jae dengan mobilnya, ia malah di datangi seorang anak lelaki kecil. Memberikannya seikat bunga lily, bunga favoritnya, dan sebungkus coklat dengan kotak merah bentuk hati.
"Untukku?" anak itu menangguk. "Dari siapa?" ia menggeleng.
Arfa mengernyit saat anak lelaki tadi labgsing berlari pergi. Ia mengecek kiriman itu, dan menemukan sebuah kertas di selepitan bunganya. Surat dengan kertas berwarna coklat pudar, tertulisi menggunakan tinta gold, dan dilapisi amplop biru laut, serta perekat berbentuk tulisan Arfalia. Gadis ini tersenyum kecil lalu segera membukanya.
Mungkin kau tak mengenalku
Tapi yang penting aku sangat mengenalmu
Aku adalah orang yang akan selalu mencintaimu
Menjagamu dimanapun dan kapanpun
Aku akan selalu ada disisimu meski kau tak akan tau itu
Bunga lily putih melambangkan kesucian, kemurnian, ketulusan, kemuliaan, pengabdian juga persahabatan. Kau benar-benar tepat menyukai bunga ini. Bunganya benar-benar melambangkan sesuatu yang suci, bersih dan sangat menawan. Benar-benar deskripsi untukmu. Arfalia.
Tertanda
Yang menyukaimu
JMH
Arfa mengangkat alisnya? Apa dari Min Ho? Lelaki itu tidak berubah sama sekali. Ia melipat kertas itu dan memasukkannya kembali ke dalam amplop
"Wow," Ia kaget mendapati Eun Jae sudah berdiri menyandar ke mobil sportnya. "Mendapat hadiah cinta nona?"
"Bukan urusanmu,"
Eun Jae hanya mencibir lalu membukakan pintu untuk Arfa. Gadis yang akan masuk itu pun terkecoh hingga bunga yang berada di tangan kanan Arfa langsung direbut olehnya saat keduanya berposisi sejajar. Arfa terkejut sedangkan Eun Jae sedikit menjauh.
"Dari siapa ini? " ujarnya menggoda. "Apa dari fansmu? Eh orang macam apa yang bisa-bisanya menjadikanmu idola? "
"Hey. Kembalikan! " ujar Arfa mendekat.
"Lily putih? Kau suka lily putih? "
"Kubilang, kembalikan!! "
Eun Jae memberikan bunga itu pada Arfa. Gadis ini mengambilnya menggunakan tangan kanannya dengan cepat. Tanpa diduga, pria yang baru saja mengembalikan rangkaian bungga lily milik Arfa, langsung beralih menyahut amplop biru yang ada di genggaman tangan kirinya.
"Hey. Hey. Hey. Kembalikan kembalikan!! " kaget Arfa
"Apa ini suratnya? " ujar Eun Jae. "Arfalia? Fansmu perempuan? " tambahnya pura-pura bego atas nama gadis itu.
"Kubilang, kembalikan!! "
"Jawab dulu pertanyaanku! " sambil menjauhkan amplopnya.
"Itu namaku. PUAS!!! Kembalikan! " ia menyodorkan tangannya.
"Tidak usah terburu-buru,"
Eun Jae langsung membuka amplop tersebut dan menemukan sebuah surat. Arfa terus memohon untuk tidak membacanya tapi ia malah membuka lipatan surat dan mengangkatnya tinggi-tinggi.
"Oh tidak. Surat cinta? " ujar Eun Jae sok terkejut.
"Kembalikan!!! " sentak Arfa sambil terus berusaha mengambil suratnya.
Ia terus menjinjitkan kakinya karena surat itu diangkat diangkat tinggi oleh Eun Jae. Nasib jadi orang pendek. Namun, ia terlalu membebankan berat tubuhnya pada ujung kaki. Alhasil, ia tidak dapat menjaga keseimbangan dan jatuh menimpa Eun Jae. Mendorong lelaki itu untuk makin menyender pada kap mobil. Arfa tiba-tiba terpaku dengan mata
Dia tampan. Batin Arfa. Ah. Ada apa denganmu ini, Fa.
Tapi anehnya Eun Jae seperti orang yang dapat mendengar hal tersebut. Ia berusaha menahan senyumannya.
"Hey, bangun!! Kau berat," sentak Eun Jae yang berhasil memecah lamunan Arfa.
"Ah. Mi-mian," sambil beranjak bangun. Terlihat jelas kalau dia gugup. Tunggu, aku kenapa?
Dengan segera, Arfa merebut surat yang berada di tangan Eun Jae beserta amplopnya setelah berdiri tegak. Ia nampak masih gugup.
"Sepertinya kita harus berangkat sekarang," bisik Eun Jae pelan yang entah kenapa juga ikut berdebar.
"I-i-iya,"